Tahun Pelangi

Hujan, mendung dengan angin yang tak bersahabat sudah terlalu lama menggelayut. Langit hanya berwarna hitam pekat tanpa warna kombinasi. Angin menghempas menembus pori-pori, membuat ngilu tulang dan menghempaskan hati pada kekalutan. Percikan air tak menawarkan kenyamanan, membawa duka yang teramat dalam.

Kalau hujan pertanda duka, mungkin ini adalah duka seduka-dukanya sebuah duka. Air hujan tak lagi ramah membasahi bumi. Angin murka tak lagi sepoi-sepoi. Petir membelah langit, membuat duka semakin pilu.

Janji manis hadirnya pelangi setelah hujan reda ternyata tidak kunjung tiba. Pelangi itu pasti tiba karena hidup tak selamanya duka. Toh dari duka kita masih bisa tertawa dan menertawakan kedukaan. Duka dan bahagia membuat dunia semakin berwarna seperti pelangi yang kutunggu dipenghujung tahun ini.

 

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: