Jakarta dari balik kereta

Hari masih pagi. Bara api sisa pembakaran sampah semalam di tepi rel masih menyala. Kabut masih menyelimuti kolong-kolong jembatan hingga pucuk-pucuk gedung pencakar langit. Embun pagi masih setia dengan daun pohon yang tersisa.

Anak-anak pinggiran Jakarta menyusuri rel kereta dengan bahagia. Sekolah tujuan mereka. Berharap kehidupan tak sekusam rel kereta yang berkarat.

Ibu muda memandikan anak balitanya. Air seember cukup untuk membasuh tubuh mungil balita itu. Berharap air bisa membersihkan segala debu-debu Jakarta.

Lelaki paruh baya melamun di bedeng sempit tepi rel kereta. Sweater tipis menjadi pelindung dari kipasan angin pagi. Sebatang rokok dan secangkir kopi jadi teman setia. Lelaki itu sudah lupa, masihkah ada sahabat setia di Ibukota.

Nenek-nenek memeluk kardus bawaannya sambil menahan kantuk di Stasiun Jatinegara. Usianya terlalu renta untuk bersaing dengan anak muda memperebutkan kursi kereta. Berharap kereta segera tiba. Dia pesimistis dengan segala janji manis Jakarta, termasuk jadwal kereta yang tepat waktu.

Pemuda bersandar pada tiang kokoh Stasiun Gambir. Berharap-harap cemas, gadis pujaannya segera menemuinya. Lambaian tangan mesra dari pintu kereta dinantikannya. Mimpi pelukan hangat gadis muda begitu diharapkannya. Dia masih punya mimpi di Jakarta meski berkali-kali kota ini merenggut mimpi indahnya.

Pasangan muda jogging di kompleks Monas. Menikmati pagi dengan segala romantisme. Menjaga kebugaran tubuh sambil bercengkrama. Mereka tahu sebentar lagi romantisme itu akan lenyap ditelan Jakarta.

Jakarta telah menyatu dalam tubuh setiap penghuninya. Mereka hanya bisa menikmati keindahan pagi yang tersisa. Setelah pagi berlalu, segala harapan, asa, mimpi dan keinginan semakin memudar kemudian lenyap ditelan mentah-mentah Jakarta.

 

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: