Tag Archives: Cerbung

Perang & Gadis Ilalang (6)

Dengan susah payah, Maria membantu Marcos kembali berdiri. Di usapkan tangannya ke arah pelipis kanan suaminya yang terus mengucurkan darah. “Sudah tak apa-apa,” kata Marcos.

“Sudah…sudah. Siapa kalian. Aku yakin kalian pasti warga Distrik Huvana. Distrik berkumpulnya orang-orang pendukung Presiden Ernesto,” tanya Kopral Cristian.

Pertanyaan itu tidak dijawa oleh Marcos dan Maria. Lidah mereka kelu melihat 10 moncong senjata di hadapan mereka. Marcos tak berkata-kata dan Maria hanya menangis pelan sendu sambil memeluk suaminya. “Hey, jawab. Bisu kalian,” kata Kopral Cristian dengan nada tinggi sambil mengajukan moncong senjatanya ke wajah Marcos.

“Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya warga biasa yang tak tahu politik,” jawab Marcos pelan.

“Tai, kamu. Kalian orang Huvana selama ini getol meminta pecabutan Dwifungsi tentara agar kami tidak bisa ikutan politik dan kalianlah pendukung presiden yang sok demokratis itu,” jawab Kopral Cristian.

Pernyataan itu tidak ditanggapi Marcos. Dia malah semakin mengikatkan tangannya ke pinggang isterinya dan siap menghadapi maut yang mungkin sebentar lagi tiba. “Kenapa kamu diam. Tak bisa menyangkal ya. Dasar tai, kamu,” kata Kopral Cristian sambil menendang Marcos.

Tendangan itu membuat Marcos tersungkur. Dengan susah payah ia kembali berdiri. “Dasar penghianat tak tau diuntung. Kalian hanya bicara demokrasi, tanpa tahu arti perjuangan. Kalian hanya bicara hak asasi manusia, tanpa tahu berapa banyak tentara yang mati di medan perang. Kalian hanya bicara kebebasan, tanpa pernah tahu nasionalisme,” kata Kopral Cristian seperti memberikan ceramah.

Marcos tetap tidak menjawab pertanyaan itu. Di pandanginya satu tersatu wajah tentara itu. Mulai dari Kopral Cristian. Marcos kemudian mengerahkan kepalanya ke wajah tentara lainnya. Dari nama yang terpampang dari seragam doreng yang dikenakannya Marcos tahu nama-nama 10 orang itu. Mulai Cristian, Alfredo, Juan Carlos, Ayala, Fabiano, Hector, Hernandez, Marquez, Guterez dan Aimar.

“Apa kamu lihat-lihat, menantang kamu,” kata Kopral Hector sambil menempelkan moncong AK 47 ke jidat Marcos.

Perlakuan tentara itu membuat Maria semaki ketakutan. Namun, tidak bagi Marcos. Seakan ada kekuatan baru dari dalam tubuhnya setelah ia dikata-katai tidak mengenal nasionalisme, tak tahu arti perjuangan. “Saya tidak menantang, tapi paling tidak saya bisa tahu nama-nama kalian yang akan membunuh saya,” kata Marcos sengit.

Jawaban dari Marcos tidak diduga oleh tentara-tentara itu. “Memang ingin mati kalian. Kalau itu keinginanmu, akan kami turuti,” kata Kopral Fabiano.

“Ya, kalau kalian memang merasa bisa menjadi seorang nasionalis dan pejuang dengan membunuh saya. Silahkan lakukan itu. Lakukan…sekarang juga,” kata Marcos.

Maria hanya bisa memeluk erat Marcos. Ia sudah pasrah meski tetap berharap maut tidak segera menjemput. Jawaban sengit dari Marcos ditanggapi dengan majunya moncong senjata ke arah Marcos. Gerakan itu ditanggapi Marcos dengan menggerakkan tubuh isterinya ke belakang dirinya. Marcos sempat berbisik, “Saat aku bilang lari. Kamu harus lari sekencang-kencangnya tanpa perlu menengok ke belakang,” kata Marcos.

Maria ingin menjawab pernyataan itu, namun belum sempat Maria menjawabnya, Marcos sudah bergerak menyerang tentara itu sambil berteriak, “Lari.”

Marcos bergelut dengan tentara itu dan seperti ada yang menggerakkan, Maria lari menjauh. Marcos sekuat tenaga menghalang-halangi tembakan yang diarahkan ke Maria dan kini peluru itu telah menembus tubuhnya. Darah terus mengalir deras, namun Marcos terus memberikan perlawanan. Dooor…dooor…dooor, peluru terus menembus tubuh Marcos. Darahnya telah mengalir ke tanah. Tentara-tentara itu terus menembaki Marcos meski lawannya sudah tak berdaya.

Maria berusaha lari sekencang-kencangnya. Dalam lari dengan diiringi hujan peluru dari arah tentara, dia terus meneteskan air mata. Ingin rasanya menengokkan kepala ke belakang, namun suara senapan seakan telah mememberikan jawaban. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (5)

Tanpa sepengetahuan Marcos, pasukan militer yang melakukan kudeta pimpinan Jenderal Pablo juga melakukan pengejaran ke padang ilalang. Pasukan itu menyisir padang yang luas setelah mengetahui banyak warga yang kabur ke padang ilalang itu. Dan tanpa Marcos sadari, api dari batang-batang ilalang yang terbakar menjadi petunjuk bagi pasukan militer.

Suasana padang ilalang masih terasa sunyi. Suara burung hantu terasa semakin keras seakan memberikan kabar duka. Pasukan militer terus bergerak mengejar warga dan orang-orang yang dianggap pendukung Presiden Ernesto. Militer itu hanya mendapat satu perintah, habisi semua orang yang ada. Setiap ada orang yang ada di depan mereka, maka hanya senjata yang berbicara. Tanpa ampun dibrondongkannya peluru ke arah warga hingga darah tak lagi tersisa.

Pergerakan mereka tidak cepat, namun juga tidak lambat. Setiap ada petunjuk yang menunjukkan adanya warga atau orang-orang, pasukan militer itu langsung memburunya. Kali ini pasukan militer melihat cahaya redup di tengah padang ilalang. Dan cahaya redup itu berasal dari batang ilalang yang dibakar Marcos.

Kolonel Ignasio yang menjadi pemimpin lapangan pengejaran memerintahkan 10 orang anak buahnya mendekati cahaya redup itu. Dan setelah mendapatkan perintah itu, 10 orang anggota militer dengan pangkat Kopral itu langsung bergerak maju menuju arah cahaya. “Woyyy… Melawan atau tidak, habisi,” teriak Kolonel Ignasio dengan senyum khasnya, senyuman seorang pembunuh.

Dengan hanya menggunakan pencahayaan lampu senter kecil, 10 orang tentara bergerak pelan dan hati-hati mendekati cahaya itu. Sepatu boot tentara menginjak batang-batang ilalang dan menimbulkan suara tak…tak…tak. Ketika cahaya sudah semakin jelas, hampir bersamaan, 10 tentara itu mengokang senjatanya masing-masing, “krak.”

Mereka kini tinggal berjarak sekitar 20 meter dengan Marcos dan Maria. Semakin dekat tentara itu, semakin jelas pula tubuh Marcos dan Maria yang terlelap tidur. Dua orang itu hanya tampak siluet. Kopral Cristian yang berada paling depan, mengangkat tangan kanannya. Sontak saja, sembilan tentara lainnya langsung berhenti. Kopral Cristian memberikan aba-aba agar sembilan lainnya bergerak memisah untuk mengepung dua orang yang terlelap tidur itu.

Dengan sangat hati-hati, tentara itu menyebar dan seperti membuat formasi sapit urang. Setelah Kopral Cristian kembali memberikan aba-aba, secara serentak, 10 orang tentara itu bergerak maju dan dua orang itu sudah ada di hadapan mata mereka.

Kedatangan tentara itu tidak disadari oleh Marcos dan Maria. Mereka benar-benar terlelap tidur. Di tengah duka lara ini, mungkin Maria dan Marcos masih mimpi indah tentang anak mereka yang akan segera lahir. Setelah benar-benar tepat berada di hadapan mereka, tentara itu hanya diam membisu sambil menodongkan senjata AK-47 ke arah Marcos dan Maria.

Kopral Cristian mencoba mengamati dengan seksama dua orang itu. Dilihatnya Marcos yang tangannya memeluk erat Maria. Dan dilihatnya juga Maria dengan perut buncitnya karena sedang mengandung. Kopral Cristian menegok ke arah 9 temannya. Sembilan tentara lainnya juga hanya bisa terdiam tanpa bergerak sedikitpun meski senjata tetap diarahkan ke Marcos dan Maria.

Moncong AK 47 yang dipegangi Kopral Cristian disentuhkan pada leher Marcos. Merasa ada benda dingin yang menyentuh lehernya, sontak Marcos memegangi lehernya dan setelah diraba-raba yang ia dapatkan adalah moncong senjata. Marcos langsung terbangun dan berdiri dan seketika itu moncong senjata di arahkan ke wajah Marcos. Marcos yang bergerak cepat menjadikan Maria juga ikut terbangun. “Jangan bergerak,” kata Kopral Cristian.

Marcos langsung menyeret Maria untuk berdiri dan hampir bersamaan mereka mengangkat kedua tangannya. Kopral Cristian memberikan aba-aba untuk menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Dua orang tentara langsung mendekat dan menggeledah tubuh Marcos dan Maria. Marcos sempat berusaha menghalangi tentara yang menggeledah isterinya, namun usaha itu berbuah pukulan dari popor senjata ke kepala Marcos yang membuatnya tersungkur dan darah mengalir dari pelipis kanannya. Melihat suaminya menggeluarkan darah, sontak Maria menangis minta ampun. Dan tangisan Maria dijawab oleh Kopral Cristian, “Diam.” (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (4)

Marcos mengamati langit yang mulai berpendar. Saat meninggalkan rumah, ia lupa membawa jam tangan. Namun, dia memperkirakan saat ini sudah jam 5 sore. Langit yang berpendar, warna kuning kemerah-merahan merupakan senja yang sempurna. Marcos membayangkan jika menikmati senja yang sempurna itu dari taman belakang rumahnya. Namun, itu semua hanya impian, pikir Marcos.

Maria masih rebahan di pundak kanannya melepas penat. Cahaya senja menembus padang ilalang yang luas. Pantulan cahaya pada batang-batang ilalang memberikan warna dan sensasi tersendiri pada negeri Revolusi yang baru dirundung duka.

Marcos membelai rambut Maria dan bibirnya mengecup halus jidat isterinya. “Sayang, sebentar lagi malam, saatnya kita meneruskan perjalanan,” kata Marcos.

Maria hanya menganggukan kepala. Mungkin ia sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Belum lagi Si Kecil yang ada dalam perutnya sepertinya terus bergejolak selayaknya negera itu yang dipenuhi gejolak peperangan. Dua anak manusia yang dipadukan atas nama cinta itu berdiri dan mulai melangkahkan kaki.

Marcos menuntun Maria. Ia tahu, isterinya sudah sangat lelah. Marcos dan Maria saling membisu, tak ada kata yang ucap. Kedua-duanya menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. Ilalang yang tinggi disibakkan untuk membuka jalan. Marcos sebenarnya tidak tahu arah kemana mereka pergi. Mereka seperti dalam sebuah labirin tanpa ujung.

Batang-batang ilalang yang disibakkan menimbulkan suara unik. “Tak..tak…tak.”

Ketika keduanya membisu, hanya ada suara tak…tak..tak dari batang ilalang yang patah. Senja yang sunyi, pikir Marcos.

Langit sudah mulai menghitam dan kelam. Marcos sadar, tanpa penerangan ia harus berhenti dari perjalanan itu. “Kita tidak membawa senter dan bulan sepertinya tidak akan bersinar malam ini. Kita cari tempat yang aman untuk istirahat saja,” ujar Marcos.

Untuk kesekian kalinya Maria tak menjawab. Marcos memakluminya. Ia sangat yakin isterinya sudah bertahan sekuat tenaga agar bisa berjalan jauh dengan kondisi mengandung tua. Marcos akhirnya menemukan tempat yang tepat untuk isirahat. Tanahnya cukup rata dan bersih. Marcos memotong batang-batang ilalang untuk alas istirahat. Maria duduk lesu tanpa gairah.

Setelah membuat alas istirahat dari batang-batang ilalang, Marcos duduk dan isterinya rebahan. Kepala Maria ada di kaki Marcos. Dibelainya rambut tipis isterinya. Maria hanya memejamkan mata seakan menikmati setiap belaian yang dirasa. “Sayang, aku lapar,” hanya itu yang diucapkan Maria.

Tangan Marcos langsung menyahut tas punggungnya. Dibukanya tas itu dan langsung mencari air mineral yang tersisa dan makanan ringan yang sempat dibawanya. “Hanya ini yang tersisa. Maafkan aku ya sayang. Aku tidak memberikan yang terbaik saat kau…,” kata Marcos.

Belum selesai Marcos menyelesaikan ucapannya, Maria sudah memegangi mulut Marcos dengan jarinya. “Tak ada yang salah dan tak ada yang patut dipersalahkan. Jangan salahkan dirimu. Aku baik-baik saja,” kata Maria sambil membuka bungkus makanan ringan yang disodorkan Marcos.

Keduanya menikmati makanan ringan itu. Tak terlalu enak dan mengenyangkan, namun apa daya, sudah sejak siang hari perut mereka belum terisi makanan, sehingga makanan ala kadarnya pun terasa nikmat jika perut benar-benar sudah merintih perih.

Kelelahan yang teramat sangat menjadikan Maria terlelap setelah menghabiskan dua bungkus makanan ringan. Marcos masih terjaga. Dibelainya rambut isterinya. Kepalanya mendongak ke atas melihat langit yang kelam. Tak ada bulan. Bintang yang ada pun redup cahayanya seakan enggan menyinari negeri itu yang baru berlumuran darah dan air mata. Bintang seakan tidak mau menjadi saksi mata atas kekejaman manusia.

Sebelum memejamkan mata, Marcos sempat mencari batang-batang ilalang kering. Dikumpulkannya batang-batang itu untuk kemudian dibakar agar menjadi penghangat malam. Asap tipis mengepul dan cahaya redup dari batang ilalang yang terbakar menyinari malam. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (3)

Marcos akhirnya keluar dari mobil dan membuka kap mobilnya. Bau plastik terbakar langsung terasa. “Hufff. Tak ada onderdil pengganti,” kata Marcos melihat beberapa selang dari dalam kap mobil tersebut terbakar.

Beberapa pengungsi yang berjalan sempat ia tanyai apakah bisa membantu. Maria sendiri terlelap di dalam mobil, keletihan. Marcos tidak ingin mengganggu isterinya. Namun, kali ini ia terpaksa membangunkan isteriya. “Sayang, belum bisa diperbaiki nih. Bagaimana baiknya,” tanya Marcos.

“Perutku mulas sekali. Si Kecil terus-terus menendang dan sepertinya ingin segera keluar,” keluh isterinya.

Marcos kebingungan. Tak mungkin rasanya mengajak isteriya berjalan kaki sejauh 20 Km menunju desa terdekat. Namun, berada di tempat tersebut berlama-lama juga tak baik rasanya karena dari beberapa pengungsi lainnya, dia sempat mendengar pasukan militer terus bergerak ke arahnya setelah menaklukkan kota.

“Sayang. Sepertinya kita terpaksa harus berjalan. Militer terus bergerak ke arah kita. Kabarnya mereka juga ingin menaklukan desa di lembah gunung yang menjadi tempat pengungsian Presiden Ernesto. Dan satu-satunya jalan menuju desa itu adalah jalan ini,” kata Marcos kalut.

“Tak kuat rasanya aku berjalan,” jawab Maria sambil memegangi perut buncitnya.

“Tak ada pilihan lain. Jika militer terlalu dekat dengan kita, maka bisa saja mereka menghabisi kita karena mereka menilai kita loyalis Presiden,” ujar Marcos.

Sambil mengambil perbekalan dan barang penting lainnya ke dalam tas ransel Marcos bilang “Sayang. Percayalah kamu kuat,” kata Marcos pelan.

Setelah menarik nafas panjang, Maria bangun dari jok mobil dan berdiri pelan. Marcos yang disampingnya memegangi pudaknya sambil memapah isterinya. Belum sempurna isterinya berdiri, ribuan pengungsi di belakangnya tampak lari ketakutan. Marcos sempat menarik lengan salah satu pengungsi yang lari tersebut dan menanyakan apa yang tejadi.

“Militer sudah dekat. Mereka menembaki siapa saja yang ada di jalanan,” jawab orang itu.

Mendengar jawaban itu Marcos dan Maria hanya bisa tercengang. Sekejam itukah militer negerinya. Tanpa pikir panjang, Marcos langsung menarik isterinya untuk mulai berjalan. Banyaknya pengungsi yang lari menjadikan Maria dan Marcos beberapa kali terinjak kakinya oleh pengungsi lainnya.

Keringat deras mengucur dari muka keduanya. “Aku mohon, sayang. Kamu harus kuat,” kata Marcos sambil memapah isterinya yang sudah tampak kelelahan.

Belum sempat Maria menjawabnya, suara senjata otomatis terdengar begitu keras di belakang mereka. Ketakutan pengungsi semakin menjadi-jadi. Bahkan, tidak sedikit pengungsi yang terinjak-injak. Semuanya ingin selama. Semuanya ingin lari secepat-cepatnya.

“Sayang, aku sudah tidak kuat,” kata Maria.

Marcos tidak menjawabnya. Ia hanya memapah isterinya agar dapat berjalan semakin cepat. “dooor….door….dooor…door.” Rentetan suara senjata terasa begit dekat. Beberapa orang yang ada di sampingnya tampak roboh dan darah berwarna merah mengalir. Tak kenal muda tua, laki peremupuan, bayi atau kakek, brondongan peluru terus saja mengarah ke semua orang yang ada di jalanan.

Teriakan ketakutan menyelimuti jalanan. Suara tangisan meledak di mana-mana. Peluru itu tak punya mata, hanya bergerak lurus dan kencang menembus dada, kaki, kepala, pinggang. Tak terhitung lagi berapa banyak yang tewas. Hanya darah yang mengalir bak seperti sungai dan suara burung gagak yang tersisa.

Marcos kebingungan dan saat itu juga ia menyeret isterinya keluar dari jalanan dan memasuki padang ilalang di tepi jalan. Ilalang yang tinggi. Marcos terus saja menyeret isterinya tanpa pernah mendengarkan keluhan isterinya yang kesakitan ataupun menengok ke belakang untuk sekedar memastikan mereka akan dari pembantaian itu.

Tak tahu berapa lama itua terus menyeret tangan isterinya. Kini yang dirasakan Marcos hanya kesunyian. Padang ilalang yang luas sepertinya telah menelannya. Saat itu Maria berbisik “Kita istirahat sebentar.”

Marcos yang tidak mendengar suara senapan hingga teriakan mencekam hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua duduk selonjor melepas lelah. Marcos mengeluarkan air mineral dari tas ranselnya dan diberikan pada Maria. Ilalang yang sangat tinggi sepertinya telah menelan pasangan suami isteri tersebut. Sepi…sunyi senyap. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (2)

Marcos menilai sudah tidak ada lagi harapan di distrik tersebut karena pasukan alteleri pimpinan Jenderal Pablo sudah berada di seberang jembatan batas kota. “Aku yakin tidak lebih dari lima jam lagi, kota ini akan jatuh ke militer,” kata Marcos kepada Maria sambil mengepaki barang.

“Apa yang ingin didapatkan dari kudeta ini. Apakah mereka telah benar-benar ingkar pada Revolusi Manifesto sehingga memilih mengorbankan rakyat demi kekuasaan,” tanya Maria sambil membantu Marcos memasukkan pakaian bayi untuk persiapan persalinan anak pertama mereka.

“Aku tak tahu, sayang. Bukankah Revolusi Manifesto yang dibuat bapak bangsa kita telah mengakomodir semua golongan, termasuk militer. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Mari cepat kita berkemas,” kata Marcos sambil mengangkat kardus terakhir yang siap dimasukkan bagasi mobil.

Marcos dan Maria sudah berada di dalam mobil. Jalan di depan rumahnya sudah dipenuhi orang yang mengungsi. Ada yang menggunakan mobil, truk, sepeda motor, sepeda angin hingga jalan kaki. Wajah ketakutan menyelimuti semua warga distrik tersebut termasuk Marcos dan Maria. Mobil Marcos yang baru saja lunas bulan lalu mulai berjalan pelan. Maria masih menengokkan kepala menghadap rumah yang baru saja ditinggalkannya. Tanpa sadar Maria menetaskan air mata.

“Mungkin ini adalah jalan hidup. Jalan hidup yang tidak hanya harus dilalui oleh kita, namun juga negeri ini. Saat ini yang penting adalah keselamatan kita termasuk si kecil,” kata Marcos sambil mengelus-elus perut isterinya yang sedang mengandung.

Marcos tidak lagi memikirkan harta benda yang ditinggal ataupun rumah mungil yang dibangun dari jerih payahnya. Marcos hanya memikirkan keselamatan isterinya dan si jabang bayi dalam perut isterinya. Marcos takut jika isterinya jatuh sakit karena usia kandungannya sudah masuk 9 bulan dan diperikirakan dokter beberapa hari ke depan anak pertama mereka lahir.

Baru beberapa kilometer Marcos meninggalkan batas kota, asap membumbung tampak jelas dari kaca spion mobilnya. Marcos langsung menghentikan laju mobilnya dan menengok ke belakang. Kota yang saat dicintainya telah hancur. Dentuman meriam terus sahut menyahut dan diikuti dengan debu dan asap mengepul ke langit menjadikan siang itu seperti malam yang kelam, tanpa bintang dan bulan.

Sudah dua jam lebih, Marcos memacu mobilnya ke arah pedesaan. Banyaknya warga yang mengungsi menjadikan laju mobil hanya 30 Km/jam. Bahkan, kali ini Marcos harus menghentikan laju mobil selama beberapa menit untuk memberi jalan pengungsi lainnya. Mobil kembali berjalan pelan dan belum lebih dari 500 meter mobil itu kembali melaju, letupan kecil terdengar dari kap mobil dan asap putih keluar dari kap mobil tersebut. Mobil berjalan tersendat-sendat dan akhirnya macet. (Bersambung)


Perang & Gadis Ilalang (1)

Kakacauan besar sedang melanda negeri Revolusi. Tatanan politik, ekonomi, budaya hingga infrastruktur yang telah dibangun sejak tiga abad yang lalu luluh lantak seketika sejak kakacauan melanda negeri tersebut satu pekan terakhir. Kekacauan dan perang saudara di negeri yang dikenal dengan New World tersebut disebabkan karena adanya kudeta yang dilakukan Jenderal Pablo terhadap pemerintahan sah pilihan rakyat pimpinan Presiden Ernesto.

Kekacauan yang ditandai dengan adanya penyerbuan istana kepresidenan tersebut tidak hanya berdampak pada roda pemerintahan saja. Toko-toko dijarah, pusat perkantoran dibakar hingga permukiman penduduk pun tak luput dari serangan militer Jenderal Pablo yang ingin menguasai sepenuhnya negara itu sehingga roda ekonomi tak mampu lagi berjalan.

Kakacauan hampir melanda seluruh negeri Revolusi. Tak hanya di kota-kota besar, kekisruhan dan kerusuhan juga melanda daerah pedesaan dari tepi pantai hingga lembah gunung. Gerakan dari militer yang mengkudeta pemerintahan tersusun rapi dan terorganisir dengan baik sehingga ketika letupan kekacauan terjadi pada 1 Mei lalu di Ibu kota, hanya berselang beberapa jam, letupan kekacauan hampir merata di seluruh negeri.

Kepulan asap dari gedung yang terbakar sudah menjadi pemandangan umum. Bau bangkai manusia yang dibakar juga sudah tidak asing lagi bagi warga negeri Revolusi. Tangis bayi kekurangan susu seperti menjadi nyanyikan kelabu negeri itu. Debu-debu yang beterbangan akibat langkah berat dari jutaan pengungsi menjadi saksi bisu penistaan kemanusiaan. Negeri yang digadang-gadang sebagai negeri baru tersebut luluh lantak akibat kerakusan militer untuk menguasai pemerintahan.

Negeri Revolusi ini hanya berharap dari Distrik Huvana. Distrik yang dikenal paling makmur di negeri tersebut memang menjadi satu-satunya distrik yang belum tersentuh kekacauan. Militer yang melakukan kudeta pun juga tidak tinggal diam. Sudah tiga hari tiga malam, distrik tersebut dikepung dari segala penjuru. Semuanya warga distrik tersebut resah, karena masuknya militer ke distrik tersebut sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.

Warga yang mulai resah mulai meninggalkan kota untuk mengungsi mengikuti jejak jutaan warga lainnya yang telah menungsi lebih dahulu. Warga hanya berharap, nyawa masih berharga meski kemanusiaan telah diinjak-injak. Dokter Marcos, dokter terkemuka di distrik tersebut juga mulai berancang-ancang mengungsi. Bersama isterinya Maria yang sedang hamil tua mulai mengepaki barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil bututnya. (Bersambung)


%d blogger menyukai ini: