Tag Archives: Chairil Anwar

Tentang Sastra dan Hari Chairil Anwar

“Kamu itu gimana to, sukanya malah baca novel. Mbok iyao baca-baca buku aplikasi manajemen jadi bisa langsung bermanfaat bagi perusahaan,” kata kawanku kepada ku yang menirukan perkataan atasannya di perusahaan tempatnya bekerja.

Mendengar cerita kawanku itu aku sebenarnya hanya senyum-senyum saja. Aku tidak mau memberikan komentar yang berlebihan saat kawanku itu benar-benar dongkol abis saat kecintaannya pada novel digugat habis-habisan oleh atasannya dengan alasan kepentingan perusahaan.

“Emangnya ada yang salah dari novel. Udah mending aku suka baca, meskipun novel dan bukan buku-buku serius yang bikin pusing kepala dan ngantuk. Daripada aku nggak suka baca sama sekali. Coba lebih baik yang mana?” kata kawanku itu berapi-api.

Ucapan kawanku yang meledak-ledak dan bicara seperti mobil melaju kencang di jalan tol, tanpa koma dan titik sedikitpun itu aku iya-iyakan saja. Aku tidak mau berdebat dengan orang yang hatinya lagi panas. Toh, aku pikir ada benarnya juga omongan kawanku itu, lebih baik suka baca daripada tidak sama sekali. Meskipun itu novel dan apa salah kawanku itu sampai-sampai harus digugat kesenangannya pada novel.

“Kamu bisa dihitung dengan jari tanganmu, berapa orang yang suka membaca di kantorku kan, paling hanya Andi, Sisca, Deni, Maria dan aku,” lanjut kawanku.

Omongannya kawanku ini aku benarkan 100%. Bukan sok tau, tapi aku memang dulu pernah satu kantor dengan kawanku itu. Dan aku tahu budaya yang ada di kantor itu, kalau waktu senggang, jangan harap ada yang baca koran apalagi baca buku kecuali orang-orang yang disebutkan kawanku itu. Yang lainnya berkumpul di depan TV untuk nonton bareng infotainment. Bahkan, ada orang di kantor itu yang tidak perlu aku sebutkan namanya, memiliki obsesi jadi wartawan infotainment? Katanya biar bisa ketemu artis tiap hari.

Aku yang tidak memberikan komentar terhadap kataan kawanku itu, membuat dia dongkol. Akhirnya pembicaraan jadi membosankan karena kawanku itu hanya mengulang-ulangi omongannya. Bahkan, sudah mulai menyerempet ngegosipin Si Bosnya yang sebenarnya juga mantan Bosku yang katanya suka main perempuan. “Kamu itu mau cerita soal kesukaanmu pada novel yang digugat Si Bos atau malah ngegosip. Kalau mau ngegosip, gabung saja sama teman-teman kantormu itu,” kataku.

“Okey-okey. Makanya kamu kasih komentar atau saran. Bukankah novel itu sebuah karya yang juga harus dihargai. Bukankah novel, Cerpen atau puisi atau apapun itu namanya adalah sebuah karya sastra yang merupakan ekspresi manusia pada kehidupan dan bermanfaat bagi kita?” kata kawanku menjawab omonganku.

Aku tetap saja tidak memberikan komentar meski kepalaku manggut-manggut membenarkan omongan kawanku yang memang kalau sudah cerita pasti berjam-jam lamanya hingga lupa waktu. Kalau soal itu, aku juga sepakat, karya sastra harus dihargai. Namun, soal memberi manfaat, aku pikir sastra memberi tidak manfaat secara langsung. Bukan tidak bisa, tapi karena memang sastra memiliki cara lain dalam memberi manfaat bagi manusia. Aku pikir sastra tidak bekerja seperti buku praktis lainnya yang bisa memberikan panduan kepada manusia mulai dari 10 cara cepat dapat pekerjaan hingga 100 teknik bersenggama. Sastra memberikan pesan tidak langsung melalui sebuah cerita yang isinya bisa memberi makna dan manfaat bagi pembacanya.

“Kamu ingat novel Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma. Dalam novel itu kan jelas-jelas manusia harus belajar membaca. Tidak hanya membaca tulisan atau buku, namun juga membaca alam dan kehidupan. Bukankah kalau kita membaca novel kita juga bisa belajar membaca kehidupan?” tegas kawanku itu.

“Kamu nggak sekalian ngomongin novel Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin yang ceritanya tak jauh-jauh dari soal membaca dan menulis,” balasku.

“Tadi sudah kepikiran sih, tapi aku lupa judul buku itu. Novelnya ngomongin soal membaca dan menulis itu sebuah tetirahkan yang lahir dari pembiasaan itu tho,” jawab kawanku.

“Aku tuh bingung dengan arah pikiran Si Bos. Mengapa dia berpikir cekak dengan mengatakan membaca novel tidak ada artinya. Aku malah takut omongan Si Bos itu menunjukkan kedangkalan berpikirnya,” lanjut kawanku.

Aku sekarang yang kebingungan. Apa hubungannya antara membaca novel dan kedangkalan berpikir. Tapi, bisa juga itu terjadi. Membaca novel seperti kata kawanku bisa menambah kedalaman berpikir karena pembaca diajak mengarungi kehidupan, terutama novel bertemakan humanisme meskipun itu hanya fiksi. Dari pengarungan itu, pembaca bisa belajar banyak tentang kehidupan dan bisa berarti di kehidupan nyata. Tapi, aku tidak mau menerka-nerka, aku positive thinking saja pada Si Bos, mungkin dia berpikir, novel itu seperti sinetron yang lebih banyak menjual mimpi pada penontonnya.

“Tau tidak. Setelah Si Bos ngomong gitu. Aku jawab apa. Aku balas tanya Si Bos, tau tidak tanggal 28 April itu hari apa. Dan dia bilang jika tanggal 28 April hari Senin. Aku langsung ketawa, tapi dalam hati,” kata kawanku.

“Lha emang benarkan 28 April hari senin. Emangnya hari apa?” aku balas bertanya.

“Ce..elah, kamu katanya suka sastra, kok tidak tahu tanggal 28 April tu hari apa. 28 April itu Hari Chairil Anwar,” jawab dia.

“Emangnya ada hari Chairil Anwar,” aku bertanya lagi.

“Ada, bloon banget sih lo. Kemana aja lo selama ini sampe gak tahu Hari Chairil Anwar. Tanggal 28 April diambil saat tanggal meninggalnya Chairil dan akhirnya dinyatakan sebagai Hari Chairil Anwar untuk mengenang karya Chairil. Tapi menurutku, saat ini Hari Chairil Anwar tidak hanya berarti untuk memperingati dan mengenang karya Chairil saja, tapi juga karya sastra Indonesia,” kata kawanku.

Tiba-tiba saja pembicaraan aku dan kawan itu terganggu oleh suara nada panggil dari HP kawanku yang menggunakan lagu Menjaga Hati milik Yovie and Nuno. Kawanku langsung meminta aku diam. “Iya…iya, baik…baik pak. Pasti akan segera saya laksanakan pak,” kata kawanku berbicara di telepon.

“Wah dari Si Bos. Aku ada tugas dulu nih. Ini tugas mendadak, jadi udahan dulu ya ngobrolnya. Besok kita sambung lagi,” kata kawanku sambil pergi tanpa pamit.

Sebelum kawanku itu benar-benar jauh aku sempat teriak, “Woy, besok Si Bos diberi buku Dilarang Melarang Membaca Novel ya,” kataku.

Deru kendaraan yang ramai melintas di jalanan membuat kawanku tidak mendengar ucapanku. Kehidupan nyata kembali menelannya dalam sebuah labirin dengan ditemani kata-kata indah dari sebuah novel kesukaannya karya Fredy S.

 

Iklan

“Chairil Anwar” Jalanan

Bus Suharno jurusan Jogja-Solo melaju dengan kencang, pagi itu. Begitupula, lagu Honky Tonk Women-nya Rolling Stone, aku nikmati hentakan rock n roll-nya dari headset MP3-ku.

Perjalanan belum juga jauh. Cewek yang duduk di sampingku masih juga sibuk merapikan rambutnya yang terkena tiupan angin. Paling tidak, aku mencatat sudah lima kali dia harus mengeluarkan sisir dari tasnya untuk merapikan rambutnya yang diblonde mirip Dian Sastro. Tak kusapa dia, dia tak menyapaku. Kali ini aku menikmati lagunya Ipang, Ada Yang Hilang, dia sibuk melumeri bibirnya dengan lipgloss. Aku terpaku dengan diriku, dirinya juga, begitupula penumpang lainnya.

Penumpang silih berganti naik turun. Candi Prambanan tampak ujung mata. Laki-laki yang menurutku tampak kumal, tiba-tiba berteriak-teriak tak jelas di dalam bus. Sebenarnya suara lelaki itu cukup jelas, tapi efek lagu Me & Peny-nya Slank dari MP3-ku membuat lelaki itu hanya seperti membuka mulut tanpa suara.

Puisi. Kata itu yang sayup-sayup terdengar dari mulut yang kehitam-hitaman (mungkin banyak terbakar oleh rokok) lelaki yang mari kita sebut saja dia, Lelaki Sang Pembaca Puisi. Aku pun sedikit mengamati apa yang akan diperbuat selanjutnya. Tas ransel yang ada dipunggungnya langsung dibuka. Dua buku yang bentuknya teramat sangat kumal dibukanya.

Headset yang sedari tadi aku pakai, pun telah aku lepaskan lima detik sebelumnya. “Doa karya Chairil Anwar,” kata Lelaki Sang Pembaca Puisi.

“Doa”

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling*

Begitu dahsyatnya puisi itu dibawakan Lelaki Sang Pembaca Puisi sehingga deru bus Suharnopun tak juga terdengar. Lagu-lagu dari MP3-ku seakan menciut mengetahui sebuah puisi dengan begitu dahsyatnya diperdengarkan.

Paling tidak tiga buah puisi dideklamasikan di atas bus Suharno pagi itu. Namun, sayang aku hanya mengenai satu puisi yang dibacakannya. Sedangkan dua buah puisi lainnya yang katanyanya karyanya baru kudengar pagi itu. Sangat mengelora pikirku,tiga puisi dipertunjukkan di atas bus yang melaju dengan kecepatan sekitar 80 Km/jam. Kadang mengerem mendadak, kadang gas menyendal-nyendal dengan liar. Sebuah penbacaan puisi dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Puisi-puisi itu akhirnya ditutup dengan sebuah kata-kata “Salam Budaya” yang terus diucapkan Lelaki Sang Pembaca Puisi sambil menyodorkan sebuah kantong plastik warna hitam kepada penumpang. Sebenarnya, aku ingin berdiri, memberikan standing aplouse kepada Lelaki Sang Pembaca Puisi, tapi aku sedikit malu melakukannya jadinya aku hanya bertepuk tangan dalam hati saja. Aku lihat hampir semua penumpang memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukannya.

Sampai Solo aku masih terus saja kepikiran lelaki itu. Melihat apa yang dilakukannya dan apa yang dilakukan pemumpang. Bagiku, lelaki itu telah “membumikan” sebuah karya sastra kepada masyarakat secara langsung. Dan saat bersamaan pula, masyarakat mengapresiasikan apa yang telah dilakukan lelaki itu.

Aku pikir, masyarakat kita juga mencintai karya sastra dan mengapresiasikannya. Bisa jadi sebenarnya, masyarakat kita juga haus akan karya sastra untuk bisa melepaskan kepenatan hidup. Namun, kadang sastra seperti “makhluk luar angkasa” bagi masyarakat kita. Aku tak tahu apakah sastra yang tidak “membumi” atau masyarakat kita yang tidak “menyastra”. Aku hanya ingin angkat topi untuk Lelaki Sang Pembaca Puisi dan juga untuk penumpang bus yang telah memberinya apresiasi, termasuk juga cewek di sampingku yang kali ini sibuk dengan kaca dan bedak putih saat dia bersiap untuk turun di Kartasura.

Seperti kata Lelaki Sang Pembaca Puisi, “Salam Budaya”.

*Puisi Doa yang dibacakan Lelaki Sang Pembaca Puisi, aku sadur dari Buku “Aku Ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar.


%d blogger menyukai ini: