(Masih) ada sastra di antara kita

Photo by Warung Ngopi Bjong

Aku duduk sendiri di tengah riuh rendah keramaian warung kopi. Itulah dunia warung kopi. Dunia di mana berbagai macam dunia berkumpul dan bergumul menjadi satu. Hanya kopilah yang menyatukan dunia mereka.

Di sebelah kananku, deretan manusia peselancar dunia maya asyik dengan laptopnya masing-masing. Mereka teralienasi dari dunia mereka berada. Jangan salahkan mereka, toh pemilik warung kopilah yang menyediakan fasilitas hotspot kepada mereka. Di belakangku, kumpulan pemuda ramai berbicara. Entah apa yang mereka perbincangkan. Ada gelak tawa dan canda di antara mereka. Dan warung kopilah yang mempersatukan mereka dalam tawa.

Di ujung utara sana, samar-samar terlihat para manusia membentuk lingkaran menghabiskan waktu dengan barmain kartu. Tenang saja, itu bukan judi karena memang mereka hanya ingin melewatkan malam dengan sedikit kegembiraan dari lembaran-lembaran kartu yang disediakan sang empu warung kopi itu. Agak jauh dari tempat dudukku, kumpulan manusia berbicara serius seperti sedang berada di dalam gedung tempat adu debat. Dahi mengkerut tanpa canda apalagi tawa. Tapi itu juga bukan dosa karena bicara soal politik tak melulu di seminar-seminar ataupun di tepi jalan sambil membawa poster hujatan.

Di antara keramaian warung kopi malam itu, di tengah warung kopi, anak-anak muda silih berganti naik panggung yang dibangun ala kadarnya. Ada yang bercerita tentang Jogja lewat puisi indah mereka, ada yang bercerita tentang Jakarta dengan menukil karya Seno Gumira Ajidarma. Semuanya bercerita dan berkata-kata sastra.

Malam itu mereka membumikan sastra kepada kami semua pengunjung warung kopi. Mereka membawa sastra yang bagi sebagian orang adalah dunia antah berantah ke dalam sebuah ruang sosialisasi bernama warung kopi. Mereka melucuti kesakralan kata sastra. Ada yang memperhatikan dengan seksama, ada yang menengok mereka kala teriakan sajak-sajak semakin menggema ada pula yang tetap membisu tanpa kata. Tapi riuh rendah tepuk tangan sebagai tanda apresiasi tak pernah sepi meski kadang aku dan mungkin sebagian pengunjung lainnya tak begitu memahami apa yang ditampilkan di panggung mini itu.

Itulah dunia warung kopi yang aku temui malam itu. Dunia dengan berjuta dunia di dalamnya. Dunia yang memberikan ruang ekspresi kepada setiap para pengunjungnya. Dan malam itu, dunia warung kopi tak hanya dunia obrolan, dunia berselancar, dunia kartu remi tapi juga dunia sastra karena memang masih ada sastra di antara kita.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

2 responses to “(Masih) ada sastra di antara kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: