Tag Archives: bike to work

Sepeda-sepeda di kantorku

Tujuh bulan silam ketika hati mulai memantapkan diri untuk mulai bersepeda ke tempat kerja (istilah kerennya bike to work), sepeda menjadi alat transportasi minoritas di lokasi parkir. Tujuh bulan sudah berlalu, sepeda masih menjadi alat transportasi minoritas yang mangkal di lokasi parkir khusus karyawan sebuah koran lokal di Solo.

Sudah biasa, sepeda harus berhimpit-himpitan dengan sepeda motor. Sudah menjadi pemakluman sepeda diangkat, dipindah tempat parkirnya untuk memberi ruang kepada sepeda motor yang berjejalan. Itu semua bisa dimaklumi karena jumlah sepeda yang sering mangkal di lokasi parkir bisa dihitung dengan jari (bukan prioritas utama punya lokasi parkir khusus hehehe).

Meski jumlah sepeda masih bisa dihitung dengan jari tangan saja tapi dua bulan terakhir ini sepeda yang sering mangkal di parkiran terus bertambah. Ada sepedaku yang sudah punya pangkalan di depan musala. Ada juga sepeda mini milik Mbak Netty dari Bagian Pusdok & Litbang yang lokasi parkirnya pindah-pindah. Sepeda Wimcycle 24 milik Bangli dari radio juga sering terlihat di parkiran. Belum lagi dua sepeda butut, entah milik siapa, sering ngepos di ujung parkiran (entah sudah berapa lama di tempat itu).

Kadang kala MTB Wimcycle putih (bekas milikku hehehe) yang kini dibawa Mas Faul juga sesekali nongol di parkiran. Atau sesekali sepeda lipat (Seli) milik Ahmad Hartanto dan Farid Syafrodhi, tiba-tiba unjuk gigi di parkiran pada malam hari. Beberapa hari terakhir ada dua sepeda baru yang sering nongol, Seli B2W miliknya Mbak Susi (yang katanya ingin mengurangi berat badan dengan bersepeda) dan Polygon Extrada 5.0 (entah milik siapa).

Kalau semua sepeda itu nongol di parkiran, jumlahnya masih minoritas dibandingkan jumlah motor yang mencapai ratusan. Motor memang masih menjadi pilihan utama para pekerja untuk berangkat kerja meski sebenarnya sebagian dari mereka tertarik atau paling tidak punya keinginan untuk bersepeda ke kantor. Ada yang punya kendala karena jarak rumah-kantor terlalu jauh. Ada juga karena tuntutan kerja (membayangkan liputan cari berita dengan sepeda hehehe), ada juga yang males ribet mandi di kantor setelah berkeringat bersepeda.

Kini sepeda menjadi minoritas di parkiran tapi siapa tahu suatu saat nanti bisa menjadi mayoritas di parkiran karena sepeda bukan sekadar olahraga. Sepeda dan bersepeda juga sebuah sikap nyata untuk hari esok bumi (sok idealis hehehe). Mari bersepeda!!!


Menyandingkan Seli & MTB

Sudah dua pekan ini, Si Seli warna kuning setia menemani dari kos-kantor PP. Keberadaannya sedikit “mengusur” eksistensi MTB Lovely Blue.

Boleh dibilang, Seli memang memikat di hati. Untuk rute kota-kota yang minim jalan rusak dengan trek datar, Seli lebih nyaman dikangkangi daripada MTB yang memiliki tapak ban lebih lebar.

Program menyandingkan Seli dengan MTB sebenarnya sudah terpikir cukup lama. Selain ngikuti tren “nyeli”, niat jahat memboyong Seli dari toko sepeda lebih didasarkan pada kebutuhan. Hampir tiap hari ngantor pake sepeda, aku terpikir sepeda yang pas untuk rute kota-kota.

Sebenarnya bisa pakai MTB yang sudah aku punya. Tapi itu tadi, kurang asyik rasanya melibas jalan mulus dengan ban “pacul”. Bisa saja aku ganti ban tapi nafsu untuk “nyeli” tak bisa dibendung lagi. Alhasil Seli Polygon seri bike to work aku boyong dari Toko Sepeda Rukun Makmur.

Seli menawarkan kemudahan dan kepraktisan. Sepeda bisa ditekuk, dimasukkan bagasi atau masuk gerbong kereta, memudahkan kalau ingin gowes di luar kota. Seli juga menawarkan seksian. Bentuk rangkanya yang mini, dengan seatpost dan dudukan setang panjang menjadikan Seli terkesan seksi.

Seli memang telah merebut hati, tapi bukan berarti MTB tersisih begitu saja. Petualangan liar dan menggila selalu ditawarkan kala duduk di sadel MTB. Ajrut-ajrutan, pantat bergoyang adalah sensasi yang selalu ditawarkan MTB.

Alangkah indahnya memadukan dua sepeda dengan dua gaya yang berbeda. Seli atau MTB sama saja karena sebenarnya yang paling penting bukan sepedanya tapi bersepedanya.


Jalur sepeda, potret buram warga kelas dua

Suara sinyal khas perlintasan kereta api (KA) memekak memberi tanda ular besi segera melintas. Suara itu diikuti gerak patah-patah palang KA menutup Jl Slamet Riyadi, jalan protokol di Kota Solo. Dalam hitungan detik, kendaraan sudah menumpuk di dua sisi perlintasan KA Purwosari.

Suara sinyal khas perlintasan KA sudah digantikan dengan suara klakson kendaraan yang saling sahut-menyahut. Untuk beberapa saat kepadatan lalu lintas belum terurai. Semua ingin melaju lebih dahulu meninggalkan kemacetan yang menjengkelkan.

Jalan Slamet Riyadi yang menjadi jalan utama di Kota Bengawan ini tak pernah sepi dari kendaraan. Kepadatan akan semakin meningkat pada jam-jam padat, seperti siang hari. Dengan sepeda, aku menyusuri jalan lurus sepanjang sekitar 5 km dari Kleco hingga Gladak. Bukan melintas di jalur cepat dengan empat ruas, tapi jalur khusus sepeda yang berada di sisi utara jalan menjadi pilihanku.

Jalur khusus sepeda Jl Slamet Riyadi dimulai dari Pasar Kleco yang menjadi pintu masuk Kota Solo dari arah Semarang ataupun Jogja. Siang itu, aktivitas perdagangan di depan pasar masih ramai hingga sebagian jalur sepeda termakan untuk berdagang atau parkir. Akhirnya jalur sepeda dengan lebar sekitar dua meter itu hanya menyisakan separuh jalan untuk becak dan sepeda yang berlalu lalang.

Perjalanan terus berlanjut, Pasar Kleco sudah ditinggalkan. Di depan, jalan bergelombang dari Kleco hingga simpang tiga Faroka menjadikan pinggul dan pantat selalu bergoyang. Belum lagi, genangan air sisa hujan juga menjadi pemandangan lumrah di jalur sepeda ini. Mendekat simpang tiga Faroka, pesepeda harus berkelit, bukan melawan kendaraan lain, tapi sebagian jalur sepeda sudah digunakan untuk pangkalan taksi dan pedagang kaki lima.

Jalur sepeda dari simpang tiga Faroka hingga Purwosari sedikit lebih ramah bagi pesepeda ataupun abang becak. Jalanan relatif baik dan sepi dari penyerobotan untuk lahan parkir ataupun PKL. Tapi perjalanan menantang menyusuri jalur sepeda baru akan dimulai dari Purwosari hingga Gladak.

Dimulai dari Stasiun KA Purwosari dan berakhir di Tugu Slamet Riyadi di Gladak, detak kehidupan Solo terlihat. Pusat perbelanjaan, perbankan, kantor-kantor pemerintahan, hotel, rumah tahanan hingga pertokoan berderet rapat di tepi jalan sepanjang 3,6 km ini.

Jangan berharap ada aspal mulus berhotmix ketika melintasi jalur sepeda. Meski jalur utama dan jalur sepeda hanya dibatasi oleh median jalan, terlihat jelas kualitas aspal yang digunakan berbeda. Jalur utama begitu mulus dengan aspal hotmix. Sedangkan jalur sepeda, sebagian aspalnya sudah mengelupas, entah kapan terakhir kali ditambal menimbulkan kesan diskriminasi pengaspalan jalan.

Di sepanjang jalur Purwosari-Gladak, pesepeda tidak hanya beradu dengan tukang becak yang sering menjadi “raja jalanan”, tapi juga harus berbenturan dengan tukang parkir yang punya kuasa penuh mengamankan lahan parkirnya di jalur sepeda. Harus pula berhadapan dengan gerobak-gerobak pedagang di tepian jalan dan sopir taksi yang kadang seenaknya membuka pintu mobil di pangkalan taksi. Belum lagi pengguna kendaraan bermotor yang hendak keluar atau masuk toko, hotel ataupun pusat perbelanjaan sering memotong jalur sepeda dengan gelap mata. Seperti menganggap jalur sepeda itu tak pernah ada.

Sarana pendukung jalur khusus sepeda sebenarnya telah ada. Di setiap simpang empat ada trafficlight khusus untuk sepeda dan rambu tanda arah agar sepeda melintasi jalur sepeda. Di beberapa lokasi ada pula tanda larangan parkir bagi kendaraan, tapi sepertinya rambu larangan parkir itu sekadar pajangan. Rimbunnya pohon di sepanjang jalan ini juga menjadi nilai lebih jalur sepeda Jl Slamet Riyadi. Perjalanan bersepeda menjadi lebih adem dan terlindung dari sengatan matahari.

Jalur sepeda Jl Slamet Riyadi ini menjadi potret warga kelas dua di negeri ini terpaksa harus saling beradu. Pesepeda, tukang becak, PKL, tukang parkir, sopir taksi, kadang pejalan kaki bersaing memperebutkan lahan yang hanya secuil itu. Pesepeda dan tukang becak merasa paling berkuasa di jalan itu karena merupakan jalur itu khusus disediakan untuk mereka. PKL, tukang parkir dan sopir taksi bertahan di jalur sepeda demi mempertahankan hidup. Pejalan kaki terpaksa ikut melebur di jalur sepeda karena trotoar kadang habis dikuasai PKL. Mereka adalah warga kelas dua yang selalu tersisihkan dari gerak laju kehidupan.


%d blogger menyukai ini: