Embung Tambakboyo & harmonisasi kehidupan

Gerimis pagi mulai berganti dengan semburat cahaya matahari. Genangan air sisa hujan semalam masih membekas di jalanan. Kabut tipis disapu asap knalpot. Jogja mulai menggeliat. Aktivitas pagi selalu sama, anak-anak berangkat sekolah, Polantas di perempatan jalan, pedagang burjo menahan kantuk, pekerja diburu waktu dan mahasiswi malu-malu pulang kos pagi hari.

Aku segera berlalu dan terus melaju. Sedikit melupakan cipratan genangan air, mengacuhkan motor yang saling serobot, aku memburu keindahan pagi yang sedikit terlambat dengan sepeda. Ada kawanku yang sudah menunggu. Embung Tambakboyo di ujung Jogja tujuan kami.

Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menuju embung yang terletak di tiga desa (Condongcatur, Maguwoharjo, Wedomartani) ini. Jarak yang tidak terlalu jauh dan datar-datar saja, membuat trek bersepeda menuju embung ini cukup ringan. Mungkin yang agak menyebalkan hanya kepadatan lalu lintas di seputaran perempatan UPN Condongcatur hingga kampus UII Ekonomi. Seperti biasa, kampus adalah magnet ekonomi, mulai dari usaha Warnet, warung makan, kos-kosan hingga loundryan.

Menuju utara, meninggalkan wilayah kampus, menyusuri gang-gang kecil yang tersaji di kanan-kiri adalah rumah-rumah mewah meriah yang berpadu dengan rumah sederhana sarat makna. Wilayah itu seakan menjadi potret kecil pergumulan kekinian dan masa lalu Jogja. Seakan ada jurang mengangga antara rumah mewah dan rumah sederhana itu tapi semuanya tetap bertahan dan hidup berdampingan (semoga mereka rukun-rukun saja).

Di balik permukiman itu, Embung Tambakboyo berada. Embung yang menjadi tumpuan petani untuk mengairi sawah seluas 7,8 hektare. Kerlip cahaya matahari yang memantul di air menyambut kami setelah melewati turunan tajam berpaving block. Layaknya sebuah ikat pinggang, jogging track dari paving block mengelilingi embung itu. Jogging track yang lumayan lebar membuat warga tidak perlu menggerutu berebut jalan.

Embung Tambakboyo menyajikan udara pagi yang minim polusi, terpaan cahaya matahari, hijau dedaunan yang asri. Kalau sedang beruntung, dari embung ini, Gunung Merapi di sisi utara terlihat seksi. Di tempat itu, kamu boleh bersepeda, jalan-jalan, nongkrong, camping, mancing hingga pacaran. Itu semua tidak diharamkan (asalkan sesuai aturan hehehe).

Embung yang baru dibangun beberapa tahun silam ini memang telah menjelma menjadi lokasi rekreasi yang murah meriah. Embung itu bisa menjadi tempat pelarian dari kehidupan, menjadi tempat mengeluarkan keringat dengan olahraga, menjadi tempat memadu kasih anak muda yang sedang dimabuk asmara. Paling tidak, Embung Tambakboyo bisa menawarkan harmonisasi kehidupan karena hidup tak melulu soal pekerjaan, kesuksesan dan segala urusan yang menyebalkan. Kadang suatu saat perlu kabur dari segala rutinitas itu dan mungkin Embung Tambakboyo bisa membantu.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: