Tag Archives: Anak Jalanan

Namanya Mus

Panggil saja dia dengan panggilan Mus. Usianya baru 15 tahun. Untuk anak seukuran dia, tubuhnya tergolong bongsor. Kulit wajahnya hitam, menunjukkan sinar ultraviolet sering membakar kulitnya. Wajahnya tidak memancarkan wajah anak yang tampak tanpa dosa. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan keberingasan anak-anak. Wajah standar anak Indonesia pada umumnya, terlihat takut pada orang yang lebih tua dan malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Borgol besi melilit kuat di kedua pergelangan tangannya. Kepalanya tertunduk lesu seakan menyesali perbuatan yang dia lakukan pagi itu. Kalau bisa dan boleh mengungkapkan kata sumpah serapah, Mus ingin berkata-kata, “Mengapa…mengapa harus berakhir seperti ini.”
Di pagi yang buta, kala langit belum sepenuhnya terang, saat kabut pagi masih menyelimuti Kota Solo, tubuh Mus menggigil ketakutan. Ketakutan yang luar biasa besar karena ini menyangkut hidup dan mati. Atap rumah menjadi persembunyiannya selama dua jam. Suara pentungan diseret, gesekan pedang dengan aspal yang bikin telinga miris, semakin menyiutkan nyalinya. Belum lagi, teriakan yang saling bersahutan, menjadikan Mus ingin kencing di celana.
Pilihan hidup memutuskan Mus merampok malam itu. Namun, sial bagi dia dan kawannya Teguh. Korban memberikan perlawanan dan membuat Teguh tak berdaya hingga akhirnya pingsan dipukuli massa. Mus bisa selamat dari kejaran massa setelah naik ke atap rumah dan kini atap rumah sebelah yang habis disatroninya menjadi tempat persembunyiannya.
Kedua kakinya sebenarnya sudah kesemutan dari tadi. Namun, untuk menggerakkan kakinya saja, Mus takutnya bukan kepalang. Satu gerakan bisa menimbulkan suara dan itu merupakan bahaya besar. Sepatu lars polisi beberapa kali terdengar keras. Instruksi dari seseorang yang mungkin komandan polisi terdengar begitu dekat, “Coba dikepung, ada yang dari barat, utara, selatan, timur. Semuanya bergerak.”
Perintah itu diikuti suara sepatu lars seperti orang baris berbaris. Seperti ada ritme-nya, namun bagi Mus itu adalah ritme kematian. Mus terlalu bimbang untuk memutuskan, apakah tetap bertahan terus atau akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mus tidak memiliki sapu tangan putih sebagai tanda dia menyerah kalah, seperti dalam film-film perang yang sering ditontonnya.
Seluruh tubunya sudah terasa pegal. Mus belum ingin menyerah, namun begitu pegalnya tubuhnya sehingga Mus memutuskan untuk memutar badannya. “Itu di atap kelihatan topinya,” teriak seseorang.
Teriakan itu seperti panggilan kematian. Tiba-tiba jantung Mus seperti berhenti. Matanya terpejam kuat seakan tidak berani menghadapi kenyataan yang akan segera terjadi. Suara orang berteriak-teriak semakin terdengar keras. “Ambil tangga..ambil tangga.”
Nyalinya semakin mengkeret. Tak tahu lagi harus berbuat apa, Mus sudah pasrah. “Sudah, semuanya mundur. Semua anggota mendekat, cepat.” Mus mendengar suara itu, seperti suara orang yang tadi memberi perintah untuk mengepung. Tinggal menunggu waktu saja, bagi Mus untuk tertangkap. Namun, ia masih belum tahu, apakah ia akan “habis” pagi itu, atau Tuhan masih memberi kesempatan lain.
Suara anak tangga dinaiki begitu membahana di telinganya. Inilah akhir dari segalanya pikir Mus. Belum sempat Mus mengambil nafas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, Mus telah melihat moncong pistol di depannya. Mukannya pucat pasi dan dengan langkah gontai Mus berdiri. “Habisi saja,” teriak orang-orang.
Polisi yang bersiap seperti membuat barikade menenangkan massa yang terlanjur geram dan marah. Satu anak tangga terakhir dan kini Mus kembali menginjak bumi seakan membawa kembali dalam dunia nyata. Polisi tak berseragam yang menodongkan pistol tadi memegang erat lengannya dan tanpa ada komando, Mus diseret lari. Polisi memberikan pengamanan yang super ketat kepada Mus, seperti artis yang diserbu penggemarnya.
Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Menandakan pagi sebenar-benarnya pagi segera tiba. Di atas truk polisi yang menyelamatkannya dari kejaran massa, Mus melihat matahari yang bersinar cerah.


Muntilan, anak jalanan dan sebuah kerinduan…

Hujan mulai mereda saat malam semakin larut. Bau tanah terkena air hujan masih sangat terasa. Bau yang sangat khas. Hawa dingin semakin menusuk-nusuk badan seakan membawa semua penduduk meringkuk di dalam rumah.

Muntilan terasa seperti kota tanpa penghuni. Toko-toko sudah tutup sedari tadi. Pengunjung di warung-warung makan di sepanjang Jalan Sayangan sudah mulai sepi. Lalu lintas jalan pun tak kalah lengang. Truk-truk pengangkut pasir Merapi semakin banyak yang berhenti istirahat. Seakan semua penduduk menghidari dinginnya malam di awal musim penghujan.

Denyut kehidupan hanya terasa di sudut-sudut jalan. Di warung-warung angkringan. Di pos-pos ronda. Di pangkalan ojek dan becak. Di warung remang-remang tempat mangkalnya PSK kelas jalanan. Hawa dingin seakan semakin menambah sensual dan gairah malam. Hawa dingin sepertinya menjadi jurus utama pengikat para penjaja seks untuk petualang malam demi sebuah kehangatan.

Hawa dingin memang seakan telah mematikan kehidupan kota kecil ini, namun tidak dengan kehidupan Bocah. Di tengah pekatnya malam dan angin yang membawa hawa dingin, Bocah menembus tengah kota menuju tempat peraduannya, kursi panjang di sudut Jalan Sayangan. Dengan langkah pasti dan menghisap rokok dalam-dalam, Bocah menembus malam untuk menyatu dengan malam di jalanan.

Malam itu, uang 1.000 rupiah yang ada di kantong Bocah telah habis. Satu cakar ayam dan sebatang rokok telah dibelinya. Cakar ayam bagi Bocah cukup lumayan untuk mengganjal perut. Sebatang rokok, lumayan untuk menjadi kawan penghangat di tengah pekatnya malam.

Singasana tidurnya telah siap menyambutnya setelah seluruh badan terasa pegal-pegal seharian beraktivitas. Kursi yang jika siang hari jadi tempat berjualan rokok, bagi Bocah merupakan singasana tidur. Sudah cukup reyot sebenarnya, namun lebih baik ketimbang tidur di emperan toko beralaskan koran.

Bocah langsung meringkuk, kedua pahanya ditempelkan ke dada untuk menahan dinginnya malam. Namun, sepertinya hawa dingin enggan berkompromi, hawa dingin sepertinya langsung menembus kaos lusuh dan celana pendeknya. Badannya terada sedikit gatal-gatal saat tubuhnya menjadi makanan empuk nyamuk. Bocah hanya bisa sedikit menyesal, mengapa sore tadi setelah mengamen tidak mampir di Kali Lamat untuk membersihkan diri. Hawa dingin dan nyamuk menjadikan tidur nyenyak hanya impian belaka.

Kedua tangan Bocah menjadi batal kepala. Matanya yang belum juga terpejam menerawang jauh ke langit. Langit tampak hitam, tanpa awan tanpa bintang. Tiba-tiba saja, Bocah ingat akan keluarga dan rumahnya di salah satu desa di Secang. Sudah hampir sebulan lamanya Bocah tidak ketemu bapaknya, adiknya, kakaknya dan juga ibu tirinya.

Menjadi pengamen saat usianya baru menginjak belasan tahun memang bukan jalan yang diinginkan Bocah. Namun, apa daya ketika, orangtuanya tak mampu menghidupinya apalagi menyekolahkannya, Bocah akhirnya menyatu dengan jalanan untuk bertahan hidup. Bocah jadi ingat masa-masa susahnya beberapa tahun yang lalu, saat semua keluarganya nekat menjadi pengemis di Salatiga saat ekonomi keluarga benar-benar tidak berdaya. Dari tiduran di emperan toko hingga pojok pasar ataupun saat digaruk Satpol PP masih kuat dalam ingatan Bocah.

Kini, keluarganya telah menetap di Secang. Bapaknya pun sudah mulai berdikari menjadi tukang pembuat batu bata. Namun, tidak dengan Bocah. Jalanan seakan tidak pernah melepaskan Bocah dari genggamannya. Bocah tetap harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan jalanan.

Matanya belum juga bisa terpejam, kedua tangannya mencoba meraih sesuatu di dalam kantong celananya. Namun, sia-sia saja, uang terakhir sudah digunakannya untuk membeli cakar ayam dan sebatang rokok. Bocah kembali mengingat-ingat uang 16.400 rupiah pendapatannya dari mengamen hari itu. 8.200 rupiah habis untuk makan hari itu. Ditambah 5.000 rupiah untuk setor pada “bos”-nya. 2.000 rupiah untuk beli rokok dan 1.200 rupiah habis menjadi koin-koin permainan dingdong.

Kota kecil di antara Jogja dan Magelang ini semakin sepi saja, sesepi perasaan Bocah malam itu. Perasaan melankolis tiba-tiba muncul dari Bocah yang sudah hampir lima tahun bertahan dalam kerasnya kehidupan jalanan. Dirinya bersusah hati mengapa harus mengamen, mengapa tidak sekolah. Bocah sedih mengapa harus di jalanan, mengapa tidak bersama hangatnya keluarga. Ingin rasanya dirinya menyalahkan bapaknya yang tidak sanggup merawatnya. Namun, Bocah juga ingat perjuangan bapaknya agar dirinya dan semua anggota keluarga lainnya bisa bertahan hidup. Bocah masih ingat saat bapaknya di-PHK dari pabrik tekstil di Tempuran saat krisis ekonomi melanda. Kehidupan ekonomi keluarga carut marut dan sempat menjadikan keluarga Bocah menjadi keluarga pengemis.

Bocah tak tahu lagi ingin menyalahkan siapa lagi dengan keadaanya kini. Matanya sudah agak terkantuk-kantuk. Menjelang tidur, Bocah hanya menggumam,” Pak, aku kangen…”.


%d blogger menyukai ini: