5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian II): Tergilas perahu, tenggelam dalam kegelapan

Gerimis tipis membayangi perjalanan kami menuju Temanggung. Hawa dingin masih terasa meski jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi lebih. Sekitar satu jam perjalanan kami tiba di Temanggung. Lokasi start arung jeram Progo Hulu tak terlalu jauh dari pusat kota Temanggung.

Helm dan pelampung mulai dipakai. Dayung yang menjadi senjata kami sudah di tangan. Kami sudah siap mengarungi Sungai Progo sejauh sekitar 20 km. Jarak yang cukup jauh bagi kami yang masih pemula. Sebelumnya kami menjajal rute Progo Atas sejauh 9 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kali ini kami mencoba perjalanan jauh menyusuri sungai dengan perahu karet dengan estimasi waktu sekitar 4-5 jam.

Seperti biasa, pemandu memberikan arahan sebelum kami turun ke medan pertempuran. Beberapa instruksi sudah kami hafal seperti “maju” untuk mendayung maju, “mundur” untuk mendayung mundur dan “stop” untuk berhenti mendayung. Kini ada beberapa instruksi tambahan seperti “balance” yaitu semua penumpang perahu harus menuju titik tertinggi perahu saat miring agar perahu tidak terbalik begitu menghadapi jeram. Ada juga “tidur” yaitu kami harus menengadah rebahan di perahu.

Saatnya mengumpulkan semangat dan menepis rasa takut, kami menuju perahu masing-masing. Satu perahu diisi 7 orang, 5 peserta dan dua pemandu. Satu pemandu bertugas di belakang sebagai skipper, satu lagi di depan. Adanya dua pemandu dalam satu perahu ini mengusik pikiranku. Aku yakin perjalanan tidak semudah sebelumnya seperti di Progo Atas. Dalam pikiranku terbayang jeram yang bakal dilalui pasti lebih berat dan menantang. Rasa takut dan khawatir harus ditepis dan dengan keyakinan penuh aku meloncat ke perahu.

Aku biasa memilih untuk berada di posisi paling depan. Satu alasan yang pasti adalah ketika difoto, wajahku bakal paling kelihatan. Alasan lainnya, adrenalin lebih terpacu karena wajah langsung berhadapan dengan air yang bergulung-gulung tanpa terhalang punggung teman satu perahu.

Pelan tapi pasti, 6 perahu mulai mengarungi Sungai Progo. Semua mendayung pelan-pelan. Semua masih menyesuaikan diri dan membuat diri senyaman seperti seorang pendaki gunung yang melakukan aklimatisasi sebelum mendaki. Beberapa saat setelah itu, permukaan air Sungai Progo mulai bergelombang. Siap tidak siap, semua harus menghadapi tantangan yang sudah di depan mata.

Di awal-awal perjalanan, jeram-jeram yang dilalui masih cukup ringan. Hampir mirip rute Progo Atas. Bedanya, jeramnya lebih panjang sehingga pacuan adrenalin jadi lebih lama. Teriakan-teriakan mulai bersahut-sahutan kala perahu diombang-ambingkan jeram. Dan selalu ada senyum puas kala jeram terlewati. Tak terhitung berapa jeram yang telah terlewati, namun semakin lama rasanya jeram yang harus dilalui semakin menantang.

Perahu-perahu tidak bisa beriringan bersama-sama menembus kerasnya jeram. Semua harus antre, satu persatu perahu melintasi jeram. Pemandu pun harus berjuang ekstra keras agar tidak salah mengambil jalur. Kalau salah bisa-bisa perahu berputar-putar terlalu lama di jeram ataupun nyangkut di bebatuan yang menghadang.

Sesekali terdengar peluit dari pemandu menandakan ada perahu yang bermasalah. Ada kalanya suara peluit juga menjadi penanda agar perahu bisa berjalan menembus jeram setelah perahu di depan berhasil melewati jeram. Cipratan air ataupun perahu yang setengahnya tertelan kerasnya jeram benar-benar membuat “gila”. Rasa takut yang harus dilawan, rasa penasaran seperti apa melewati jeram dan keinginan menaklukkan jeram bercampur aduk menjadi satu saat melintasi kerasnya arus.

Setiap kali akan memasuki jeram yang cukup berbahaya, pemandu menghentikan perahu dan melihat arus di depan, memilih jalur mana yang harus dilalui. Kadang memberikan instruksi, seperti saat menghadapi jeram merah. Sungai Progo yang kami arungi ini dihimpit tebing-tebing curam. Di beberapa bagian, air mengalir dari atas tebing, ada yang dari sawah, ada pula dari sisa pembuangan pabrik tahu. Di penghujung jeram merah ini tebing sisi kiri menonjol ke kanan. Sedangkan sisi kanan sungai dipenuhi batu-batu besar sehingga perahu akan terbawa ke sisi kiri. Rafter yang ada di sisi kiri perahu harus siap tiarap menundukkan kepala agar tidak membentur tonjolan dari tebing itu.

Semuanya berjalan begitu cepat, suara menderu dari jeram seakan menelan teriakan kami. Tapi bahaya belum usai. Begitu jeram terlewati, tonjolan dari tebing sudah di depan mata dan semua siaga untuk tiarap. Lega rasanya, tidak ada yang terluka. Perjalanan kembali berlanjut.

Jeram-jeram keras kembali harus dilalui. Satu jeram yang lumayan sudah menghadang. Aku dan semua yang ada di perahu bersiap menembus jeram, mengayuh dayung sekuat tenaga. Air membuncah. Perahu yang membelah jeram menambah riak-riak air membesar. Dalam hitungan detik, hentakan keras membuatku terlempar dari perahu ke arah depan. Aku tersentak. Kejadian begitu cepat. Kaki, badan dan kepala langsung terbenam ke sungai. Mencoba tenang dan tidak panik. Pelampung yang mengikat di tubuhku membawaku kembali ke permukaan. Ketika kepala mulai muncul di permukaan, dari belakang perahu langsung menggilasku dan membuatku kembali terbenam di dalam sungai.

Gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa. Air Progo berwarna cokelat dan di atasku dasar perahu berwarna hitam. Kepalaku hanya bisa menyundul dasar perahu. Seluruh tubuh terbenam di dalam sungai. Entah sudah berapa banyak air yang aku minum. Aku sudah tidak bisa tenang lagi. Sekuat daya aku mengangkat tangan berharap ada yang segera meraih tanganku. Entah berapa lama aku di dalam sungai. Tiba tiba ada yang memegang tanganku dan aku diseret ke perahu. Sorak sorai bergemuruh. Aku begitu lemas, terkapar di perahu.—Bersambung

 

* all photo by Progo Xventours

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

7 responses to “5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian II): Tergilas perahu, tenggelam dalam kegelapan

  • Tweets that mention 5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian II): Tergilas perahu, tenggelam dalam kegelapan « sANGpemula Manifesto -- Topsy.com

    […] This post was mentioned on Twitter by Komunitas UpdateBlog, Danang Nur Ihsan. Danang Nur Ihsan said: 5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian II): Tergilas perahu, tenggelam dalam kegelapan: http://wp.me/pdYQ6-bq […]

  • dayoe yoges

    wow. Asik kyanya… Saya br sebatas jalan2 ke tempat2 yg ‘jinak’ soalnya🙂

  • Kurnia Septa

    perjalanan yg mengesankan🙂

  • angscript

    @dayoe: mantaf sekali kok
    @kurnia: sangat mengesankan kawan

  • Setya Adi

    Terimakasih Mas Danang / Mas ihsan, untuk artikelnya, Enak bacanya & he he he. . . Kok jadi menarik ya,…?!

    Dari sini saya jadi tahu tentang apa yang ada dalam benak pikiran temans ketika berarung jeram, yang kemudian berujung pada kesimpulan “jadi, ternyata begitu ya…?!” Ada takutnya juga tho…?! he he he. . . karena yang nampak di mata saya semua tertawa, saling ngerjain, menjeburkan, berjalan begitu ringan namun menyenangkan. . . bahkan ketika ada yang jatuh ke dalam air kita semua bersorak. . . (kecelakaan kecil di sini menjadi lelucon)

    He he he. . . Saya masih belum tahu ketika temans melewati DAM ke 2 dan hampir semua perahu terbalik, Kami sendiri masih berpikir bahwa moment tersebut begitu menyenangkan sebagai penutup kegiatan kemarin *kapan ya di share…?!

    Terimakasih untuk tulisan yang bagus dan kebersamaan yang menyenangkan, Kita tunggu di trip berikutnya, . . . salam.

  • angscript

    @om set: setiap petualangan selalu menawarkan hal baru, rasa takut, penasaran, dan pacuan adrenalin bercampur aduk. kemenangan terbesar adalah berani melawan rasa takut. ah sungguh menyenangkan ketika bisa melewati rintangan. rasa takut harus dilawan dgn tawa hehehe
    penyakit akut sepertinya uda menyerang semua orang yaitu ketagihan utk kembali lagi hehehe
    tabik

  • Bina Wirawa

    Wowwww….
    Sebelumnya saya baru rafting di sungai dg grade yg lbh rendah, bulan bbrp hari lagi rencana di Progo jg…..
    Jd deg2an……
    Hahahhahaha serem pa ga yaaa?
    Bismillah…. semoga aman lancar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: