Aku, buku tulis & traffic light

Lampu traffic light di sudut pasar kotaku itu menjadi saksi, dua bocah kecil menantang kerasnya hidup. Selama bertahun-tahun lamanya, setiap libur sekolah menjelang tahun ajaran baru, tepat di bawah lampu traffic light itu, mereka mencoba meraih asa dengan berdagang.

Tahun ajaran baru adalah tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Bagi mereka yang beruntung memiliki rezeki lebih, maka selalu ada yang baru di tahun ajaran baru. Mulai dari sepatu baru, tas baru, seragam baru hingga ikat pinggang baru. Bagi mereka yang rezekinya pas-pasan, tahun ajaran baru tetap memiliki magnet. Paling tidak mereka tetap harus membeli buku tulis baru.

Ada Sinar Dunia, Big Boss, Mirage, Kiky hingga AL. Ketebalan bukunya pun berbeda-beda, ada yang 36/38, 50, 58 hingga 72. Angka-angka itu menunjukkan jumlah lembaran kertas buku tulis yang selalu menjadi incaran siswa saat tahun ajaran baru. Ada yang memilih karena kertasnya halus, tidak dipedih di mata, harganya murah hingga gambar sampul buku tulis.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul begitu saja. Berjualan buku tulis saat libur sekolah. Dua bocah yang disokong modal ratusan ribu rupiah dari kedua orangtua mereka akhirnya memulai petualangan berdagang. Dua bocah itu tidak lain adalah aku, siswa kelas I SMP Muhammadiyah dan kakak sepupuku, Fathur, siswa kelas III SMP pesantren.

Dua kardus besar berisi buku tulis menjadi modal awal kami. Ditambah juga rak-rak buku berbentuk susun berbahan plastik menjadi tempat dasaran. Di bawah lampu traffic light, sudut timur laut pasar di kotaku, naluri berdagang dua bocah itu diasah. Soal rak-rak buku itu yang menjadi aneh. Rak buku yang seharusnya berada di dalam kamar kami, dipaksa bermigrasi menuntaskan kegilaan kami.

Beberapa hari berlalu sejak pertama berjualan buku tulis, kami merasa ada hal yang aneh dengan rak buku itu. Rasa-rasanya rak buku itu terlalu pendek sehingga orang yang berlalu lalang tidak memerhatikan dagangan kami. Alhasil, dalam beberapa hari pertama berjualan, selalu saja sepi. Mendekat saja enggan, apalagi menawar, apalagi membeli. Sempat aku dan kakak sepupuku patah arang, namun kami diselamatkan dengan adanya penemuan besar yaitu kotak kayu yang biasa digunakan untuk pengiriman telur milik budhe-ku.

Kotak kayu yang terbuat dari blabak tipis itu menyelamatkan kami dan juga semangat kami karena setelah kami menggunakan kotak kayu itu, pembeli mulai berdatangan dan kami juga bersyukur karena rak buku yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan buku pelajaran sekolah kami bisa terselamatkan dan kembali ke khitahnya.

Tahun pertama berjualan buku adalah tahun terberat. Selain karena kami masih miskin pengalaman dalam dunia perbukuan tulis, kami juga harus bersaing dengan pedagang buku tulis lainnya yang menjamur setiap libur sekolah. Persaingan tidah hanya terjadi di pasar karena saling merebut hati pembeli agar mau membeli buku dagangan. Belum lagi kadang ada pedagang yang sengaja merusak harga pasar dengan menurunkan harga jual buku tulis hingga batas limit.

Perang urat syaraf juga sering terjadi di toko tempat kulakan buku tulis. Sesama pedagang kadang saling berebut buku-buku tulis yang laris di pasaran, terutama menjelang libur sekolah usai. Faktor kebocahan kami sering membantu. Pelayan toko tempat kami kulakan buku sering kasihan dengan kami yang harus bersaing dengan orang dewasa. Akhirnya mereka pun sering rela menyembunyikan buku pesanan kami agar tidak disambar pedagang lain. Dan yang membuat kami untung, tentunya rasa belas kasihan dari pembeli buku tulis. Banyak pembeli yang mengutarakan rasa belas kasihan kepada kami bocah-bocah ingusan yang di bawah terik matahari mencari sepeser rezeki.

Dari modal awal ratusan ribu rupiah, aku dan kakak sepupuku meraup untung yang lumayan. Untung itu kami bagi dua sama rata dan nilainya yang masing-masing kami terima hampir sama dengan besarnya modal awal itu. Dan uang ratusan ribu rupiah itu aku dapatkan setelah hampir sebulan penuh bekerja mengisi waktu libur sekolah. Uang pendapatan halal pertamaku.

Tahun kedua saat libur sekolah tiba, kami semakin menggila. Selain adanya tambahan modal, kami juga mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Modalnya masih ratusan ribu rupiah, namun sudah mendekati angka 1 juta rupiah. Angka yang besar bagiku, bocah kelas II SMP. Tambahan sumber daya manusia itu tidak lain adalah saudara sepupuku lainnya, Nani dan dua teman kecilku, Fakih dan Ardi.

Setelah melewati fase pengalaman pertama, kami berani mengklaim diri kami “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah.” Pengalaman tahun pertama benar-benar mengajarkan kami tentang bagaimana merayu pembeli ibu rumah tangga, pembeli bapak-bapak, pembeli pelajar SD, ataupun pelajar SMP dan SMA. Khusus untuk pelajar SMP dan SMA dan khususnya lagi yang jenis kelaminnya berbeda dengan kami semua, teman saya Ardi memiliki jurus maut meruntuhkan hati mereka untuk membeli buku tulis dagangan kami. Kotak kayu untuk pengiriman telur masih setia menemani kami. Namun kami tambah dengan rak kayu yang berjenjang seperti anak tangga untuk mempercantik tempat dasaran kami.

Persaingan dengan pedagang lain pun sudah tidak terlalu kami risaukan. Untuk memantau harga buku tulis di pedagang lainnya, kami sering mengutus saudara sepupu kami, Nani berpura-pura menjadi pembeli. Persaingan di tempat kulakan juga sudah bisa kami atasi, Cacik dan Koh, pemilik toko tempat kulakan sudah memberi kami kepercayaan, kami bisa masuk gudang dan mengambil langsung buku tulis yang ingin kami beli.

Libur sekolah tahun itu kami tutup dengan kesuksesan. Slogan “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah” membawa kami dalam peta pecaturan dunia perbukuan tulis. Kami tidak lagi dianggap sebelah mata, tidak lagi dianggap bocah ingusan yang belajar berdagang buku tulis. Dan sudah barang tentu, keuntungan yang didapat semakin berlipat-lipat.

Tahun-tahun berikutnya, libur sekolah dengan berjualan buku tulis menjadi bagian terindah dalam hidup kami. Dengan gilang gemilang kami mencatatkan diri sebagai pedagang buku tulis termuda dan meraih hasil yang luar biasa. Modal berdagang telah menembus angka belasan juta rupiah. Tidak hanya di bawah traffic light saja kami berjualan, namun juga menggunakan mobil untuk berkeliling kota-kota mulai dari Kutoarjo, Kota Gede, Prambanan, Wonosari, Purworejo dan Temanggung. Selain buku, kami juga melengkapi diri dengan dagangan pendamping yaitu alat tulis murah meriah. Tiga biji pulpen dengan harga 1.500 perak hingga 4.000 perak. Dagangan pendamping itulah yang akhirnya menjadikan kami meraih puncak kesuksesan berdagang.

Tiga tahun setiap libur sekolah kami berada di masa keemasan. Kalau pemain sepak bola ibaratnya di puncak karier. Selalu mencetak gol kalau seorang striker, selalu menjadi palang pintu yang kokoh kalau seorang bek dan menjadi penyelamat penepis bola-bola lawan jika menjadi kiper. Tahun keemasan itu harus ditutup. Tahun ketujuh libur sekolah atau tahun pertama saya masuk jenjang kuliah, roda berputar. Kami berada di titik terendah dan usaha bedagang buku tulis kami tutup usia untuk selamanya.

Kini, beberapa tahun kemudian, di bawah traffic light sudut pasar itu tidak ada lagi teriakan bocah-bocah menawarkan dagangannya, tak ada lagi keceriaan bocah-bocah mengisi waktu libur sekolah dengan berdagang. Di bawah traffic light itu bercokol pedagang bawang merah dan bawang putih yang lesu menawarkan dagangannya karena harga bombon itu selangit.

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

6 responses to “Aku, buku tulis & traffic light

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: