Monthly Archives: Mei 2011

Memoar Mei

Akhir Mei lima tahun lalu. Lima bulan sebelumnya aku menandatangani kontak kerja. Sebuah awal yang akhirnya membawaku dalam kehidupan saat ini. Kehidupan tentang fakta dan berita. Dan ini adalah memoar tentang fakta dan berita Mei lima tahun lalu.

Aku belum sepenuhnya terjaga. Masih setengah tersadar dari tidur, yang terasa ada guncangan hebat di sekelilingku. Beberapa detik terbengong-bengong di kasur merasakan guncangan itu hingga pada akhirnya baru sepenuhnya sadar ada gempa besar. Respons yang sangat terlambat. Terbangun, terhuyung-huyung untuk membuka pintu kamar kos. Yang aku lihat kepanikan teman-teman kos. Semua berlari menuju luar kos. Satu teman terjatuh tepat di depanku dan aku langsung meloncatinya. Di luar sana, orang-orang tiarap di tengah jalanan. Semua hanya peduli dengan keselamatannya masing-masing.

Guncangan hebat itu sudah mereda. Tapi kekagetan belum hilang. Semua begitu cepat dan hebat. Semua mata memandang ke utara. Tempat Gunung Merapi kokoh berdiri. Di sudut pinggiran Jogja, Merapi terlihat jelas. Awan tebal terlihat menggulung-gulung dari gunung itu. ”Merapi…Merapi.”

Seribu tanya belum terjawab. Otak belum bisa berpikir jernih untuk memaknai kejadian itu. Dering Ponsel terdengar. Dari bunda, dari bosku. Bunda menanyakan kondisiku. Bosku mengabarkan ada orang yang tertimpa bangunan karena gempa. Berlari ke kamar mandi. Mandi tanpa mengunci pintu. Meninggalkan Jogja menuju Klaten. Aku masih belum bisa memaknai kejadian itu. Yang terlihat hanya orang-orang berkumpul di tepi jalan. Di utara Jogja bangunan masih banyak yang utuh. Masuk Prambanan, kengerian hari itu mulai terasa. Di tepi-tepi jalan, bangunan hancur lebur. Orang-orang hanya terdiam tanpa kata.

Kamera, blocknote, pulpen, keluar-masuk tas ransel. Meninggalkan jalan utama Jogja-Solo, masuk ke perkampungan, kengerian semakin terasa. Ketakutan, kekalutan dan pacuan adrenalin bercampur menjadi satu. Orang-orang masih terdiam tanpa asa. Di sebuah klinik kecil, suasana lebih mengerikan. Orang-orang mengobati lukanya sendiri. Perawat, dokter dan paramedis entah ke mana.

Kembali ke jalur utama, kepanikan melanda. Tsunami dari selatan. Otak semakin tidak bisa berpikir jernih. Bingung, agak panik tapi naluri mencari fakta masih menggelora. Sudah dua jam lebih goncangan hebat itu melanda dan aku belum bisa memaknai kejadian itu. Aku pergi ke pusat kota. Rumah sakit utama penuh sesak.

Ada mayat, ada orang luka. Selasar, halaman, parkiran penuh sesak. Raungan sirene terdengar tanpa henti. Aku sudah muak dengan suara itu. Semakin membuatku tak bisa berpikir jernih. Menambah kepanikan. Aku bertanya, sebagian mayat dan pasien itu berasal dari Kecamatan Gantiwarno. Naluriku membawaku memacu motorku menuju daerah itu.

Ada rasa ngeri, takut, penasaran dan kekalutan. Di kecamatan yang ada di pinggiran yang terlihat hanya bangunan runtuh, nyaris tak ada yang utuh. Orang masih berkumpul di tepi-tepi jalan. Ada mayat-mayat yang dijejer. Di sekitar permakaman, orang berkumpul, mencoba memberikan penghormatan selayaknya bagi mereka yang tutup usia. Duka ada di mana-mana, tangis terdengar merata. Semuanya semakin nyata. Guncangan hebat pagi itu memberikan dampak yang luar biasa. Dari puluhan, ratusan hingga akhirnya tercatat ada ribuan orang meninggal. Hingga kini, lima tahun berlalu, duka dan lara itu masih tersisa.


Sepeda-sepeda di kantorku

Tujuh bulan silam ketika hati mulai memantapkan diri untuk mulai bersepeda ke tempat kerja (istilah kerennya bike to work), sepeda menjadi alat transportasi minoritas di lokasi parkir. Tujuh bulan sudah berlalu, sepeda masih menjadi alat transportasi minoritas yang mangkal di lokasi parkir khusus karyawan sebuah koran lokal di Solo.

Sudah biasa, sepeda harus berhimpit-himpitan dengan sepeda motor. Sudah menjadi pemakluman sepeda diangkat, dipindah tempat parkirnya untuk memberi ruang kepada sepeda motor yang berjejalan. Itu semua bisa dimaklumi karena jumlah sepeda yang sering mangkal di lokasi parkir bisa dihitung dengan jari (bukan prioritas utama punya lokasi parkir khusus hehehe).

Meski jumlah sepeda masih bisa dihitung dengan jari tangan saja tapi dua bulan terakhir ini sepeda yang sering mangkal di parkiran terus bertambah. Ada sepedaku yang sudah punya pangkalan di depan musala. Ada juga sepeda mini milik Mbak Netty dari Bagian Pusdok & Litbang yang lokasi parkirnya pindah-pindah. Sepeda Wimcycle 24 milik Bangli dari radio juga sering terlihat di parkiran. Belum lagi dua sepeda butut, entah milik siapa, sering ngepos di ujung parkiran (entah sudah berapa lama di tempat itu).

Kadang kala MTB Wimcycle putih (bekas milikku hehehe) yang kini dibawa Mas Faul juga sesekali nongol di parkiran. Atau sesekali sepeda lipat (Seli) milik Ahmad Hartanto dan Farid Syafrodhi, tiba-tiba unjuk gigi di parkiran pada malam hari. Beberapa hari terakhir ada dua sepeda baru yang sering nongol, Seli B2W miliknya Mbak Susi (yang katanya ingin mengurangi berat badan dengan bersepeda) dan Polygon Extrada 5.0 (entah milik siapa).

Kalau semua sepeda itu nongol di parkiran, jumlahnya masih minoritas dibandingkan jumlah motor yang mencapai ratusan. Motor memang masih menjadi pilihan utama para pekerja untuk berangkat kerja meski sebenarnya sebagian dari mereka tertarik atau paling tidak punya keinginan untuk bersepeda ke kantor. Ada yang punya kendala karena jarak rumah-kantor terlalu jauh. Ada juga karena tuntutan kerja (membayangkan liputan cari berita dengan sepeda hehehe), ada juga yang males ribet mandi di kantor setelah berkeringat bersepeda.

Kini sepeda menjadi minoritas di parkiran tapi siapa tahu suatu saat nanti bisa menjadi mayoritas di parkiran karena sepeda bukan sekadar olahraga. Sepeda dan bersepeda juga sebuah sikap nyata untuk hari esok bumi (sok idealis hehehe). Mari bersepeda!!!


%d blogger menyukai ini: