Monthly Archives: Mei 2012

Bukan Warung Kopi ala Andrea Hirata

Novel Cinta Dalam Gelas karya Andrea Hirata banyak bercerita tentang seluk-beluk warung kopi di Belitong. Andrea begitu detailnya menggambarkan sosok-sosok manusia Belitong yang begitu dekatnya dengan kopi. Pilihan, cara mengaduk hingga cara meminum menunjukkan siapa peminum kopi itu.

Itulah kopi yang pada akhirnya menunjukkan sifat-sifat dasar manusia. Kopi seakan menjadi cerminan diri peminumnya. Dari kopi, manusia seakan membuka aib, menguak rahasia diri.

Di sebuah warung kopi di pinggiran Jogja, ditemani syahdu dan merdunya lagu-lagu akustik, puluhan manusia menenggak kopi dengan caranya masing-masing. Ada yang pilih menyeruput kopi yang masih panas, ada yang pilih mencucupnya tipis-tipis ada pula yang memilih menantinya agar sedikit dingin. Ada yang meminum kopi sambil ngobrol, ada yang sambil melamun, sambil diskusi, sambil internetan dan sambil pacaran (tentunya).

Dan ternyata sensasi kopi hanya menjadi sensasi sambilan? Kopi seakan menjadi pelengkap ngobrol, teman melamun, buih-buih diskusi, dan kopi tetap setia menemani orang yang sedang dimabuk asmara. Sebegitu tersisihkah peran kopi dalam sebuah warung kopi. Bukankah seharusnya kopi menjadi penguasa di wilayah bernama warung kopi.

Inilah warung kopi zaman kini. Warung kopi tak hanya urusan soal rasa pahit dari kopi tapi warung kopi juga urusan gaya hidup. Bagi para kopiers (penggila kopi fanatik), warung kopi seperti itu terkesan melecehkan esensi kopi sesungguhnya.

Tak ada yang salah bagi mereka mendudukan kopi hanya sebagai pelengkap dalam menghabiskan gelapnya malam. Tak ada yang salah juga bagi mereka yang bersikukuh menyakralkan kopi pada posisi yang agung. Intinya sama-sama ngopi. Sudahkah anda minum kopi malam ini?

Iklan

%d blogger menyukai ini: