Manusia Kereta

Laki-laki paruh baya terkantuk-kantuk di dalam kereta. Ibu muda melemparkan pandangan ke luar, entah apa yang dilihatnya. Pria tua sibuk dengan berlembar-lembar berita koran. Bapak-anak berbisik-bisik di tengah deru laju kereta. Rohaniwati berpegangan erat pada gantungan seperti kekuatan iman yang tak tergoyahkan. Kondektur berkeliling penuh curiga. Anak muda nglesot di lantai kereta dan eksekutif muda di depanku sibuk dengan gadgetnya.

Apa yang mereka cari. Apa yang mereka harapan. Mereka larut dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Para manusia kereta memadati gerbong-gerbong yang sempit dengan urusan mereka masing-masing. Aku terjebak di antara mereka.

Di luar sana hanya ada hamparan sawah, permukiman yang muram, lalu lintas yang terhenti laju kereta dan stasiun yang masih lesu. Semuanya cepat berlalu dan aku hanya bisa duduk termangu.

Banyak burung terbang ke sana ke mari, namun tak kudengar nyanyian paginya. Kabut tebal belum tersibak seperti meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab. Hanya bayangan tipis pohon dan lari-lari kecil bocah menuju sekolah yang terlintas. Aku tak bisa memaknai nuansa pagi ini tapi masih ada sebersit harapan dari perjalanan ini.

Kereta terus melaju tanpa kenal waktu, membawa serta laki-laki paruh baya, ibu muda, eksekutif muda, rohaniwati, pria tua, anak muda dan kondektur kereta tentunya. Aku melihat itu semua dengan penuh tanya. Bolehkah aku berharap pagi ini?

Mentari sudah datang dan manusia-manusia kereta telah pergi dengan cara mereka sendiri. Aku berharap kau datang dari balik kabut yang mulai menipis dengan seberkas senyuman manis.


Merindulah

Siapa yang kau rindukan hari ini, kawan? Kekasihmu? Sahabatmu? Adikmu? Bundamu? Tuhanmu? Ah, siapapun itu yang kau rindu, yang paling penting kamu sedang merindu.

Kerinduan tak melulu soal kenangan masa lalu. Kerinduan juga soal harapan. Kau bisa datang dan berbicara kepada kekasihmu dan menumpahkan segala isi hatimu. Kau bisa menyapa sahabatmu yang setia membagi pundak kepadamu. Kau bisa bersimpuh berjam-jam menghadap Sang Kuasa karena Dia selalu mendengarkan doa-doa.

Selalu ada harapan yang tersirat dari setiap tumpahan hati kepada pujaan hati, dari keluh-kesah kepada sahabat sejati, atau dari lantunan doa kepada Sang Abadi. Harapan tentang mimpi indah hari esok, tentang pemecah kebuntuan, tentang masa lalu yang telah berlalu.

Merindulah karena dalam setiap kerinduan terselip harapan. Dari harapan-harapan itu, berlarilah agar menjadi kenyataan. Wujudkan rindu bukan dengan sendu tapi dengan sebongkah harapan untuk hidupmu.


Embung Tambakboyo & harmonisasi kehidupan

Gerimis pagi mulai berganti dengan semburat cahaya matahari. Genangan air sisa hujan semalam masih membekas di jalanan. Kabut tipis disapu asap knalpot. Jogja mulai menggeliat. Aktivitas pagi selalu sama, anak-anak berangkat sekolah, Polantas di perempatan jalan, pedagang burjo menahan kantuk, pekerja diburu waktu dan mahasiswi malu-malu pulang kos pagi hari.

Aku segera berlalu dan terus melaju. Sedikit melupakan cipratan genangan air, mengacuhkan motor yang saling serobot, aku memburu keindahan pagi yang sedikit terlambat dengan sepeda. Ada kawanku yang sudah menunggu. Embung Tambakboyo di ujung Jogja tujuan kami.

Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menuju embung yang terletak di tiga desa (Condongcatur, Maguwoharjo, Wedomartani) ini. Jarak yang tidak terlalu jauh dan datar-datar saja, membuat trek bersepeda menuju embung ini cukup ringan. Mungkin yang agak menyebalkan hanya kepadatan lalu lintas di seputaran perempatan UPN Condongcatur hingga kampus UII Ekonomi. Seperti biasa, kampus adalah magnet ekonomi, mulai dari usaha Warnet, warung makan, kos-kosan hingga loundryan.

Menuju utara, meninggalkan wilayah kampus, menyusuri gang-gang kecil yang tersaji di kanan-kiri adalah rumah-rumah mewah meriah yang berpadu dengan rumah sederhana sarat makna. Wilayah itu seakan menjadi potret kecil pergumulan kekinian dan masa lalu Jogja. Seakan ada jurang mengangga antara rumah mewah dan rumah sederhana itu tapi semuanya tetap bertahan dan hidup berdampingan (semoga mereka rukun-rukun saja).

Di balik permukiman itu, Embung Tambakboyo berada. Embung yang menjadi tumpuan petani untuk mengairi sawah seluas 7,8 hektare. Kerlip cahaya matahari yang memantul di air menyambut kami setelah melewati turunan tajam berpaving block. Layaknya sebuah ikat pinggang, jogging track dari paving block mengelilingi embung itu. Jogging track yang lumayan lebar membuat warga tidak perlu menggerutu berebut jalan.

Embung Tambakboyo menyajikan udara pagi yang minim polusi, terpaan cahaya matahari, hijau dedaunan yang asri. Kalau sedang beruntung, dari embung ini, Gunung Merapi di sisi utara terlihat seksi. Di tempat itu, kamu boleh bersepeda, jalan-jalan, nongkrong, camping, mancing hingga pacaran. Itu semua tidak diharamkan (asalkan sesuai aturan hehehe).

Embung yang baru dibangun beberapa tahun silam ini memang telah menjelma menjadi lokasi rekreasi yang murah meriah. Embung itu bisa menjadi tempat pelarian dari kehidupan, menjadi tempat mengeluarkan keringat dengan olahraga, menjadi tempat memadu kasih anak muda yang sedang dimabuk asmara. Paling tidak, Embung Tambakboyo bisa menawarkan harmonisasi kehidupan karena hidup tak melulu soal pekerjaan, kesuksesan dan segala urusan yang menyebalkan. Kadang suatu saat perlu kabur dari segala rutinitas itu dan mungkin Embung Tambakboyo bisa membantu.


Untitled Jogja

Senja telah tiba, saatnya berpesta di Kota Tua Jogja. Kau ingin ke mana? Menikmati senja di Hargodumilah, Bukit Patuk atau tetap diam di kos-kosan sambil terkantuk-kantuk.

Ayolah sekali-kali kita menyusuri malam-malam di kota ini. Mau pilih bercelatu di 0 kilometer sambil minum wedang ronde atau melahap jagung bakar di Alun-alun Kidul sambil liat cewek-cewek kece.

Tapi kalau kau ingin cuci mata, ayo kita nyambangi Ambarukmo Plaza. Banyak anak muda yang merasa menjadi penguasa dunia. Atau ingin liat tepian Kali Code. Tapi di sana banyak orang pacaran. Itu tentu sangat menyakitkan perasaanmu, kawan.

Bisa juga kita kumpul di bunderan UGM. Ada banyak komunitas yang berkumpul. Klub motor, klub onthel atau klub orang kurang kerjaan. Tapi jangan ajak aku ke Lembah, di sana terlalu gerah karena banyak yang pamer gairah.

Kalau kau tak suka keramaian lebih baik kita ngobrol di warung kopi kelas pinggiran. Berbagi cerita tentang hidup, masa depan dan harapan. Atau lihat pameran di Bentara Budaya agar kau tak lupa banyak rakyat yang masih menderita. Aku akan suka kalau kau mengajakku ke toko buku. Agak bikin jemu tapi bukankah di sana adalah gudang ilmu.

Kau sudah lapar? Ayo kita makan di lesehan Malioboro. Dengerin lagu Kla Project atau Doel Sumbang. Tapi jangan lupa bagi-bagi rezeki kepada penyanyi jalanan yang berdendang.

Sudah larut malam kawan, kita mau ke dugem atau meluncur ke Parangtritis, menikmati laut yang kelam. Kalau kita ke diskotek ada musik berisik dan ingar-bingar. Kalau kita ke pantai, kita bisa menikmati bintang yang bersinar.

Atau kau sudah lelah kawan? Kalau begitu lebih baik kita pulang saja. Jangan lupa mampir ke minimaret 24 jam, beli rokok dan camilan, sekalian tanya, berapa bungkus kondom yang sudah diedarkan.


Kartiniku

Dia lahir dari keluarga kolot tapi dia mengajarkan arti demokrasi dan kebebasan. Dia besar dari keluarga yang taat beragama tapi dia tak mengharamkan pluralisme dan keberagaman.

Dia, perempuan itu masih sangat muda ketika melahirkanku. Perempuan yang harus membangun mimpi-mimpi keluarga. Perempuan yang harus berpeluh keringat membesarkan dua anaknya sendirian.

Dia memang tidak sekolah tinggi tapi perempuan itu menyerap ilmu kehidupan. Dia mengajarkan hidup tanpa harus menggurui. Dia tak marah ketika anak-anaknya salah. Dia tahu benar dari kesalahan ada sebuah pengalaman. Pengalaman itulah yang menjadi pelajaran.

Perempuan itu selalu menjadi pelita kala duka terlalu sering tiba, menjadi tempat bersandar ketika luka begitu mengangga. Dia juga tempat membagi cerita, tertawa bersama. Yang pasti, lantunan doa-doanya tak pernah berujung.

Dia sering mengarahkan tapi tak pernah memaksakan. Dia melepaskan anak-anaknya menjadi orang merdeka. Dia tak pernah memaksakan mimpi-mimpinya karena dia percaya anak-anaknya punya mimpi tersendiri.

Dia mengajarkan kesusahan hidup tapi juga memberikan kemanjaan. Perempuan itu selalu menumpahkan semuanya, doa, cinta dan harapannya untuk anak-anaknya, tanpa pamrih tanpa berharap balasan jasa. Dia selalu menjadi Kartiniku.


Menyandingkan Seli & MTB

Sudah dua pekan ini, Si Seli warna kuning setia menemani dari kos-kantor PP. Keberadaannya sedikit “mengusur” eksistensi MTB Lovely Blue.

Boleh dibilang, Seli memang memikat di hati. Untuk rute kota-kota yang minim jalan rusak dengan trek datar, Seli lebih nyaman dikangkangi daripada MTB yang memiliki tapak ban lebih lebar.

Program menyandingkan Seli dengan MTB sebenarnya sudah terpikir cukup lama. Selain ngikuti tren “nyeli”, niat jahat memboyong Seli dari toko sepeda lebih didasarkan pada kebutuhan. Hampir tiap hari ngantor pake sepeda, aku terpikir sepeda yang pas untuk rute kota-kota.

Sebenarnya bisa pakai MTB yang sudah aku punya. Tapi itu tadi, kurang asyik rasanya melibas jalan mulus dengan ban “pacul”. Bisa saja aku ganti ban tapi nafsu untuk “nyeli” tak bisa dibendung lagi. Alhasil Seli Polygon seri bike to work aku boyong dari Toko Sepeda Rukun Makmur.

Seli menawarkan kemudahan dan kepraktisan. Sepeda bisa ditekuk, dimasukkan bagasi atau masuk gerbong kereta, memudahkan kalau ingin gowes di luar kota. Seli juga menawarkan seksian. Bentuk rangkanya yang mini, dengan seatpost dan dudukan setang panjang menjadikan Seli terkesan seksi.

Seli memang telah merebut hati, tapi bukan berarti MTB tersisih begitu saja. Petualangan liar dan menggila selalu ditawarkan kala duduk di sadel MTB. Ajrut-ajrutan, pantat bergoyang adalah sensasi yang selalu ditawarkan MTB.

Alangkah indahnya memadukan dua sepeda dengan dua gaya yang berbeda. Seli atau MTB sama saja karena sebenarnya yang paling penting bukan sepedanya tapi bersepedanya.


Dialektika kata

Dari kata semuanya bermula. Tawa, duka, cinta, benci, dendam, suka, marah, dibangun dari kata.

Tak terhitung berapa kata yang terlontar dalam sehari. Ada kata-kata bijak, kata-kata caci-maki, kata-kata canda hingga kata hati. Semuanya terucap, menjejali ruang-ruang kosong, memenuhi setiap sudut bumi.

Ada kalanya kata berlalu begitu saja tanpa sempat terdokumentasikan. Ada saatnya pula, kata menancap terlalu dalam dalam pojok-pojok relung hati dan sistem syaraf otak.

Apa jadinya dunia ini tanpa kata? Tanpa kata, dunia ini tak pernah kenal reality show TV Katakan Cintamu yang populer beberapa tahun lalu. Tanpa kata, kita tak bisa tahu makna sebuah kejadian dan yang paling penting tanpa kata, kita tidak bisa merasakan tawa dan duka, cinta dan benci.

Kata memang selalu menawarkan keseimbangan dan dialektika. Dari kata kita bisa tertawa bisa berduka, juga cinta juga murka, jadi dendam jadi senyum. Maka jangan pernah takut untuk berkata demi kesimbangan hidup. Jangan ragu untuk berkata karena kata adalah segalanya.


%d blogger menyukai ini: