Tag Archives: DPR

Harapan yang terbajak…

“Kalau saya sih, berharap anggota DPR yang baru bisa memperbaiki ekonomi, mengurangi pengangguran dan perbaikan sistem pendidikan.”
Kalimat itu meluncur dari seorang warga yang diwawancarai seorang jurnalis TV. Harapan itu terlontar tepat satu bulan setelah pesta usai, saat mereka penyelenggara Pemilu berkewajiban mengumumkan hasil 9 April lalu.
Berjuta-juta harapan dari ratusan juta orang di negeri ini, dibebankan pada mereka yang menyandang status sebagai wakil rakyat. Pada mereka yang berjanji atau pura-pura berjanji akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Pada mereka yang biasa bersafari dan berdiskusi di Gedung Senayan.
Ada yang berharap, pendidikan gratis, ada harapan tentang jaminan kesehatan, harapan soal lapangan pekerjaan, harapan tentang kedamaian, harapan tentang perbaikan moral bangsa, harapan tentang stabilitas bangsa hingga harapan tentang perbaikan upah buruh. Harapan tentang hari esok yang lebih baik.
Di pundak mereka para wakil rakyat yang terpilih, harapan itu digantungkan. Mereka yang telah memilih para calonnya hanya bisa berharap, berharap agar harapan yang telah dititipkan tidak tercecer di tengah gegap gempitanya Gedung Senayan, tidak terselip di antara kepentingan pribadi dan kelompok dan tidak tertinggal di mobil dinas mewah anggota Dewan. Tentunya rakyat juga tidak berharap, harapan itu terbuang dan menguap begitu saja di tengah riuh rendahnya perebutan kekuasaan. Rakyat hanya bisa berharap para wakilnya tidak menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.
Segunung harapan yang ditumpuk itu, kini seakan hanyut bersama sang waktu yang terus berjalan. Harapan itu telah tergantikan oleh usaha mencari kekuasaan. Harapan itu telah pupus di tengah jalan sebelum diperjuangkan. Harapan itu telah dimusnahkan oleh naluri binatang, naluri berkuasa dan harapan itu telah dibajak oleh mereka para petinggi partai.
Mereka tidak lagi sibuk memikirkan soal memperjuangkan harapan, tidak lagi memikirkan aspirasi yang disampaikan, tidak lagi memikirkan keinginan para pemilihnya, mereka lebih memilih mencari kekuasaan. Dan yang menyakitkan, mereka berdalih, dengan kekuasaan mereka bakal lebih bisa memperjuangkan harapan itu.
Masih terlalu pagi untuk mengatakan mereka gagal memenuhi harapan ratusan juta orang di negeri ini, namun jika harapan itu telah terbajak, masihkan kita bisa berharap.

Iklan

Awas, Mengkritik Harus Santun!!!

Kritik itu biasa, manusia ada lemahnya… (Theme song Republik Mimpi)

Sudah sekitar 10 menit aku menahan tawa, aku hanya senyum-senyum saja saat pengamat politik Fajroel dan Wakil Ketua BK DPR Gayus Lumbuun berdebat seru dalam Topik Minggu Ini yang disiarkan SCTV. Pembawa acara Ario Ardi pun tak mampu membendung “kemeriahkan” debat dua orang tersebut.

Namun, aku tak mampu menahan tawa ku terlalu lama, akhirnya tawaku pecah, karena dalam debat itu Pak Gayus sepertinya tak berkutik meski berusaha membela mati-matian kredibilitas DPR yang menurut Bung Fadjroel sudah berada dititik nadir. Aku pikir perdebatan itu akhirnya malah membuka borok DPR yang selama ini berusaha ditutupi dengan ditanggapinya lagu Gossip Jalanan karya Slank oleh kalangan Dewan. Bahkan dengan lantang ada rencana menuntut Slank di pengadilan karena lagu tersebut melukai perasaan anggota DPR, meski akhirnya hal itu diurungkan.

Pak Gayus beberapa kali menyoroti lirik lagu yang tidak ada kaitannya dengan DPR yaitu lirik tentang merebaknya pelacuran, Siapa yang tau mafia selangkangan, tempatnya lendir-lendir berceceran, uang jutaan bisa dapat perawan. Vulgar, memang vulgar tapi bukankah kevulgaran juga pernah ditunjukkan seorang mantan anggota DPR lewat video mesumnya saat terlihat mesra dengan seorang penyanyi dangdut?

Pak Gayus akhirnya berbicara soal moral dan menilai lirik lagu itu tak bermoral. Dan kalau akhirnya bicara moral, aku pikir moral tidak hanya diukur dari kata-kata yang diucapkan, namun juga perilaku orang. Pak Gayus sendiri bilang jika ada aduan yang ditujukan kepada sekitar 76 anggota DPR atau hingga 100 orang DPR yang dinilai “bermasalah” entah itu soal korupsi atau masalah lainnya. Angka yang tidak kecil, kata dia. Aku tak tahu secara pasti apakah diduga melakukan korupsi, menerima suap atau masalah lainnya itu bemoral atau tidak?

Pak Gayus pun memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai sendiri lirik lagu itu dan masyarakat berkesemapatan untuk menjadi juri mana yang lebih dipercaya, apakah lirik Slank yang bilang, Mau tau gak mafia di Senayan, kerjaannya tukang buat peraturan, bikin UUD…ujung-ujungnya duit atau perkataan Pak Gayus yang bilang lagu itu tak bermoral. Kalau mengikuti polling yang dibuka selama acara disiarkan, 99% penonton acara itu lebih percaya dengan lirik lagu Slank. Aku tak tahu apakah kritik yang vulgar itu lebih tak bermoral daripada orang-orang melupakan rakyat yang semakin sengsara?

Meskipun tidak suka dengan lirik lagu itu, Pak Gayus tegas-tegas menyatakan DPR siap untuk dikritik, namun kritik yang disampaikan harus santun. Aku tak tahu lebih santun mana orang yang mencurahkan pikirannya lewat sebuah lagu vulgar atau orang yang menghabiskan uang rakyat untuk berbagai fasilitas wah?

Mungkin sudah saatnya perseteruan itu diakhiri untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai seperti kata Pak Gayus dan masyarakat bisa menjadi juri yang baik dalam masalah ini. Bukankah kamu juga ingin menjadi juri dan ikut menilainya?

NB. Mungkin suatu saat Slank perlu konser di Senayan, bukan untuk membuat kuping anggota Dewan merah, tapi untuk menyebarkan virus perdamaian. Peace!!!

NB Lagi. Aku hanya mengingatkan bagi kalian yang suka mengkritik pemerintah, DPR atau lembaga lainnya, agar mengkritik mereka dengan santun, bukan karena aku tidak suka dan merasa kalian tak bermoral dan tak santun, namun lebih agar mereka tidak memberikan tanggapan berlebihan dan melupakan tugas mereka sebagai abdi rakyat!!!


%d blogger menyukai ini: