Bertemu Tan Malaka di PMI

Mungkin bangsa ini lupa kalau pernah punya anak bangsa yang bernama Tan Malaka. Mungkin para sejarawan hilang ingatan, proklamator Soekarno selalu menenteng buku karya Ibrahim Datuk Tan Malaka untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Mungkin para anak muda negeri ini lebih bangga mengenakan kaus oblong bergambar Che Guevara daripada bergambar laki-laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat ini.

Kalau kau bertanya siapakah Tan Malaka itu pada anak SD atau SMP, mungkin mereka menjawab, “Nama lain dari Selat Malaka.” Kalau kau bertanya pada pelajar SMA, mungkin mereka hanya bergumam, mengerutkan dahi, tersenyum dan menggelengkan kepala. Wajar mereka pelajar SD-SMA tak tahu siapa Tan Malaka karena memang nama itu tidak pernah disebut dalam buku pelajaran buatan Departemen P&K atau Kementerian Pendidikan. Kalau kau bertanya pada mahasiswa, bisa jadi mereka menjawab, “Jelas Tan Malaka itu tokoh PKI, temannya Aidit,” jawab mereka sok tau.

Tan Malaka adalah legenda. Tan Malaka adalah tokoh misterius seperti tokoh Pendekar Tanpa Nama dalam novel Nagabumi-nya Seno Gumira Ajidarma. Tokoh yang menyandang 23 nama palsu dan hampir 20 tahun (1923-1942) menjadi seorang pelarian yang selalu berpindah tempat mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Dialah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebelum Indonesia merdeka. Bukan tokoh PKI era Aidit seperti kata mahasiswa yang sok tau itu. Maka, jangan heran kalau namanya sama sekali tidak ada dalam buku pelajaran sejarah resmi dari pemerintah karena Tan Malaka seorang komunis.

Bagi sebagian orang, Tan Malaka layak disejajarkan dengan Che Guevara sebagai tokoh revolusioner dan tak kenal kompromi. Namanya dikenal mulai di Moskow ketika masih ada Komunis Internasional (Komintern), disebut-sebut di Belanda setelah sempat mencalonkan diri menjadi anggota DPR Belanda, di Filipina disejajarkan dengan Jose Rizal, pahlawan negeri itu.

Nasib Tan Malaka yang namanya tidak membumi di negerinya sendiri lebih karena dia seorang komunis. Namun, karyanya mulai dari 100% Merdeka, Gerpolek, Dari Penjara Ke Penjara hingga karya masterpiece-nya, Madilog layak dihargai. Dalam karya itu tertuang pemikiran-pemikiran seorang Tan Malaka. Bahkan, seorang Soekarno pun diketahui sering menenteng buku-buku karya Tan Malaka saat persiapan kemerdekaan bangsa ini.

Buku-buku yang berisi pemikirannya sudah banyak menjejali toko-toko buku. Dan khazanah tentang Tan Malaka semakin lengkap dengan terbitnya novel Pacar Merah Indonesia (PMI) karya Matu Mona. Novel kuno yang terbit tahun 1930-an ini, diterbitkan ulang oleh penerbit Beranda, Februari 2010. Dari tiga buku PMI, baru menemukan dua buku yaitu PMI buku 1 dan PMI buku 2 yang beredar di pasaran.

Dalam novel itu, Tan Malaka digambarkan sebagai sosok bernama Pacar Merah. Seperti dalam kehidupan nyata, di berbagai negara tempat pelariannya namanya selalu berganti-ganti menggunakan nama palsu untuk menghindari kejaran intel-intel internasional yang memburunya.

Membaca novel ini, kau akan dibawa dalam hiruk pikuk peta perpolitikan internasional tahun 1930-1932. Dari Moskow, Paris, Thailand, Filipina, Singapura, Palestina, India hingga Iran. Kau akan dibawa berlari dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain, dari satu pulau ke pulau lain. Layaknya sebuah cerita petualangan, ada kalanya Pacar Merah rehat sebentar dari kejaran intel, ada kalanya terkepung dalam rumah, terjebak dalam peperangan China-Jepang, tertangkap intel, dipenjara dan bebas untuk melanjutkan perjuangan.

Dalam novel itu digambarkan pula bagaimana sosok Pacar Merah yang begitu memiliki pengaruh di berbagai negara hingga selalu ada orang yang membantunya dalam pelarian. Selalu ada lubang tikus saat intel internasional memburunya. Namun, sayang, dalam novel itu digambarkan sosok Pacar Merah yang seperti memiliki ilmu mistik sehingga selalu bisa selamat dari tangkapan intel meski sudah terjepit. Mungkin itu jadi alasan M Sjarqawi (penerbit PMI tahun 1938) untuk mengatakan jika tokoh yang ada dalam novel itu adalah fiksi belaka. Padahal dalam buku Madilog, Tan Malaka menentang keras dunia mistik yang membelenggu bangsa ini.

Bagi Harry A Poeze, peneliti Belanda yang menaruh perhatian lebih soal Tan Malaka, PMI selayaknya roman picisan yang sedang berkembang tahun 1930-an. Namun ada kelebihan roman PMI yaitu menggabungkan antara fakta, khayalan dan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Karl May, Victor Hugo ataupun Alexandre Dumas kala itu.

Dan seperti roman-roman pada umumnya, bumbu-bumbu asmara dan percintaan juga menjadi kisah menarik dalam PMI. Kisah cinta antara Ivan Alminsky (tokoh yang menggambarkan tokoh PKI lainnya Alimin) dan Marcelle dengan kata romantis j’ai deux amorus juga mengisi beberapa lembar buku ini. Atau kisah tentang Pacar Merah dengan Si Cantik Ninon. Ketika Alminskyberkata kepada Marcelle ,”J’ai deux amorus. Aku memiliki dua cinta yaitu cinta kepada negeriku dan kepadamu.”, maka Pacar Merah memilih mengesampingkan perasaannya kepada Ninon karena begitu besar rasa cintanya kepada negerinya. Hingga akhir hayat, Pacar Merah hanya memiliki satu cinta, cinta kepada negerinya, Indonesia.

Ketika buku-buku karya Tan Malaka dianggap sebagai buku berat, buku yang dijejali doktrinasi dan “kalah pamor” dengan buku picisan, maka novel PMI bisa menjadi obat. Obat untuk lebih mengenal Si Macan, Tan Malaka.

Iklan

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

6 responses to “Bertemu Tan Malaka di PMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: