Monthly Archives: Agustus 2010

Bunda

Langkah kaki perempuan itu semakin menjauh. Ia sempat menengok ke belakang, melihat dua bocah yang dipegangi seorang perempuan tua di belakang rumah.

Perempuan itu melangkah dengan berat sampai-sampai tak sempat melambaikan tangan. Sempat ia menciumi pipi kedua bocah itu, namun semakin lama ia berada di sana, akan semakin berat ia meninggalkan dua bocah itu. Akhirnya perempuan itu melangkah meski berat, tikungan di ujung jalan membuatnya tak lagi terlihat. Yang tertinggal hanya isak tangis dua bocah.

Kini, perempuan tua itu mencoba menenangkan dua bocah itu. Satu bocah perempuan, satu laki-laki. Yang perempuan lebih besar, yang laki-laki sedikit lebih kecil. Tangis bocah perempuan mulai mereda. Sambil mengusap ingus yang keluar karena tangis, bocah perempuan itu menenangkan bocah laki-laki itu. “Sudah nangisnya. Besok Sabtu, Bunda kembali lagi,” kata bocah perempuan itu kepada bocah laki-laki yang tidak lain adalah adiknya.

Sejak meninggalnya ayah mereka beberapa bulan yang lalu, bocah berusia empat dan tiga tahun itu tinggal bersama nenek mereka. Dua bocah itu harus berpisah dengan bunda yang menjadi guru, jauh di luar kota. Ibu anak itu tak bisa bersua setiap hari karena jarak antara rumah nenek dan tempat dinas bunda mereka lebih dari 100 km. Sepekan sekali kadang sepekan dua kali, bunda dua bocah itu pulang menemui bocah itu, melepas rindu pada anak-anak.

Saat pagi, ketika perempuan itu harus kembali berdinas untuk menghidupi keluarga kecil itu dan terpaksa meninggalkan kedua anaknya, maka selalu ada tangisan dua bocah. Tangisan keengganan akan sebuah perpisahaan meski hanya beberapa hari saja.

Maka perempuan tua, nenek mereka hanya bisa memegangi dua cucunya agar tidak berlari mengejar ibu mereka. Tangisan dua bocah itu di belakang rumah selalu menghiasi pagi hingga beberapa bulan kemudian tak ada lagi tangis pagi dari mereka karena perempuan itu pindah tugas di kota tempat kelahirannya. Keluarga kecil itu kembali bersatu, tanpa jarak.

***

23 Tahun kemudian

Jarum jam sudah menunjukkan angka 00.15 WIB. Bocah laki-laki itu kini menjelma menjadi laki-laki dewasa. Sudah dini hari, tapi matanya belum terpejam. Ia memang sedang menunggu sesuatu malam ini. Setelah merasa waktunya tepat, dengan cepat tangannya memencet tuts di Ponsel murahan miliknya. Senyumnya mengembang setelah di layar Ponsel itu tertulis “Pesan terkirim”.

Dia tak berharap pesan itu segera terbalas. Laki-laki yang kini merantau jauh dan tinggal jauh dari keluarganya itu merasa yakin, orang yang dikirimi pesan sudah terlelap bersama datangnya malam. Tapi perkiraannya meleset. Beberapa menit kemudian, Ponselnya berdering tanda sebuah pesan tiba.

Dibukanya pesan singkat itu, ternyata pesan itu dari orang yang baru saja dikirimi pesan singkat. Orang itu adalah orang yang sangat dicintainya. Orang yang selalu menerimanya meski berkali-kali kesalahan dibuatnya. Orang yang selalu sabar meski kadang laki-laki itu acuh.

Senyum mengembang dari laki-laki itu setelah membaca pesan singkat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira. Laki-laki itu bahagia karena hari itu adalah hari bahagia, hari lahir dari orang yang dikirimi pesan singkat itu, bundanya. Laki-laki itu gembira masih bisa berkata, “Happy B’day Bunda. I Luv U.”


Pesepeda bukan makhluk luar angkasa

Di tengah riuh rendah keramaian jalanan kota, aku menembus kemacetan dengan sepeda. Semua ingin berkuasa. Semua merasa paling punya hak atas sebuah ruang terbatas yang bernama jalan.

Kebetulan malam ini malam Minggu. Layaknya sebuah toko, malam Minggu akan buka lebih awal dan tutup lebih larut. Semua umat manusia kota berbondong-bondong menyambut malam panjang ini. Malam yang seakan menjadi magnet bagi umat manusia kota dengan menciptakan rasa bahagia dengan cara sendiri-sendiri. Semua turun ke jalanan. Semua menciptakan kemacetan. Apakah masih ada rasa bahagia dalam sebuah kemacetan?

Dituntun lampu di setang sepeda yang nyalanya kedip-kedip (biar irit baterai) aku menembus kemacetan malam Minggu di jalan protokol Solo. Malam ini, pengalaman keduaku bersepeda di malam hari (night ride/NR). Toko buku di pusat kota tujuanku. Malam ini aku berharap buku Pak Beye dan Istananya ada dalam genggaman. Apakah Anda sudah membaca buku itu?

Dari pinggiran kota, seharusnya aku bisa mencapai pusat kota tidak lebih dari 20 menit. Namun, ini adalah malam Minggu. Malam di mana jalanan layaknya catwalk umat manusia kota. Hanya kemacetan dan kemacetan yang dijumpai di setiap ruas jalan. Apakah riasan wajah bisa luntur gara-gara kemacetan?

Di bawah temaram lampu kota, aku menyatu dengan jalanan dan kemacetan. Beradu sepeda motor yang ditumpangi sepasang anak muda yang memadu kasih. Bersaing dengan mobil yang merasa menjadi penguasa jalan. Dongkol dengan bus kota yang selalu mengeluarkan asap tebal dari knalpotnya. Berpadu dengan becak yang berjalan tertatih-tatih. Apakah Anda percaya sepeda menjadi solusi kemacetan kota?

Lampu traffic light menyala merah. Aku berhenti di sebelah sepasang muda-mudi dengan sepeda motornya. Seperti refleks, dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara itu menengok ke arah ku. Sekian detik, mereka berdua memandangku. Tak bisa kupahami apa makna pandangan mereka itu. Yang aku tahu, beberapa detik kemudian sang gadis yang membonceng sang jejaka itu merapatkan pelukannya (bikin iri saja).

“Tulit…tulit…tulit…” tanda palang pintu kereta api segera ditutup. Kakiku yang mulai panas diberi waktu sekian menit untuk rehat, memberikan kesempatan “ular besi” melintas. Ada keluarga kecil dengan menumpang sepeda motor berhenti di sebelahku. Bapak dan ibu di motor itu seakan tidak sabar agar palang kereta segera terbuka. Anak mereka yang masih kecil menengok ke arahku. Sepertinya bocah itu tertarik dengan kelip-kelip lampu depanku. Kelip lampu yang nyalanya konstan dengan warna putih berpendar. Apakah Anda ingat hal-hal yang menarik perhatian pada masa kecil?

Gedung toko buku tujuanku tinggal beberapa menit ada dalam jangkauan. Pusat kota semakin macet saja. Di depan pusat perbelanjaan, mobil-mobil diparkir memenuhi setengah jalan. Perjalanan bersepeda semakin tersendat. Sepedaku dan mobil yang ditumpangi seorang laki-laki paruh baya berjalan beriringan. Laki-laki itu memandangiku dalam-dalam. Aku tidak paham makna pandangan itu. Aku hanya merasakan laki-laki itu seakan menelanjangiku. Dipandanginya roda sepedaku, kakiku yang mengayuh pedal, tanganku yang menggengam setang, matanya menyorot wajah dan kepalaku yang dibalut helm. Kemacetan sedikit terurai, mobil itu melaju kencang.

Toko buku terkemuka itu sudah di depan mata. Pikiranku masih sibuk dengan pandangan-pandangan yang aku temui dalam perjalanan malam ini. Ada pandangan muda-mudi, tatapan bocah dan ketajaman mata laki-laki paruh baya itu. Apakah ada yang salah dari diriku. Adakah hal aneh dari diriku dan sepedaku? Adakah yang salah denganku dan sepedaku? Atau sebenarnya mereka yang layak disebut aneh karena menatapku seperti melihat makhluk luar angkasa? Aku masih belum bisa memaknai pandangan-pandangan aneh itu. Senyum manis perempuan penjaga parkir toko buku membuyarkan pikiranku. Manis juga gadis penjaga parkir itu, pikirku.


Bau tanah basah, night ride & Ngarsopuro

Air hujan yang membasahi tanah kering selalu meninggalkan bau tanah yang khas. Bau yang selalu memberikan sensasi. Kekuatan bau tanah basah itu bisa menciptakan sebuah ritual suci, memejamkan mata, kedua tangan menengadah, kepala mendongkak ke atas dan menghirup dalam-dalam bau tanah itu.

Malam ini, bau tanah itu kembali muncul. Sudah berhari-hari tanah mengering, meninggalkan debu beterbangan. Guyuran hujan yang hanya sesaat membuat tanah kembali basah, kembali bergairah. Tak ada debu, tak ada pilu. Yang ada adalah tanah basah dan bau khasnya.

Kekuatan bau tanah itu benar-benar membawaku pada sebuah sensasi dan gairah malam yang tak terkira. Ada semangat yang meledak-ledak. Ada keinginan yang meluap-luap. Keinginan yang tertahan sekian lama akhirnya tumpah malam ini. Keinginan itu keinginan bersepeda di malam hari atau orang menyebutnya night ride (NR). Ditemani bau khas tanah basah aku mulai mengayuh sepeda.

Aspal jalanan malam ini menghitam. Air sisa hujan beberapa jam yang lalu masih menempel. Ada genangan di sana sini ketika pedal mulai dikayuh, saat roda mulai berputar. Tanpa spakbor, cipratan air menempel di punggung, di kaki, mengotori pakaian, kaus kaki dan betis yang dibiarkan terbuka.

Ngarsopuro. Ruang publik yang ada di pusat Kota Solo menjadi tujuan NR pertamaku. Bersama seorang kawan satu perusahaan, kami menuju ruang publik yang mirip dengan “nol kilometer” Jogja.

Lampu sepeda yang aku beli siang tadi menjadi penuntutku menembus jalan kota yang masih dijejali kendaraan (tentu dengan asap knalpotnya). Melewati jalan kota di malam hari dengan sepeda memberikan kesan tersendiri. Meski setiap hari melalui jalan-jalan itu, entah siang ataupun malam, namun ada kesan yang berbeda ketika melalui jalan-jalan itu dengan sepeda.

Ada denyut malam yang selama ini terlupa dan teracuhkan. Warung hik yang dipenuhi pembeli, nyala lampu dari toko-toko yang segera tutup, sepasang muda-mudi yang berboncengan dengan mesra, becak yang berjalan pelan, kemacetan depan mal yang memuakkan, tukang parkir yang terkantuk-kantuk hingga para buruh yang mengayuh sepeda jengki kencang-kencang seakan ingin segera melepas rindu dengan keluarga (merekalah para bike to work sejati).

Malam ini, Ngarsopuro tidak bebas dari kendaraan bermotor. Hanya pada malam Minggu saja, kendaraan bermotor haram hukumnya melintas di jalan yang sering dijadikan pusat kegiatan seni budaya di Kota Bengawan ini. Namun, sudut-sudut Ngarsopuro tetap dipenuhi manusia kota yang haus akan hiburan sederhana, nongkrong dan ngobrol. Ada segerombolan anak muda yang tertawa lepas, ada orang lanjut usia berdiam diri merenung, ada dua tangan yang saling bergandengan dengan sejuta kata-kata asmara.

Ruang publik terbuka seperti Ngarsopuro selalu memberikan kesempatan kepada manusia kota untuk berinteraksi. Entah berinteraksi dengan sahabat, pacar, Tuhan atau berinteraksi dengan diri sendiri. Bagiku, malam ini, Ngarsopuro telah memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan sepeda.

Tak sekadar mengayuh pedal, perjalanan bersepeda bagiku selalu memberikan kesan dan makna yang mendalam, termasuk pula NR di Ngarsopuro. Apalagi malam ini adalah pengalaman pertamaku NR, ada sensasi yang sangat kuat terekam dalam pikiran. Sambil menikmati nasi gudeg ceker, aku masih merasakan sensasi bersepeda malam ini. Aku juga masih bisa membaui bau tanah basah yang mulai pudar ditelan sepinya malam.


Ada sunrise di bandara

Musim kemarau sepertinya sudah benar-benar tiba. Hawa dingin khas musim kering di pagi hari menyelimuti sudut Kota Solo.

Belum ada jam 6 pagi ketika pantatku sudah berada di sadel, kakiku kokoh menginjak pedal dan tanganku memegang kuat-kuat stang. Kabut tipis yang seakan menari-nari di atas persawahan tinggal menunggu waktu disapu datangnya sang mentari.

sunrise @ Bandara Adisoemarmo

Selalu ada keajaiban alam saat bersepeda di pagi hari. Kicau burung riuh rendah menyambut pagi, hamparan persawahan, udara yang sejuk jauh dari bau asap knalpot kendaraan dan alunan kehidupan yang berjalan slow. Namun, yang kutunggu pagi ini adalah semburat cahaya kuning kemerah-merahan dari ufuk timur.

Langit yang berpendar dengan kombinasi warna biru, awan putih tipis serta dominasi bulatan utuh cahaya berwarna kuning kemerah-merahan. Merah yang tidak terlalu membara, kuning yang tidak begitu pilu. Cahaya bulat itu ada di bandara.

Bagi para pesepeda di kawasan Solo dan sekitarnya, kawasan Bandara Adisoemarmo dan Waduk Cengklik adalah surga. Bandara dan Waduk Cengklik yang jaraknya berdekatan, sering menjadi tujuan bagi para pesepeda untuk nggowes. Di waduk, selain disuguhi pemandangan pagi, pesepeda juga bakal dijamu dengan teh hangat gula batu, pisang godhok, aneka gorengan dari warung-warung yang selalu dipenuhi pesepeda.

Sedangkan di bandara, meski warungnya tidak terlalu banyak, tapi daerah ini bisa menjadi tempat untuk rehat, mengatur nafas dan melihat semburat cahaya bulat itu. Kala pagi, saat burung-burung berlari di landasan pacu dan kabut tipis mengambang menyelimuti bandara dari ujung timur langit cahaya kuning kemerah-merahan memberi tanda aktivitas pagi segera dimulai.

menyambut pagi

Petani di sekitar bandara memanggul cangkul menuju sawah, ibu-ibu mengayuh sepeda dengan beronjong mengadu nasib di pasar, buruh pabrik diantar suami dengan sepeda motor, senyum-senyum indah anak-anak SD berlarian menuju sekolah dan bandara telah bersiap dengan penerbangan pertama hari ini.

Nuansa kehidupan pagi itu terekam dengan mudahnya ketika aku bersepeda. Mungkin karena setiap perjalanan dilakukan dengan pelan, tidak terlalu kencang sehingga detail-detail kehidupan pagi itu tidak hanya terekam lewat mata, tapi juga memberikan makna di hati. Bagiku bersepeda bukan sekadar olahraga atau suka-suka, tapi bersepeda juga menawarkan makna perjalanan kehidupan.

Namun, sensasi pagi itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Yang ada setelah itu semua adalah rutinitas dan nafsu dunia. Mobil-mobil melaju kencang, penumpangnya takut terlambat terbang, petani sibuk dengan lahan sekotak yang disewanya, ibu-ibu menawarkan dagangannya di pasar, buruh pabrik terkungkung dalam sebuah labirin kapitalisme dan anak SD duduk di bangku mendengarkan guru. Waktu terus berjalan, aku masih duduk di sadel dan terus mengayuh sepeda yang juga akan mengantarkanku pada rutinitas.


Keluh kesahku kepada senja

Tuhan izinkan aku berkeluh kesah kepada langit kuning kemerah-merahan yang berpendar. Izinkan aku mengadu kepada semburat cahaya bulat yang bernama senja.

Bukan aku ingin menduakan-Mu Tuhan. Bukan aku ingin berpaling dari kekuatan-Mu Tuhan. Aku hanya ingin bercerita kepada senja. Cahaya kuning kemerah-merahan yang sempurna itu adalah kuasa-Mu, maka biarkan aku bercerita kepada-Mu melalui langit yang berpendar itu.

Senja, aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah rasa itu. Apakah itu rasa duka, senang, benci, suka ataupun dendam. Senja, kau kan juga tahu, selain pikiran (baca:logika), rasa itu juga punya andil dan kuasa dalam sikap manusia. Rasa yang beraneka ragam itu bisa bercampur aduk menjadi satu, rasa sedih bisa menyatu dengan suka dan dendam hingga kombinasinya melahirkan sikap gado-gado. Itulah gado-gado dari rasa yang bisa melahirkan sikap yang campur aduk pula.

Siapakah yang sebenarnya menciptakan rasa? Apakah rasa hadir tiba-tiba tanpa ada alasan apapun seperti tukang sulap yang mampu menghadirkan barang-barang tak terduga dan mampu memukau penonton. Apakah rasa itu lahir dan turun dari langit seperti ketika Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Atau malahan rasa itu tumbuh seperti setiap kayuhan pesepeda atau istilah Jawa, alon-alon asal kelakon.

Ketika kemudian muncul pertanyaan atas rasa, siapakah kiranya yang bisa menjawab pertanyaan itu. Apakah aku harus bertanya kepada diriku sendiri karena rasa itu aku yang merasakan, meski aku tidak tahu siapa yang menciptakan dan terbuat dari apa rasa itu. Atau aku harus bertanya pada kepada orangtuaku yang sejak kecil merawatku. Atau bertanya kepada kawan-kawan yang masih mau menawarkan pundaknya kepadaku.

Di sudut balkon lantai dua kos, aku masih bertanya-tanya tentang pertanyaan itu. Apakah kau, senja yang berwarna kuning kemerah-merahan dengan semburat cahaya indah bisa membantuku?


Obrolan tentang sepeda & gowes

Tengah pekan lalu dengan anggaran yang cukup pas-pasan (bonus dari kantor, pinjaman lunak dari IMF (Ibunda Monetary Fund) dan ½ dari hasil penjualan sepeda) aku memberanikan diri mendatangi toko sepeda untuk menggondol bicycle baru.

Proses pencarian tumpakan baru ini bukan proses singkat. Butuh berhari-hari survei diinternet. Survei harga di toko-toko sepeda dan ketersediaan sepeda. Sepeda lokal ‘WC’ tipe HR 2.0 akhirnya ku pilih. Menjatuhkan pilihan pada sepeda yang aku panggil “Lovely Blue” ini bukan perkara gampang.

Memilih sepeda dengan slogan “Heboooh” itu lebih didasari pada alasan budget. Ketika budgetpas-pasan dan ada dua merk sepeda yang memiliki spesifikasi sama, maka bagiku hargalah yang menentukan (yang lebih murah tentunya).

Sudah menjadi rahasia umum, pangsa pasar sepeda jenis mountain bike (MTB) saat ini dikuasai oleh merk ‘P’. Layaknya Ponsel merk ‘N’, maka sepeda ‘P’ menjadi sepeda sejuta umat. Dan hampir di semua toko sepeda, sepeda MTB ‘P’ menjadi dagangan utama mereka. Kalau pun ada ‘WC’ adanya sepeda anak-anak. Begitu kuatnya image sepeda ‘WC’ sebagai sepeda anak-anak hingga kawan-kawanku sering bercanda dan mengatai, “Mirip anak sekolahan.” Atau guyonan tentang ‘WC’ adalah sepeda “Mbeeek” (iklan ‘WC’ Jadul dengan model kambing).

Sebenarnya berbagai forum di sejumlah situs pun sering mengulas dan mengadu produk ‘WC’ dan ‘P’. Dan kesimpulan yang aku petik adalah, gowes tidak melulu soal apa sepeda atau merknya, tapi gowes juga soal kekuatan kaki mengayuh dan ketahanan nafas (bagiku lebih pada perkara kesenangan).

Test drive menguji ketangguhan sepeda baru pun harus dilakukan. Karena kebetulan sepeda tipe XC (cross country) maka jalurnya yang ku pilih adalah semua medan. Mulai dari aspal mulus Jalan Kartasura-Solo hingga Gentan, Sukoharjo kemudian membelah jalur tanah dan bebatuan di tengah pematang sawah antara Gentan-Gawok hingga jalan beraspal rusak Gawok-Gumpang. Menurutku, “Lovely Blue” cukup tangguh untuk melahap semua medan itu. Aku tidak bisa membandingkan dengan sepeda ‘P’ yang memiliki spesifikasi sama dengan ‘WC’ ku karena belum pernah punya sepeda ‘P’.

Ketika gowes menjadi sebuah kesenangan dan bisa menimbulkan kebahagiaan, maka urusan apa jenis dan merk sepeda menjadi nomor dua. Nomor satunya adalah soal pantat di sadel, kaki di pedal, tangan di stang dan mulailah mengayuh dan bergowes ria.


Einstein, Sepeda & Kehidupan

Hidup itu laksana naik sepeda.

Untuk mempertahankan keseimbangan,

kamu harus tetap bergerak (Albert Einstein).

Aku tak tahu bagaimana seorang Albert Einstein bisa menemukan Teori Relativitas yang kemudian muncul dalam simbol E=MC2. Sebuah teori yang dulu ku jumpai zaman sekolah, tapi penjelasan dari guru dengan mulut berbusa-busa sudah terlupa.

Ketika benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai E=MC2, mungkin sebenarnya Einstein tidak hanya bercerita tentang sebuah relativiti, namun juga berkisah tentang kehidupan manusia. Dan ketika Einstein berbicara tentang kehidupan, dia mengibaratkan hidup seperti naik sepeda.

Saat masih kecil dulu, aku belajar bersepeda dengan menggunakan sepeda berukuran kecil. Dengan dua roda kecil pembantu di sisi kanan-kiri roda belakang. Dua roda kecil itu sebagai penopang agar aku tidak jatuh. Pedal sepeda sering ku kayuh pelan-pelan. Belum ada optimisme. Belum ada keyakinan. Selain dua roda penopang itu, ibuku yang sering melihat aku belajar bersepeda memberikan semangat, mengobarkan optimisme.

Kala sepeda sudah menjadi bagian kehidupan masa kecil, maka dua roda penopang itu sudah hilang. Ibuku juga tidak lagi risau saat aku duduk di sadel sepeda. Bahkan, ketika menginjak SD, ukuran sepedaku juga berganti. Orang-orang menyebutnya dengan sepeda ukuran ban 16. Tak hanya halaman depan rumah, tapi sepeda juga telah membawaku keliling kampung, berangkat sekolah, bermain di sawah, menuju lapangan sepak bola di belakang balaidesa atau les pelajaran.

Ketika SMP hingga dewasa, sepeda telah membawaku dalam perjalanan di kota kecilku hingga mengantarkanku dalam sebuah petualangan menuju pantai yang jaraknya lebih dari 50 km dari rumah.

Aku yang sama sekali buta dengan Teori Relativitas, mengartikan rumus E=MC2 ciptaan Einstein itu layaknya perjalanan kehidupan manusia. Ketika benda=sepeda dan energi=kayuhan manusia, maka hidup itu selayaknya bersepeda, selayaknya manusia yang terus bergerak menjalani kehidupan.

Saat masih kecil, bersepeda masih harus ditopang alat bantu dan aku menjalani kehidupan masa kecil dengan menopangkan arah dan alurnya pada orangtuaku. Belajar jatuh dari sepeda, belajar menghadapi kehidupan.

Masa remaja tiba, orangtua mulai memberikan kebebasan kepada kakiku untuk mengayuh pedal lebih jauh. Kadang mengingatkan dan ada kalanya pula marah jika roda-roda diputar terlalu cepat, dikayuh terlalu sering atau terlalu jauh menuju suatu tempat yang belum waktunya.

Waktu orangtuaku menganggapku sudah dewasa, maka dia hanya menyarankan, menasihati ke mana sepedaku ini aku kayuh. Saat arahnya melenceng, ibuku mengingatkan. Orangtuaku membebaskanku, ke mana saja sepeda itu ku kayuh. Memberikan kesempatan untuk memutar roda seperti keinginan dan mimpiku.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan bersepeda juga semakin banyak tantangannya. Ada kalanya menanjak yang kadang tak pernah diketahui kapan tanjakan itu berakhir meski kaki sudah kelu mengayuh, jantung berdegup kencang kelelahan dan tangan gemetaran. Namun, ada kalanya juga perjalanan menemui turunan curam hingga kecepatan sepeda sangat kencang, pedal tak perlu dikayuh dan senyum ringan tersungging dari sudut bibir menikmati perjalanan.

Mungkin ini adalah tafsir sesat atas Teori Relativitas, namun bagiku rumus E=MC2, tidak hanya berlaku dalam pelajaran fisika. Selama perjalanan kehidupan masih berjalan maka E=MC2 masih berlaku dan itu artinya pedal masih harus terus dikayuh agar roda terus berputar, entah di depan ada tanjakan atau turunan, roda-roda itu harus terus menggelinding.


%d blogger menyukai ini: