Monthly Archives: Januari 2011

Jakarta dari balik kereta

Hari masih pagi. Bara api sisa pembakaran sampah semalam di tepi rel masih menyala. Kabut masih menyelimuti kolong-kolong jembatan hingga pucuk-pucuk gedung pencakar langit. Embun pagi masih setia dengan daun pohon yang tersisa.

Anak-anak pinggiran Jakarta menyusuri rel kereta dengan bahagia. Sekolah tujuan mereka. Berharap kehidupan tak sekusam rel kereta yang berkarat.

Ibu muda memandikan anak balitanya. Air seember cukup untuk membasuh tubuh mungil balita itu. Berharap air bisa membersihkan segala debu-debu Jakarta.

Lelaki paruh baya melamun di bedeng sempit tepi rel kereta. Sweater tipis menjadi pelindung dari kipasan angin pagi. Sebatang rokok dan secangkir kopi jadi teman setia. Lelaki itu sudah lupa, masihkah ada sahabat setia di Ibukota.

Nenek-nenek memeluk kardus bawaannya sambil menahan kantuk di Stasiun Jatinegara. Usianya terlalu renta untuk bersaing dengan anak muda memperebutkan kursi kereta. Berharap kereta segera tiba. Dia pesimistis dengan segala janji manis Jakarta, termasuk jadwal kereta yang tepat waktu.

Pemuda bersandar pada tiang kokoh Stasiun Gambir. Berharap-harap cemas, gadis pujaannya segera menemuinya. Lambaian tangan mesra dari pintu kereta dinantikannya. Mimpi pelukan hangat gadis muda begitu diharapkannya. Dia masih punya mimpi di Jakarta meski berkali-kali kota ini merenggut mimpi indahnya.

Pasangan muda jogging di kompleks Monas. Menikmati pagi dengan segala romantisme. Menjaga kebugaran tubuh sambil bercengkrama. Mereka tahu sebentar lagi romantisme itu akan lenyap ditelan Jakarta.

Jakarta telah menyatu dalam tubuh setiap penghuninya. Mereka hanya bisa menikmati keindahan pagi yang tersisa. Setelah pagi berlalu, segala harapan, asa, mimpi dan keinginan semakin memudar kemudian lenyap ditelan mentah-mentah Jakarta.

 

Iklan

Tan Malaka dan operanya

Kontroversial. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan Bapak Revolusi Indonesia, Tan Malaka. Kontroversi memang selalu menyelimuti setiap liku laki-laki kelahiran Suliki ini. Mulai dari perpecahannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Komunis Internasional (Komintern), petualangannya ke berbagai negara karena diburu intel hingga kematiannya yang masih misterius. Kini, kontroversi kembali menyeruak, Opera Tan Malaka dilarang disiarkan di TV lokal  di sejumlah daerah oleh aparat negara.

Melihat dengan mata kepalanya sendiri, Tan Malaka begitu berduka saudara-saudaranya sebangsa ditindas di perkebunan di Sumatra. Kenyataan di perkebunan itu membuat hatinya berontak dan datang ke pusat pergolakan perjuangan bangsa, Jawa. Dia pun bergabung dengan tokoh-tokoh PKI untuk mengkoordinasi buruh-buruh. Tak hanya itu, Tan Malaka juga mendirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sang Penjajah Belanda yang khawatir dengan kegiatan Tan Malaka akhirnya menangkap dan membuangnya.

Tan Malaka pun memulai operanya di Belanda saat pembuangan. Beberapa kali bergabung dengan Komintern, dia ditunjuk sebagai Pimpinan Komunis Asia Tenggara. Namun, hubungannya dengan PKI dan Komintern pecah setelah PKI berniat memberontak 1927. Partai Republik Indonesia (Pari) didirikannya sebagai alat perjuangan. Puluhan tahun Tan Malaka berpetualang ke berbagai negara menghindari kejaran intel. Baru menjelang kemerdekaan bangsa ini, Tan Malaka bisa masuk Indonesia.

Setelah kemerdekaan, Tan Malaka berhubungan dengan tokoh-tokoh perjuangan mulai dari Soekarno hingga Jenderal Soedirman. Sikap kerasnya dan tak mau kompromi dengan penjajahan akhirnya mengantarkannya ke ujung maut oleh sesama anak bangsa. Kematiannya masih penuh misteri. Ada yang menyebutnya dia ditembak dan dibuang ke Kali Brantas. Namun, peneliti Belanda, Harry A Poeze menduga Tan Malaka dimakamkan di Semen, Kediri. Hingga kini, teka-teki kematiannya pun belum terungkap.

Kini, kala sejumlah TV lokal hendak menayangkan Opera Tan Malaka, mereka yang dikenal dengan aparat negara melarang penayangan opera yang mengawinkan antara musik dan sastra itu. Rupanya bangsa ini masih belum benar-benar belajar dari sejarah. Segala sesuatu yang berbau PKI adalah haram hukumnya. Anak-anak muda bangsa ini dipaksa untuk tidak mengenal Tan Malaka yang sebenarnya sudah menyandang gelar pahlawan nasional. Bangsa ini terlalu berpikiran kerdil ketika tokoh yang bisa menginspirasi anak-anak muda tentang totalitas perjuangan dan nasionalisme selalu diasingkan dari rakyatnya.

Bangsa ini tak boleh lupa, Tan Malaka memang seorang komunis, namun juga nasionalis sejati. Mereka para aparat negara tak boleh lupa, proklamator bangsa ini, Soekarno selalu menenteng buku Aksi Massa karya Tan Malaka untuk menggerakkan semangat rakyat menjelang kemerdekaan. Anak-anak muda yang memaksa Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan juga “dikompori” Tan Malaka. Soekarno pun sudah menyerahkan mandat kepada Tan Malaka dan tiga orang lainnya untuk memimpin bangsa ini jika suatu ketika Soekarno menghadapi masalah.

Kita selalu mendengungkan diri sebagai bangsa yang besar karena menghargai perjuangan para pendiri bangsa ini. Namun, negara lewat aparat-aparatnya telah melarang rakyatnya untuk menonton sepenggal kisah tentang pahlawan nasional itu. Benarkan kita bangsa yang besar?

 


Suatu pagi di pematang sawah

Mereka tersenyum simpul kala kamera membidik wajah mereka. Wajah-wajah polos dan ceria dari bocah-bocah itu membuat pagi menjadi berarti. Sambil berjalan beriringan, bocah-bocah itu membelah pematang sawah dengan sepeda. Gelak tawa bahagia itu meluncur bersama dengan keringat tipis di dahi mereka.

Tak ada keluh kesah kelelahan setelah mengayuh sepeda dari rumah ke sekolah. Rasa lelah itu seakan memudar kala bangunan sekolah menyambut mereka. Rasa lelah hilang seketika kala teman-teman menyambut di dalam kelas.

Bagi mereka sepeda bukan sekadar alat transportasi yang mengantarkan mereka dari rumah menuju sekolah yang berjarak beberapa kilometer. Lewat sepeda mereka mencoba meraih mimpi-mimpi masa depan. Dari sepeda mereka mencoba meniti jalan kehidupan yang kadang terjal dan berliku. Dan yang pasti, sepeda selalu membuat bocah-bocah itu bahagia.

Mereka, bocah-bocah SD dan SMP yang setiap pagi membelah pematang sawah dengan sepeda tak pernah diajarkan tentang bike to school. Mereka bersepeda ke sekolah karena sepeda telah menjadi bagian terpenting dalam hidup bocah-bocah itu. Pikiran bocah-bocah itu juga jauh dari istilah global warming, polusi dan kerusakan lingkungan, tapi mereka dengan sepeda mereka telah mengajarkan tentang pentingnya kelestarian alam.

Gelak tawa bahagia bocah-bocah mengayuh sepeda di tengah pematang sawah yang masih berkabut tipis mulai memudar. Sekolah telah menanti mereka. Kabut tipis akan segera pergi bersamaan dengan datangnya terik matahari. Sebentar lagi riuh rendah bumi akan dijejali dengan segudang polusi.


Lost file & amnesia

Ini bukan sebuah data penting layaknya data rahasia milik Amerika Serikat yang dibobol oleh WikiLeaks. Ini juga bukan soal data keuangan dari sebuah instansi pemerintah yang lebih sering ditutup-tutupi agar bisa mulus mengerogoti fulus rakyat. Ini hanya soal data tentang masa lalu.

Scripta manent verba volant. Kalimat sakti tentang keampuhan sebuah data (baca: tulisan) begitu aku percayai. Sesuatu yang tertulis itu akan lebih abadi daripada omong kosong yang muncrat lewat mulut. Dan aku selalu belajar untuk mengabadikan potongan-potongan kehidupan dalam sebuah tulisan. Selain memori otakku terbatas untuk mengingat semua hal tentang kehidupan, paling tidak tulisan-tulisan tentang kehidupan akan membantuku mencerna kembali setiap langkahku dalam mengarungi dunia (Ini memang agak berlebihan hehehe).

Ketika data-data itu hilang, maka aku kehilangan sebagian masa laluku. Layaknya terapi bagi penderita amnesia, dengan kecanggihan teknologi yang bernama recovery data, sebagian potongan masa lalu itu bisa dipulihkan kembali. Ada masa lalu yang kembali utuh dengan sempurna, ada pula yang pulih sebagian dan ada pula yang hilang tanpa bekas.

Aku mencoba-coba mengingat sebagian data masa lalu yang hilang itu. Begitu banyaknya data masa lalu yang tertulis aku malah bingung data apa saja yang hilang. Aku coba mengingat-ingat kembali setiap detail masa lalu, namun belum juga ketemu. Pasrah sajalah, toh aku hidup untuk masa depan meski kadang sejenak rehat membuka-buka kembali memori masa lalu.


%d blogger menyukai ini: