Tag Archives: Cerpen

Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 

Iklan

Aku, buku tulis & traffic light

Lampu traffic light di sudut pasar kotaku itu menjadi saksi, dua bocah kecil menantang kerasnya hidup. Selama bertahun-tahun lamanya, setiap libur sekolah menjelang tahun ajaran baru, tepat di bawah lampu traffic light itu, mereka mencoba meraih asa dengan berdagang.

Tahun ajaran baru adalah tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Bagi mereka yang beruntung memiliki rezeki lebih, maka selalu ada yang baru di tahun ajaran baru. Mulai dari sepatu baru, tas baru, seragam baru hingga ikat pinggang baru. Bagi mereka yang rezekinya pas-pasan, tahun ajaran baru tetap memiliki magnet. Paling tidak mereka tetap harus membeli buku tulis baru.

Ada Sinar Dunia, Big Boss, Mirage, Kiky hingga AL. Ketebalan bukunya pun berbeda-beda, ada yang 36/38, 50, 58 hingga 72. Angka-angka itu menunjukkan jumlah lembaran kertas buku tulis yang selalu menjadi incaran siswa saat tahun ajaran baru. Ada yang memilih karena kertasnya halus, tidak dipedih di mata, harganya murah hingga gambar sampul buku tulis.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul begitu saja. Berjualan buku tulis saat libur sekolah. Dua bocah yang disokong modal ratusan ribu rupiah dari kedua orangtua mereka akhirnya memulai petualangan berdagang. Dua bocah itu tidak lain adalah aku, siswa kelas I SMP Muhammadiyah dan kakak sepupuku, Fathur, siswa kelas III SMP pesantren.

Dua kardus besar berisi buku tulis menjadi modal awal kami. Ditambah juga rak-rak buku berbentuk susun berbahan plastik menjadi tempat dasaran. Di bawah lampu traffic light, sudut timur laut pasar di kotaku, naluri berdagang dua bocah itu diasah. Soal rak-rak buku itu yang menjadi aneh. Rak buku yang seharusnya berada di dalam kamar kami, dipaksa bermigrasi menuntaskan kegilaan kami.

Beberapa hari berlalu sejak pertama berjualan buku tulis, kami merasa ada hal yang aneh dengan rak buku itu. Rasa-rasanya rak buku itu terlalu pendek sehingga orang yang berlalu lalang tidak memerhatikan dagangan kami. Alhasil, dalam beberapa hari pertama berjualan, selalu saja sepi. Mendekat saja enggan, apalagi menawar, apalagi membeli. Sempat aku dan kakak sepupuku patah arang, namun kami diselamatkan dengan adanya penemuan besar yaitu kotak kayu yang biasa digunakan untuk pengiriman telur milik budhe-ku.

Kotak kayu yang terbuat dari blabak tipis itu menyelamatkan kami dan juga semangat kami karena setelah kami menggunakan kotak kayu itu, pembeli mulai berdatangan dan kami juga bersyukur karena rak buku yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan buku pelajaran sekolah kami bisa terselamatkan dan kembali ke khitahnya.

Tahun pertama berjualan buku adalah tahun terberat. Selain karena kami masih miskin pengalaman dalam dunia perbukuan tulis, kami juga harus bersaing dengan pedagang buku tulis lainnya yang menjamur setiap libur sekolah. Persaingan tidah hanya terjadi di pasar karena saling merebut hati pembeli agar mau membeli buku dagangan. Belum lagi kadang ada pedagang yang sengaja merusak harga pasar dengan menurunkan harga jual buku tulis hingga batas limit.

Perang urat syaraf juga sering terjadi di toko tempat kulakan buku tulis. Sesama pedagang kadang saling berebut buku-buku tulis yang laris di pasaran, terutama menjelang libur sekolah usai. Faktor kebocahan kami sering membantu. Pelayan toko tempat kami kulakan buku sering kasihan dengan kami yang harus bersaing dengan orang dewasa. Akhirnya mereka pun sering rela menyembunyikan buku pesanan kami agar tidak disambar pedagang lain. Dan yang membuat kami untung, tentunya rasa belas kasihan dari pembeli buku tulis. Banyak pembeli yang mengutarakan rasa belas kasihan kepada kami bocah-bocah ingusan yang di bawah terik matahari mencari sepeser rezeki.

Dari modal awal ratusan ribu rupiah, aku dan kakak sepupuku meraup untung yang lumayan. Untung itu kami bagi dua sama rata dan nilainya yang masing-masing kami terima hampir sama dengan besarnya modal awal itu. Dan uang ratusan ribu rupiah itu aku dapatkan setelah hampir sebulan penuh bekerja mengisi waktu libur sekolah. Uang pendapatan halal pertamaku.

Tahun kedua saat libur sekolah tiba, kami semakin menggila. Selain adanya tambahan modal, kami juga mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Modalnya masih ratusan ribu rupiah, namun sudah mendekati angka 1 juta rupiah. Angka yang besar bagiku, bocah kelas II SMP. Tambahan sumber daya manusia itu tidak lain adalah saudara sepupuku lainnya, Nani dan dua teman kecilku, Fakih dan Ardi.

Setelah melewati fase pengalaman pertama, kami berani mengklaim diri kami “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah.” Pengalaman tahun pertama benar-benar mengajarkan kami tentang bagaimana merayu pembeli ibu rumah tangga, pembeli bapak-bapak, pembeli pelajar SD, ataupun pelajar SMP dan SMA. Khusus untuk pelajar SMP dan SMA dan khususnya lagi yang jenis kelaminnya berbeda dengan kami semua, teman saya Ardi memiliki jurus maut meruntuhkan hati mereka untuk membeli buku tulis dagangan kami. Kotak kayu untuk pengiriman telur masih setia menemani kami. Namun kami tambah dengan rak kayu yang berjenjang seperti anak tangga untuk mempercantik tempat dasaran kami.

Persaingan dengan pedagang lain pun sudah tidak terlalu kami risaukan. Untuk memantau harga buku tulis di pedagang lainnya, kami sering mengutus saudara sepupu kami, Nani berpura-pura menjadi pembeli. Persaingan di tempat kulakan juga sudah bisa kami atasi, Cacik dan Koh, pemilik toko tempat kulakan sudah memberi kami kepercayaan, kami bisa masuk gudang dan mengambil langsung buku tulis yang ingin kami beli.

Libur sekolah tahun itu kami tutup dengan kesuksesan. Slogan “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah” membawa kami dalam peta pecaturan dunia perbukuan tulis. Kami tidak lagi dianggap sebelah mata, tidak lagi dianggap bocah ingusan yang belajar berdagang buku tulis. Dan sudah barang tentu, keuntungan yang didapat semakin berlipat-lipat.

Tahun-tahun berikutnya, libur sekolah dengan berjualan buku tulis menjadi bagian terindah dalam hidup kami. Dengan gilang gemilang kami mencatatkan diri sebagai pedagang buku tulis termuda dan meraih hasil yang luar biasa. Modal berdagang telah menembus angka belasan juta rupiah. Tidak hanya di bawah traffic light saja kami berjualan, namun juga menggunakan mobil untuk berkeliling kota-kota mulai dari Kutoarjo, Kota Gede, Prambanan, Wonosari, Purworejo dan Temanggung. Selain buku, kami juga melengkapi diri dengan dagangan pendamping yaitu alat tulis murah meriah. Tiga biji pulpen dengan harga 1.500 perak hingga 4.000 perak. Dagangan pendamping itulah yang akhirnya menjadikan kami meraih puncak kesuksesan berdagang.

Tiga tahun setiap libur sekolah kami berada di masa keemasan. Kalau pemain sepak bola ibaratnya di puncak karier. Selalu mencetak gol kalau seorang striker, selalu menjadi palang pintu yang kokoh kalau seorang bek dan menjadi penyelamat penepis bola-bola lawan jika menjadi kiper. Tahun keemasan itu harus ditutup. Tahun ketujuh libur sekolah atau tahun pertama saya masuk jenjang kuliah, roda berputar. Kami berada di titik terendah dan usaha bedagang buku tulis kami tutup usia untuk selamanya.

Kini, beberapa tahun kemudian, di bawah traffic light sudut pasar itu tidak ada lagi teriakan bocah-bocah menawarkan dagangannya, tak ada lagi keceriaan bocah-bocah mengisi waktu libur sekolah dengan berdagang. Di bawah traffic light itu bercokol pedagang bawang merah dan bawang putih yang lesu menawarkan dagangannya karena harga bombon itu selangit.


Senyum Terindah Sang Pendidik

Mata Bu Guru Ela sudah sebam sedari tadi. Sudah habis air matanya. Ia hanya bisa senggugukan. Sapu tangan kecilnya sudah basah oleh air mata, air mata kesedihan yang saat ini belum terobati. Kedua tangannya masih enggan terlepas dari punggung Bu Guru Al. Dua guru beda generasi itu masih berpelukan, sebuah pelukan tentang perpisahan.

Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Layaknya sekolah dasar pada umumnya, semua guru bersiap menyambut datangnya siswa-siswi baru kelas I. Memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru dan berharap pendidikan bagi anak-anak semakin baik serta sambil juga berharap kesejahteraan bagi para pendidik ada perbaikan. Harapan itu tersimpan dalam setiap relung hati pada pendidik SD di sebuah kota kecil. Sebuah SD swasta di bawah bendera persyarikatan Muhammadiyah.

Bukan sekolah yang menyandang gelar sekolah unggulan yang memunggut biaya selangit. Bukan pula sekolah dengan segudang fasilitas lengkap. SD itu hanya SD biasa, selayaknya SD pada umumnya yang beberapa tahun terakhir melahirkan prestasi jempolan sehingga menarik minat ratusan orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SD itu.

Tangis Bu Guru Ela belum mereda. Bu Guru Yas, Bu Guru Kastini, Bu Guru Warni yang mengelilingi Bu Guru Ela dan Bu Guru Al semuanya terdiam. Menahan air mata agar tidak terlalu deras mengucur. Saling menguatkan hati sambil berangkulan. Pak Guru Hadi yang duduk tidak jauh dari mereka menatap jauh keluar ruang guru, menerawang harapan tahun ajaran baru di sekolah itu.

Harapan indah tahun ajaran baru di SD itu belum terkembang, namun kabar pagi itu seakan melayukan harapan. Kabar yang keluar langsung dari bibir Bu Guru Al seakan menjadi petir di siang bolong yang cerah.

“SK ini baru turun kemarin. Perhari ini saya dipindahtugaskan ke SD Negeri,” ucap Bu Guru Al terbata-bata di hadapan semua guru.

Kabar itu meruntuhkan semangat dan impian guru di SD kampung itu. Baru beberapa hari yang lalu, saat sekolah masih libur, Bu Guru Al yang menahkodai SD itu melecutkan semangat guru-guru untuk meraih impian baru di tahun ajaran baru.

Impian tentang prestasi akademik murid, impian tentang gedung sekolah baru, impian tentang kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak, impian tentang fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang representatif, impian tentang perbaikan sistem pembelajaran di kelas, impian tentang nama harum dan tinta emas prestasi SD yang bukan SD unggulan itu.

Sebagai sebuah SD underdog, guru-guru SD itu paham benar hanya lewat prestasi, nama SD itu akan dicatat dengan tinta emas. Sebagai SD swasta, mereka sadar betul, berdikari dan mandiri akan menjadikan SD itu bisa bersaing dengan SD Negeri. Sebagai SD yang sebenarnya tidak diprioritas dan diunggulkan di persyarikatannya, mereka terpacu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka dan selama beberapa tahun terakhir ini mereka, guru-guru itu telah membuktikannya.

Sudah dua periode Bu Guru Al menjadi orang yang paling dituakan di SD itu sebagai kepala sekolah. Selayaknya nahkoda perahu, dia tidak pernah berkata karena saya perahu ini bisa mengarungi samudera. Dia selalu mengatakan, “Karena awak-awak perahu yang gagah berani dan cekatan, penumpang yang taat dan patuh, perahu ini bisa melaju melintasi badai dunia pendidikan.”

Karena mereka semualah, sinergitas antara guru, murid dan tentunya orangtua, SD yang bukan SD unggulan itu diperhitungkan dalam percaturan dunia pendidikan di kota kecil itu. SD biasa yang bisa bersaing dengan SD unggulan dari segi prestasi akademik ataupun nonakademik.

Mendung tebal masih menggelayuti ruang guru, meski cuaca di luar sebenarnya cerah. Hampir semuanya berwajah muram. Tak ada senyum mengembang dari para pendidik itu. Tak ada pancaran optimisme dari wajah para pahlawan pendidikan itu.

Bu Guru Ela, guru tidak tetap dan termuda di SD itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia terdiam. Mulutnya terkunci rapat menahan duka. Bu Guru Warni, guru paling senior yang baru saja pensiun, namun tetap mengabdi di SD itu karena kecintaannya hanya menundukkan kepala. Pak Guru Hadi masih menerawang jauh melihat siswa-siswi bermain, berlarian di halaman sekolah. Bu Guru Kastini, guru paling sabar itu duduk lesu di sudut ruangan.

Tanpa kata mereka saling tahu dan paham apa yang mereka rasakan hari itu. Hari di mana mereka kehilangan nahkoda yang tegas tapi bijaksana, yang keras tapi lembut, yang tidak hanya memerintah tapi memberi contoh, yang tidak hanya berkata-kata tapi juga mendengar.

Setelah sekian lama ruang itu sunyi senyap tanpa kata, Bu Guru Al angkat bicara. “Hapus semua air mata dan duka. Hari esok telah menanti. Sambutlah hari itu dengan semangat dan optimisme. Hari di mana gilang gemilang SD ini akan dicatat dalam tinta emas. Saya percaya semua kawanku, saudaraku semuanya bisa mewujudkan semua harapan dan impian SD ini.”

Senyum terindah pun akhirnya mengembang dari para pendidik dan mendung tebal telah pergi dari ruang guru yang sempit itu.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk Bundaku tercinta dan semua guru di sebuah SD biasa yang luar biasa.


Akulah pelacur itu

Azan subuh baru saja menggema. Aku masih terkulai lemas di salah satu kamar hotel murahan di sudut kota ini. Ku bakar rokok mild menthol untuk mengembalikan kesadaranku yang belum sepenuhnya pulih.

Sepertinya terlalu banyak alkohol kutenggak malam ini. Banyak juga pelanggaran yang minta service lebih. Sungguh malam yang melelahkan.

Lampu temaram kamar tak membantuku mencari pakaian dalamku. Entah di mana BH-ku berada. Entah di mana celana dalamku berada. Yang aku tahu pasti pelanggaran terakhirku telah pergi beberapa menit sebelum azan menggema sambil meletakkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di meja samping tempat tidur.

Asap rokok memenuhi kamar yang berbau apek. Rokok mild menthol di tangan sudah hampir habis. Entah mengapa, pagi ini aku malas meninggalkan hotel murahan ini. Aku sedang ingin menikmati kesendirian ini setelah semalaman bekerja. Tanpa pelanggan, tanpa alkohol, tanpa kondom, hanya rokok mild menthol saja.

Tanpa sehelai pakaian aku menuju kamar mandi, mencuci muka, kencing dan berharap bisa membuang dosa malam ini. Ya, dosa malam ini dan semoga juga dosa malam-malam sebelumnya. Dari kaca kamar mandi aku bisa memandangi seutuhnya tubuh ini, tubuh bugil, tubuh yang sering diolok-olok tubuh seorang pendosa.

Aku maklum saat orang-orang menanggilku dengan sebutan pelacur. Aku sadar sepenuhnya profesi yang aku jalani karena aku memang seorang pelacur. Pelacur jalanan yang semalam bisa melayani lima hingga enam orang berturut-turut. Pelacur murahan yang dibayar setelah orang-orang menikmati tubuhku. Orang yang dibayar karena bisa memberi kenikmatan tubuh bagi orang lain. Itulah aku. Aku tidak menampiknya sama sekali.

Aku tidak akan membela diri dengan mengatakan “Aku melakukan ini semua karena alasan ekonomi.” Meski harus kukatakan, aku membutuhkan uang untuk hidup, aku melakukan ini semua dengan kesadaran diri seutuhnya.

Dalam lapisan masyarakat beradab, aku mungkin berada paling bawah dalam lapisan itu. Manusia hina yang menjual tubuhnya. Apakah aku memang sehina itu?

Aku tidak menggugat keadaanku. Kalau aku dikatakan orang hina, akupun terima, meski kadang masyarakat menjadi hakim yang salah menilai dan mengambil keputusan.

Aku adalah aku. Pelacur jalanan yang menjual tubuh, namun tetap memiliki harga diri. Ya, harga diri. Silahkan tidak percaya, tapi aku memegang teguh harga diriku. Tubuhku bisa dinikmati orang. Setiap inci lekukan tubuhku bisa dijamah orang, tapi tidak jiwaku.

Aku memang penjual tubuh, tapi bukan penjual jiwa. Aku menawarkan seni bercinta, namun aku tidak memberikan cinta. Aku mengajak untuk menikmati malam dengan segala keliarannya, namun aku tidak menawarkan kasih sayang.

Aku memang hina, tapi bukan paling hina. Aku memang pelacur, tapi tidak menjual jiwa. Dan terhinalah orang-orang yang menjual jiwa mereka.

“Kukuruyukkkkkkkk…..”

Kokok ayam jago membuyarkan lamunanku pagi ini.


Mukena putih

Suara azan dari surau yang ada di ujung kampung sudah terdengar sedari tadi. Suara azan dari sang muadzin terdengar jelas di telinga Inea yang masih ada di kamarnya. Nyanyian jangkrik dari sawah belakang rumahnya seakan lenyap begitu saja ikut mendengarkan panggilan Sang Khalik.

Di hadapan Inea, mukena putih masih terlipat rapi. Sehari sebelum bulan Ramadhan tiba, ibunya sengaja mencucikan mukena satu-satunya yang dimiliki bocah SD itu. Rukuh biasa Inea menyebut kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya itu dan hanya menyisakan wajah dan telapak tangannya yang terlihat.

“Inea, ayo berangkat. Sudah azan dari tadi lo. Inikan tarawih pertama, jangan sampai telat,” kata ibunya.

Sudah cukup lama Inea memandangi kain putih panjang itu. Ia duduk di kasur tepat di sebelah mukena dan sajadah yang sudah dipersiapkan ibunya selepas Maghrib. Dipeganginya pelan-pelan mukena pemberian ibunya tiga tahun lalu. Warnanya sudah agak pudar. Meski sudah dicuci dengan detergen yang katanya dengan pemutih, namun waktu sepertinya menggerogoti keputihan mukena itu.

Tak lagi putih bersih seperti saat ibunya memberikan mukena itu sebagai hadiah kenaikan kelas. Tidak juga seputih mukena milik Dewi, anak pak lurah. Tidak juga seindah mukena milik Fitri, anak juragan beras yang mukenanya dipenuhi manik-manik. Mukena milik Inea putih polos tanpa manik-manik, tanpa pula renda-renda yang saat ini sedang tren.

“Mukena Inea sudah jelek. Tidak seperti miliknya Dewi dan Fitri. Sudah tiga tahun pakainya ini terus. Kapan Bu, Inea dibelikan mukena baru. Ramadhan tahun ini ya, Bu,” ujar Inea beberapa hari sebelum bulan suci tiba.

“Sabar ya nak. Nanti kalau ibu ada rejeki, pasti ibu belikan. Tapi jangan sekarang, itu adikmu kan baru saja masuk sekolah, biayanya juga banyak,” jawab ibunya.

Mukena itu masih terlipat rapi. Sambil memeganginya, Inea meletakkan rukuh itu di pahanya. Sudah tiga tahun mukena itu menjadi saksi saat Inea menghadap Sang Pencipta. Kadang bocah itu bisa memahami kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Semenjak ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, praktis ibunya yang menjadi buruh di perusahaan rokok menjadi penopang ekonomi keluarga. Namun, kadang ada rasa malu dan tidak percaya diri saat dirinya salat berjamaah di surau. Teman-teman seumurannya selalu membeli mukena baru tiap tahun dan Inea sudah tiga tahun terakhir tidak memiliki mukena baru. Inea selalu mengenakan mukena putih polos yang keputihannya terus memudar.

“Nak, sedang apa. Ayo berangkat ke surau,” teriak ibunya yang membuyarkan lamunan Inea.

Inea pun bangkit dan segera mengenakan mukena itu. Dipandangi lagi mukena yang kini telah menutupi tubuhnya. Mukena yang tidak lagi putih cemerlang. Sambil berjalan, Inea memantapkan hati tetap menggunakan mukena itu selama Ramadhan tahun ini karena Inea percaya, Tuhan Maha Melihat dan tidak membedakan umatnya dari mukena yang dikenakannya.

“Ups, hampir lupa,” ketus Inea kembali ke kamar sambil menyambar sajadah.


Europe I’m Coming…

Sudah beberapa menit Yaya terdiam terpaku tanpa kata. Matanya masih tajam menyorot buku tebal yang ada di depannya. Beberapa kali keningnya dikerutkan mencoba memahami kata demi kata dalam buku itu yang terasa asing seperti kata dari negeri antah berantah.

Kata-kata yang tertulis, bukan kata-kata yang biasa keluar dari lidah bocah 12 tahun ini. Tidak juga kata-kata yang tersimpan dalam memori otak yang pernah terekam sejak bayi. Hal yang membingungkan adalah antara ejaan dan cara membacanya tidak sama. “Itu kamus Bahasa Inggrisnya ada di kamar,” kata ibunya mencoba membantu.

Menjadi pelajar SMP kelas internasional atau bilingual adalah impiannya. Bisa sekolah di SMP paling unggulan di sebuah kota kecil menjadi kebanggan tersendiri baginya. Impian itu telah menjadi nyata dan sekarang kenyataanlah yang harus dihadapinya. Fasih Bahasa Inggris harus menjadi syarat utamanya karena faktanya hanya pelajaran Bahasa Indonesia dan Bimbingan Konseling yang bahasa pengantarnya tidak menggunakan Bahasa Inggris.

Yaya belum beranjak dari kursi dan mencoba menghadapi kenyataan yang nyatanya tak mudah seperti bayangannya. Pelan-pelan, ia mencoba memahami kata demi kata dari buku English version yang dikeluarkan Depdiknas. Bukan untuk menjawab soal dalam buku itu, namun untuk memahami apa pertanyaan soal itu baru kemudian menjawab soal itu.

“Sebenarnya itu soalnya mudah, tapi kan bahasa pengantarnya Inggris, jadi memahami dulu soalnya, baru bisa menjawab,” kata Buliknya Yaya yang ikut membantunya belajar pelajaran Matematika malam itu.

Buliknya Yaya memang guru Matematika di salah satu SMP. Namun, karena di SMP-nya tidak ada kelas internasional, semua pelajaran diajakan dengan Bahasa Indonesia. Dia mengatakan, SMP tempat Yaya sekolah memang belum matang betul untuk mendirikan kelas internasional. Sebab, para pengajarnya saja belum fasih menggunakan Bahasa Inggris.

“Lha kalau gurunya saja belum pinter Inggris, gimana muridnya bias paham apa yang dijelaskan. Kadang aku jadi bingung sendiri,” kata Yaya menimpali perkataan Buliknya itu.

Sudah menjadi tren, saat ini sekolah memberikan embel-embel sekolah standar nasional ataupun rintisan sekolah standar internasional, meski kadang sumber daya manusia dan sarana prasarananya belum siap.

Keluh kesah itu berlalu begitu saja ketika Yaya disibukkan lagi menjawab soal-soal English For Tourism (EFT) yang tentunya dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Semangatnya kembali berkobar ketika Yaya diingatkan kembali tentang mimpi-mimpi masa depannya. Mimpi tentang Eropa, mimpi tentang sepakbola di Benua Biru dan mimpi tentang Cristiano Ronaldo. Dan semangat itu telah meluluhkan keluh kesah yang tidak menjawab persoalan. “Europe I’m coming.”


Balada PHK

Dua polisi yang mengapit tubuh Har, menjadikannya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mobil polisi dengan suara sirine meraung-raung melaju kencang menuju kantor kepolisian. Kedua tangannya dipegang erat oleh kedua polisi itu.

Bercak darah masih terlihat membekas di pakaian perawat bagian ICU itu. Kedua tangannya pun masih penuh cipratan darah yang mulai mengering. Ini bukan darah pasien yang masuk ICU. Bukan pula darah korban kecelakaan yang ditangani Har. Namun darah itu adalah darah lima orang yang menjadi sasaran Har untuk menumpahkan segala kekalutan hatinya. Darah yang keluar dari mereka yang akan mengetokkan palu “kematian” pemecatan Har dari sebuah rumah sakit.

Mobil warna coklat tua itu tiba-tiba direm mendadak. Dengan cekatan, anggota polisi itu membuka pintu mobil dan langsung membawa Har keluar menuju sebuah bangunan yang di bagian atasnya tertulis “Satuan Reskrim”. Tangan kanan anggota polisi itu memegang erat leher Har, seperti memiting dan Har hanya bisa tertunduk sambil mengikuti jalannya polisi itu.

Lampu blitz dari kamera para jurnalis terus mengarah ke wajah Har. Mungkin karena malu, dengan segala upaya, Har mencoba menutupi wajahnya. Pintu sebuah ruangan langsung dibuka dan Har dibawa ke dalamnya. “Jangan difoto…jangan difoto,” ujar Har beberapa kali.

Namun, perkataan Har tersebut seakan tertelan oleh kesibukan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan yang namanya cukup menyeramkan. Ruang Unit Kejahatan Dengan Kekerasan (Jatanras). Kepalanya terus tertunduk mencoba menghindar dari jepretan kamera yang terus menghujam ke arahnya. Bagi jurnalis mungkin ini adalah adegan yang paling menarik, sebuah borgol telah disiapkan dan dengan begitu cepatnya borgol itu telah melekat di kedua tangannya, secepat rana lensa kamera mengabadikan momen itu dengan foreground sebuah parang yang masih penuh darah.

***

Surat dengan amplop warna coklat itu masih dipandanginya terus. Seakan ada kebimbangan, Har berkali-kali membaca tulisan dalam surat itu untuk sekedar memastikan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Kalimat yang begitu menghujam perasaannya adalah kalimat “meminta Saudara Har untuk datang ke Bagian Personalia jam 12.30 WIB.”

Bagi Har, surat panggilan itu seperti surat pengantar menuju “jurang kematian”. Surat yang mengabarkan sebuah dukalara seorang perawat yang telah mengabdi selama 14 tahun di rumah sakit. Skorsing selama 1 bulan telah dijalaninya dan kini surat panggilan itu akan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depannya di rumah sakit swasta itu.

Keputusan skorsing dari manajemen rumah sakit yang diterimanya bulan lalu kembali muncul dalam memori otaknya. Skorsing itu datang hanya beberapa hari setelah ada laporan jika bapak dua anak ini melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi yang sedang magang di rumah sakit itu.

Hatinya kalut ketika menerima keputusan skorsing itu meski Har juga tahu jika perbuatan asusilanya memang salah dan merupaka kategori pelanggaran berat. Hari-hari skorsing dihabiskan dengan merenung. Selain itu, Har juga beberapa kali mendatangi rumah para petinggi rumah sakit tersebut untuk meminta maaf dan memohon “pengampunan dosa”.

Rasa takut akan adanya PHK begitu terasa pada diri Har. Bukan saja soal tidak adanya tanggapan positif dari para petinggi rumah sakit itu, namun gaji yang diterima hanya 50% dari biasanya sejak skorsing juga menjadikannya semakin kalut.

Apalagi anak pertamanya masuk rumah sakit setelah menderita demam berdarah dan anak keduanya yang baru berumur 10 bulan masih membutuhkan susu yang harganya terus meroket. Memang isterinya juga bekerja. Namun, perhitungan matematika tidak masuk logika sehingga Har begitu khawatir ekonomi keluarganya bakal carut marut.

***

Sebelum berangkat ke rumah sakit memenuhi panggilan dari manajemen, Har sempat menyalami isterinya. “Yang sabar ya mas. Apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk kita,” pesan isterinya.

Bayang-bayang menjadi pengangguran terus menggelayuti pikiran. Usianya tak lagi muda, sudah 39 tahun dan Har tahu betul, dengan usianya itu, dirinya tidak akan mudah mencari pekerjaan baru. Jangankan pekerjaan baru, dari berita-berita di koran dan televisi, Har mendengar jika ribuan pekerja di negeri ini terancam kena PHK.

Sepeda motor yang dibeli secara kredit telah distater. Har sudah siap berangkat. Ada kebimbangan yang begitu besar dalam diri Har. Ketakutan akan PHK, kekhawatiran akan nasib anak dan isterinya dan bayang-bayang kesuraman masa depannya.

Roda sepeda motor itu mulai berputar pelan. Namun, hanya beberapa meter motor itu berjalan, Har langsung menghentikannya. Har langsung turun dari motornya dan kembali ke rumah. Dengan ayunan langkah kaki yang cepat, Har menuju dapur. Sebuah parang yang sudah mulai berkarat diambilnya dan dimasukkannya ke dalam tas. Dengan kemantapan hati, Har kembali menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini Har sudah mengambil keputusan. Dirinya akan menjadi “hakim” atas kebenaran yang diyakininya sebelum pimpinannya menjadi “hakim” yang akan mengetokkan palu vonis PHK terhadapnya.


%d blogger menyukai ini: