Kawan Nyoto

Nyoto namanya. Begitu dia biasa dipanggil. Tapi kadang ada pula yang memanggilnya dengan sebutan YA atau YS.

Tak ada yang salah dari panggilan yang berbeda-beda itu karena nama aslinya YA Sunyoto. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan panggilan yang berbeda-beda itu.

Dalam sebuah keremangan malam di salah satu sudut warung hik, aku mengenalnya. Namanya sudah berkali-kali disebutkan. Sepak terjangnya berulang-ulang diceritakan, namun baru pada malam menginjak dini hari itu aku bisa bertata muka dengannya.

Tubuhnya pendek, badannya gemuk, kumis dan jambangnya tumbuh subur. Jabat tangan eratnya masih aku ingat jelas. Sambil tersenyum dia mengangguk-anggukkan kepala. Kesan pertamaku pada orang itu adalah orang yang familier.

Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Sekat-sekat usia diterjangnya, batasan-batasan yang sering mengkungkung manusia dalam bergaul diterobosnya. Tak salah kiranya dia punya pergaulan luas. Apalagi dia punya banyolan dan ketawa yang khas.

Sambil mengobrol, menghisap rokok, sering dia terkekeh-kekeh sampai matanya berair. Sikapnya yang familier dan gayanya yang eksentrik, membuatnya dia bisa menyatu dan larut bersama anak-anak muda dalam hiruk pikuk dunia jurnalisme. Sekitar satu tahun yang lalu dia menjadi nahkoda divisi redaksi Harian Solopos.

Dia memang pemimpin redaksi kami, tapi dia tidak pernah merasa lebih hebat dari kami. Sungguh, kerendahan hatinya luar biasa. Dia memang bos kami, tapi dia tidak pernah bossy. Dia memposisikan diri sebagai kawan dan teman bagi anak-anak muda yang masih hijau dalam jurnalisme. Maka, aku pun tak sungkan memanggilnya dengan panggilan kawan Nyoto.

Dia tidak marah kalau pendapatnya didebat. Dia membuka ruang untuk berdiskusi, beradu argumentasi. Tak jarang pula dia mengamini pendapat anak-anak muda ketika pendapat itu dirasa tepat dan benar.

Berkali-kali aku punya kesempatan berdiskusi dengan kawan Nyoto. Salah satu yang membuat kami gencar berdiskusi adalah kecintaan kami pada sastra, terutama membahas Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Suatu ketika, kawan Nyoto mengirimiku pesan singkat dan mengirimi pesan Facebook yang isinya memintaku terus berkarya. Rupanya dia habis membaca tulisan di blog-ku. “Dan, teruslah menulis. Seperti biasa saja, mana yg layak untuk publik berikan kepada publik.”

Dalam ramainya diskusi, dia selalu menyelipkan petuah dan nasihat yang tidak menggurui. Kawan Nyoto sangat pintar memadukan argumentasi-argumentasi perdebatan dengan petuah-petuah. Sehingga, tanpa terasa dalam setiap diskusi dengan kawan Nyoto akan ada dua hal yang bisa dipetik sekaligus, keluasan berpikir setelah berdiskusi dan petuah bijaknya.

Sekitar tiga bulan lalu, kawan Nyoto jatuh sakit. Tak ada yang menduga dia sakit. Dia selalu energik dan semangat kala menghadapi segala rintangan. Kami hanya bisa meratapi kawan kami tergolek lemas tak berdaya di rumah sakit. Berbulan-bulan dia dirawat di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit dan sakit belum juga pergi.

Akhir Agustus, tepatnya 22 Agustus lalu, kawan Nyoto tepat berusia 48 tahun. Meski terlambat sehari, kami anak-anak muda yang masih membutuhkan bimbingannya datang kerumahnya. Kami ingin berbagi bahagia bersama kawan Nyoto. Perayaan ulang tahun yang teramat sangat sederhana. Setelah kue ditiup, dengan terengah-engah, kawan Nyoto meninggalkan petuah bagi kami semua. Petuah agar kami terus maju, terus berkarya.

Dalam sakitnya, dia tetap tersenyum. Dalam lukanya dia tetap menjadi bapak dengan segudang nasihat indah. Dan, beberapa hari sebelum Lebaran, saya kembali ke rumahnya. Rupanya kawan Nyoto ingin masuk kantor meski fisiknya tak memungkinkan.

Petang itu, kawan Nyoto bersikeras ingin masuk kantor. Entah apa yang dia rasakan dan dia inginkan, tapi keinginannya tidak terbendung lagi. “Saya ingin melihat kantor, Dan,” kata kawan Nyoto.

Saya dan Pak Redpel yang datang ke rumahnya harus memapahnya, menuntunnya. Untuk berjalan beberapa meter saja, kawan Nyoto terlihat kelelahan. Kami menuntunnya menuju ruang kerjanya. Rupanya dia rindu, kangen dengan kantor dan segala hiruk pikuknya.

Tak kusadari, itu adalah pertemuan terakhirku dengan kawan Nyoto. Beberapa hari kemudian, kesehatannya kembali memburuk dan dia masuk

ICU. Aku menjenguknya, tapi tak berani masuk melihatnya. Aku yang penakut tidak berani melihat kawanku terbaring tanpa daya.

14 September, kawan Nyoto berpulang. Dia meninggalkan sejuta cerita indah. Dia meninggalkan segudang harapan. Dia menitipkan mimpi kepada kami, anak-anak muda. Selamat jalan bapak, sahabat, kawan kami tercinta YA Sunyoto.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

5 responses to “Kawan Nyoto

  • Titis Widhi Astu

    kenangan akan seseorang memang terkadang membuat kita terhanyut dan terpuruk. Tapi percayalah kawan, dia yang kau kenang tak kan pernah senang jika kau kemudian terpuruk dengan kenangan-kenagan bersamanya.

    Kawan Nyoto memang orang yang baru ku kenal dan baru beberapa kali ku temui, pas di Jogja maupun saat aku tugas di Solo, dan kesan yang aku dapatkan sama dengan kesan yang ia tinggalkan pada dirimu. Kawan Nyoto adalah sosok yang memiliki tawa khas, senang bercanda dan dia bisa berbaur dengan siapa saja, termasuk aku, orang baru yang sedang berusaha mempelajari dunia jurnalistik.

    Sperti aku bilang kawan, jadikan kenangannya sebagai penyemangatmu untuk bisa terus berkarya, jika kau sudah mulai lelah, ingatlah SMS yang dia kirimkan padamu.. Tetap semangat Kawan !!!

    • angscript

      “Dia meninggalkan segudang harapan. Dia menitipkan mimpi kepada kami, anak-anak muda.”
      dari dia aku banyak belajar mencintai dunia jurnalisme kawan…

  • aries

    dia itu muridnya gus mus ya…aku mengenalnya belum lama. Di ruang pusdok di penghujung tahun 2004 silam (waktu aku msh magang pendidikan). Dia bertanya asalku.”Dari Eska,” jawabku. Dia langsung mengajakku bercerita tentang Abidah El Khaliqy, sastrawati asal Jgja yang kerap ia kutip cerita-cerita feminismenya itu dalam sebuah esai di koran halaman tengah Espos itu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: