Monthly Archives: Juli 2010

Kawinan, Sembako & SBY

Hari ini kawan dekatku menikah. Setelah sekian lama menderita sebagai seorang bujang, kawanku ini menemukan belahan hatinya untuk diajak bergandengan tangan menatap masa depan. Meraih mimpi bersama-sama.

Beberapa hari sebelum hari bahagia ini, ada guratan kerisauan yang tidak bisa ditutupi. Ada kekhawatiran dari wajah kawanku ini. Bukan soal undangan yang belum tersebar, bukan soal gedung untuk tempat resepsi karena mereka resepsi di rumah dan bukan pula soal tetek bengek persiapan kawinan yang seabrek.

Kawanku risau dan khawatir soal harga Sembako. Soal kenaikan TDL. Sempat aku ketawa mendengar keluh kesahnya. Aneh rasanya seorang laki-laki bercerita tentang harga beras, cabai, bumbu masak yang konon kabarnya meroket. Tapi setelah aku pikir-pikir, dia memang layak untuk risau. Dia sah untuk khawatir.

Gaji kawanku sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal memang terbilang lumayan. Ketika dua anak muda memantapkan hati mendayung bersama dalam sebuah perahu perkawinan, maka urusannya bukan soal cinta semata, tapi juga kelangsungan ekonomi keluarga. Maka, layak kawanku ini galau. Dalam bayangannya, kawanku ini akan mulai mengarungi samudra rumah tangga dengan penuh kesederhanaan dan keprihatinan. Dia harus bersiap untuk menghitung ulang biaya kebutuhan sehari-hari rumah tangga, biaya tabungan untuk masa depan (entah melahirkan atau biaya sekolah anak), biaya listrik hingga menyisihkan tidak sedikit uang untuk membayar kredit rumah yang baru dibeli.

Dalam kerisauannya itu, tidak ada ketakutan untuk mundur menjadi calon kepala keluarga. Tidak ada kegentarannya untuk membatalkan pernikahan. Kawanku ini hanya risau membayangkan masa depan yang akan semakin berat. Akan semakin susah. Dan aku membenarkan kegalauan dan kerisauannya itu. Mimpi indah tentang pernikahan itu kini dibayangi oleh harga Sembako yang melambung, TDL yang naik.

Dia laki-laki yang baru melepas masa lajangnya selama ini tidak tahu menahu dan tidak pernah ada urusan dengan harga Sembako. Namun, kini harga Sembako itu telah merisaukannya. Mengganggu pikirannya di hari bahagiannya. Kawanku ini menjadi gambaran nasib rakyat kecil. Nasib rakyat yang selalu diliputi kegalauan dan kerisauan. Bahkan, saat menikmati sebuah kebahagiaan pun, rakyat tetap dibayangi kekhawatiran.Dia kemudian bertanya, “Bolehkah aku menggugat ini semua kepada SBY?”

Iklan

Bertemu Tan Malaka di PMI

Mungkin bangsa ini lupa kalau pernah punya anak bangsa yang bernama Tan Malaka. Mungkin para sejarawan hilang ingatan, proklamator Soekarno selalu menenteng buku karya Ibrahim Datuk Tan Malaka untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Mungkin para anak muda negeri ini lebih bangga mengenakan kaus oblong bergambar Che Guevara daripada bergambar laki-laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat ini.

Kalau kau bertanya siapakah Tan Malaka itu pada anak SD atau SMP, mungkin mereka menjawab, “Nama lain dari Selat Malaka.” Kalau kau bertanya pada pelajar SMA, mungkin mereka hanya bergumam, mengerutkan dahi, tersenyum dan menggelengkan kepala. Wajar mereka pelajar SD-SMA tak tahu siapa Tan Malaka karena memang nama itu tidak pernah disebut dalam buku pelajaran buatan Departemen P&K atau Kementerian Pendidikan. Kalau kau bertanya pada mahasiswa, bisa jadi mereka menjawab, “Jelas Tan Malaka itu tokoh PKI, temannya Aidit,” jawab mereka sok tau.

Tan Malaka adalah legenda. Tan Malaka adalah tokoh misterius seperti tokoh Pendekar Tanpa Nama dalam novel Nagabumi-nya Seno Gumira Ajidarma. Tokoh yang menyandang 23 nama palsu dan hampir 20 tahun (1923-1942) menjadi seorang pelarian yang selalu berpindah tempat mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Dialah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebelum Indonesia merdeka. Bukan tokoh PKI era Aidit seperti kata mahasiswa yang sok tau itu. Maka, jangan heran kalau namanya sama sekali tidak ada dalam buku pelajaran sejarah resmi dari pemerintah karena Tan Malaka seorang komunis.

Bagi sebagian orang, Tan Malaka layak disejajarkan dengan Che Guevara sebagai tokoh revolusioner dan tak kenal kompromi. Namanya dikenal mulai di Moskow ketika masih ada Komunis Internasional (Komintern), disebut-sebut di Belanda setelah sempat mencalonkan diri menjadi anggota DPR Belanda, di Filipina disejajarkan dengan Jose Rizal, pahlawan negeri itu.

Nasib Tan Malaka yang namanya tidak membumi di negerinya sendiri lebih karena dia seorang komunis. Namun, karyanya mulai dari 100% Merdeka, Gerpolek, Dari Penjara Ke Penjara hingga karya masterpiece-nya, Madilog layak dihargai. Dalam karya itu tertuang pemikiran-pemikiran seorang Tan Malaka. Bahkan, seorang Soekarno pun diketahui sering menenteng buku-buku karya Tan Malaka saat persiapan kemerdekaan bangsa ini.

Buku-buku yang berisi pemikirannya sudah banyak menjejali toko-toko buku. Dan khazanah tentang Tan Malaka semakin lengkap dengan terbitnya novel Pacar Merah Indonesia (PMI) karya Matu Mona. Novel kuno yang terbit tahun 1930-an ini, diterbitkan ulang oleh penerbit Beranda, Februari 2010. Dari tiga buku PMI, baru menemukan dua buku yaitu PMI buku 1 dan PMI buku 2 yang beredar di pasaran.

Dalam novel itu, Tan Malaka digambarkan sebagai sosok bernama Pacar Merah. Seperti dalam kehidupan nyata, di berbagai negara tempat pelariannya namanya selalu berganti-ganti menggunakan nama palsu untuk menghindari kejaran intel-intel internasional yang memburunya.

Membaca novel ini, kau akan dibawa dalam hiruk pikuk peta perpolitikan internasional tahun 1930-1932. Dari Moskow, Paris, Thailand, Filipina, Singapura, Palestina, India hingga Iran. Kau akan dibawa berlari dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain, dari satu pulau ke pulau lain. Layaknya sebuah cerita petualangan, ada kalanya Pacar Merah rehat sebentar dari kejaran intel, ada kalanya terkepung dalam rumah, terjebak dalam peperangan China-Jepang, tertangkap intel, dipenjara dan bebas untuk melanjutkan perjuangan.

Dalam novel itu digambarkan pula bagaimana sosok Pacar Merah yang begitu memiliki pengaruh di berbagai negara hingga selalu ada orang yang membantunya dalam pelarian. Selalu ada lubang tikus saat intel internasional memburunya. Namun, sayang, dalam novel itu digambarkan sosok Pacar Merah yang seperti memiliki ilmu mistik sehingga selalu bisa selamat dari tangkapan intel meski sudah terjepit. Mungkin itu jadi alasan M Sjarqawi (penerbit PMI tahun 1938) untuk mengatakan jika tokoh yang ada dalam novel itu adalah fiksi belaka. Padahal dalam buku Madilog, Tan Malaka menentang keras dunia mistik yang membelenggu bangsa ini.

Bagi Harry A Poeze, peneliti Belanda yang menaruh perhatian lebih soal Tan Malaka, PMI selayaknya roman picisan yang sedang berkembang tahun 1930-an. Namun ada kelebihan roman PMI yaitu menggabungkan antara fakta, khayalan dan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Karl May, Victor Hugo ataupun Alexandre Dumas kala itu.

Dan seperti roman-roman pada umumnya, bumbu-bumbu asmara dan percintaan juga menjadi kisah menarik dalam PMI. Kisah cinta antara Ivan Alminsky (tokoh yang menggambarkan tokoh PKI lainnya Alimin) dan Marcelle dengan kata romantis j’ai deux amorus juga mengisi beberapa lembar buku ini. Atau kisah tentang Pacar Merah dengan Si Cantik Ninon. Ketika Alminskyberkata kepada Marcelle ,”J’ai deux amorus. Aku memiliki dua cinta yaitu cinta kepada negeriku dan kepadamu.”, maka Pacar Merah memilih mengesampingkan perasaannya kepada Ninon karena begitu besar rasa cintanya kepada negerinya. Hingga akhir hayat, Pacar Merah hanya memiliki satu cinta, cinta kepada negerinya, Indonesia.

Ketika buku-buku karya Tan Malaka dianggap sebagai buku berat, buku yang dijejali doktrinasi dan “kalah pamor” dengan buku picisan, maka novel PMI bisa menjadi obat. Obat untuk lebih mengenal Si Macan, Tan Malaka.


J’ai Deux Amours*

Di pelataran Menara Eiffel yang anggun, kita memadu kisah. Di bawah temaram lampu-lampu menara, kau berkisah tentang masa lalu, kekinian dan masa depan.

Bulan dan bintang yang malam itu pamit, tentu kecewa tidak bisa menjadi saksi tentang kisahku, kisahmu, kisah kita. Hanya menara setinggi 325 meter itu yang menjadi saksi rekahan senyummu, matamu yang berair karena tertawa lepas, kerutan dahimu yang berpikir serius.

Sayang ini bukan musim dingin. Kalau musim dingin, aku akan mengajakmu bermain di lapangan ski es di tingkat pertama menara. Membetulkan resleting jaketmu untuk melawan hawa dingin. Mengikatkan tali sepatu skimu dan memastikan semuanya sempurna dan tak lagi mengkahawatirkanmu jatuh. Saat kau limbung di tengah lapangan ski es, raihlah tanganku, aku akan setia mengandengmu.

Aku mengingatkanmu, 10 September 1889 Thomas Edison meninggalkan pesan di buku tamu Menara Eiffel “Kepada Tn Eiffel sang insinyur, sang pembangun berani arsitektur modern besar dan asli dari sesorang yang memberikan penghargaan besar untuk semua insinyur termasuk sang insinyur besar sang Bon Dieu, Thomas Edison.”

Kepada Gustave Eiffel, sang perancang menara itu aku meninggalkan pesan, “Terima kasih telah menciptakan menara untuk memadu asmara. Terima kasih telah menciptakan menara berbobot 7.300 ton besi yang membuat kami memadu hati.”

Kau bertanya padaku tentang cinta. J’ai deux amours. Aku mempunyai dua cinta. Pertama, cintaku kepada diriku sendiri, kedua, cintaku kepada…kau.

Dia merebahkan kepalanya di dadaku. Di telinganya, kubisikkan kata-kata, “Je t’adore, ma petite sorite! Kaulah yang menjadikan kemala hikmat, anjunganku.”** Sungguh, Paris terlalu romantis.

*Subjudul dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.

**Kalimat yang dikatakan Ivan Alminsky kepada Marcelle dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.


Pasar di Kotaku

Mengapa pedagang bumbon di pasar tradisional selalu didominasi mereka yang telah berusia senja? Kenapa warung-warung makan di pasar selalu meninggalkan genangan air sisa piring dicuci?

Pasar yang menampung pedagang pakaian, warung makan, penjual VCD bajakan, pernak perik, sepatu, jajanan pasar, bumbon, Sembako, buah-buahan, buku pelajaran, tukang cukur rambut, toko emas, ikan asin, bibit minyak wangi, servis jam tangan hingga peralatan pertanian memiliki keunikan tersendiri.

Bau khas bumbu-bumbu untuk masakan yang mulai membusuk menyeruak di antara los-los sempit. Entah dengan alasan apa dari dulu kala, los-los itu berada di sudut paling belakang pasar. Mungkin agar bau khas itu tidak menyengat ke semua penjuru pasar atau mungkin juga ada usaha sistematis mengasingkan para pedagang yang hampir semuanya berusia senja itu dalam sebuah deretan panjang los-los itu sehingga tempat itu lebih mirip panti jompo.

Terpal plastik yang melindungi pedagang peralatan pertanian dari terik matahari dan derasnya air hujan sudah banyak yang bolong. Di tengah-tengah cangkul, sabit, linggis, pedagang yang rambutnya telah beruban dengan gigi ompongnya sering terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Layaknya los-los pedagang bumbon, deretan panjang kios peralatan pertanian yang sepi juga seperti panti jompo khusus laki-laki. Entah mengapa pula kios peralatan pertanian itu bersebelahan dengan los bumbon.

Ketika sebuah barisan panjang para pedagang menawarkan beraneka ragam dagangan mulai dari ikan asin, sepatu, buah-buahan, daging ayam, gethuk yang berwarna-warni maka yang ada adalah kesemrawutan. Celah antar los-los sudah dipenuhi barang dagangan yang menggunung. Melintas di tengah kesemrawutan itu seperti membutuhkan keahlian khusus. Berhati-hati agar kaki tidak menendang tumpukan kardus atau keranjang barang dagangan, waspada dengan pedagang yang jongkok menata dagangan di tengah gang sempit pasar, berjalan pelan kadang menepi agar tidak saling bertabrakan saat berpapasan dengan orang lain dan yang paling penting selalu fokus pada kayu-kayu atap pasar agar kepala tidak beradu dengan kayu-kayu yang menyembul tak beraturan dengan ketinggian tidak lebih dari 1,75 meter itu.

Asap dari panci-panci yang nangkring di kompor membumbung, menyebar memberikan aroma nikmat hingga lidah bergoyang-goyang dan perut bernyanyi rock n roll. Aroma itu menggugah naluri dasar manusia untuk memamah dan aroma itu seperti panggilan dari si empunya pemilik warung, “Mari silahkan masuk warung kami, nikmati hidangan terenak hari ini.” Namun, sensasi aroma itu hanya bisa dinikmati sekian detik karena yang ada berikutnya adalah sensasi perut mulas dan wajah berkerut seperti menahan sesuatu setelah melihat genangan air comberan menyatu dengan warung-warung makan itu. Air itu adalah kombinasi dari air cucian piring, air sisa minuman entah teh atau jeruk, kuah dari makanan hingga air bersih agar kombinasi air itu tidak terlalu didominasi air cucian piring atau kuah makanan.

Hal yang paling melegakan ketika menyusuri gang-gang pasar adalah melintas di deretan kios pakaian. Tak ada bau aneh-aneh, tak ada genangan air yang kadang bikin merinding. Yang ada adalah deretan pakaian di elatase sehingga menggugah naluri belanja. Belum lagi para penjaga toko yang masih muda dan kebanyakan perempuan dengan bedak tipis di wajah, dengan lipgloss di bibir, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai, dengan Ponsel di genggaman tangan dan tentunya dengan pakaian yang mencerminkan kekinian. Yang paling menarik adalah deretan toko pakaian di lantai dua pasar yang seakan menjadi toko-toko trend center berpakaian anak muda zaman sekarang di kotaku. Anak muda zaman sekarang di kotaku tidak dianggap mengikuti tren berpakaian jika belum menginjakkan kaki di lantai dua pasar ini. Layaknya deretan factory outlet (FO) di Kota Kembang, layakan deretan distro di bilangan Seturan, Jogja, lantai dua pasar ini dipenuhi anak muda yang di dada mereka seperti ada tulisan “Muda, beda dan berbahaya.”*

Itulah pasar di kotaku. Pasar yang dijejali lebih dari 1.000 pedagang untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, roda ekonomi kota ini. Pasar yang seakan menjadi panti jompo bagi pedagang bumbon dan peralatan pertanian, namun juga menjadi kiblat berpakaian anak muda zaman sekarang.

*Lirik lagu Jika Kami Bersama (Superman Is Dead).


Aku, buku tulis & traffic light

Lampu traffic light di sudut pasar kotaku itu menjadi saksi, dua bocah kecil menantang kerasnya hidup. Selama bertahun-tahun lamanya, setiap libur sekolah menjelang tahun ajaran baru, tepat di bawah lampu traffic light itu, mereka mencoba meraih asa dengan berdagang.

Tahun ajaran baru adalah tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Bagi mereka yang beruntung memiliki rezeki lebih, maka selalu ada yang baru di tahun ajaran baru. Mulai dari sepatu baru, tas baru, seragam baru hingga ikat pinggang baru. Bagi mereka yang rezekinya pas-pasan, tahun ajaran baru tetap memiliki magnet. Paling tidak mereka tetap harus membeli buku tulis baru.

Ada Sinar Dunia, Big Boss, Mirage, Kiky hingga AL. Ketebalan bukunya pun berbeda-beda, ada yang 36/38, 50, 58 hingga 72. Angka-angka itu menunjukkan jumlah lembaran kertas buku tulis yang selalu menjadi incaran siswa saat tahun ajaran baru. Ada yang memilih karena kertasnya halus, tidak dipedih di mata, harganya murah hingga gambar sampul buku tulis.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul begitu saja. Berjualan buku tulis saat libur sekolah. Dua bocah yang disokong modal ratusan ribu rupiah dari kedua orangtua mereka akhirnya memulai petualangan berdagang. Dua bocah itu tidak lain adalah aku, siswa kelas I SMP Muhammadiyah dan kakak sepupuku, Fathur, siswa kelas III SMP pesantren.

Dua kardus besar berisi buku tulis menjadi modal awal kami. Ditambah juga rak-rak buku berbentuk susun berbahan plastik menjadi tempat dasaran. Di bawah lampu traffic light, sudut timur laut pasar di kotaku, naluri berdagang dua bocah itu diasah. Soal rak-rak buku itu yang menjadi aneh. Rak buku yang seharusnya berada di dalam kamar kami, dipaksa bermigrasi menuntaskan kegilaan kami.

Beberapa hari berlalu sejak pertama berjualan buku tulis, kami merasa ada hal yang aneh dengan rak buku itu. Rasa-rasanya rak buku itu terlalu pendek sehingga orang yang berlalu lalang tidak memerhatikan dagangan kami. Alhasil, dalam beberapa hari pertama berjualan, selalu saja sepi. Mendekat saja enggan, apalagi menawar, apalagi membeli. Sempat aku dan kakak sepupuku patah arang, namun kami diselamatkan dengan adanya penemuan besar yaitu kotak kayu yang biasa digunakan untuk pengiriman telur milik budhe-ku.

Kotak kayu yang terbuat dari blabak tipis itu menyelamatkan kami dan juga semangat kami karena setelah kami menggunakan kotak kayu itu, pembeli mulai berdatangan dan kami juga bersyukur karena rak buku yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan buku pelajaran sekolah kami bisa terselamatkan dan kembali ke khitahnya.

Tahun pertama berjualan buku adalah tahun terberat. Selain karena kami masih miskin pengalaman dalam dunia perbukuan tulis, kami juga harus bersaing dengan pedagang buku tulis lainnya yang menjamur setiap libur sekolah. Persaingan tidah hanya terjadi di pasar karena saling merebut hati pembeli agar mau membeli buku dagangan. Belum lagi kadang ada pedagang yang sengaja merusak harga pasar dengan menurunkan harga jual buku tulis hingga batas limit.

Perang urat syaraf juga sering terjadi di toko tempat kulakan buku tulis. Sesama pedagang kadang saling berebut buku-buku tulis yang laris di pasaran, terutama menjelang libur sekolah usai. Faktor kebocahan kami sering membantu. Pelayan toko tempat kami kulakan buku sering kasihan dengan kami yang harus bersaing dengan orang dewasa. Akhirnya mereka pun sering rela menyembunyikan buku pesanan kami agar tidak disambar pedagang lain. Dan yang membuat kami untung, tentunya rasa belas kasihan dari pembeli buku tulis. Banyak pembeli yang mengutarakan rasa belas kasihan kepada kami bocah-bocah ingusan yang di bawah terik matahari mencari sepeser rezeki.

Dari modal awal ratusan ribu rupiah, aku dan kakak sepupuku meraup untung yang lumayan. Untung itu kami bagi dua sama rata dan nilainya yang masing-masing kami terima hampir sama dengan besarnya modal awal itu. Dan uang ratusan ribu rupiah itu aku dapatkan setelah hampir sebulan penuh bekerja mengisi waktu libur sekolah. Uang pendapatan halal pertamaku.

Tahun kedua saat libur sekolah tiba, kami semakin menggila. Selain adanya tambahan modal, kami juga mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Modalnya masih ratusan ribu rupiah, namun sudah mendekati angka 1 juta rupiah. Angka yang besar bagiku, bocah kelas II SMP. Tambahan sumber daya manusia itu tidak lain adalah saudara sepupuku lainnya, Nani dan dua teman kecilku, Fakih dan Ardi.

Setelah melewati fase pengalaman pertama, kami berani mengklaim diri kami “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah.” Pengalaman tahun pertama benar-benar mengajarkan kami tentang bagaimana merayu pembeli ibu rumah tangga, pembeli bapak-bapak, pembeli pelajar SD, ataupun pelajar SMP dan SMA. Khusus untuk pelajar SMP dan SMA dan khususnya lagi yang jenis kelaminnya berbeda dengan kami semua, teman saya Ardi memiliki jurus maut meruntuhkan hati mereka untuk membeli buku tulis dagangan kami. Kotak kayu untuk pengiriman telur masih setia menemani kami. Namun kami tambah dengan rak kayu yang berjenjang seperti anak tangga untuk mempercantik tempat dasaran kami.

Persaingan dengan pedagang lain pun sudah tidak terlalu kami risaukan. Untuk memantau harga buku tulis di pedagang lainnya, kami sering mengutus saudara sepupu kami, Nani berpura-pura menjadi pembeli. Persaingan di tempat kulakan juga sudah bisa kami atasi, Cacik dan Koh, pemilik toko tempat kulakan sudah memberi kami kepercayaan, kami bisa masuk gudang dan mengambil langsung buku tulis yang ingin kami beli.

Libur sekolah tahun itu kami tutup dengan kesuksesan. Slogan “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah” membawa kami dalam peta pecaturan dunia perbukuan tulis. Kami tidak lagi dianggap sebelah mata, tidak lagi dianggap bocah ingusan yang belajar berdagang buku tulis. Dan sudah barang tentu, keuntungan yang didapat semakin berlipat-lipat.

Tahun-tahun berikutnya, libur sekolah dengan berjualan buku tulis menjadi bagian terindah dalam hidup kami. Dengan gilang gemilang kami mencatatkan diri sebagai pedagang buku tulis termuda dan meraih hasil yang luar biasa. Modal berdagang telah menembus angka belasan juta rupiah. Tidak hanya di bawah traffic light saja kami berjualan, namun juga menggunakan mobil untuk berkeliling kota-kota mulai dari Kutoarjo, Kota Gede, Prambanan, Wonosari, Purworejo dan Temanggung. Selain buku, kami juga melengkapi diri dengan dagangan pendamping yaitu alat tulis murah meriah. Tiga biji pulpen dengan harga 1.500 perak hingga 4.000 perak. Dagangan pendamping itulah yang akhirnya menjadikan kami meraih puncak kesuksesan berdagang.

Tiga tahun setiap libur sekolah kami berada di masa keemasan. Kalau pemain sepak bola ibaratnya di puncak karier. Selalu mencetak gol kalau seorang striker, selalu menjadi palang pintu yang kokoh kalau seorang bek dan menjadi penyelamat penepis bola-bola lawan jika menjadi kiper. Tahun keemasan itu harus ditutup. Tahun ketujuh libur sekolah atau tahun pertama saya masuk jenjang kuliah, roda berputar. Kami berada di titik terendah dan usaha bedagang buku tulis kami tutup usia untuk selamanya.

Kini, beberapa tahun kemudian, di bawah traffic light sudut pasar itu tidak ada lagi teriakan bocah-bocah menawarkan dagangannya, tak ada lagi keceriaan bocah-bocah mengisi waktu libur sekolah dengan berdagang. Di bawah traffic light itu bercokol pedagang bawang merah dan bawang putih yang lesu menawarkan dagangannya karena harga bombon itu selangit.


Senyum Terindah Sang Pendidik

Mata Bu Guru Ela sudah sebam sedari tadi. Sudah habis air matanya. Ia hanya bisa senggugukan. Sapu tangan kecilnya sudah basah oleh air mata, air mata kesedihan yang saat ini belum terobati. Kedua tangannya masih enggan terlepas dari punggung Bu Guru Al. Dua guru beda generasi itu masih berpelukan, sebuah pelukan tentang perpisahan.

Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Layaknya sekolah dasar pada umumnya, semua guru bersiap menyambut datangnya siswa-siswi baru kelas I. Memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru dan berharap pendidikan bagi anak-anak semakin baik serta sambil juga berharap kesejahteraan bagi para pendidik ada perbaikan. Harapan itu tersimpan dalam setiap relung hati pada pendidik SD di sebuah kota kecil. Sebuah SD swasta di bawah bendera persyarikatan Muhammadiyah.

Bukan sekolah yang menyandang gelar sekolah unggulan yang memunggut biaya selangit. Bukan pula sekolah dengan segudang fasilitas lengkap. SD itu hanya SD biasa, selayaknya SD pada umumnya yang beberapa tahun terakhir melahirkan prestasi jempolan sehingga menarik minat ratusan orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SD itu.

Tangis Bu Guru Ela belum mereda. Bu Guru Yas, Bu Guru Kastini, Bu Guru Warni yang mengelilingi Bu Guru Ela dan Bu Guru Al semuanya terdiam. Menahan air mata agar tidak terlalu deras mengucur. Saling menguatkan hati sambil berangkulan. Pak Guru Hadi yang duduk tidak jauh dari mereka menatap jauh keluar ruang guru, menerawang harapan tahun ajaran baru di sekolah itu.

Harapan indah tahun ajaran baru di SD itu belum terkembang, namun kabar pagi itu seakan melayukan harapan. Kabar yang keluar langsung dari bibir Bu Guru Al seakan menjadi petir di siang bolong yang cerah.

“SK ini baru turun kemarin. Perhari ini saya dipindahtugaskan ke SD Negeri,” ucap Bu Guru Al terbata-bata di hadapan semua guru.

Kabar itu meruntuhkan semangat dan impian guru di SD kampung itu. Baru beberapa hari yang lalu, saat sekolah masih libur, Bu Guru Al yang menahkodai SD itu melecutkan semangat guru-guru untuk meraih impian baru di tahun ajaran baru.

Impian tentang prestasi akademik murid, impian tentang gedung sekolah baru, impian tentang kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak, impian tentang fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang representatif, impian tentang perbaikan sistem pembelajaran di kelas, impian tentang nama harum dan tinta emas prestasi SD yang bukan SD unggulan itu.

Sebagai sebuah SD underdog, guru-guru SD itu paham benar hanya lewat prestasi, nama SD itu akan dicatat dengan tinta emas. Sebagai SD swasta, mereka sadar betul, berdikari dan mandiri akan menjadikan SD itu bisa bersaing dengan SD Negeri. Sebagai SD yang sebenarnya tidak diprioritas dan diunggulkan di persyarikatannya, mereka terpacu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka dan selama beberapa tahun terakhir ini mereka, guru-guru itu telah membuktikannya.

Sudah dua periode Bu Guru Al menjadi orang yang paling dituakan di SD itu sebagai kepala sekolah. Selayaknya nahkoda perahu, dia tidak pernah berkata karena saya perahu ini bisa mengarungi samudera. Dia selalu mengatakan, “Karena awak-awak perahu yang gagah berani dan cekatan, penumpang yang taat dan patuh, perahu ini bisa melaju melintasi badai dunia pendidikan.”

Karena mereka semualah, sinergitas antara guru, murid dan tentunya orangtua, SD yang bukan SD unggulan itu diperhitungkan dalam percaturan dunia pendidikan di kota kecil itu. SD biasa yang bisa bersaing dengan SD unggulan dari segi prestasi akademik ataupun nonakademik.

Mendung tebal masih menggelayuti ruang guru, meski cuaca di luar sebenarnya cerah. Hampir semuanya berwajah muram. Tak ada senyum mengembang dari para pendidik itu. Tak ada pancaran optimisme dari wajah para pahlawan pendidikan itu.

Bu Guru Ela, guru tidak tetap dan termuda di SD itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia terdiam. Mulutnya terkunci rapat menahan duka. Bu Guru Warni, guru paling senior yang baru saja pensiun, namun tetap mengabdi di SD itu karena kecintaannya hanya menundukkan kepala. Pak Guru Hadi masih menerawang jauh melihat siswa-siswi bermain, berlarian di halaman sekolah. Bu Guru Kastini, guru paling sabar itu duduk lesu di sudut ruangan.

Tanpa kata mereka saling tahu dan paham apa yang mereka rasakan hari itu. Hari di mana mereka kehilangan nahkoda yang tegas tapi bijaksana, yang keras tapi lembut, yang tidak hanya memerintah tapi memberi contoh, yang tidak hanya berkata-kata tapi juga mendengar.

Setelah sekian lama ruang itu sunyi senyap tanpa kata, Bu Guru Al angkat bicara. “Hapus semua air mata dan duka. Hari esok telah menanti. Sambutlah hari itu dengan semangat dan optimisme. Hari di mana gilang gemilang SD ini akan dicatat dalam tinta emas. Saya percaya semua kawanku, saudaraku semuanya bisa mewujudkan semua harapan dan impian SD ini.”

Senyum terindah pun akhirnya mengembang dari para pendidik dan mendung tebal telah pergi dari ruang guru yang sempit itu.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk Bundaku tercinta dan semua guru di sebuah SD biasa yang luar biasa.


Jalur pemetik teh

Aku bukan penggila sepeda,

tapi aku percaya bersepeda bikin sehat dan bahagia.

JALUR PEMETIK TEH-Membelah kebun teh Kemuning, Karanganyar.

Satu persatu sepeda kayuh telah memenuhi bak belakang mobil pikap keluaran tahun 1982 itu. Hampir tak ada tempat tersisa di bak belakang mobil itu, roda, pedal, sadel saling beradu, diikat kuat.

Pagi ini, petualangan bersepeda akan dimulai. Sudah tidak terlalu pagi karena jarum jam sudah menunjukkan angka 06.30 WIB saat mobil mulai menyusuri jalanan Solo yang ramai. Mobil putih pikap yang mengangkut sepeda beriringan dengan mobil yang mengangkut pesepeda menuju sebuah desa di ujung Kabupaten Karanganyar.

Desa Kemuning namanya. Sebua desa yang terkenal dengan kebun tehnya. Desa yang menawarkan hamparan kebun teh yang asri dengan lanscape berbukit-bukit, dengan latar belakang pegunungan dan tentunya dengan hawa sejuk khas pegunungan.

Ini adalah pengalaman keduaku bersepeda di Kemuning. Beberapa bulan yang lalu, dengan personel yang lebih sedikit, saya dan beberapa jurnalis pecinta sepeda telah menjajal trek di tengah kebun teh. Dan kali ini, ada antusiasme yang lebih sehingga personel yang dibawa pun bertambah.

Jalan berkelok-kelok, naik turun dengan pemandangan alam yang indah disuguhkan mulai dari Karangnyar hingga Kemuning. Paling tidak butuh waktu 1,5 jam perjalanan dari Solo sampai di titik pemberhentian, Pasar Kemuning. Mobil pikap yang kami sewa bakal menunggu kami di pasar itu, sementara kami akan memulai petualangan bersepeda.

Roda-roda mulai bergerak pelan. Pedal dikayuh dengan perlahan. Masing-masing dari kami mulai menyiapkan setelan gear yang pas karena jalanan mulai naik turun. Dari gear kecil ke gear paling besar karena jalanan menurun curam dan langsung disambut dengan tanjakan tajam. Hanya sekitar ½ km jalanan beraspal kami lalui, setelah itu jalan tanah dan batu yang membelah kebun-kebun teh itu kami tebas.

Jalan tanah berbatu itu pun hanya sebentar kami lalui karena jalur sesungguhnya sudah menanti, jalur pemetik teh. Jalur yang biasa digunakan para pemetik teh itulah pertualangan sesungguhnya. Jalur yang lebar tidak menentu, kadang seukuran stang sepeda, kadang lapang, kadang stang sepeda harus beradu dengan ranting-ranting pohon teh.

Sepeda-sepeda kami berjalan beiringan di antara lebatnya pohon teh yang tingginya antara ¾-1 meter. Hanya tubuh dan kepala yang menyembul di antara kebuh teh. Sepeda kami seakan tertelan rungkut-nya kebun teh. Tanah licin sisa hujan semalam menjadikan pejalanan semakin berat. Pedal dikayuh sekuat-kuatnya, namun roda seakan enggan untuk berputar.

DOWNHILL-Sekuel downhill dari seorang pesepeda di Kemuning, Karanganyar

Ada kalanya sepeda harus dituntun karena jalur pemetik teh terlalu sempit, ada kalanya pula sepeda melaju kencang saat jalur pemetih teh cukup lebar dan menurun tajam. Ada kalanya pula sepeda harus diangkat karena ada selokan kecil atau pipa air minum di tengah jalur.

Petulangan bersepeda di jalur pemetik teh sudah lebih dari satu jam. Saatnya mengisi amunisi untuk tubuh karena petualangan belum berakhir. Di Pasar Kemuning, perut kami dijejali dengan berbagai makanan dan sudah siap lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Kebun karet yang berada beberapa kilometer dari Kemuning menjadi tujuan kami. Jalan menuju kebun karet beraspal mulus dan menurun. Dengan kecepatan lebih dari 80km/jam, perjalanan bersepeda menjadi mengesankan. Layaknya lomba balap sepeda yang selalu ada embel-embelnya “tour de” kami beradu sprint, adu tanjakan. Bukan untuk mendapatkan yellow jersey ataupun polkadot jersey, tapi karena kami senang melakukannya.

Di tengah kebun karet, petulangan berulang. Pohon-pohon karet menjadi saksi keliaran bersepeda. Dan setelah puas di kebun karet, maka perjalanan dilanjutkan menuju kebun karet berikutnya. Lagi-lagi adu sprint dan tanjakan.

Ketika air dibotol menipis dan jalur semakin berat dengan tantangan naik turun, seakan tenaga tak lagi bersisa. Petualangan ditutup dengan tanjakan yang bagi saya teramat sangat menanjak. Nafas hampir habis, jantung dipaksa bekerja lebih dari biasanya, kaki-kaki seakan kaku tak mampu lagi mengayuh pedal, tangan sudah gemetaran memegang stang. Aku benar-benar lelah, tapi bahagia.

KEBUN KARET- Di kebun karet petulangan dilanjutkan.


%d blogger menyukai ini: