Tag Archives: anak muda

Anak Muda & Tan Malaka(isme)

Ketika generasi muda kini berani membusungkan dada

saat menggunakan kaus bergambar Che Guevara,

mungkin mereka lupa jika bangsa ini

punya sosok yang bernama Tan Malaka

Bagi anak muda, Che Guevara tak hanya idola, namun juga “Nabi” yang pantas menjadi panutan. Che Guevara tidak hanya melegenda di Argentina, Bolivia, Kuba ataupun negara Amerika Latin lainnya, namun Ernesto Che Guevara telah menginspirasi jutaan anak muda di berbagai belahan dunia. Kisah perjalaan Che mengelilingi Amerika Latin hingga kisah kematiannya seakan menjadi kisah yang tidak pernah usang. Kisah-kisah seputar Che seakan menjadi kisah “turun temurun” yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Che memang memiliki magnet tersendiri bagi anak muda yang hidup pascakematian Che. Nama Che identik dengan perlawanan, revolusi atau anak muda sekarang lebih suka menggunakan kata rebel. Sepak terjang Che yang dalam Revolusi Kuba hingga pergerakan di Amerika Latin memang bisa menjadi dasar bagi anak muda untuk me-Nabi-kan sosok Che.

Che begitu diagung-agungkan, hingga wajah Che dengan begitu mudahnya dijumpai di setiap sudut kota. Di sepanjang emperan toko Jalan Malioboro, pedagang stiker memajang wajah Che yang sangat khas, berbaret lengkap dengan bintangnya. Atau kaus warna hitam yang bagian depannya menampilkan wajah Che yang telah di-trace warna merah dengan kombinasi kuning di tambah kata Revolution di bawahnya dengan begitu mudahnya ditemukan di toko-toko pakaian. Alhasil, stiker gambar Che dengan mudahnya ditemukan di kamar kos, kampus, sepeda motor hingga pintu WC umum. Dan begitu mudahya kita menemukan anak muda menggunakan kaus bergambar Che, mulai dari mahasiswa yang sedang unjuk rasa, pengamen jalanan hingga gadis seksi yang berjalan lenggak-lenggok di mal-mal.

Ya, kepopuleran Che memang telah dimanfaatkan secara nyata oleh tangan jahil kapitalis. Ribuan stiker dicetak tiap harinya untuk meraup keuntungan. Kaus-kaus bergambar Che terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan akhirnya sosok Che yang begitu Revolusioner telah menjadi bagian dari budaya pop anak muda ala kapitalisme yang tentunya sangat tidak revolusioner. Namun, apapun itu, Che telah membumi dan itu tidak bisa dipatahkan begitu saja.

Bicara soal sosok revolusioner yang membumi, penulis ingat sosok Tan Malaka yang sangat tidak membumi. Bahkan, sosok yang memiliki nama lengkap Ibahim Datuk Tan Malaka tersebut selama hidupnya selalu dipenuhi dengan misteri. Tan tak berbeda dengan Che, sama-sama revolusioner dalam perjuangan dan sama-sama dipengaruhi oleh paham komunisme. Tak ada maksud untuk membandingkan antara Che dan Tan, namun tak ada salahnya jika membumikan sosok Tan Malaka, bapak bangsa ini yang disebut-sebut Che Guevara dari Asia.

Nama Tan Malaka hampir tidak pernah ditemukan dalam buku sejarah bangsa ini. Sejak belajar di SD hingga perguruan tinggi, nama Tan yang biasa disebut dengan Si Macan tersebut tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan. Mungkin karena sejarah adalah milik penguasa, maka Tan Malaka yang memang sempat memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) ini sengaja dihilangkan dari buku sejarah bangsa ini.

Tan lahir di lembah Suliki, Payakumuh, Sumatera Barat tahun 1897. Lahir dari keluarga yang Islami, Tan tumbuh besar menjadi anak yang bengal, namun diketahui juga hafal Al Quran. Tahun 1913 menuju negeri Belanda untuk melanjutkan studinya sebagai calon guru. Namun, di negeri itu bukan gelar guru yang diperolehnya. Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, telah mengenalkannya pada politik terutama pemikiran komunisme dengan cita-cita utama, kemerdekaan Indonesia.

Tidak lulus dari Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan kembali ke Indonesia dan menjadi guru sekolah rendah di kawasan perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Selama menjadi guru rendah tersebut, mata Tan terbuka lebar akan penindasan yang dialami bangsanya hingga suatu ketika di tahun 1921, Tan berangkat ke Semarang untuk ikut serta dalam arus pergerakan kemerdekaan.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh pergerakan kala itu menjadikan Tan, turut aktif dalam pergerakan, terutama lewat Sarekat Islam (SI). Bahkan, Tan aktif untuk menyatukan SI dengan komunis untuk menghadapi imperialisme Belanda. Pergerakan Tan kala itu membuat takut Belanda dan 13 Februari 1922, Tan ditangkap di Bandung untuk kemudian diasingkan di Belanda.

Dibuang ke Belanda tidak melunturkan semangat Tan, bahkan kala di Negeri Kincir Angin itu, Tan terus bergerak untuk kemerdekaan Indonesia hingga sempat menjadi calon anggota parlemen dengan nomor urut tiga di Partai Komunis Belanda. Dari Belanda, Tan pindah ke Jerman dan sempat mendaftar sebagai legiun asing, namun ditolak. Akhir tahun 1922, Tan pindah ke Moskow untuk mewakili PKI dalam konfrensi Komunis Internasional (Komintern) dan akhirnya Tan diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia Timur.

Selama periode 1923 hingga 1942 atau hampir 20 tahun, Tan menjadi seorang pelarian. Selama periode itu, Tan pindah-pindah mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Selama pelarian di 11 negara tersebut, Tan Malaka memiliki 23 nama palsu untuk menghindari kejaran inteljen Belanda, Jepang, Inggris dan AS. Sempat beberapa kali ditahan di Filipina atau Hongkong, namun akhirnya tetap bisa lolos. Selama pelariannya itu pula, Tan Malaka sempat menjadi koresponden, wartawan, guru bahasa Inggris, Jerman dan matematika. Selama pelarian itu pula, Tan menulis buku Naar de Reubliek Indonesia dan menjadi orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia serta buku Massa Actie atau Aksi Massa yang menjadi buku panduan dan pegangan Ir Soekarno, Hatta hingga Syahrir untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, tahun 1927, Tan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok.

Tahun 1942, Tan di Jakarta dan selama depalan bulan menulis buku yang sangat fenomenal Madilog. Tan kemudian menuju Bayah, Banten bekerja di pertambangan batu bara Jepang tahun 1943 dengan mengunakan nama Ilyas Hussein. Meski menjadi orang pertama yang menggagas konsep Republik Indonesia, namun Tan Malaka justru malah terlambat mengetahui Proklamasi 17 Agustus 1945. Hal itu sangat ironis. Perkenalannya dengan tokoh pemuda seperti Sayuti Melik, Chaerul Saleh hingga BM Diah membuahkan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada. Tan disebut-sebut orang di belakang dari rapat akbar yang dihadiri 200 ribu orang tersebut.

Soekarno yang mengetahui kehadiran Tan Malaka, memeritahkan Sayuti Melik untuk melakukan pertemuan tertutup empat mata antara Soekarno dan Tan. Dalam pertemuan tersebut, Soekarno sempat mengatakan “Jika nanti terjadi sesuatu pada diri kami (Soekarno-Hatta) sehingga tidak dapat memimpin revolusi, saya harap Saudara yang melanjutkan.”

Pernyataan tersebut diikuti dengan adanya pemberian Testamen politik dan naskah proklamasi dari Soekarno kepada Tan Malaka. Apa yang dilakukan Soekarno tidak disepakati Hatta hingga akhirnya diambil jalan tengah, testamen diberikan kepada empat orang yaitu Tan Malaka, Syahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoemasoemantri.

Pertalian Tan dengan bapak bangsa lainnya pecah karena kebijakan diplomatik dari Soekrano-Hatta-Syahrir. Tan menentang sepenuhnya jalur perundingan karena hal itu mengurangi kemerdekaan Indonesia 100% seperti apa yang selalu dikatakan Tan yaitu 100% merdeka. Bersama 141 kelompok, Tan membentuk Persatuan Perjuangan bersama Jenderal Soedirman dan memilih bergelilya untuk menangkal agresi Belanda.

Tan yang teguh untuk melawan tanpa lewat perundingan, akhirnya dijebloskan ke penjara, 17 Maret 1946 di Madiun. Dua tahun lebih, Tan baru dibebaskan dan tetap melanjutkan perjuangan lewat gerilya di Jawa Timur. Perlawanan Tan tanpa pernah mau berkompromi akhirnya berakhir pada kematiannya yang tragis, tewas di ujung senapa tentara republik yang digagasnya.

Kematian Tan sempat kontroversial. Banyak orang meyakini, Tan tewas ditembak di tepi Kali Brantas, Kediri. Namun, sejarawan Harry Poeze yang telah meneliti Tan Malak selama 36 tahun meyakini Tan tewas dieksekusi oleh pasukan Batalion Sikatan di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri pada 21 Februari 1949.

Selama ini, Tan dikenal sebagai tokoh kemerdekaan paling misterius. Tokoh yang disebut Soekarno dengan istilah “Seorang yang mahir dalam revolusi” telah menjadi bapak bangsa yang terlupakan. Tidak banyak anak muda mengetahui sepak terjang Tan seperti mereka mengenal sepak terjang Che.

Tidak banyak anak muda yang mengerti tentang perjalanan Tan di 11 negara seperti mereka mengenal Che yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Tidak banyak anak muda yang mengenal kisah cinta Tan Malaka dengan Syarifah Nawawi yang bertepuk sebelah tangan, seperti mereka mengenal kisah cinta Che. Sudah saatnya melawan pelupaan, saatnya anak muda bangga kala menggunakan kaus bergambar Tan Malaka dan berani meneriakkan perlawanan, seperti apa yang telah dikatakan Tan Malaka dalam Dari Penjara ke Penjara jilid II ,”Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”


Balada UN & Pilkada Jateng

Siapakah sebenarnya yang layak disebut dengan Raja Jalanan? Apakah mereka, para siswa SMA yang tetap turun ke jalan merayakan kelulusan meski masa depan tak seindah harapan. Atau mereka para simpatisan Cagub yang rela arak-arakan di jalanan meski kenyataan hidup tak semanis janji-janji kampanye.

Ini adalah sebagian pesan singkat yang aku terima dari Kasatlantas Poltabes Solo, Sabtu sore, “Hasil penindakan pelaggaran lalu lintas terkait aksi trek-trekan dan konvoi yang dilakukan anak SMU berhasil menindak pelanggaran Lantas sebanyak 128 pelanggaran dan 31 kendaraan bermotor disita sebagai barang bukti.”

Satu hari berselang, aku kembali mendapatkan pesan singkat dari Kasatlantas Poltabes Solo yang isinya kurang lebih seperti ini, “Tetap ditindak untuk pelanggaran Lantas yang berpotensi Laka. Ada beberapa yang sudah kami tindak dan disita sebanyak tiga kendaraan.”

Dua hari terakhir aku merasakan munculnya raja jalanan baru di Solo. Mereka menguasai jalan-jalan protokol dan menjadikan jalanan di Kota Bengawan yang sudah sempit menjadi semakin sempit saja. Kalau mereka para raja jalanan itu akhirnya mendapat tidakan tegas dari aparat kepolisian, bukankah itu kewajaran dari sebuah perbuatan yang memang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka yang memilih menjadi raja jalaan?

Sabtu lalu, siswa SMA yang dinyatakan lulus oleh suatu sistem pendidikan yang amburadul, merayakan kelulusan dengan turun ke jalan. Aksi corat-coret baju sudah hampir menjadi tradisi yang tidak dapat ditinggalkan. Knalpot sepeda motor yang standar diganti dengan knalpot entah bikinan mana dan siapa, asal bisa memekakkan telinga. Euforia kebahagiaan tumpah seketika di jalanan. Aku tidak ingin menyalahkan mereka yang memilih turun ke jalan daripada menagis bahagia dan bersimpuh di atas kaki kedua orang tua sebagai ekspresi rasa bahagia. Aku juga sadar mereka yang turun kejalan belum tentu hasil ujiannya lebih baik dari mereka yang bimbang di rumah menunggu hasil pengumuman ujian sambil memikirkan masa depan.

Apapun itu yang dilakukan oleh mereka para siswa yang bahagia dinyatakan lulus ujian, entah itu corat-coret baju, turun ke jalanan sambil konvoi, menangis bahagia, memeluk kedua orang tua, sujud rasa syukur, itu adalah ekspresi ungkapan kebahagiaan. Soal itu baik atau buruk, benar atau salah, tinggal dari mana kita melihatnya. Bukankah kita juga pernah jadi anak muda seperti mereka?

Mereka memang harus bahagia, paling tidak satu hari saja karena hari-hari berikutnya, indahnya kelulusan tinggal kenangan. Mereka harus kembali menghadapi kehidupan dan masa depan belum tentu sesuai harapan. Mereka harus kembali merajut cita-cita yang mungkin sudah ada dalam angan-angan. Mereka para anak muda akan segera memasuki kehidupan senyata-nyatanya kehidupan yang mungkin tidak seindah perayaan kelulusan.

***

Satu hari berselang, giliran simpatisan salah satu Cagub Jateng menguasai jalanan di Solo. Ini agak berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini massanya lebih banyak dan lebih “liar”. Mungkin mereka senyata-nyatanya raja jalanan.

Dengan membawa berbagai atribut mulai dari bendera salah satu Parpol besar di Indonesia hingga bendera Ormas, para simpatisan itu benar-benar menguasai jalanan dalam arti yang sebenar-benarnya dan para pengguna jalan lainnya dipaksa bersabar demi memberi jalan mereka pada raja jalanan. Tak lupa pula mereka mengenakan kaos bergambar Cagub yang mereka dukung. Dan yang hampir pasti mereka melakukan arak-arakan dan berkonvoi diiringi sebuah melodi kebisingan, raungan knalpot sepeda motor yang saling bersahutan.

Aku tidak ingin menyalahkan mereka para simpatisan Cagub itu. Aku tidak ingin menghukum mereka dengan istilah “orang kampungan dan tak tahu aturan”. Yang ingin aku katakan adalah mereka bisa menjadi tontonan pengguna jalan lainnya meskipun dalam hati pengguna jalan lainnya merasakan dongkol setengah mati terhadap kelakukan mereka. Aku juga ingin berkata, bisa jadi kelakukan mereka di jalanan yang seperti raja jalanan itu sebuah cermin dalam kehidupan politik negara ini. Mereka asik menguasai jalanan saat ada kesenpatan, seperti para pemimpin bangsa yang asik mengorupsi uang rakyat saat ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi sifat manusia, meraih apa yang diinginkan dan dimpikan saat ada kesempatan?

Setelah kampanye Pilkada usai, maka usai pula mereka jadi raja jalanan. Kehidupan mungkin akan kembali normal seperti sedia kala. Mereka harus kembali pada rutinitas dan kehidupan yang belum belum tentu semanis janji-janji politik para calon gubernur yang mereka dukung. Mereka harus kembali memutar otak untuk kencukupi kebutuhan sehari-hari dan mungkin akhirnya lupa pada kerasnya raungan knalpot saat kampanye Pilkada seperti para gubernur terpilih yang mungkin juga lupa akan muluk-muluknya janji-janji mereka.


%d blogger menyukai ini: