Bau tanah basah, night ride & Ngarsopuro

Air hujan yang membasahi tanah kering selalu meninggalkan bau tanah yang khas. Bau yang selalu memberikan sensasi. Kekuatan bau tanah basah itu bisa menciptakan sebuah ritual suci, memejamkan mata, kedua tangan menengadah, kepala mendongkak ke atas dan menghirup dalam-dalam bau tanah itu.

Malam ini, bau tanah itu kembali muncul. Sudah berhari-hari tanah mengering, meninggalkan debu beterbangan. Guyuran hujan yang hanya sesaat membuat tanah kembali basah, kembali bergairah. Tak ada debu, tak ada pilu. Yang ada adalah tanah basah dan bau khasnya.

Kekuatan bau tanah itu benar-benar membawaku pada sebuah sensasi dan gairah malam yang tak terkira. Ada semangat yang meledak-ledak. Ada keinginan yang meluap-luap. Keinginan yang tertahan sekian lama akhirnya tumpah malam ini. Keinginan itu keinginan bersepeda di malam hari atau orang menyebutnya night ride (NR). Ditemani bau khas tanah basah aku mulai mengayuh sepeda.

Aspal jalanan malam ini menghitam. Air sisa hujan beberapa jam yang lalu masih menempel. Ada genangan di sana sini ketika pedal mulai dikayuh, saat roda mulai berputar. Tanpa spakbor, cipratan air menempel di punggung, di kaki, mengotori pakaian, kaus kaki dan betis yang dibiarkan terbuka.

Ngarsopuro. Ruang publik yang ada di pusat Kota Solo menjadi tujuan NR pertamaku. Bersama seorang kawan satu perusahaan, kami menuju ruang publik yang mirip dengan “nol kilometer” Jogja.

Lampu sepeda yang aku beli siang tadi menjadi penuntutku menembus jalan kota yang masih dijejali kendaraan (tentu dengan asap knalpotnya). Melewati jalan kota di malam hari dengan sepeda memberikan kesan tersendiri. Meski setiap hari melalui jalan-jalan itu, entah siang ataupun malam, namun ada kesan yang berbeda ketika melalui jalan-jalan itu dengan sepeda.

Ada denyut malam yang selama ini terlupa dan teracuhkan. Warung hik yang dipenuhi pembeli, nyala lampu dari toko-toko yang segera tutup, sepasang muda-mudi yang berboncengan dengan mesra, becak yang berjalan pelan, kemacetan depan mal yang memuakkan, tukang parkir yang terkantuk-kantuk hingga para buruh yang mengayuh sepeda jengki kencang-kencang seakan ingin segera melepas rindu dengan keluarga (merekalah para bike to work sejati).

Malam ini, Ngarsopuro tidak bebas dari kendaraan bermotor. Hanya pada malam Minggu saja, kendaraan bermotor haram hukumnya melintas di jalan yang sering dijadikan pusat kegiatan seni budaya di Kota Bengawan ini. Namun, sudut-sudut Ngarsopuro tetap dipenuhi manusia kota yang haus akan hiburan sederhana, nongkrong dan ngobrol. Ada segerombolan anak muda yang tertawa lepas, ada orang lanjut usia berdiam diri merenung, ada dua tangan yang saling bergandengan dengan sejuta kata-kata asmara.

Ruang publik terbuka seperti Ngarsopuro selalu memberikan kesempatan kepada manusia kota untuk berinteraksi. Entah berinteraksi dengan sahabat, pacar, Tuhan atau berinteraksi dengan diri sendiri. Bagiku, malam ini, Ngarsopuro telah memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan sepeda.

Tak sekadar mengayuh pedal, perjalanan bersepeda bagiku selalu memberikan kesan dan makna yang mendalam, termasuk pula NR di Ngarsopuro. Apalagi malam ini adalah pengalaman pertamaku NR, ada sensasi yang sangat kuat terekam dalam pikiran. Sambil menikmati nasi gudeg ceker, aku masih merasakan sensasi bersepeda malam ini. Aku juga masih bisa membaui bau tanah basah yang mulai pudar ditelan sepinya malam.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Bau tanah basah, night ride & Ngarsopuro

  • risma

    Ngarsopuro memang indah di malam hari. Apalagi ditambah sisa-sisa hujan yang menambah suasana kontemplatif hingga mampu membuat seseorang jadi autis. Hehehe…

    “Bagiku, malam ini, Ngarsopuro telah memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan sepeda.”

    Plisss deh mas… Mbok berinteraksi tu dgn makhluk hidup. Trus apa kabarnya rekan satu kantor yg km ajak night ride? Km cuekin? Jgn2 ntar klo ak gowes2 bareng km, aku juga dicuekin sementara km asyik-masyuk dengan sepedamu. Hahaha…

    • angscript

      Kenapa ruang publik terbuka itu penting. karena di sanalah manusia kota yang jengah dengan segala rutinitas bisa melepaskan diri. Ngarsopuro menjadi tempat pelarian bagi manusia kota yang muak dengan keseharian. apalagi ada sisa hujan, lampu temaram….ah sangat melankolis kawan.
      Yah, berinteraksi dengan sepeda itu artinya sepeda kan menjadi partnerku..jadi berinteraksi. hati ku dan hati sepedaku yang bernama “lovely blue” telah menyatu hahahaha. klo gowes bareng gak bakal aku cuekin, paling aku tinggal hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: