Monthly Archives: Februari 2011

Jalur sepeda, potret buram warga kelas dua

Suara sinyal khas perlintasan kereta api (KA) memekak memberi tanda ular besi segera melintas. Suara itu diikuti gerak patah-patah palang KA menutup Jl Slamet Riyadi, jalan protokol di Kota Solo. Dalam hitungan detik, kendaraan sudah menumpuk di dua sisi perlintasan KA Purwosari.

Suara sinyal khas perlintasan KA sudah digantikan dengan suara klakson kendaraan yang saling sahut-menyahut. Untuk beberapa saat kepadatan lalu lintas belum terurai. Semua ingin melaju lebih dahulu meninggalkan kemacetan yang menjengkelkan.

Jalan Slamet Riyadi yang menjadi jalan utama di Kota Bengawan ini tak pernah sepi dari kendaraan. Kepadatan akan semakin meningkat pada jam-jam padat, seperti siang hari. Dengan sepeda, aku menyusuri jalan lurus sepanjang sekitar 5 km dari Kleco hingga Gladak. Bukan melintas di jalur cepat dengan empat ruas, tapi jalur khusus sepeda yang berada di sisi utara jalan menjadi pilihanku.

Jalur khusus sepeda Jl Slamet Riyadi dimulai dari Pasar Kleco yang menjadi pintu masuk Kota Solo dari arah Semarang ataupun Jogja. Siang itu, aktivitas perdagangan di depan pasar masih ramai hingga sebagian jalur sepeda termakan untuk berdagang atau parkir. Akhirnya jalur sepeda dengan lebar sekitar dua meter itu hanya menyisakan separuh jalan untuk becak dan sepeda yang berlalu lalang.

Perjalanan terus berlanjut, Pasar Kleco sudah ditinggalkan. Di depan, jalan bergelombang dari Kleco hingga simpang tiga Faroka menjadikan pinggul dan pantat selalu bergoyang. Belum lagi, genangan air sisa hujan juga menjadi pemandangan lumrah di jalur sepeda ini. Mendekat simpang tiga Faroka, pesepeda harus berkelit, bukan melawan kendaraan lain, tapi sebagian jalur sepeda sudah digunakan untuk pangkalan taksi dan pedagang kaki lima.

Jalur sepeda dari simpang tiga Faroka hingga Purwosari sedikit lebih ramah bagi pesepeda ataupun abang becak. Jalanan relatif baik dan sepi dari penyerobotan untuk lahan parkir ataupun PKL. Tapi perjalanan menantang menyusuri jalur sepeda baru akan dimulai dari Purwosari hingga Gladak.

Dimulai dari Stasiun KA Purwosari dan berakhir di Tugu Slamet Riyadi di Gladak, detak kehidupan Solo terlihat. Pusat perbelanjaan, perbankan, kantor-kantor pemerintahan, hotel, rumah tahanan hingga pertokoan berderet rapat di tepi jalan sepanjang 3,6 km ini.

Jangan berharap ada aspal mulus berhotmix ketika melintasi jalur sepeda. Meski jalur utama dan jalur sepeda hanya dibatasi oleh median jalan, terlihat jelas kualitas aspal yang digunakan berbeda. Jalur utama begitu mulus dengan aspal hotmix. Sedangkan jalur sepeda, sebagian aspalnya sudah mengelupas, entah kapan terakhir kali ditambal menimbulkan kesan diskriminasi pengaspalan jalan.

Di sepanjang jalur Purwosari-Gladak, pesepeda tidak hanya beradu dengan tukang becak yang sering menjadi “raja jalanan”, tapi juga harus berbenturan dengan tukang parkir yang punya kuasa penuh mengamankan lahan parkirnya di jalur sepeda. Harus pula berhadapan dengan gerobak-gerobak pedagang di tepian jalan dan sopir taksi yang kadang seenaknya membuka pintu mobil di pangkalan taksi. Belum lagi pengguna kendaraan bermotor yang hendak keluar atau masuk toko, hotel ataupun pusat perbelanjaan sering memotong jalur sepeda dengan gelap mata. Seperti menganggap jalur sepeda itu tak pernah ada.

Sarana pendukung jalur khusus sepeda sebenarnya telah ada. Di setiap simpang empat ada trafficlight khusus untuk sepeda dan rambu tanda arah agar sepeda melintasi jalur sepeda. Di beberapa lokasi ada pula tanda larangan parkir bagi kendaraan, tapi sepertinya rambu larangan parkir itu sekadar pajangan. Rimbunnya pohon di sepanjang jalan ini juga menjadi nilai lebih jalur sepeda Jl Slamet Riyadi. Perjalanan bersepeda menjadi lebih adem dan terlindung dari sengatan matahari.

Jalur sepeda Jl Slamet Riyadi ini menjadi potret warga kelas dua di negeri ini terpaksa harus saling beradu. Pesepeda, tukang becak, PKL, tukang parkir, sopir taksi, kadang pejalan kaki bersaing memperebutkan lahan yang hanya secuil itu. Pesepeda dan tukang becak merasa paling berkuasa di jalan itu karena merupakan jalur itu khusus disediakan untuk mereka. PKL, tukang parkir dan sopir taksi bertahan di jalur sepeda demi mempertahankan hidup. Pejalan kaki terpaksa ikut melebur di jalur sepeda karena trotoar kadang habis dikuasai PKL. Mereka adalah warga kelas dua yang selalu tersisihkan dari gerak laju kehidupan.

Iklan

Impian parkir sepeda di Solo

Pagi sudah mulai beranjak pergi, tapi siang belum ingin menghampiri. Solo mulai menari, gilat kota sudah terasa sedari tadi. Jalanan padat disesaki kendaraan, berlomba, beradu cepat, mengejar materi, memburu waktu karena waktu enggan berkompromi. Aku dan kawanku, Tante Dian, menembus kota dengan sepeda, berharap ada kearifan di jalanan yang sesak dan menyesakkan.

Balaikota Solo tujuan kami. Bagiku ini adalah kali kedua ke balaikota dengan mengayuh sepeda. Tak terlalu jauh memang dengan tempat tinggalku di pinggiran Solo, mungkin sekitar 8-9 kilometer. Sengaja kami (aku dan Tante Dian) bersepeda ke balaikota karena memang kami datang ke balaikota untuk mengurusi pelantikan pengurus Bike To Work (B2W) Solo yang paling tidak bisa menjadi awal kampanye bersepeda di Kota Bengawan.

Seperti biasa, tak jauh dari gerbang Balaikota Solo, Satpol PP yang berjaga mengadang kami. Ini wajar karena standar pengamanannya memang seperti itu. Petugas itu akan mencatat nomor kendaraan yang masuk kompleks balaikota. Tapi kami bersepeda, apa yang akan mereka catat? Tak ada nomor polisi (Nopol), pajak sepeda atau plombir juga sudah tidak zamannya lagi. Ternyata kali ini kami diberi dua lembar karcis untuk satu sepeda. Satu ditempel di sepeda, satu dibawa pemiliknya. Ini sedikit lebih baik dari kedatangan kami sebelumnya karena saat tiba di pos penjagaan, Satpol PP bingung mau ngasih karcis apa. Akhirnya kami dibiarkan masuk tanpa karcis dan itu artinya kalau terjadi apa-apa seperti pencurian sepeda, itu bukan tanggung jawab mereka.

Di belakang pos penjagaan itu sudah berjajar belasan sepeda lain. Tanpa ragu kami memarkirkan sepeda kami di sela-sela sepeda lainnya. Lokasi itu memang jadi parkir sepeda. Tapi lebih tepatnya jalan yang dipaksakan jadi parkir sepeda karena lokasinya memakan sebagian badan jalan yang mengarah ke dalam kompleks balaikota.

Bagiku potret semacam ini kian menunjukkan sepeda adalah alat transportasi yang “terpinggirkan” di negeri ini. Di negeri yang sedang gandrung dengan modernitas dan kapitalisasi, sepeda sering dilekatkan dengan status sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan bermotor. Alat transportasi yang “terpinggirkan” itu akhirnya diletakkan di pinggiran dengan lokasi parkir ala kadarnya.

Ruang-ruang pelayanan publik dan ruang publik lainnya di Solo dan kota-kota lainnya memang bisa dibilang belum “ramah” terhadap pesepeda. Di mal, perkantoran, kantor-kantor instansi pemerintah, perbankan, pusat perbelanjaan, parkir khusus sepeda memang masih jarang ditemui dan akhirnya nasib pesepeda semakin terasing dan tersisih. Tapi semangat bersepeda tak perlu luntur dengan masih minimnya sarana dan prasarana untuk pesepeda. Itu harusnya yang melecut semangat agar ruang-ruang publik dan tempat pelayanan publik bisa semakin “ramah” terhadap pesepeda.

Setelah satu jam lebih berbagai urusan dengan bagian perlengkapan, ajudan, protokoler Pemkot Solo tuntas, kami bergegas meninggalkan balaikota. Parkiran sepeda di ujung kompleks balaikota masih dipenuhi sepeda. Mimpi tentang parkir khusus sepeda terus membuncah. Dan impian itu akan menjadi nyata beberapa hari ke depan saat rak parkir sepeda dari B2W Solo diserahkan ke Pemkot Solo. Di mulai dari Balaikota Solo impian parkir sepeda itu semoga akan menyebar ke ruang-ruang publik lainnya.

 


Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 


Berburu senja dengan sepeda

Senja adalah saat warna kuning kemerah-merahan berpendar menghiasi langit biru. Semburat cahaya kuning, merah, biru, putih bisa melahirkan keindahan langit meski hanya beberapa menit saja. Senja menjadi penanda, matahari rehat sesaat dan memberikan waktu kepada rembulan untuk menemani manusia.

Senja melahirkan dialektika tentang siang dan malam, tentang terang dan gelap, tentang keindahan pergantian waktu. Keindahan senja terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja. Dari ujung balkon kantor di sela-sela kerja, dari pojokan lantai 2 kosan, dari balik kaca mobil, bus atau kereta, aku selalu ingin menyapa senja. Rasa penasaranku pada senja melahirkan ritual berburu senja karena senja juga menawarkan perenungan hidup.

Hujan siang ini menyisakan jalanan yang becek, tapi senja tetap harus diburu, meski rintik hujan masih tipis membasahi bumi. Kali ini saatnya memburu senja dengan sepeda. Roda-roda mulai berputar, sepeda mengarah ke barat, tempat di mana senja akan hadir. Aku berharap bertemu senja di Waduk Cengklik.

Bagi pesepeda di Solo dan sekitarnya, rute Waduk Cengklik sudah begitu populer. Bagi yang menggunakan sepeda balap, rute jalan raya cukup menarik. Bagi yang menggunakan mountain bike seperti saya, Waduk Cengklik tak kalah menarik karena banyak rute yang bisa dipilih untuk enjot-enjotan memanaskan pantat. Menyusuri jalan para petani, membelah sawah yang becek adalah rute menarik untuk XC.

Menuju Cengklik biasanya mengambil jalur Jl Adisucipto (arah Bandara Adi Soemarmo). Namun, kala naluri berenjot-enjotan di sadel sudah di ubun-ubun, bisa saja membelah jalan-jalan desa yang mengarah ke waduk. Rutenya lebih menarik jika dibandingkan melintas di jalan raya yang sudah penuh sesak kendaraan bermotor dan jalurnya lempeng. Kombinasi paving block, aspal terkelupas, bebatuan dan tanah merupakan kombinasi khas jalan-jalan desa. Rumah-rumah di pinggiran kota, pematang sawah dan pembangunan perumahan yang terus menjamur adalah pemandangan utama di kanan-kiri jalan desa itu. Kalau beruntung, ada lambaian tangan dari anak-anak yang bermain di pinggir kampung. Kalau kurang beruntung, paling tersesat dan berputar-putar di kampung, tapi itu semua bisa diselesaikan dengan bertanya kepada warga yang ramah menunjukkan arah menuju Waduk Cenglik.

Menembus jalan desa, perempatan menuju bandara sudah di depan mata. Bisa saja memilih jalan lurus langsung menuju Waduk Cengklik, namun kalau gelora XC belum puas, bisa memilih jalur yang mengarah ke bandara. Tak jauh dari pekuburan tempat dulu pesawat Lion Air jatuh, ada jalan desa yang mengarah ke waduk. Dari situlah petualangan XC sebenarnya dimulai. Jalanan cukup lebar, tapi aspal yang mengelupas dan kombinasi kubangan air menjadikan perjalanan semakin menarik. Pematang sawah yang membentang lebih sedap di mata. Jalanan bebatuan dengan turunan dan tanjakan lumayan bikin nafas cukup ngos-ngosan.

Saatnya menyusuri aliran saluran air waduk. Tanah yang basah kuyup diguyur hujan menjadikan tepian aliran saluran air berlumpur dan penuh kubangan. Rasanya ingin menggenjot pedal sekencang-kencangnya, tapi di sebelahnya ada saluran air yang cukup dalam. Kalau tak hati-hati malahan bisa kecebur, apalagi jalanan licinnya minta ampun.

Waduk Cengklik yang jadi tujuan utama akhirnya terlihat juga. Tapi sayang, langit masih gelap. Mendung tipis masih menyelimuti langit. Impian tentang langit yang berpendar kuning kemerah-merahan sepertinya tidak menjadi kenyataan hari ini. Senja tidak menyapa hari ini. Petualangan berenjot-enjotan di sadel sepeda bisa menjadi pelipur lara. Suatu saat nanti aku akan kembali berburu senja dengan sepeda.


Janji hujan

Siapa yang mengundang awan. Siapa yang menggiring mendung. Hujan tiba-tiba membasahi bumi yang kering. Serasa kerongkongan dialiri air putih. Seperti basuhan air suci kala hendak menghadap Sang Kuasa.

Daun bergoyang ditimpa air yang menderu. Ranting, dahan menari menyambut datangnya penyejuk hati. Musim kering terlalu membosankan. Tanah memimpikan siraman dari langit. Sungai menantikan aliran yang kering kembali terisi. Sawah menunggu kiriman Banyu agar Dewi Sri tak keburu layu.

Hujan telah berjanji. Janji yang tak mungkin diingkari. Janji hujan untuk bumi telah ditepati. Bumi menyambut janji hujan dengan gegap gempita. Janji itu untuk kesuburan bumi.

 


Atas nama Tuhan

Teriakan-teriakan yang membuat liurnya menetes atas nama Tuhan. Kepalan tangan yang meninju langit juga diatasnamakan Tuhan. Langkah kaki memburu dianggap sebagai wakil dari Tuhan. Tebasan parang dan pukulan pentungan dipercaya untuk menegakkan nama Tuhan.

Mereka bertingkah polah mengatasnamakan Tuhan. Mereka yakin memberangus kesesatan dengan cara kekerasan itu untuk membela Tuhan. Apakah Tuhan perlu dibela? Mereka yakin Tuhan meresetui itu semua. Benarkah itu semua atas restu Tuhan?

Tuhan yang mana? Tuhan siapa?

Darah yang mengalir itu dianggap setimpal atas kesesatan kepada Tuhan? Api yang membara membakar rumah, mobil dianggap cara untuk melumpuhkan kesesatan? Apakah air mata tangis, duka tak pernah dianggap oleh Tuhan mereka?

Mereka membumihanguskan mereka yang lain karena beda pendapat tentang Tuhan. Dan Tuhan mereka memang beda karena Tuhan mereka adalah kekerasan.

 


5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian III): Dag dig dug, meluncur di dam

Tergilas perahu dan tenggelam cukup lama membuat tenagaku terkuras. Selama beberapa menit aku hanya bisa rebahan di perahu. Rasanya ingin muntah setelah menenggak air sungai begitu banyak. Kepala terasa pening. Aku mencoba bangkit dan kembali berkonsentrasi untuk melanjutkan pengarungan sungai yang masih lama. Pemandu dari Progo Xventours menyarankan aku pindah posisi di belakang. Dia khawatir nyaliku sudah berkurang. Dan memang nyaliku sedikit berkurang setelah kejadian yang menegangkan itu.

Terjun ke air ataupun tenggelam saat rafting sudah aku alami beberapa kali sebelumnya. Entah itu terjungkal di jeram ataupun diisengi teman saat aliran air tidak terlalu keras. Tapi itu semua belum ada apa-apanya dengan kejadian kali ini. Diawali tergilas perahu dilanjutkan terjebak di bawah perahu cukup lama. Sungguh menegangkan karena begitu menguras tenaga dan sempat membuat nyali ciut. Lega ketika aku bisa selamat dan senang merasakan pengalaman yang begitu menegangkan itu.

Setelah memberi waktu untuk menata diri dan mental, perahu kembali melaju. Aku pindah di posisi paling belakang, dekat dengan skipper. Perahu terus melaju dan melalui beberapa jeram. Terasa sekali perbedaan di posisi depan dan belakang. Saat di depan riak-riak air langsung menghantam tubuh dan goncangan begitu keras. Sedangkan di belakang terpaannya tidak begitu terasa karena riak-riak air sudah lebih dahulu menghantam teman-teman di depan. Sensasinya benar-benar berbeda.

Kala tenaga sudah mulai melemah, kami disuguhi pemandangan yang indah di sepanjang perjalanan berikutnya. Tebing-tebing curam ditumbuhi tumbuhan. Layaknya Green Canyon. Air dari atas tebing jatuh ke sungai membuat air terjun yang indah. Pemandangan indah itu membuat semangat kembali menggelora dan tenaga kembali pulih.

Setelah sekitar 12 km mengarungi sungai kami beristirahat sejenak di tepi sungai. Makanan ringan sudah disediakan. Semua lahap menghabiskan makanan. Tak lama kami beristirahat, perjalanan harus terus dilanjutkan. Masih banyak tantangan menanti di depan, terutama tantangan yang selama ini kami tunggu-tunggu, meluncur dari dam.

Beberapa saat setelah kembali mengarungi sungai, dam setinggi 5 meter menghadang. Air sungai sebenarnya agak surut, tidak terlalu tinggi. Semua perahu berhenti beberapa meter dari dam. Instruksi dari pemandu “tidur” akan digunakan saat perahu melintasi dam. Badan menengadah, rebahan di perahu. Dam setinggi 5 meter ini tidak vertikal utuk 90 derajat. Ada sedikit kemiringannya. Namun, tetap saja membuat jantung berdegup lebih kencang. Membayangkan meluncur setinggi 5 meter dan hal yang paling dikhawatirkan adalah perahu terbalik di bendungan. Perahu yang aku tumpangi persiapan untuk melintasi dam itu setelah satu perahu di depan meluncur di dam. Aku tidak tahu nasib perahu di depanku, apakah meluncur dengan sukses atau perahu terbalik. Yang terdengar hanya teriakan keras dari para rafter saat perahu nyaris vertikal meluncur di dam.

Suara peluit terdengar nyaring, tanda perahu kami dipersilakan berjalan. Kayuhan dayung masih pelan dan semakin mendekati dam, pemandu meminta kami mendayung semakin kuat. Dasar dam belum terlihat. Degup jantung terpacu kencang, menanti apa yang bakal terjadi. Moncong depan perahu sudah menyentuh bagian depan dam dan teriakan “tidur” dari pemandu terdengar. Kami semua rebahan dan tangan berpegang erat pada tali-tali perahu.”Haaaaaaaaaaaaa”. kami semua berteriak.

“Byuuuuuuuur…..”

Perahu menabrak air di dasar dam. Perahu terus meluncur dan kami sukses melintasi dam itu. Lima perahu lainnya juga sukses melintasi dam, tanpa ada yang terbalik. Kami kembali beristirahat makan siang karena sudah lebih dari 2 jam melintasi sungai. Kala perjalanan kembali dilanjutkan jeram-jeram kembali harus dilewati. Tidak terlalu banyak kendala yang dialami.

Tanpa terasa sudah lebih dari 4 jam kami mengarungi sungai. Dan sudah sekitar 20 km kami lalui. Tak berapa lama lagi kami akan segera finish. Namun ini bukan finish yang mudah karena ada dam yang menghadang. Dam vertikal 90 derajat setinggi 3 meter harus dilalui terlebih dahulu. Kembali degup jantung mengencang. Meski sebelumnya sudah sukses melewati dam yang lebih tinggi, tapi dam ini juga tidak bisa diremehkan. Dam vertikal membuat kemungkinan perahu terbalik semakin besar.

Kami kembali mendayung menuju dam. “Tidur”, teriak pemandu dan kami kembali rebahan. Perahu meluncur vertikal menghujam dasar dam. Perahu berdiri tegak, tak lama lagi bisa terbalik. Untungnya bagian depan perahu sedikit maju dan perahu bisa meluncur. Sorak sorai bergemuruh. Tepuk tangan meriah dari warga yang menonton aksi kami menutup perjalanan kami di Progo Hulu.—Tamat

*all photo by Progo Xventours


%d blogger menyukai ini: