Pesepeda bukan makhluk luar angkasa

Di tengah riuh rendah keramaian jalanan kota, aku menembus kemacetan dengan sepeda. Semua ingin berkuasa. Semua merasa paling punya hak atas sebuah ruang terbatas yang bernama jalan.

Kebetulan malam ini malam Minggu. Layaknya sebuah toko, malam Minggu akan buka lebih awal dan tutup lebih larut. Semua umat manusia kota berbondong-bondong menyambut malam panjang ini. Malam yang seakan menjadi magnet bagi umat manusia kota dengan menciptakan rasa bahagia dengan cara sendiri-sendiri. Semua turun ke jalanan. Semua menciptakan kemacetan. Apakah masih ada rasa bahagia dalam sebuah kemacetan?

Dituntun lampu di setang sepeda yang nyalanya kedip-kedip (biar irit baterai) aku menembus kemacetan malam Minggu di jalan protokol Solo. Malam ini, pengalaman keduaku bersepeda di malam hari (night ride/NR). Toko buku di pusat kota tujuanku. Malam ini aku berharap buku Pak Beye dan Istananya ada dalam genggaman. Apakah Anda sudah membaca buku itu?

Dari pinggiran kota, seharusnya aku bisa mencapai pusat kota tidak lebih dari 20 menit. Namun, ini adalah malam Minggu. Malam di mana jalanan layaknya catwalk umat manusia kota. Hanya kemacetan dan kemacetan yang dijumpai di setiap ruas jalan. Apakah riasan wajah bisa luntur gara-gara kemacetan?

Di bawah temaram lampu kota, aku menyatu dengan jalanan dan kemacetan. Beradu sepeda motor yang ditumpangi sepasang anak muda yang memadu kasih. Bersaing dengan mobil yang merasa menjadi penguasa jalan. Dongkol dengan bus kota yang selalu mengeluarkan asap tebal dari knalpotnya. Berpadu dengan becak yang berjalan tertatih-tatih. Apakah Anda percaya sepeda menjadi solusi kemacetan kota?

Lampu traffic light menyala merah. Aku berhenti di sebelah sepasang muda-mudi dengan sepeda motornya. Seperti refleks, dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara itu menengok ke arah ku. Sekian detik, mereka berdua memandangku. Tak bisa kupahami apa makna pandangan mereka itu. Yang aku tahu, beberapa detik kemudian sang gadis yang membonceng sang jejaka itu merapatkan pelukannya (bikin iri saja).

“Tulit…tulit…tulit…” tanda palang pintu kereta api segera ditutup. Kakiku yang mulai panas diberi waktu sekian menit untuk rehat, memberikan kesempatan “ular besi” melintas. Ada keluarga kecil dengan menumpang sepeda motor berhenti di sebelahku. Bapak dan ibu di motor itu seakan tidak sabar agar palang kereta segera terbuka. Anak mereka yang masih kecil menengok ke arahku. Sepertinya bocah itu tertarik dengan kelip-kelip lampu depanku. Kelip lampu yang nyalanya konstan dengan warna putih berpendar. Apakah Anda ingat hal-hal yang menarik perhatian pada masa kecil?

Gedung toko buku tujuanku tinggal beberapa menit ada dalam jangkauan. Pusat kota semakin macet saja. Di depan pusat perbelanjaan, mobil-mobil diparkir memenuhi setengah jalan. Perjalanan bersepeda semakin tersendat. Sepedaku dan mobil yang ditumpangi seorang laki-laki paruh baya berjalan beriringan. Laki-laki itu memandangiku dalam-dalam. Aku tidak paham makna pandangan itu. Aku hanya merasakan laki-laki itu seakan menelanjangiku. Dipandanginya roda sepedaku, kakiku yang mengayuh pedal, tanganku yang menggengam setang, matanya menyorot wajah dan kepalaku yang dibalut helm. Kemacetan sedikit terurai, mobil itu melaju kencang.

Toko buku terkemuka itu sudah di depan mata. Pikiranku masih sibuk dengan pandangan-pandangan yang aku temui dalam perjalanan malam ini. Ada pandangan muda-mudi, tatapan bocah dan ketajaman mata laki-laki paruh baya itu. Apakah ada yang salah dari diriku. Adakah hal aneh dari diriku dan sepedaku? Adakah yang salah denganku dan sepedaku? Atau sebenarnya mereka yang layak disebut aneh karena menatapku seperti melihat makhluk luar angkasa? Aku masih belum bisa memaknai pandangan-pandangan aneh itu. Senyum manis perempuan penjaga parkir toko buku membuyarkan pikiranku. Manis juga gadis penjaga parkir itu, pikirku.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “Pesepeda bukan makhluk luar angkasa

  • risma

    Hahaha… Begitulah konsekuensi jadi alien di malem minggu. Mungkin aku juga akan mendelik keheranan, klo malem itu berpapasan dengan km… wkwkwk…

    Malam minggu itu normalnya, pake baju rapih, wangi, bawa motor sambil boncengin cewek. Bukannya berjibaku di tengah kemacetan dengan sepeda. Tapi ya sudahlah, “beda” itu eksis kok mas. Lanjutkan! ; )

    Btw, aku dah baca tulisanmu di kompasiana tapi gak bisa komen ya.

    • angscript

      hahahaha, mengutip lagunya SID “Muda, beda dan berbahaya….”
      paling tidak malam minggu kemarin menunjukkan eksistensi orang abnormal hehehe

      *doain menang yah, biar dapet BB (gak terlalu bagus juga seh yg di kompasiana..panjangnya minta ampun..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: