Category Archives: Rasa

Bukan Warung Kopi ala Andrea Hirata

Novel Cinta Dalam Gelas karya Andrea Hirata banyak bercerita tentang seluk-beluk warung kopi di Belitong. Andrea begitu detailnya menggambarkan sosok-sosok manusia Belitong yang begitu dekatnya dengan kopi. Pilihan, cara mengaduk hingga cara meminum menunjukkan siapa peminum kopi itu.

Itulah kopi yang pada akhirnya menunjukkan sifat-sifat dasar manusia. Kopi seakan menjadi cerminan diri peminumnya. Dari kopi, manusia seakan membuka aib, menguak rahasia diri.

Di sebuah warung kopi di pinggiran Jogja, ditemani syahdu dan merdunya lagu-lagu akustik, puluhan manusia menenggak kopi dengan caranya masing-masing. Ada yang pilih menyeruput kopi yang masih panas, ada yang pilih mencucupnya tipis-tipis ada pula yang memilih menantinya agar sedikit dingin. Ada yang meminum kopi sambil ngobrol, ada yang sambil melamun, sambil diskusi, sambil internetan dan sambil pacaran (tentunya).

Dan ternyata sensasi kopi hanya menjadi sensasi sambilan? Kopi seakan menjadi pelengkap ngobrol, teman melamun, buih-buih diskusi, dan kopi tetap setia menemani orang yang sedang dimabuk asmara. Sebegitu tersisihkah peran kopi dalam sebuah warung kopi. Bukankah seharusnya kopi menjadi penguasa di wilayah bernama warung kopi.

Inilah warung kopi zaman kini. Warung kopi tak hanya urusan soal rasa pahit dari kopi tapi warung kopi juga urusan gaya hidup. Bagi para kopiers (penggila kopi fanatik), warung kopi seperti itu terkesan melecehkan esensi kopi sesungguhnya.

Tak ada yang salah bagi mereka mendudukan kopi hanya sebagai pelengkap dalam menghabiskan gelapnya malam. Tak ada yang salah juga bagi mereka yang bersikukuh menyakralkan kopi pada posisi yang agung. Intinya sama-sama ngopi. Sudahkah anda minum kopi malam ini?


Manusia Kereta

Laki-laki paruh baya terkantuk-kantuk di dalam kereta. Ibu muda melemparkan pandangan ke luar, entah apa yang dilihatnya. Pria tua sibuk dengan berlembar-lembar berita koran. Bapak-anak berbisik-bisik di tengah deru laju kereta. Rohaniwati berpegangan erat pada gantungan seperti kekuatan iman yang tak tergoyahkan. Kondektur berkeliling penuh curiga. Anak muda nglesot di lantai kereta dan eksekutif muda di depanku sibuk dengan gadgetnya.

Apa yang mereka cari. Apa yang mereka harapan. Mereka larut dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Para manusia kereta memadati gerbong-gerbong yang sempit dengan urusan mereka masing-masing. Aku terjebak di antara mereka.

Di luar sana hanya ada hamparan sawah, permukiman yang muram, lalu lintas yang terhenti laju kereta dan stasiun yang masih lesu. Semuanya cepat berlalu dan aku hanya bisa duduk termangu.

Banyak burung terbang ke sana ke mari, namun tak kudengar nyanyian paginya. Kabut tebal belum tersibak seperti meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab. Hanya bayangan tipis pohon dan lari-lari kecil bocah menuju sekolah yang terlintas. Aku tak bisa memaknai nuansa pagi ini tapi masih ada sebersit harapan dari perjalanan ini.

Kereta terus melaju tanpa kenal waktu, membawa serta laki-laki paruh baya, ibu muda, eksekutif muda, rohaniwati, pria tua, anak muda dan kondektur kereta tentunya. Aku melihat itu semua dengan penuh tanya. Bolehkah aku berharap pagi ini?

Mentari sudah datang dan manusia-manusia kereta telah pergi dengan cara mereka sendiri. Aku berharap kau datang dari balik kabut yang mulai menipis dengan seberkas senyuman manis.


Merindulah

Siapa yang kau rindukan hari ini, kawan? Kekasihmu? Sahabatmu? Adikmu? Bundamu? Tuhanmu? Ah, siapapun itu yang kau rindu, yang paling penting kamu sedang merindu.

Kerinduan tak melulu soal kenangan masa lalu. Kerinduan juga soal harapan. Kau bisa datang dan berbicara kepada kekasihmu dan menumpahkan segala isi hatimu. Kau bisa menyapa sahabatmu yang setia membagi pundak kepadamu. Kau bisa bersimpuh berjam-jam menghadap Sang Kuasa karena Dia selalu mendengarkan doa-doa.

Selalu ada harapan yang tersirat dari setiap tumpahan hati kepada pujaan hati, dari keluh-kesah kepada sahabat sejati, atau dari lantunan doa kepada Sang Abadi. Harapan tentang mimpi indah hari esok, tentang pemecah kebuntuan, tentang masa lalu yang telah berlalu.

Merindulah karena dalam setiap kerinduan terselip harapan. Dari harapan-harapan itu, berlarilah agar menjadi kenyataan. Wujudkan rindu bukan dengan sendu tapi dengan sebongkah harapan untuk hidupmu.


Kartiniku

Dia lahir dari keluarga kolot tapi dia mengajarkan arti demokrasi dan kebebasan. Dia besar dari keluarga yang taat beragama tapi dia tak mengharamkan pluralisme dan keberagaman.

Dia, perempuan itu masih sangat muda ketika melahirkanku. Perempuan yang harus membangun mimpi-mimpi keluarga. Perempuan yang harus berpeluh keringat membesarkan dua anaknya sendirian.

Dia memang tidak sekolah tinggi tapi perempuan itu menyerap ilmu kehidupan. Dia mengajarkan hidup tanpa harus menggurui. Dia tak marah ketika anak-anaknya salah. Dia tahu benar dari kesalahan ada sebuah pengalaman. Pengalaman itulah yang menjadi pelajaran.

Perempuan itu selalu menjadi pelita kala duka terlalu sering tiba, menjadi tempat bersandar ketika luka begitu mengangga. Dia juga tempat membagi cerita, tertawa bersama. Yang pasti, lantunan doa-doanya tak pernah berujung.

Dia sering mengarahkan tapi tak pernah memaksakan. Dia melepaskan anak-anaknya menjadi orang merdeka. Dia tak pernah memaksakan mimpi-mimpinya karena dia percaya anak-anaknya punya mimpi tersendiri.

Dia mengajarkan kesusahan hidup tapi juga memberikan kemanjaan. Perempuan itu selalu menumpahkan semuanya, doa, cinta dan harapannya untuk anak-anaknya, tanpa pamrih tanpa berharap balasan jasa. Dia selalu menjadi Kartiniku.


Dialektika kata

Dari kata semuanya bermula. Tawa, duka, cinta, benci, dendam, suka, marah, dibangun dari kata.

Tak terhitung berapa kata yang terlontar dalam sehari. Ada kata-kata bijak, kata-kata caci-maki, kata-kata canda hingga kata hati. Semuanya terucap, menjejali ruang-ruang kosong, memenuhi setiap sudut bumi.

Ada kalanya kata berlalu begitu saja tanpa sempat terdokumentasikan. Ada saatnya pula, kata menancap terlalu dalam dalam pojok-pojok relung hati dan sistem syaraf otak.

Apa jadinya dunia ini tanpa kata? Tanpa kata, dunia ini tak pernah kenal reality show TV Katakan Cintamu yang populer beberapa tahun lalu. Tanpa kata, kita tak bisa tahu makna sebuah kejadian dan yang paling penting tanpa kata, kita tidak bisa merasakan tawa dan duka, cinta dan benci.

Kata memang selalu menawarkan keseimbangan dan dialektika. Dari kata kita bisa tertawa bisa berduka, juga cinta juga murka, jadi dendam jadi senyum. Maka jangan pernah takut untuk berkata demi kesimbangan hidup. Jangan ragu untuk berkata karena kata adalah segalanya.


Sebuah cinta terhadap kata

Setahun yang lalu aku menjabat erat tangan sahabatku. Ini memang bukan perpisahan yang kekal dan abadi. Ini sebuah perpisahan yang lahir dari putaran roda hidup. Tapi tetaplah itu sebuah perpisahan.

Perpisahan selalu meninggalkan makna masa lalu dan masa depan. Dalam perpisahan, seberkas kenangan masa lalu akan bersliweran dalam pikiran. Dalam perpisahan pula lantunan doa-doa harapan masa depan sering terucap. “Selamat jalan, kawan. Semoga sukses.” Kalimat itu sering menjadi penghibur agar perpisahan tidak terlalu menyesakkan.

Kawanku itu pergi untuk mengejar mimpinya. Entah mimpi tentang apa. Aku bertahan di kota ini untuk tetap menjaga mimpiku. Entah mimpi tentang apa. Kadang mimpi itu terlalu absurd untuk dikatakan meski itu ada dalam pikiran.

Dia pergi meninggalkan sisa-sisa mimpi masa lalunya. Sisa-sisa mimpi yang tidak berlalu bersama angin. Sisa-sisa mimpi itu nyata dan hadir dalam setiap pergulatan hidup. Aku tidak memeluk sisa-sisa mimpi itu, tapi sisa-sisa mimpi itulah yang mengiringiku layaknya sebuah bayangan diri yang tak pernah lepas dari empunya pemilik bayangan.

Setengah tahun lalu, sisa-sisa mimpi itu masih terjaga. Dia setia untuk mengiringi derap langkah kehidupan. Sisa-sisa mimpi itu menggelumbung, membuncah seiring berjalannya waktu. Sisa-sisa mimpi itu terbang melayang jauh bersamaku. Itu semua di luar perkiraanku.

Kini aku masih melangkah bersama sisa-sisa mimpi sahabatku itu. Jauh sudah aku melangkah meninggalkan waktu setahun yang lalu dan sisa-sisa mimpi itu semakin mengabadi dalam diri. Dan tak ada kalimat perpisahan untuk sisa-sisa mimpi itu karena sisa-sisa mimpi itu bercerita tentang optimisme anak muda, tentang pemberontakan diri dan tentang sebuah cinta terhadap kata.

 


Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 


%d blogger menyukai ini: