Bunda

Langkah kaki perempuan itu semakin menjauh. Ia sempat menengok ke belakang, melihat dua bocah yang dipegangi seorang perempuan tua di belakang rumah.

Perempuan itu melangkah dengan berat sampai-sampai tak sempat melambaikan tangan. Sempat ia menciumi pipi kedua bocah itu, namun semakin lama ia berada di sana, akan semakin berat ia meninggalkan dua bocah itu. Akhirnya perempuan itu melangkah meski berat, tikungan di ujung jalan membuatnya tak lagi terlihat. Yang tertinggal hanya isak tangis dua bocah.

Kini, perempuan tua itu mencoba menenangkan dua bocah itu. Satu bocah perempuan, satu laki-laki. Yang perempuan lebih besar, yang laki-laki sedikit lebih kecil. Tangis bocah perempuan mulai mereda. Sambil mengusap ingus yang keluar karena tangis, bocah perempuan itu menenangkan bocah laki-laki itu. “Sudah nangisnya. Besok Sabtu, Bunda kembali lagi,” kata bocah perempuan itu kepada bocah laki-laki yang tidak lain adalah adiknya.

Sejak meninggalnya ayah mereka beberapa bulan yang lalu, bocah berusia empat dan tiga tahun itu tinggal bersama nenek mereka. Dua bocah itu harus berpisah dengan bunda yang menjadi guru, jauh di luar kota. Ibu anak itu tak bisa bersua setiap hari karena jarak antara rumah nenek dan tempat dinas bunda mereka lebih dari 100 km. Sepekan sekali kadang sepekan dua kali, bunda dua bocah itu pulang menemui bocah itu, melepas rindu pada anak-anak.

Saat pagi, ketika perempuan itu harus kembali berdinas untuk menghidupi keluarga kecil itu dan terpaksa meninggalkan kedua anaknya, maka selalu ada tangisan dua bocah. Tangisan keengganan akan sebuah perpisahaan meski hanya beberapa hari saja.

Maka perempuan tua, nenek mereka hanya bisa memegangi dua cucunya agar tidak berlari mengejar ibu mereka. Tangisan dua bocah itu di belakang rumah selalu menghiasi pagi hingga beberapa bulan kemudian tak ada lagi tangis pagi dari mereka karena perempuan itu pindah tugas di kota tempat kelahirannya. Keluarga kecil itu kembali bersatu, tanpa jarak.

***

23 Tahun kemudian

Jarum jam sudah menunjukkan angka 00.15 WIB. Bocah laki-laki itu kini menjelma menjadi laki-laki dewasa. Sudah dini hari, tapi matanya belum terpejam. Ia memang sedang menunggu sesuatu malam ini. Setelah merasa waktunya tepat, dengan cepat tangannya memencet tuts di Ponsel murahan miliknya. Senyumnya mengembang setelah di layar Ponsel itu tertulis “Pesan terkirim”.

Dia tak berharap pesan itu segera terbalas. Laki-laki yang kini merantau jauh dan tinggal jauh dari keluarganya itu merasa yakin, orang yang dikirimi pesan sudah terlelap bersama datangnya malam. Tapi perkiraannya meleset. Beberapa menit kemudian, Ponselnya berdering tanda sebuah pesan tiba.

Dibukanya pesan singkat itu, ternyata pesan itu dari orang yang baru saja dikirimi pesan singkat. Orang itu adalah orang yang sangat dicintainya. Orang yang selalu menerimanya meski berkali-kali kesalahan dibuatnya. Orang yang selalu sabar meski kadang laki-laki itu acuh.

Senyum mengembang dari laki-laki itu setelah membaca pesan singkat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira. Laki-laki itu bahagia karena hari itu adalah hari bahagia, hari lahir dari orang yang dikirimi pesan singkat itu, bundanya. Laki-laki itu gembira masih bisa berkata, “Happy B’day Bunda. I Luv U.”

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

8 responses to “Bunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: