Tag Archives: bike

Jalur pemetik teh

Aku bukan penggila sepeda,

tapi aku percaya bersepeda bikin sehat dan bahagia.

JALUR PEMETIK TEH-Membelah kebun teh Kemuning, Karanganyar.

Satu persatu sepeda kayuh telah memenuhi bak belakang mobil pikap keluaran tahun 1982 itu. Hampir tak ada tempat tersisa di bak belakang mobil itu, roda, pedal, sadel saling beradu, diikat kuat.

Pagi ini, petualangan bersepeda akan dimulai. Sudah tidak terlalu pagi karena jarum jam sudah menunjukkan angka 06.30 WIB saat mobil mulai menyusuri jalanan Solo yang ramai. Mobil putih pikap yang mengangkut sepeda beriringan dengan mobil yang mengangkut pesepeda menuju sebuah desa di ujung Kabupaten Karanganyar.

Desa Kemuning namanya. Sebua desa yang terkenal dengan kebun tehnya. Desa yang menawarkan hamparan kebun teh yang asri dengan lanscape berbukit-bukit, dengan latar belakang pegunungan dan tentunya dengan hawa sejuk khas pegunungan.

Ini adalah pengalaman keduaku bersepeda di Kemuning. Beberapa bulan yang lalu, dengan personel yang lebih sedikit, saya dan beberapa jurnalis pecinta sepeda telah menjajal trek di tengah kebun teh. Dan kali ini, ada antusiasme yang lebih sehingga personel yang dibawa pun bertambah.

Jalan berkelok-kelok, naik turun dengan pemandangan alam yang indah disuguhkan mulai dari Karangnyar hingga Kemuning. Paling tidak butuh waktu 1,5 jam perjalanan dari Solo sampai di titik pemberhentian, Pasar Kemuning. Mobil pikap yang kami sewa bakal menunggu kami di pasar itu, sementara kami akan memulai petualangan bersepeda.

Roda-roda mulai bergerak pelan. Pedal dikayuh dengan perlahan. Masing-masing dari kami mulai menyiapkan setelan gear yang pas karena jalanan mulai naik turun. Dari gear kecil ke gear paling besar karena jalanan menurun curam dan langsung disambut dengan tanjakan tajam. Hanya sekitar ½ km jalanan beraspal kami lalui, setelah itu jalan tanah dan batu yang membelah kebun-kebun teh itu kami tebas.

Jalan tanah berbatu itu pun hanya sebentar kami lalui karena jalur sesungguhnya sudah menanti, jalur pemetik teh. Jalur yang biasa digunakan para pemetik teh itulah pertualangan sesungguhnya. Jalur yang lebar tidak menentu, kadang seukuran stang sepeda, kadang lapang, kadang stang sepeda harus beradu dengan ranting-ranting pohon teh.

Sepeda-sepeda kami berjalan beiringan di antara lebatnya pohon teh yang tingginya antara ¾-1 meter. Hanya tubuh dan kepala yang menyembul di antara kebuh teh. Sepeda kami seakan tertelan rungkut-nya kebun teh. Tanah licin sisa hujan semalam menjadikan pejalanan semakin berat. Pedal dikayuh sekuat-kuatnya, namun roda seakan enggan untuk berputar.

DOWNHILL-Sekuel downhill dari seorang pesepeda di Kemuning, Karanganyar

Ada kalanya sepeda harus dituntun karena jalur pemetik teh terlalu sempit, ada kalanya pula sepeda melaju kencang saat jalur pemetih teh cukup lebar dan menurun tajam. Ada kalanya pula sepeda harus diangkat karena ada selokan kecil atau pipa air minum di tengah jalur.

Petulangan bersepeda di jalur pemetik teh sudah lebih dari satu jam. Saatnya mengisi amunisi untuk tubuh karena petualangan belum berakhir. Di Pasar Kemuning, perut kami dijejali dengan berbagai makanan dan sudah siap lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Kebun karet yang berada beberapa kilometer dari Kemuning menjadi tujuan kami. Jalan menuju kebun karet beraspal mulus dan menurun. Dengan kecepatan lebih dari 80km/jam, perjalanan bersepeda menjadi mengesankan. Layaknya lomba balap sepeda yang selalu ada embel-embelnya “tour de” kami beradu sprint, adu tanjakan. Bukan untuk mendapatkan yellow jersey ataupun polkadot jersey, tapi karena kami senang melakukannya.

Di tengah kebun karet, petulangan berulang. Pohon-pohon karet menjadi saksi keliaran bersepeda. Dan setelah puas di kebun karet, maka perjalanan dilanjutkan menuju kebun karet berikutnya. Lagi-lagi adu sprint dan tanjakan.

Ketika air dibotol menipis dan jalur semakin berat dengan tantangan naik turun, seakan tenaga tak lagi bersisa. Petualangan ditutup dengan tanjakan yang bagi saya teramat sangat menanjak. Nafas hampir habis, jantung dipaksa bekerja lebih dari biasanya, kaki-kaki seakan kaku tak mampu lagi mengayuh pedal, tangan sudah gemetaran memegang stang. Aku benar-benar lelah, tapi bahagia.

KEBUN KARET- Di kebun karet petulangan dilanjutkan.

Iklan

Kemuning dan sepeda

Mobil putih Toyota Hiace keluaran tahun 1982 melaju melintasi bukit demi bukit. Jalan berkelok dengan tanjakan seakan tidak menjadi masalah bagi mobil pikap yang sering disebut mobil sayur karena sering digunakan untuk mengangkut sayur mayur.

BERANGKAT- Perjalanan menuju Kemuning

Tanah masih basah, sisa hujan semalam. Tetes-tetes embun masih menempel di dedaunan meski mentari sudah mulai menyingsing dari Timur. Hari sudah tidak terlalu pagi ketika perjalanan Solo-Kemuning ditempuh sekitar 1,5 jam.

Di Pasar Kemuning kami berhenti. Sebenarnya tempat itu kurang tepat disebut pasar karena tidak ada aktivitas jual beli yang terlalu mencolok. Hanya beberapa warung makan yang buka dan beberapa angkutan mobil berhenti di daerah itu.

Pasar itu bukan tujuan akhir kami. Dari tempat itulah petualangan baru akan dimulai. Sepeda angin yang terikat kencang, satu persatu kami turunkan. Helm, kaus tangan, botol berisi air minum kami persiapkan dan tujuan kami adalah bersepeda di tengah kebun teh Kemuning.

KEBUN TEH- Melintas di tengah kebun teh

Kemuning, sebuah tempat di mana kebun teh tidak hanya menjadi roda penggerak ekonomi warga. Tapi kebun teh juga menjadi tempat di mana orang bisa melepas penat dari rutinitas dan hiruk pikuk kehidupan yang kadang terlalu menjengahkan. Dengan landscape yang indah dan berlatar belakang Gunung Lawu, Kemuning menjadi tempat tujuan rekreasi.

Hari itu, saya dan enam orang yang suka bersepeda ria, ingin menjajal jalur kebun teh dengan bersepeda. Ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Kemuning. Namun, bagi kawan-kawan yang lainnya, mereka sudah berkali-kali datang ke sini. Tapi dalam satu hal, saya dan kawan-kawan saya sama yaitu baru kali pertama ke Kemuning dengan bersepeda.

Di belakang pasar itulah, kebun teh terhampar luas bagai tak berujung. Bukit demi bukit hanya berisi kebun teh. Di sela-sela kebun teh terdapat jalur yang biasa digunakan pemetik teh, di jalur itulah kami akan bersepeda.

Hamparan kebun teh berada di Kemuning

Jalur pemetik teh itu lebarnya tidak lebih dari satu meter. Kadang cukup lebar untuk bersepeda ria, namun kadang juga menyempit hingga menyebabkan ranting-ranting pohon teh menggores kaki-kaki.

Trek yang naik turun dengan pemandangan yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Kemuning telah memberikan warna tersendiri bagi kami karena sambil menikmati alam yang indah juga bisa berolahraga ria.

KAKI GUNUNG- Bersepeda di tengah kebun teh dengan latar belakang Gunung Lawu.


Cerita dari Gawok

Ada banyak cerita saat perjalanan bersepeda dilakukan. Kali ini dari Gawok, Sukoharjo ada bait-bait kisah tentang penjual sego liwet di sebelah palang rel Stasiun Gawok. Ada pula tentang pasar hewan yang hanya ramai di hari pasaran pon. Termasuk juga riuh rendah Pilkada Sukoharjo dengan segala janji para calonnya.

Foto: Sunaryo Haryo Bayu/Arief Budiman/Andri Prasetyo

JEMBATAN- Melintas batas di tengah sungai kecil di tepian jalan Gawok-Balepadi.

PASAR GAWOK- Pasar yang biasanya buat jualan hewan sepi.

REHAT- Melepas lelah di tengah perjalanan.

BERKABUT-Berselimutkan kabut melintas jalan desa.



Antara Solo dan Waduk Cengklik

Menembus jalan-jalan desa antara Solo hingga Waduk Cengklik, Boyolali membawa sejumlah kisah. Ada cerita tentang Jembatan Londo. Jembatan yang hanya diberi satu papan dan di bawahnya ada saluran airnya. Ada pula jalan becek di tepi saluran primer Cengklik Kanan yang mengairi sawah di Kecamatan Ngemplak. Hingga cerita tentang siswa TNI AU yang berangkat latihan. Sebagai penutupnya, ada segetas teh hangat dengan gula batu dan tahu iris di warung tepi waduk.

JEMBATAN LONDO- Bikers mengangkat seli saat melintas di Jembatan Londo.

OFFROAD- Melintas di tepi saluran Primer Cengklik Kanan.

MENANJAK- Jalan menanjak mengharuskan bikers menuntun sepeda munuju Waduk Cengklik.

WADUK CENGKLIK- Sejumlah siswa TNI AU berlatih di kawasan Waduk Cengklik.

TEPI SALURAN AIR- Bikers melintas di tepi saluran air Waduk Cengklik.


%d blogger menyukai ini: