Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: