Monthly Archives: November 2010

Eksotisme jalur Candi Sukuh-Tawangmangu

Selalu ada kisah menarik saat perjalanan bersepeda dilakukan. Mulai dari tertelan gravitasi bumi saat turunan curam menghadang, nafas terengal-engal saat membabat tanjakan, nuansa kehidupan selama perjalanan dan tentunya pemandangan alam.

Seakan menemukan “dunia lain” yang tersembunyi, menikmati kehidupan warga lereng Gunung Lawu di ladang, sensualitas Candi Sukuh, naturalnya Tlogo Madirdo hingga romantisme bunga mawar di tepian jalan. Itulah eksotisme yang sempurna di jalur Candi Sukuh-Tawangmangu.

Foto oleh: Sunaryo Haryo Bayu

MENEMBUS HUTAN-Hutan yang berada di sekitar Candi Sukuh menjadi awal perjalanan.

MENANJAK-Trek menanjak dan turunan banyak ditemui di hutan sekitar Candi Sukuh.

MENUNTUN-Tanjakan yang tajam menjadikan pesepeda harus menuntun saat berada di jalur Candi Sukuh-Tawangmangu

MENYEBERANG-Pesepeda harus melewati jembatan bambu untuk menuju Tlogo Madirdo

MENGANTRE-Jalur yang sempit dan berliku-liku membuat pesepeda harus hati-hati dan mengantre di kawasan Tlogo Madirdo.

TLOGO MADIRDO-Telaga yang ada di salah satu bukit di lereng Gunung lawu menawarkan pemandangan indah dan alami.

SUMBER AIR-Sumber air di Tlogo Madirdo tepat berada di bawah bukit dengan ir yang jernih.

 

ALAMI-Suasana Tlogo Madirdo masih alami.

MENUNTUN-Jembatan yang sempit membuat pesepeda harus menuntun sepedanya.

REHAT-Melepas lelah di tengah perjalanan.

 

 

 

 

 

 

 

MENUJU TAWANGMANGU-Tak perlu tersesat, sudah ada petunjuk menuju Tawangmangu.

ROMANTIS-Bunga yang bertebaran di sepanjang jalan menjadikan suasana terasa romantis.

 

 

 

 

 

 

 

 

TERTAWA PUAS-Pesepeda tertawa puas setelah melewati tanjakan terakhir.

 

Iklan

Negeri 5 Bukit

Hari masih pagi. Baru jam setengah tujuh pagi dan matahari belum mampu menembus kabut yang menyelimuti daerah Karanganyar. Hawa dingin khas pegunungan sudah mulai terasa saat mobil pikap sewaan melintas di Pasar Karangpandan, Karanganyar.

Nuansa khas pegunungan semakin terasa kala mobil pikap yang mengangkut enam orang (termasuk saya) dengan “istrinya” masing-masing (baca: sepeda) memasuki jalan menuju Kecamatan Ngargoyoso. Sebuah kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu. Petani mulai beraktivias di ladang sayur mereka, ibu-ibu menggendong anak di depan rumah menyambut pagi dan para pelajar menghiasi jalanan dengan berjalan kaki atau bersepeda menuju sekolah.

Candi Sukuh adalah tujuan kami. Candi yang berada di ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut akan menjadi awal dari perjalanan bersepeda kami. Candi Hindu ini tidak terlalu besar, namun cukup terkenal. Salah satu yang membuat candi ini terkenal adalah banyaknya lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Banyak orang menyebutnya candi paling eksotis se-Indonesia.

Tepat satu setengah jam perjalanan dari Solo, kami tiba di pelataran Candi Sukuh. Hutan pinus yang mengelilingi candi ini semakin menambah kesan eksotis. Tiga kata untuk menggambarkan candi ini, natural, eksotis dan sensual.

Hutan pinus yang ada di belakang candi itu menjadi tempat bagi kami untuk pemanasan. Hawa dingin dan tiupan angin selama perjalanan membuat kaki-kaki kaku dan tubuh malas bergerak. Satu dua kayuhan cukup membuat kami sedikit berkeringat dan siap menyambut perjalanan sesungguhnya, Candi Sukuh-Tawangmangu.

Jalan perkampungan menjadi awal perjalanan. Seperti jalanan perkampungan pada umumnya, apsal tipis sudah mulai mengelupas sehingga menyisakan krikil-krikil dan tanah. Jalanan masih landai, banyak datarnya (aku menyebutnya bonus). Namun itu hanya sekitar satu kilometer pertama, setelah itu kami mulai menghadapi tantangan yaitu turunan.

Bersepeda melintasi jalanan yang menurun terkesan mudah, tapi apa jadinya kalau turunan itu curam, lebih dari 60 derajat. Bahkan ada turunan yang nyaris vertikal. Belum lagi turunan itu bukan jalur lurus, tapi berkelok-kelok dengan bumbu jalanan rusak. Membiarkan sepeda melaju kencang tanpa mengerem, itu cukup berbahaya karena jurang-jurang curam mengangga di tepi jalan. Menggenggam rem dengan kuat, juga tak kalah bahaya karena roda-roda dipaksa berhenti dan bisa membuat kami terguling (baca: cinta tanah air).

Jalan tengahnya adalah beraksi dengan memainkan rem. Mencengkram rem kemudian melepaskan rem, membiarkan gravitasi bumi menelan kami. Begitu dilakukan berulang-ulang. Cengkram, lepas, cengkram, lepas. Mungkin dari kami hanya satu orang “gila” yang sangat sedikit memainkan rem karena dia begitu cinta tanah air (hehehehe).

Begitu tiba di ujung turunan, maka sambutan hangat tanjakan ada di depan mata. Kali ini yang dibutuhkan adalah kekuatan kayuhan dan nafas panjang. Kami tidak memiliki modal untuk berancang-ancang karena setiap tanjakan diawali dengan tikungan tajam. Gear belakang sudah maksimal di paling besar dan gear depan paling kecil (kayuhan ringan) tidak banyak membantu. Baru seperempat tanjakan atau setengah tanjakan kami angkat tangan.

Ketika tenaga semakin terkuras dan tubuh melemas, semangat kami pun mulai meredup. Akhirnya, kami memilih rehat di sebuah sumber mata air. Tlogo Madirdo namanya. Memasuki sumber mata air itu seperti memasuki “dunia lain”. Tepat berada di bawah sebuah bukit, Tlogo Madirdo masih begitu alami, meski tampak jelas daerah itu sedang dibangun menjadi tempat permainan outdoor. Sumber air menyembul di salah satu sudut bukit dan membentuk sebuah danau kecil. Gubuk-gubuk kecil mengelilingi tlogo itu. Airnya jernih hingga kami bisa mengaca dari air itu.

Setelah tenaga kembali terkumpul dan semangat kembali menggelora, perjalanan kembali dilanjutkan. Jalur yang dihadapi nyaris sama. Turunan curam baru kemudian disambut dengan super tanjakan. Kala menghadapi setiap tanjakan seakan menemui tanjakan tanpa ujung, begitu menanjak dan berat. Dari puluhan tanjakan yang kami lalui, saya hanya bisa menuntaskan satu tanjakan di atas sadel sepeda. Selebihnya, seperempat, setengah tanjakan saya lalui dengan menuntun sepeda. Tapi itu sudah cukup baik dan saya mengklaim sebagai raja tanjakan karena hanya saya yang mampu menuntaskan satu tanjakan utuh, sedangkan lima kawan saya sudah angkat tangan.

Medan yang ada memang terasa berat, tapi sensasi pacuan adrenalin saat turunan, naluri dan keinginan untuk mengalahkan tanjakan, tepian hutan yang setia menemani selama perjalanan, petani yang sibuk dengan tanaman sayuran dan bunga mawar di sudut-sudut jalan membuat perjalanan bersepeda begitu menyenangkan.

Setelah dua jam lebih perjalanan bersepeda, kami tiba di Tawangmangu. Dan di ujung perjalanan, kami baru sadar, kami telah membelah bukit-bukit antara Candi Sukuh-Tawangmangu. Perjalanan begitu melelahkan, sudah saatnya menutup perjalanan dengan sarapan pagi, sop buntut Bu Ugik, Tawangmangu.

* all photo by Sunaryo Haryo Bayu


Cerita pelacur kaya

Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah perempuan itu. Kalau boleh aku menduga, perempuan itu memiliki nilai sempurna untuk dapat dikatakan sebagai perempuan cantik secara fisik. Atau paling tidak, kaum adam tidak begitu saja memalingkan muka saat melihat wajahnya.

Rambut panjang lurus, kulit putih mulus, wajah bersih tanpa cela dan tubuh proporsional yang akan menggugah naluri kebinatangan lawan jenisnya. Mungkin dia seperti itu. Itulah parameter cantik secara fisik pada umumnya. Perempuan itu memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjalani pekerjaannya. Pekerjaan yang katanya profesi paling kuno sejak umat manusia ada. Pekerjaan yang oleh kebanyakkan orang disebut pekerjaan hina. Pekerjaan yang akan membuka kedok manusia kalau naluri binatang masih mengalir dalam diri makhluk yang katanya paling sempurna di dunia.

Khalayak umum biasanya menyebutnya perempuan malam. Orang menganggap perempuan itu hanya menjual tubuhnya semata. Namun, apa jadinya kalau perempuan itu memiliki intelegensia di atas rata-rata. Memiliki pengetahuan yang luas, melebihi perempuan-perempuan lain yang kadang hanya pamer kecantikan fisik, tapi lupa mengisi otaknya. Kalau memang seperti itu adanya, perempuan itu masuk kategori perempuan sempurna idaman para pria. Cantik secara fisik, cantik pula jeroannya atau biasa disebut memiliki innerbeauty.

“Tiga hari bersamanya, kau bisa jatuh cinta kepadanya. Diajak ngobrol apapun bisa nyambung. Bahkan, dia tau perkembangan politik dalam dan luar negeri. Aku pikir dia pasti baca Kompas tiap pagi,” kata seorang kawan kala bercerita tentang perempuan itu.

Perempuan itu tak menampik, pengetahuan luasnya tentang berbagai hal juga menjadi modal untuk ‘mengimbangi’ para kliennya yang berasal dari golongan kelas atas. Tapi, ternyata perempuan itu memang memiliki minat untuk menggali ilmu dan pengetahuan di muka bumi ini. “Bahkan dia tau masalah politik di Inggris, soal perdana menteri yang ramai dibicarakan itu,” lanjut kawanku.

Apapun alasan dan motif dari perempuan yang telah mengasah innerbeauty-nya itu, dia membuktikan tak hanya memiliki kecantikan fisik semata. Dia bahkan telah menelanjangi kaumnya yang kadang mengolok-oloknya (mungkin karena iri dengan kecantikannya). Dia juga telah menggugurkan vonis dari para manusia pada umunya yang sering menjadi hakim atas pekerjaannya.

Sampai kini aku tidak tau bagaimana awalnya perempuan itu bergelut dengan dunia malam. Yang aku dengar, dia terlahir dari keluarga kaya raya. Keluarga broken telah membawanya menuju sebuah kota yang jauh dari rumahnya. Di sebuah hotel berbintang, perempuan itu tinggal. Menikmati segala kemewahan hotel dari keringat pekerjaannya. Di luar pekerjaannya, dia menghabiskan waktu untuk menonton TV, baca majalah dan koran. Dunia malam memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, tapi bukan berarti seluruh hidupnya untuk dunia malam. “Dia tidak suka dugem. Kadang minum. Bir katanya,” cerita kawanku itu.

Dari cerita temanku itu pula aku tahu kalau perempuan cantik itu sangat sadar akan pekerjaannya. Perempuan itu juga memimpikan kehidupan rumah tangga meski dia sempat berkecil hati, masih adakah manusia yang mau menerima keadaannya. “Dia masih jomblo. Dia bilang, siapa yang mau denganku yang seperti ini,” ucap kawanku.

Malam itu, ketika aku mendengar semua cerita tentang perempuan itu, aku membayangkan sedang apa perempuan itu. Apakah dia sedang menemani kliennya di ranjang kamar sebuah hotel. Ketika aku menulis cerita ini, aku bertanya, sedang apa gerangan perempuan ini. Apakah dia sedang melahap lembaran-lembaran koran nasional. Perempuan yang hingga kini belum bisa aku bayangkan seperti apa wajahnya itu telah meluruhkan seluruh prasangka-prasangka kepada mereka yang menggeluti dunia malam. Paling tidak aku tidak ikut-ikutan menjadi hakim yang memvonis “bersalah” perempuan itu.

 


Dunia Warung Kopi

Warung kopi tak hanya melulu soal bubuk hitam bernama kopi. Warung yang menjamur di sejumlah bilangan Kota Jogja itu juga bukan sekadar cerita soal sensasi khas aroma kopi yang berpadu dengan asap rokok.

Dunia warung kopi adalah dunia di mana sejuta dunia ada di dalamnya. Dunia gairah anak muda, dunia pelarian orang kurang kerjaan, dunia obrolan tanpa aturan, dunia gosip kelas lokalan dan dunia maya pun telah merasuki dunia warung kopi.

Warung kopi mengakomodasi sepasang muda-mudi pamer kemesraan hingga pertengkaran. Berbagi kehangatan dan kecemburuan. Kopi menjadi pelengkap semua kata-kata manis berbalutan rayuan. Rasa pahit kopi pun menjadi penyeimbang kata-kata manis itu agar muda-mudi yang memadu kasih tidak larut dan hanyut dalam manisnya asmara.

Pengangguran yang sudah menyandang gelar sarjana dan orang-orang kurang kerjaan pun tak pernah diharamkan untuk datang ke warung kopi kelas murahan. Bahkan, konsumen warung kopi kelas pinggir jalan itu banyak diisi manusia jenis ini, pengangguran dan kurang kerjaan. Warung kopi seakan jadi pelarian manusia jenis ini. Bagi para penggangguran, kopi pahit belum sepahit realita dunia yang menyesakkan dada. Untuk orang kurang kerjaan, menyambangi warung kopi layaknya menjalani rutinitas pekerjaan.

Mereka semua, muda-mudi yang dimabuk asmara, penggangguran, mahasiswa, orang kurang kerjaan adalah manusia yang selalu memenuhi sudut-sudut warung kopi. Mungkin kadang juga ada manusia dari kolompok lain yang sering datang ke warung kopi seperti eksekutif muda, tante-tante ataupun borjuis yang kesepian, namun warung kopi yang mereka sambangi mungkin berbeda. Lebih tegasnya berbeda level dan kelas dengan warung kopi bagi sejuta umat manusia.

Di warung kopi, bicara soal fakta realita atau gosip tak ada bedanya. Semua berbisik-bisik di tengah alunan musik. Kopi yang menjadi hidangan utama akan menjadi pemacu adrenalin saat manusia ngomong tentang politik dan menghujat pemerintah. Ampas kopi yang tersisa juga bisa menjadi saksi kala obrolan sudah menyangkut hal-hal rahasia. Tanpa perlu diucapkan lewat omongan, seakan pemilik warung kopi berkata, “Silakan nongkrong, ngobrol dan berkata-kata. Kalau perlu pesan sebanyak-banyaknya.”

Dan kini ketika laju perkembangan teknologi tak bisa dibendung lagi, warung kopi juga menjadi warung dunia maya. Manusia yang duduk di warung kopi bisa teralienasi dengan tempat di mana dia berada karena sudah menjelajah mengelilingi dunia entah itu cari bahan tugas kuliah, download film bokep, pedekate lewat jejaring sosial atau sekadar chatting dengan kawan lama. Lagi-lagi tanpa harus terucap pemilik warung kopi meninggalkan wejangan, “Silakan berselancar di dunia maya sepuasnya, tapi jangan lupa bayar minuman dan makanan yang kau pesan.”

Dunia warung kopi adalah dunia pluralisme. Dunia dengan segala jenis manusia yang ada di dalamnya. Dunia dengan segala aktivitas dan obrolannya. Dunia yang ada di dalam dunia warung kopi memang berbeda dan tak sama serta tak perlu dipaksakan agar sama, tapi selera mereka tetap sama, menikmati secangkir kopi.

 


%d blogger menyukai ini: