Ada sunrise di bandara

Musim kemarau sepertinya sudah benar-benar tiba. Hawa dingin khas musim kering di pagi hari menyelimuti sudut Kota Solo.

Belum ada jam 6 pagi ketika pantatku sudah berada di sadel, kakiku kokoh menginjak pedal dan tanganku memegang kuat-kuat stang. Kabut tipis yang seakan menari-nari di atas persawahan tinggal menunggu waktu disapu datangnya sang mentari.

sunrise @ Bandara Adisoemarmo

Selalu ada keajaiban alam saat bersepeda di pagi hari. Kicau burung riuh rendah menyambut pagi, hamparan persawahan, udara yang sejuk jauh dari bau asap knalpot kendaraan dan alunan kehidupan yang berjalan slow. Namun, yang kutunggu pagi ini adalah semburat cahaya kuning kemerah-merahan dari ufuk timur.

Langit yang berpendar dengan kombinasi warna biru, awan putih tipis serta dominasi bulatan utuh cahaya berwarna kuning kemerah-merahan. Merah yang tidak terlalu membara, kuning yang tidak begitu pilu. Cahaya bulat itu ada di bandara.

Bagi para pesepeda di kawasan Solo dan sekitarnya, kawasan Bandara Adisoemarmo dan Waduk Cengklik adalah surga. Bandara dan Waduk Cengklik yang jaraknya berdekatan, sering menjadi tujuan bagi para pesepeda untuk nggowes. Di waduk, selain disuguhi pemandangan pagi, pesepeda juga bakal dijamu dengan teh hangat gula batu, pisang godhok, aneka gorengan dari warung-warung yang selalu dipenuhi pesepeda.

Sedangkan di bandara, meski warungnya tidak terlalu banyak, tapi daerah ini bisa menjadi tempat untuk rehat, mengatur nafas dan melihat semburat cahaya bulat itu. Kala pagi, saat burung-burung berlari di landasan pacu dan kabut tipis mengambang menyelimuti bandara dari ujung timur langit cahaya kuning kemerah-merahan memberi tanda aktivitas pagi segera dimulai.

menyambut pagi

Petani di sekitar bandara memanggul cangkul menuju sawah, ibu-ibu mengayuh sepeda dengan beronjong mengadu nasib di pasar, buruh pabrik diantar suami dengan sepeda motor, senyum-senyum indah anak-anak SD berlarian menuju sekolah dan bandara telah bersiap dengan penerbangan pertama hari ini.

Nuansa kehidupan pagi itu terekam dengan mudahnya ketika aku bersepeda. Mungkin karena setiap perjalanan dilakukan dengan pelan, tidak terlalu kencang sehingga detail-detail kehidupan pagi itu tidak hanya terekam lewat mata, tapi juga memberikan makna di hati. Bagiku bersepeda bukan sekadar olahraga atau suka-suka, tapi bersepeda juga menawarkan makna perjalanan kehidupan.

Namun, sensasi pagi itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Yang ada setelah itu semua adalah rutinitas dan nafsu dunia. Mobil-mobil melaju kencang, penumpangnya takut terlambat terbang, petani sibuk dengan lahan sekotak yang disewanya, ibu-ibu menawarkan dagangannya di pasar, buruh pabrik terkungkung dalam sebuah labirin kapitalisme dan anak SD duduk di bangku mendengarkan guru. Waktu terus berjalan, aku masih duduk di sadel dan terus mengayuh sepeda yang juga akan mengantarkanku pada rutinitas.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Ada sunrise di bandara

  • risma

    Pagi hari memang selalu menawarkan keajaiban dan harapan. Karena itu aku lebih cinta fajar ketimbang senja. Jadi membayangkan suatu hari bisa bersepeda santai di sana… men-charge energi dari kesegaran udaranya, kehangatan mentarinya. Hmmmm… pasti seru!

    Oya membaca tulisanmu juga membuat episode laluku terputar otomatis. Membuka scene terakhirku di Bandara Adisumarmo saat liputan Haji, serta saat jalan-jalan sore ke Waduk Cengklik bersama …. *ah, aku gak suka bagian ini. lukalama.com* Hihihi…

    • angscript

      hahahaha, silahkan maen lagi ke solo, melihat matahari perkasa membelah kabut…
      yang liputan haji tak perlu aku tanggapi, toh itu rutinitas kerja hahaha, yang waduk cengklik itu hahaha. mungkin itu yang membuatmu kurang menyukai senja, ada luka lama di waduk cengklik rupanya. bagiku waduk cengklik adalah sebuah kesepian. dulu sekali aku sering berburu senja di sana sendirian sambil melamun hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: