Monthly Archives: Desember 2010

Solo-Jogja, antara BST, Prameks & Trans Jogja

Pagi ini saatnya melawan dinginnya air. Mandi terpagi selama beberapa bulan terakhir demi petualangan naik angkutan massal yang katanya bisa menyatukan dua kota, Solo-Jogja.
Batik Solo Trans (BST). Angkutan massal ini menyapa publik Solo dan sekitarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Banyak pihak berharap angkutan ini bisa menjadi angkutan alternatif bagi publik yang bosan dan jengah dengan angkutan kota konvensional.
Apek, pengap, ugal-ugalan dan sarang copet. Itulah gambaran umum angkutan kota di negeri ini. Bagi Pemkot Solo, BST adalah sebuah proyek besar sistem transportasi di Kota Bengawan. BST diharapkan bisa menjadi pengganti angkutan kota yang memang sangat menyebalkan.
Selter warna biru dengan kaca nako hitam berdiri lesu di depan RSI Yarsis Kartasura. Tak ada satu orang pun petugas yang membantuku memberitahu tentang rute bus. Maklum ini adalah pengalaman pertamaku naik BST. Nekat dan tekadlah yang membuatku tetap bertahan di selter itu menunggu datangnya BST.

Bus warna biru dengan nuansa batik akhirnya datang juga. Hanya ada 2 penumpang di dalam bus itu. Suasana lapang begitu terasa. Alunan musik dari Andra and The Backbone menjadi teman perjalanan. Jadi nyaman aku dibuatnya. Selter di Kleco di depan mata. Lagi-lagi selter itu sepi dari petugas. Bus yang hendak melaju akhirnya kembali karena ada 3 penumpang yang lari-lari mengejar bus itu.
Ini lucu pikirku. Bus yang memiliki sarana khusus dengan disediakan selter masih harus maju mundur menunggu penumpang. Setahuku jadwal bus ini sudah diatur sehingga jarak antara satu bus dengan bus lainnya bisa disesuaikan. Petugas yang menjadi kondektur mulai beraksi. Dia mengadahkan tangan minta bayaran. Rp 3.000 tarifnya. Aku diberi karcis tanda bukti pembayaran.
Ini membingungkan. Katanya angkutan massal modern, tapi model pembayaran penumpangnya masih “kampungan” dan rawan kebocoran. Bayar di atas bus pakai karcis.
Di selter Faroka bus kembali berhenti. Tidak mulus rupanya. Bus AKAP menghalangi BST untuk mendekati selter. Tanpa rasa berdosa, bus AKAP itu dengan santainya menurunkan penumpang tepat di depan selter. Butuh beberapa menit, sopir bus AKAP akhirnya memberi ruang untuk BST.
Aku kembali tertegun. Bus ini berhenti agak lama di selter itu. Rupanya gaya konvensional belum juga hilang untuk bus modern ini. Ngetem sejenak menunggu penumpang, meski pada akhirnya total penumpang tak lebih dari 10 orang.
Aku berhenti di selter Purwosari. Ada petugas jaga di selter itu. Ada poster yang menunjukkan rute BST, ada pula digital ruuning teks tentang jadwal pemberangkatan BST. Agak lumayan dibandingkan selter lainnya.
KA Prameks tujuan Jogja dari Stasiun Purwosari sudah mau berangkat. Tepat saat kaki ini menginjak tangga KA, pluit berbunyi dan KA yang penuh sesak itu segera berlari. Sudah biasa tiap akhir pekan atau liburan, penumpang akan uyel-uyelan, tapi kecepatan dan kondisi Prameks masih lumayan sehingga perjalanan tetap terasa nyaman.
Tak lebih dari satu jam perjalanan, aku sudah tiba di Stasiun Maguwoharjo. Stasiun ini terintegrasi dengan Bandara Adisucipto dan selter Trans Jogja. Nah, Trans Jogja yang merupakan kakaknya BST (karena lebih dahulu beroperasi) yang akan aku tumpangi. Petugas tiket menyodoriku smartcard setelah aku menyerahkan uang Rp 3.000. Smartcard itu dimasukkan ke pintu masuk agar bisa terbuka. Ini mirip dengan model busway di Jakarta yang sempat aku tumpangi beberapa tahun lalu.

Selain petugas jaga loket pembayaran ada pula petugas lainnya yang membantu memberitahukan kedatangan Trans Jogja beserta rutenya. Kalaupun malas bertanya, ada pula papan pengumuman jalur-jalur Trans Jogja.
Model Trans Jogja sama persis dengan BST, tapi sepertinya Trans Jogja lebih ramping sehingga kalau penumpang penuh akan begitu terasa berdesak-desakan. Dan kenyataannya, Trans Jogja selalu dijejali penumpang. Tak ada lagu pengiring selama perjalanan sehingga penumpang akan sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Untungnya di dalam bus, penumpang tak perlu lagi berurusan dengan sodoran tangan kondektur yang minta bayaran.
Beberapa selter Trans Jogja sudah terlewati. Setiap kali mendekati selter, kondektur dengan nyaringnya memberitahukan selter akan segera tiba. Tak lupa pula ada ucapan terima kasih dari sang kondektur itu. Ini juga sama persis dengan busway di Jakarta. Bedanya, kalau busway pakai alat seperti speaker, di Jogja pakai suara manusia.
Rasanya memang kondektur itu ditugaskan seperti itu, mengatur penumpang di dalam bus dan mengabarkan selter-selter yang dilalui, tanpa harus repot memunggut pembayaran penumpang di dalam bus layaknya bus kota pada umumnya.
Di Subterminal Condong Catur perjalananku dengan Trans Jogja terhenti. Lumayan menikmati perjalanan dengan angkutan massal yang katanya lebih modern dari angkutan umum lainnya.
Aku tidak bermaksud membandingkan antara BST dengan Trans Jogja. Aku hanya mencoba menelusuri angkutan massal yang digadang-gadang bisa menyatukan Solo-Jogja yaitu BST-Prameks-Trans Jogja. Kalaupun ada yang berbeda antara BST dan Trans Jogja, aku tidak tertarik membahasnya lebih lanjut mengapa itu terjadi. Kalau memang angkutan massal itu saling terintegrasi seharusnya pelayanannya sama hingga pada akhirnya publik juga yang merasakan keuntungannya.
Maka kalau kebetulan liburan di Solo atau Jogja, BST atau Trans Jogja bisa jadi alternatif perjalanan keliling kota. Takutnya, kalau naik kendaraan pribadi malah menambah kemacetan dan kemacetan begitu menjengkelkan. Selamat Liburan!


The power of football

Aku meninggalkan layar televisi yang baru saja menyiarkan final Piala AFF 2010 dengan rasa duka dan suka. Aku berduka karena Indonesia gagal jadi juara. Aku suka karena tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan.

Dulu setiap kali tim sepak bola negeri ini bertanding, entah dalam ajang apapun, kekalahan itu hanya membawa duka dan luka. Kekalahan yang selalu diratapi hingga akhirnya berusaha mencari kambing hitam atas kekalahan yang menyesakkan dada.

Malam kemarin memang kekalahan itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Kekalahan yang tetap menghadirkan migran di kepala. Namun dalam dada masih terselip rasa bangga dan bahagia. Bangga karena kemenangan lawan tidak diberikan secara cuma-cuma, bahagia karena Firman Utina dan kawan-kawan telah menghadirkan cinta dari lapangan bola.

Firman, El Loco Gonzales, Maman, Bustomi, Nasuha, Irfan dan penggawa Timnas lainnya tak sekadar menyebarkan virus sepak bola seluruh penjuru negeri ini. Mereka telah menggetarkan dada setiap anak manusia di negeri ini. Mereka sudah mengepakkan sayap Garuda di dada para anak muda, ibu rumah tangga, eksekutif muda hingga para tetua yang rindu nasionalisme sejati datang kembali.

Mereka memang gagal jadi juara, tapi mereka telah merebut hati masyarakat negeri ini. Mereka terlanjur dicintai setulus hati hingga kegagalan tidak menhadirkan caci-maki tapi puja-puji.

Di Gelora Bung Karno, Firman dan kawan-kawan telah memberikan pelajaran kepada suporter, sepak bola tidak melulu soal kemenangan, tapi soal perjuangan. Firman dan kawan-kawan juga meninggalkan pesan kepada para politisi, bermain sportif itu lebih elegan daripada mengejar kemenangan dengan segala cara. Mereka telah mengajari semua umat di negeri ini untuk menerima kekalahan dengan kepala tegak.

Kini kita akan kembali pada kehidupan sehari-hari. Ibu rumah tangga akan kembali dihadapkan pada harga cabai yang melambung tinggi, anak-anak muda kembali berjalan di tengah situasi negeri yang memusingkan kepala, politisi kembali sibuk dengan intrik-intik yang kadang menggelitik dan para tetua kembali duduk di kursi goyang memimpikan kenangan masa lalu.

Semoga pelajaran dari Firman tidak hanya berlaku 90 menit. Semoga kekuatan dan semangat dari Timnas yang sudah menyebar itu tidak layu atau kita malu pada semangat dan perjuangan Firman dan kawan-kawan.


Dear Diary

Diary. Mendengar kata itu, imajinasi pikiranku adalah sebuah tulisan yang dituangkan dalam buku dengan sampul tebal dengan pengait gembok lengkap dengan gemboknya sehingga hanya pemegang kunci gembok alias pemilik diary yang bisa membukanya.

Ada semacam kerahasiaan dalam sebuah diary. Meski tak miliki diary, aku masih berpikir ada sebuah kesakralan dari sebuah diary. Membaca diary orang itu artinya menelanjangi orang itu. Kalau perilaku orang itu diibaratkan sebuah sampul buku, maka isi hati dan perasaan orang itu akan tertuang dalam berlembar-lembar diary itu.

Dulu ketika aku masih SD, di lingkunganku, laki-laki yang memiliki diary akan menjadi bahan ejekan. Ada kesan laki-laki yang memiliki diary bukan laki-laki macho. Mungkin karena kala itu tren buku yang digunakan untuk menulis diary kebanyakan berwarna pink dan sering juga ada bau wangi dari kertas buku sehingga kesannya girly. Mungkin juga karena sering ada kesan menulis di diary artinya menulis curahaan hati soal cinta (yang kata Tipatkai deritanya tiada akhir hehehehe).

Menulis diary artinya menulis tentang hidup. Menulis tetek bengek kehidupan dengan segala permasalahannya. Tidak ada yang salah jika ada orang yang hanya berkisah soal kehidupan asmaranya dalam diary. Tidak salah pula orang yang mencaci maki pemerintah lewat diary.

Saat diary kehilangan “kesakralan” yaitu kala tulisan-tulisan itu tidak hanya dibaca pemegang kunci gembok (baca: pemilik diary), maka diary sudah tak lagi urusan privat. Bahkan ada diary yang dibukukan mulai dari catatan asmara hingga diary tentang orang yang melawan penyakit ganas.

Menginspirasi. Itulah alasan yang digunakan mengapa diary-diary itu dibukukan dan dibuka untuk publik. Kisah hidup seseorang yang tertuang dalam diary itu diharapkan mampu menjadi kekuatan inspirasi pembacanya. Catatan perjalanan hidup seseorang yang dibukukan sehingga mirip sebuah diary juga banyak bertebaran di toko-toko buku. Ada coretan-coretan Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran, kisah Tan Malaka dalam Dari Penjara Ke Penjara I-III, petualangan Kang Zhengguo dalam Confessions ataupun kisah Solzhenitsyn yang melegenda dalam buku Gulag.

Gie yang merupakan aktivis mahasiswa tahun ’60-an menuangkan kisah hidupnya sehari-hari dalam buku itu. Mulai dari keluh kesah masa kecil hingga pemberontakan diri masa muda. Ada soal anjing miliknya, soal cinta, soal petualangannya di gunung-gunung hingga caci makinya kepada pemerintah kala itu.

4 Maret 1957

Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan Ilmu Bumiku 8 tapi dikurangi 3 jadi tinggal 5. Aku tidak senang dengan itu. Aku iri karena di kelas merupakan orang ketiga terpandai dari ulangan tersebut. Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam Ilmu Bumi dari seluruh kelas. Dendam yang tersimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu. Kertasnya aku buang. Biar aku dihukum, aku tak pernah jatuh dalam ulangan (Catatan Seorang Demonstran: 58).

Tan Malaka, bapak revolusi bangsa ini juga punya kisah hidup yang harus tinggal dari penjara ke penjara. Petualangannya dari negara satu ke negara lain, diburu intel dari berbagai negara. Ada kegelisahan yang teramat dalam terhadap bangsa Indonesia yang kala itu berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan, ada kemarahan yang begitu dalam soal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak tahun 1927, ada kisah asmaranya yang kering karena tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya demi perjuangan bangsa serta ada cerita perjuangannya untuk menulis buku Madilog yang melegenda itu.

Kira-kira jam 12, ketika saya berbicara dengan beberapa teman, datanglah sebuah mobil berhenti di depan sekolah itu. Belanda PID yang tadi juga keluar dari mobil itu. Dengan hormat dan muka sedih Belanda itu memperlihatkan surat perintah menangkap saya. Saya dipersilakan masuk mobil (Dari Penjara Ke Penjara I: 122).

Kerasnya Partai Komunis China selama masa kepemimpinan Mao juga dituangkan secara rinci dan detail oleh Kang Zhengguo. Kang yang sejak awal tertarik dengan dunia sastra harus berkali-kali mengalami serangkaian pemeriksaan oleh polisi karena kepemilikan buku-buku “haram”. Bahkan pembuangannya juga disebabkan karena dia memesan buku di Perpustakaan Moskow. Namun, Kang tidak hanya melulu bercerita soal sikap politiknya yang menentang Mao dan Partai Komunis China saja, petualangan asmaranya, kesulitan hidup selama masa tahun ’70-an juga teruang secara apik dalam buku Confessions.

Sebelum aku sadar, pemimpin brigade mengunci tanganku dengan rantai. Lalu ia dan kepala polisi dengan cepat memaksaku beranjak ke belakang barak untuk penyelidikan, dimulai dengan menginspeksiku. Sambil membuka bungkus rokok Albania milikku, kepala polisi meremas pelan setiap batang dengan jari-jarinya, seperti tokoh film yang sedang menyelidiki seorang mata-mata Guomindang yang dilatih di Amerika karena tuduhan menyimpan mikrofilm (Confessions: 185).

Peraih Nobel Sastra, Solzhenitsyn juga mengaduk-aduk rasa kemanusiaan ketika mengisahkan hidupnya dalam buku Gulag. Sistem penjara dan kekejaman Uni Sovyet kala itu terekam secara rinci oleh Solzhenitsyn.

Sel pertama tempat Anda ditahan adalah sel yang punya arti khusus bagi Anda sebab itu adalah tempat Anda pertama kali bertemu dengan orang yang bernasib sama seperti Anda, yang dijebloskan ke dalam situasi yang sama seperti Anda. Sepanjang hidup Anda, Anda akan mengenangnya seperti orang terkenang pada cinta pertamanya (Gulag: 115).

Mereka Soe Hok Gie, Tan Malaka, Kang Zhengguo dan Solzhenitsyn menceritakan tentang hidup mereka masing-masing. Mereka bercerita kepada diary tentang perjuangan hidup, tentang kehidupan dengan seabrek masalahnya karena mereka hidup di bumi manusia dan di bumi manusia semua manusia akan menghadapi berbagai permasalahan dan mencoba menyelesaikan masalah.


Tahun Pelangi

Hujan, mendung dengan angin yang tak bersahabat sudah terlalu lama menggelayut. Langit hanya berwarna hitam pekat tanpa warna kombinasi. Angin menghempas menembus pori-pori, membuat ngilu tulang dan menghempaskan hati pada kekalutan. Percikan air tak menawarkan kenyamanan, membawa duka yang teramat dalam.

Kalau hujan pertanda duka, mungkin ini adalah duka seduka-dukanya sebuah duka. Air hujan tak lagi ramah membasahi bumi. Angin murka tak lagi sepoi-sepoi. Petir membelah langit, membuat duka semakin pilu.

Janji manis hadirnya pelangi setelah hujan reda ternyata tidak kunjung tiba. Pelangi itu pasti tiba karena hidup tak selamanya duka. Toh dari duka kita masih bisa tertawa dan menertawakan kedukaan. Duka dan bahagia membuat dunia semakin berwarna seperti pelangi yang kutunggu dipenghujung tahun ini.

 


Mengenal Norman Edwin, Menjadi Sahabat Alam

Norman Edwin. Nama itu begitu asing bagiku. Belum pernah aku mendengar nama itu sebelumnya. Aku mengetahui nama itu dari sebuah sampul buku di tumpukkan buku di pojokan toko buku.

“Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam”. Itulah tulisan di sampul buku itu. Rasa penasaran di dalam otak menstimulus tanganku untuk mengambil buku setebal 423 halaman itu.

“Nama Norman Edwin pada 1976-1992 identik dengan pendaki gunung, pengembara ilmiah, pelayar lautan, dan penulis kisah perjalanan andal yang sudah punya “umat”-nya sendiri.” Itulah kalimat yang tertulis di sampul belakang buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu.

Rasa ingin tahu dan penasaran semakin tebal untuk membuka lembar demi lembar buku itu. Karena masih tersegel dengan plastik, satu-satunya jalan agar bisa membaca buku itu adalah membelinya (maaf saya bukan tipikal pembaca nakal yang hobi merobek segel plastik buku).

Dari catatan pembuka di buku itu saya mulai mengenal Norman. Baru aku tahu, Norman Edwin adalah satu satu legenda “pecinta alam” Indonesia. Petualangannya di alam bebas begitu komplet dan lengkap, dari menjelajahi atap-atap dunia mulai Puncak Carstensz di Papua hingga Gunung Elbrus yang menjadi atap Benua Biru, Eropa. Belum lagi perjalanannya menembus arus liar sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa serta menyeruk-nyeruk di perut bumi, menelusuri gelapnya gua. Termasuk juga petualangannya di Yosemite yang merupakan “Mekkah”-nya pemanjat rock climbing, membuat perjalanan hidupnya di alam bebas begitu lengkap.

Buku ini memuat 70-an catatan perjalanan Norman dari berbagai petualangannya. Di bagian 1, Norman mengajak kita menjelajahi atap-atap dunia yang dikenal dengan 7 Summits. Mulai dari Pegunungan Carstensz di Papua dan Gunung Kilimanjaro. Dua gunung yang tidak jauh dari garis khatulistiwa, namun puncaknya diselimuti salju abadi. Dalam catatannya, Norman menyelipkan kekhawatirannya mulai punahnya salju-salju itu.

“Sulit memperkirakan penyebab penyusutan ini. Penambangan tembaga oleh Freeport Inc sekarang ini boleh jadi mempengaruhinya, tapi tak boleh dilupakan bahwa penyusutan itu sendiri telah berlangsung jauh sebelum usaha penambangan ini,” tulis Norman dalam tulisan berjudul Gunung Salju di Irian Jaya yang dimuat Suara Alam edisi Desember 1988.

Selain petualangannya di dua gunung itu, perjalanan Norman ke Gunung McKinley di Alaska dan Elbrus juga patut disimak pula. Di Gunung Elbrus, Norman gagal mencapai puncak karena terserang penyakit gunung.

Di bagian dua, Norman mengajak kita melibas liarnya sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa. Salah satu perjalanannya yang fenomenal adalah melakukan Ekspedisi Lintas Kalimantan, melintasi Sungai Kapuas dan Kayan yang memiliki riam (jeram) yang sangat ganas. Ada catatan duka dari Sungai Alas, Aceh saat dua teman Norman meninggal saat melibat riam. Gelapnya gua-gua di perut bumi juga menjadi bagian dari perjalanan Norman.

Lautan luas juga tidak lepas dari petualangan Norman. Dengan perahu phinisi, Norman ikut ekspedisi Tanjung Benoa, Bali hingga Madagaskar, Afrika. Catatan lainnya adalah permasalahan alam lainnya.

Kekuatan dari tulisan Norman yang sudah dimuat di Kompas, Suara Alam dan Mutiara adalah dia terlibat langsung dalam setiap petualangannya. Norman mengkisahkan setiap ekspedisinya dengan detail seakan kita ikut bersama Norman menjelajahi sudut-sudut bumi yang sulit terjangkau itu. Setiap ekspedisi, Norman menyatu dengan alam sehingga catatannya begitu kuat kala dikisahkan. Dan diakhir kisah hidupnya, sahabat sang alam ini “menyatu” dengan alamnya di dekat puncak Gunung Aconcagua 21 Maret 1992.

 


Demokrasi di Kota Monarki

Kota itu bukan kota yang berdiri sendiri dan mandiri. Namun, umur kota kecil ini sudah tua. Bahkan lebih tua dari negara induknya. Orang mengibaratkan, kota ini adalah bidan yang setia menimang negera induknya sebagai bayi.

Di kota tua itu, sebuah sistem pemerintahan kuno telah terbentuk sejak dulu kala. Sistem pemerintahan yang dianggap paling purba. Sistem pemerintahan yang penguasanya turun-temurun. Penguasanya disebut raja dan daerah kekuasaannya dikenal dengan kerajaan. Orang modern menyebutnya sistem monarki.

Kala itu, kerajaan itu berada dalam sebuah negeri terjajah. Saat gegap gempita revolusi negeri terjajah menyeruak, kerajaan itu pun larut dalam revolusi itu. Banyak yang bilang, kerajaan itu punya andil besar lahirnya negara yang baru saja melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Dan sejarah menceritakan, kerajaan itu menyatakan penyatuannya kepada negara itu karena ikatan senasib sepenanggungan zaman revolusi. Sang bidan pun menyatakan penyatuannya kepada bayi yang baru lahir.

Kerajaan itu pun akhirnya mendapatkan keistimewaan oleh negara baru itu sebagai imbal balik atas perannya saat zaman revolusi. Raja di kota itu secara otomatis akan menjadi pemimpin administrasi kota. Sang raja merangkap jabatan sebagai pemimpin kota dalam sebuah tatanan negara yang katanya menganut sistem demokrasi.

Sistem monarki yang sudah lama dianut akhirnya berpadu dengan sistem demokrasi yang dianut negeri itu. Dua sistem itu bergumul, menyatu dan berpadu dalam kota itu. Puluhan tahun lamanya sistem kuno monarki itu berpadu dengan sistem modern demokrasi. Itu yang akhirnya disebut orang dengan keistimewaan kota itu.

Keistimewaan itu telah mengakar dan mendarah daging bagi penduduk kota tua itu. Tak hanya penduduk asli kota itu, ribuan anak muda yang mendatangi kota itu juga ikut memetik buah manis dari keistimewaan itu. Percintaan sistem monarki dan demokrasi melahirkan ekostisme kota yang bernama pluralisme.

Kota itu masih percaya dengan Sabda Pandita Ratu, tapi perbedaan pemikiran dan pendapat bukan barang haram di kota itu. Kota itu masih setia nguri-uri akar budaya yang lahir dari nenek moyang, namun tidak menolak mentah-mentah arus globalisasi. Perpaduan antara “kekunoan” dan “modernitas” itu yang semakin membuat istimewa kota itu.

Kota itu semakin istimewa saat ribuan orang dari berbagai suku bangsa, dari berbagai agama, dari berbagai penjuru negara ini berkumpul di kota itu. Akhirnya kota itu menjadi manifestasi dari negara itu.

Di kota monarki itu, anak muda belajar dan mengenal demokrasi. Di kota kecil itu anak-anak muda berbisik-bisik soal revolusi. Mereka lelah dengan sistem demokrasi yang belum juga menyejahterakan rakyat jelata dan berpikir revolusi menjadi solusi.

Kini kota monarki itu digugat oleh pemimpin negara. Monarki dianggap menghalangi demokrasi. Mereka yang ada di kota itu bertanya-tanya apa yang terjadi. Ada yang merasa pemimpin negara lupa sejarah. Namun, ada pula yang merasa pemimpin negara hanya menjalankan konstitusi.

Rakyat jelata di kota itu menunggu keputusan para pengurus negara. Apakah kota itu akan menjadi monarki seutuhnya yang artinya sang bidan tak lagi menggendong bayinya. Apakah kota itu menjadi demokrasi seutuhnya yang artinya melupakan semua sejarah masa lalu. Atau apakah mereka para pengurus negara itu membiarkan perpaduan monarki dan demokrasi terus terjadi?


%d blogger menyukai ini: