Tag Archives: cerita

Virus Homo Jakartensis

Aku benar-benar pangling dengan kawan lamaku. Mungkin karena lama tak bersua, mungkin daya ingatku lemah atau mungkin karena penampilan kawanku ini berubah total.

Dua tahun lalu, aku mengenal kawanku sebagai sosok yang lugu, kalem dan pendiam. Gaya bicaranya halus dan suka berpakaian rapi. Saking rapinya, entah kemeja, t-shirt ataupun kaus oblong selalu dimasukkan. Celana andalannya adalah kain halus. Saking seringnya diseterika, sampai-sampai, ada garis lurus di bagian depan celana yang membujur dari atas sampai bawah.

Senyum tipisnya sampai kini tak berubah. Senyum tipis itu pulalah yang membuatku mengenali sosok kawanku itu. Selebihnya, penampilannya berubah total. Kaus oblong yang dikenakan sedikit junkies, celana jeans ketat gaya pensil. sepatu ket merek Converse warna hitam. Aku tersenyum simpul melihat perubahan penampilan kawanku itu.

Senyumku mengembang menjadi tawa kala dia menyapaku “Sori jack nunggu lama ya. Biasa kena macet. Yuk kita berangkat, mampir di rumah gue dulua ya.”

Rupanya kawanku ini sudah berubah. Sosok kawanku yang lugu pendiam dengan gaya pakaian yang terkesan culun tinggallah kenangan. Kini dia menjelma menjadi sosok anak muda yang aku yakini gaya berpakaiannya bakal menjadi trendsetter di kampungku.

Kalau melihat kawanku itu aku tertawa ringan, maka saat melihat Inah, tetanggaku yang baru saja mudik dari Jakarta bisa membuatku tertawa terbahak-bahak. Kemarin, aku bertemu dengannya di sebelah langgar kampung. Sudah dua hari dia datang kembali di kampung halaman. Waktu itu dia baru pulang dari pasar. Aku benar-benar dibuat pangling. Pakaiannya warna pink, celana panjangnya warna biru dan dia menggunakan bandana warna ungu. Ngejreng. Belum lagi bedak tebal yang menutupi wajahnya. Sungguh berbeda dengan Inah yang dulu masih kecil dan pemalu.

Kawanku dan Inah, tetanggaku itu rupanya sudah terkena virus Homo Jakartensis. Seno Gumira Ajidarma menyebut Homo Jakartensis adalah sosok orang-orang Jakarta dengan atribut bernama sukses yang melekat di dalamnya. Bukan salah kawanku ataupun Inah kalau mereka menjadi Homo Jakartensis. Mereka tak pernah salah karena keadaan memaksa mereka. Mereka dipaksa menjadi Homo Jakartensis atau mereka tersisih dari pusaran kehidupan. Menjadi Homo Jakartensis bukan lagi sebuah pilihan tapi keharusan, apalagi saat Lebaran.

Mereka para Homo Jakartensis dipaksa harus tampil sempurna ketika tiba di kampung halaman, diharuskan terlihat “wow”, “wah” dan “ngetren”. Pada intinya mereka dipaksa terlihat sukses setiba di kampung halaman. Ya, mereka para Homo Jakartensis harus tampak sukses saat Lebaran kalau tidak ingin mendapat cibiran, mereka harus terkesan sukses kalau tidak ingin dikatakan gagal. Apakah mereka para Homo Jakartensis itu benar-benar sukses ataupun pura-pura sukses, hanya mereka yang tahu. Dan sebentar lagi semakin banyak para Homo Jakartensis yang bakal aku temui. Semoga mereka benar-benar sukses.


Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 


Janji hujan

Siapa yang mengundang awan. Siapa yang menggiring mendung. Hujan tiba-tiba membasahi bumi yang kering. Serasa kerongkongan dialiri air putih. Seperti basuhan air suci kala hendak menghadap Sang Kuasa.

Daun bergoyang ditimpa air yang menderu. Ranting, dahan menari menyambut datangnya penyejuk hati. Musim kering terlalu membosankan. Tanah memimpikan siraman dari langit. Sungai menantikan aliran yang kering kembali terisi. Sawah menunggu kiriman Banyu agar Dewi Sri tak keburu layu.

Hujan telah berjanji. Janji yang tak mungkin diingkari. Janji hujan untuk bumi telah ditepati. Bumi menyambut janji hujan dengan gegap gempita. Janji itu untuk kesuburan bumi.

 


Negeri 5 Bukit

Hari masih pagi. Baru jam setengah tujuh pagi dan matahari belum mampu menembus kabut yang menyelimuti daerah Karanganyar. Hawa dingin khas pegunungan sudah mulai terasa saat mobil pikap sewaan melintas di Pasar Karangpandan, Karanganyar.

Nuansa khas pegunungan semakin terasa kala mobil pikap yang mengangkut enam orang (termasuk saya) dengan “istrinya” masing-masing (baca: sepeda) memasuki jalan menuju Kecamatan Ngargoyoso. Sebuah kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu. Petani mulai beraktivias di ladang sayur mereka, ibu-ibu menggendong anak di depan rumah menyambut pagi dan para pelajar menghiasi jalanan dengan berjalan kaki atau bersepeda menuju sekolah.

Candi Sukuh adalah tujuan kami. Candi yang berada di ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut akan menjadi awal dari perjalanan bersepeda kami. Candi Hindu ini tidak terlalu besar, namun cukup terkenal. Salah satu yang membuat candi ini terkenal adalah banyaknya lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Banyak orang menyebutnya candi paling eksotis se-Indonesia.

Tepat satu setengah jam perjalanan dari Solo, kami tiba di pelataran Candi Sukuh. Hutan pinus yang mengelilingi candi ini semakin menambah kesan eksotis. Tiga kata untuk menggambarkan candi ini, natural, eksotis dan sensual.

Hutan pinus yang ada di belakang candi itu menjadi tempat bagi kami untuk pemanasan. Hawa dingin dan tiupan angin selama perjalanan membuat kaki-kaki kaku dan tubuh malas bergerak. Satu dua kayuhan cukup membuat kami sedikit berkeringat dan siap menyambut perjalanan sesungguhnya, Candi Sukuh-Tawangmangu.

Jalan perkampungan menjadi awal perjalanan. Seperti jalanan perkampungan pada umumnya, apsal tipis sudah mulai mengelupas sehingga menyisakan krikil-krikil dan tanah. Jalanan masih landai, banyak datarnya (aku menyebutnya bonus). Namun itu hanya sekitar satu kilometer pertama, setelah itu kami mulai menghadapi tantangan yaitu turunan.

Bersepeda melintasi jalanan yang menurun terkesan mudah, tapi apa jadinya kalau turunan itu curam, lebih dari 60 derajat. Bahkan ada turunan yang nyaris vertikal. Belum lagi turunan itu bukan jalur lurus, tapi berkelok-kelok dengan bumbu jalanan rusak. Membiarkan sepeda melaju kencang tanpa mengerem, itu cukup berbahaya karena jurang-jurang curam mengangga di tepi jalan. Menggenggam rem dengan kuat, juga tak kalah bahaya karena roda-roda dipaksa berhenti dan bisa membuat kami terguling (baca: cinta tanah air).

Jalan tengahnya adalah beraksi dengan memainkan rem. Mencengkram rem kemudian melepaskan rem, membiarkan gravitasi bumi menelan kami. Begitu dilakukan berulang-ulang. Cengkram, lepas, cengkram, lepas. Mungkin dari kami hanya satu orang “gila” yang sangat sedikit memainkan rem karena dia begitu cinta tanah air (hehehehe).

Begitu tiba di ujung turunan, maka sambutan hangat tanjakan ada di depan mata. Kali ini yang dibutuhkan adalah kekuatan kayuhan dan nafas panjang. Kami tidak memiliki modal untuk berancang-ancang karena setiap tanjakan diawali dengan tikungan tajam. Gear belakang sudah maksimal di paling besar dan gear depan paling kecil (kayuhan ringan) tidak banyak membantu. Baru seperempat tanjakan atau setengah tanjakan kami angkat tangan.

Ketika tenaga semakin terkuras dan tubuh melemas, semangat kami pun mulai meredup. Akhirnya, kami memilih rehat di sebuah sumber mata air. Tlogo Madirdo namanya. Memasuki sumber mata air itu seperti memasuki “dunia lain”. Tepat berada di bawah sebuah bukit, Tlogo Madirdo masih begitu alami, meski tampak jelas daerah itu sedang dibangun menjadi tempat permainan outdoor. Sumber air menyembul di salah satu sudut bukit dan membentuk sebuah danau kecil. Gubuk-gubuk kecil mengelilingi tlogo itu. Airnya jernih hingga kami bisa mengaca dari air itu.

Setelah tenaga kembali terkumpul dan semangat kembali menggelora, perjalanan kembali dilanjutkan. Jalur yang dihadapi nyaris sama. Turunan curam baru kemudian disambut dengan super tanjakan. Kala menghadapi setiap tanjakan seakan menemui tanjakan tanpa ujung, begitu menanjak dan berat. Dari puluhan tanjakan yang kami lalui, saya hanya bisa menuntaskan satu tanjakan di atas sadel sepeda. Selebihnya, seperempat, setengah tanjakan saya lalui dengan menuntun sepeda. Tapi itu sudah cukup baik dan saya mengklaim sebagai raja tanjakan karena hanya saya yang mampu menuntaskan satu tanjakan utuh, sedangkan lima kawan saya sudah angkat tangan.

Medan yang ada memang terasa berat, tapi sensasi pacuan adrenalin saat turunan, naluri dan keinginan untuk mengalahkan tanjakan, tepian hutan yang setia menemani selama perjalanan, petani yang sibuk dengan tanaman sayuran dan bunga mawar di sudut-sudut jalan membuat perjalanan bersepeda begitu menyenangkan.

Setelah dua jam lebih perjalanan bersepeda, kami tiba di Tawangmangu. Dan di ujung perjalanan, kami baru sadar, kami telah membelah bukit-bukit antara Candi Sukuh-Tawangmangu. Perjalanan begitu melelahkan, sudah saatnya menutup perjalanan dengan sarapan pagi, sop buntut Bu Ugik, Tawangmangu.

* all photo by Sunaryo Haryo Bayu


Dunia Warung Kopi

Warung kopi tak hanya melulu soal bubuk hitam bernama kopi. Warung yang menjamur di sejumlah bilangan Kota Jogja itu juga bukan sekadar cerita soal sensasi khas aroma kopi yang berpadu dengan asap rokok.

Dunia warung kopi adalah dunia di mana sejuta dunia ada di dalamnya. Dunia gairah anak muda, dunia pelarian orang kurang kerjaan, dunia obrolan tanpa aturan, dunia gosip kelas lokalan dan dunia maya pun telah merasuki dunia warung kopi.

Warung kopi mengakomodasi sepasang muda-mudi pamer kemesraan hingga pertengkaran. Berbagi kehangatan dan kecemburuan. Kopi menjadi pelengkap semua kata-kata manis berbalutan rayuan. Rasa pahit kopi pun menjadi penyeimbang kata-kata manis itu agar muda-mudi yang memadu kasih tidak larut dan hanyut dalam manisnya asmara.

Pengangguran yang sudah menyandang gelar sarjana dan orang-orang kurang kerjaan pun tak pernah diharamkan untuk datang ke warung kopi kelas murahan. Bahkan, konsumen warung kopi kelas pinggir jalan itu banyak diisi manusia jenis ini, pengangguran dan kurang kerjaan. Warung kopi seakan jadi pelarian manusia jenis ini. Bagi para penggangguran, kopi pahit belum sepahit realita dunia yang menyesakkan dada. Untuk orang kurang kerjaan, menyambangi warung kopi layaknya menjalani rutinitas pekerjaan.

Mereka semua, muda-mudi yang dimabuk asmara, penggangguran, mahasiswa, orang kurang kerjaan adalah manusia yang selalu memenuhi sudut-sudut warung kopi. Mungkin kadang juga ada manusia dari kolompok lain yang sering datang ke warung kopi seperti eksekutif muda, tante-tante ataupun borjuis yang kesepian, namun warung kopi yang mereka sambangi mungkin berbeda. Lebih tegasnya berbeda level dan kelas dengan warung kopi bagi sejuta umat manusia.

Di warung kopi, bicara soal fakta realita atau gosip tak ada bedanya. Semua berbisik-bisik di tengah alunan musik. Kopi yang menjadi hidangan utama akan menjadi pemacu adrenalin saat manusia ngomong tentang politik dan menghujat pemerintah. Ampas kopi yang tersisa juga bisa menjadi saksi kala obrolan sudah menyangkut hal-hal rahasia. Tanpa perlu diucapkan lewat omongan, seakan pemilik warung kopi berkata, “Silakan nongkrong, ngobrol dan berkata-kata. Kalau perlu pesan sebanyak-banyaknya.”

Dan kini ketika laju perkembangan teknologi tak bisa dibendung lagi, warung kopi juga menjadi warung dunia maya. Manusia yang duduk di warung kopi bisa teralienasi dengan tempat di mana dia berada karena sudah menjelajah mengelilingi dunia entah itu cari bahan tugas kuliah, download film bokep, pedekate lewat jejaring sosial atau sekadar chatting dengan kawan lama. Lagi-lagi tanpa harus terucap pemilik warung kopi meninggalkan wejangan, “Silakan berselancar di dunia maya sepuasnya, tapi jangan lupa bayar minuman dan makanan yang kau pesan.”

Dunia warung kopi adalah dunia pluralisme. Dunia dengan segala jenis manusia yang ada di dalamnya. Dunia dengan segala aktivitas dan obrolannya. Dunia yang ada di dalam dunia warung kopi memang berbeda dan tak sama serta tak perlu dipaksakan agar sama, tapi selera mereka tetap sama, menikmati secangkir kopi.

 


Kawan Nyoto

Nyoto namanya. Begitu dia biasa dipanggil. Tapi kadang ada pula yang memanggilnya dengan sebutan YA atau YS.

Tak ada yang salah dari panggilan yang berbeda-beda itu karena nama aslinya YA Sunyoto. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan panggilan yang berbeda-beda itu.

Dalam sebuah keremangan malam di salah satu sudut warung hik, aku mengenalnya. Namanya sudah berkali-kali disebutkan. Sepak terjangnya berulang-ulang diceritakan, namun baru pada malam menginjak dini hari itu aku bisa bertata muka dengannya.

Tubuhnya pendek, badannya gemuk, kumis dan jambangnya tumbuh subur. Jabat tangan eratnya masih aku ingat jelas. Sambil tersenyum dia mengangguk-anggukkan kepala. Kesan pertamaku pada orang itu adalah orang yang familier.

Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Sekat-sekat usia diterjangnya, batasan-batasan yang sering mengkungkung manusia dalam bergaul diterobosnya. Tak salah kiranya dia punya pergaulan luas. Apalagi dia punya banyolan dan ketawa yang khas.

Sambil mengobrol, menghisap rokok, sering dia terkekeh-kekeh sampai matanya berair. Sikapnya yang familier dan gayanya yang eksentrik, membuatnya dia bisa menyatu dan larut bersama anak-anak muda dalam hiruk pikuk dunia jurnalisme. Sekitar satu tahun yang lalu dia menjadi nahkoda divisi redaksi Harian Solopos.

Dia memang pemimpin redaksi kami, tapi dia tidak pernah merasa lebih hebat dari kami. Sungguh, kerendahan hatinya luar biasa. Dia memang bos kami, tapi dia tidak pernah bossy. Dia memposisikan diri sebagai kawan dan teman bagi anak-anak muda yang masih hijau dalam jurnalisme. Maka, aku pun tak sungkan memanggilnya dengan panggilan kawan Nyoto.

Dia tidak marah kalau pendapatnya didebat. Dia membuka ruang untuk berdiskusi, beradu argumentasi. Tak jarang pula dia mengamini pendapat anak-anak muda ketika pendapat itu dirasa tepat dan benar.

Berkali-kali aku punya kesempatan berdiskusi dengan kawan Nyoto. Salah satu yang membuat kami gencar berdiskusi adalah kecintaan kami pada sastra, terutama membahas Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Suatu ketika, kawan Nyoto mengirimiku pesan singkat dan mengirimi pesan Facebook yang isinya memintaku terus berkarya. Rupanya dia habis membaca tulisan di blog-ku. “Dan, teruslah menulis. Seperti biasa saja, mana yg layak untuk publik berikan kepada publik.”

Dalam ramainya diskusi, dia selalu menyelipkan petuah dan nasihat yang tidak menggurui. Kawan Nyoto sangat pintar memadukan argumentasi-argumentasi perdebatan dengan petuah-petuah. Sehingga, tanpa terasa dalam setiap diskusi dengan kawan Nyoto akan ada dua hal yang bisa dipetik sekaligus, keluasan berpikir setelah berdiskusi dan petuah bijaknya.

Sekitar tiga bulan lalu, kawan Nyoto jatuh sakit. Tak ada yang menduga dia sakit. Dia selalu energik dan semangat kala menghadapi segala rintangan. Kami hanya bisa meratapi kawan kami tergolek lemas tak berdaya di rumah sakit. Berbulan-bulan dia dirawat di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit dan sakit belum juga pergi.

Akhir Agustus, tepatnya 22 Agustus lalu, kawan Nyoto tepat berusia 48 tahun. Meski terlambat sehari, kami anak-anak muda yang masih membutuhkan bimbingannya datang kerumahnya. Kami ingin berbagi bahagia bersama kawan Nyoto. Perayaan ulang tahun yang teramat sangat sederhana. Setelah kue ditiup, dengan terengah-engah, kawan Nyoto meninggalkan petuah bagi kami semua. Petuah agar kami terus maju, terus berkarya.

Dalam sakitnya, dia tetap tersenyum. Dalam lukanya dia tetap menjadi bapak dengan segudang nasihat indah. Dan, beberapa hari sebelum Lebaran, saya kembali ke rumahnya. Rupanya kawan Nyoto ingin masuk kantor meski fisiknya tak memungkinkan.

Petang itu, kawan Nyoto bersikeras ingin masuk kantor. Entah apa yang dia rasakan dan dia inginkan, tapi keinginannya tidak terbendung lagi. “Saya ingin melihat kantor, Dan,” kata kawan Nyoto.

Saya dan Pak Redpel yang datang ke rumahnya harus memapahnya, menuntunnya. Untuk berjalan beberapa meter saja, kawan Nyoto terlihat kelelahan. Kami menuntunnya menuju ruang kerjanya. Rupanya dia rindu, kangen dengan kantor dan segala hiruk pikuknya.

Tak kusadari, itu adalah pertemuan terakhirku dengan kawan Nyoto. Beberapa hari kemudian, kesehatannya kembali memburuk dan dia masuk

ICU. Aku menjenguknya, tapi tak berani masuk melihatnya. Aku yang penakut tidak berani melihat kawanku terbaring tanpa daya.

14 September, kawan Nyoto berpulang. Dia meninggalkan sejuta cerita indah. Dia meninggalkan segudang harapan. Dia menitipkan mimpi kepada kami, anak-anak muda. Selamat jalan bapak, sahabat, kawan kami tercinta YA Sunyoto.


Bunda

Langkah kaki perempuan itu semakin menjauh. Ia sempat menengok ke belakang, melihat dua bocah yang dipegangi seorang perempuan tua di belakang rumah.

Perempuan itu melangkah dengan berat sampai-sampai tak sempat melambaikan tangan. Sempat ia menciumi pipi kedua bocah itu, namun semakin lama ia berada di sana, akan semakin berat ia meninggalkan dua bocah itu. Akhirnya perempuan itu melangkah meski berat, tikungan di ujung jalan membuatnya tak lagi terlihat. Yang tertinggal hanya isak tangis dua bocah.

Kini, perempuan tua itu mencoba menenangkan dua bocah itu. Satu bocah perempuan, satu laki-laki. Yang perempuan lebih besar, yang laki-laki sedikit lebih kecil. Tangis bocah perempuan mulai mereda. Sambil mengusap ingus yang keluar karena tangis, bocah perempuan itu menenangkan bocah laki-laki itu. “Sudah nangisnya. Besok Sabtu, Bunda kembali lagi,” kata bocah perempuan itu kepada bocah laki-laki yang tidak lain adalah adiknya.

Sejak meninggalnya ayah mereka beberapa bulan yang lalu, bocah berusia empat dan tiga tahun itu tinggal bersama nenek mereka. Dua bocah itu harus berpisah dengan bunda yang menjadi guru, jauh di luar kota. Ibu anak itu tak bisa bersua setiap hari karena jarak antara rumah nenek dan tempat dinas bunda mereka lebih dari 100 km. Sepekan sekali kadang sepekan dua kali, bunda dua bocah itu pulang menemui bocah itu, melepas rindu pada anak-anak.

Saat pagi, ketika perempuan itu harus kembali berdinas untuk menghidupi keluarga kecil itu dan terpaksa meninggalkan kedua anaknya, maka selalu ada tangisan dua bocah. Tangisan keengganan akan sebuah perpisahaan meski hanya beberapa hari saja.

Maka perempuan tua, nenek mereka hanya bisa memegangi dua cucunya agar tidak berlari mengejar ibu mereka. Tangisan dua bocah itu di belakang rumah selalu menghiasi pagi hingga beberapa bulan kemudian tak ada lagi tangis pagi dari mereka karena perempuan itu pindah tugas di kota tempat kelahirannya. Keluarga kecil itu kembali bersatu, tanpa jarak.

***

23 Tahun kemudian

Jarum jam sudah menunjukkan angka 00.15 WIB. Bocah laki-laki itu kini menjelma menjadi laki-laki dewasa. Sudah dini hari, tapi matanya belum terpejam. Ia memang sedang menunggu sesuatu malam ini. Setelah merasa waktunya tepat, dengan cepat tangannya memencet tuts di Ponsel murahan miliknya. Senyumnya mengembang setelah di layar Ponsel itu tertulis “Pesan terkirim”.

Dia tak berharap pesan itu segera terbalas. Laki-laki yang kini merantau jauh dan tinggal jauh dari keluarganya itu merasa yakin, orang yang dikirimi pesan sudah terlelap bersama datangnya malam. Tapi perkiraannya meleset. Beberapa menit kemudian, Ponselnya berdering tanda sebuah pesan tiba.

Dibukanya pesan singkat itu, ternyata pesan itu dari orang yang baru saja dikirimi pesan singkat. Orang itu adalah orang yang sangat dicintainya. Orang yang selalu menerimanya meski berkali-kali kesalahan dibuatnya. Orang yang selalu sabar meski kadang laki-laki itu acuh.

Senyum mengembang dari laki-laki itu setelah membaca pesan singkat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira. Laki-laki itu bahagia karena hari itu adalah hari bahagia, hari lahir dari orang yang dikirimi pesan singkat itu, bundanya. Laki-laki itu gembira masih bisa berkata, “Happy B’day Bunda. I Luv U.”


%d blogger menyukai ini: