Pasar di Kotaku

Mengapa pedagang bumbon di pasar tradisional selalu didominasi mereka yang telah berusia senja? Kenapa warung-warung makan di pasar selalu meninggalkan genangan air sisa piring dicuci?

Pasar yang menampung pedagang pakaian, warung makan, penjual VCD bajakan, pernak perik, sepatu, jajanan pasar, bumbon, Sembako, buah-buahan, buku pelajaran, tukang cukur rambut, toko emas, ikan asin, bibit minyak wangi, servis jam tangan hingga peralatan pertanian memiliki keunikan tersendiri.

Bau khas bumbu-bumbu untuk masakan yang mulai membusuk menyeruak di antara los-los sempit. Entah dengan alasan apa dari dulu kala, los-los itu berada di sudut paling belakang pasar. Mungkin agar bau khas itu tidak menyengat ke semua penjuru pasar atau mungkin juga ada usaha sistematis mengasingkan para pedagang yang hampir semuanya berusia senja itu dalam sebuah deretan panjang los-los itu sehingga tempat itu lebih mirip panti jompo.

Terpal plastik yang melindungi pedagang peralatan pertanian dari terik matahari dan derasnya air hujan sudah banyak yang bolong. Di tengah-tengah cangkul, sabit, linggis, pedagang yang rambutnya telah beruban dengan gigi ompongnya sering terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Layaknya los-los pedagang bumbon, deretan panjang kios peralatan pertanian yang sepi juga seperti panti jompo khusus laki-laki. Entah mengapa pula kios peralatan pertanian itu bersebelahan dengan los bumbon.

Ketika sebuah barisan panjang para pedagang menawarkan beraneka ragam dagangan mulai dari ikan asin, sepatu, buah-buahan, daging ayam, gethuk yang berwarna-warni maka yang ada adalah kesemrawutan. Celah antar los-los sudah dipenuhi barang dagangan yang menggunung. Melintas di tengah kesemrawutan itu seperti membutuhkan keahlian khusus. Berhati-hati agar kaki tidak menendang tumpukan kardus atau keranjang barang dagangan, waspada dengan pedagang yang jongkok menata dagangan di tengah gang sempit pasar, berjalan pelan kadang menepi agar tidak saling bertabrakan saat berpapasan dengan orang lain dan yang paling penting selalu fokus pada kayu-kayu atap pasar agar kepala tidak beradu dengan kayu-kayu yang menyembul tak beraturan dengan ketinggian tidak lebih dari 1,75 meter itu.

Asap dari panci-panci yang nangkring di kompor membumbung, menyebar memberikan aroma nikmat hingga lidah bergoyang-goyang dan perut bernyanyi rock n roll. Aroma itu menggugah naluri dasar manusia untuk memamah dan aroma itu seperti panggilan dari si empunya pemilik warung, “Mari silahkan masuk warung kami, nikmati hidangan terenak hari ini.” Namun, sensasi aroma itu hanya bisa dinikmati sekian detik karena yang ada berikutnya adalah sensasi perut mulas dan wajah berkerut seperti menahan sesuatu setelah melihat genangan air comberan menyatu dengan warung-warung makan itu. Air itu adalah kombinasi dari air cucian piring, air sisa minuman entah teh atau jeruk, kuah dari makanan hingga air bersih agar kombinasi air itu tidak terlalu didominasi air cucian piring atau kuah makanan.

Hal yang paling melegakan ketika menyusuri gang-gang pasar adalah melintas di deretan kios pakaian. Tak ada bau aneh-aneh, tak ada genangan air yang kadang bikin merinding. Yang ada adalah deretan pakaian di elatase sehingga menggugah naluri belanja. Belum lagi para penjaga toko yang masih muda dan kebanyakan perempuan dengan bedak tipis di wajah, dengan lipgloss di bibir, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai, dengan Ponsel di genggaman tangan dan tentunya dengan pakaian yang mencerminkan kekinian. Yang paling menarik adalah deretan toko pakaian di lantai dua pasar yang seakan menjadi toko-toko trend center berpakaian anak muda zaman sekarang di kotaku. Anak muda zaman sekarang di kotaku tidak dianggap mengikuti tren berpakaian jika belum menginjakkan kaki di lantai dua pasar ini. Layaknya deretan factory outlet (FO) di Kota Kembang, layakan deretan distro di bilangan Seturan, Jogja, lantai dua pasar ini dipenuhi anak muda yang di dada mereka seperti ada tulisan “Muda, beda dan berbahaya.”*

Itulah pasar di kotaku. Pasar yang dijejali lebih dari 1.000 pedagang untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, roda ekonomi kota ini. Pasar yang seakan menjadi panti jompo bagi pedagang bumbon dan peralatan pertanian, namun juga menjadi kiblat berpakaian anak muda zaman sekarang.

*Lirik lagu Jika Kami Bersama (Superman Is Dead).

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

3 responses to “Pasar di Kotaku

  • sari

    ~ satu hal yang selalu aku ingat di pasar muntilan adalah penjual soto yang udah turun temurun menjadi langganan ku dengan bapak…hmmm kenangan indah saat aku kecil hingga besar bapak masih mengajak ku makan di langganan nya…dan yang mbuat ku sedih saat tahun kemarin aku pulang dan makan disana terasa getir…bukan karena rasa yang berbeda tapi karena aku tidak bersama bapak lagi….membuat pikiran ku melayang ke masa lalu…dan aku berjanji akan mengajak anak ku kelak untuk bernostalgia bahwa eyang kakung bahwa disitu bukti cinta dan kasih sayang eyang buat mama nya…~ ( maaf panjang ya )

    • angscript

      kalau istilahku adalah menyusuri lagi jejak kenangan….
      ketika kau mengulangnya mungkin terasa pahit, namun tetap ada senyum mengembang, bahwa di warung soto itu ada kenangan indahmu dengan bapak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: