Tag Archives: Ekonomi

Kawinan, Sembako & SBY

Hari ini kawan dekatku menikah. Setelah sekian lama menderita sebagai seorang bujang, kawanku ini menemukan belahan hatinya untuk diajak bergandengan tangan menatap masa depan. Meraih mimpi bersama-sama.

Beberapa hari sebelum hari bahagia ini, ada guratan kerisauan yang tidak bisa ditutupi. Ada kekhawatiran dari wajah kawanku ini. Bukan soal undangan yang belum tersebar, bukan soal gedung untuk tempat resepsi karena mereka resepsi di rumah dan bukan pula soal tetek bengek persiapan kawinan yang seabrek.

Kawanku risau dan khawatir soal harga Sembako. Soal kenaikan TDL. Sempat aku ketawa mendengar keluh kesahnya. Aneh rasanya seorang laki-laki bercerita tentang harga beras, cabai, bumbu masak yang konon kabarnya meroket. Tapi setelah aku pikir-pikir, dia memang layak untuk risau. Dia sah untuk khawatir.

Gaji kawanku sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal memang terbilang lumayan. Ketika dua anak muda memantapkan hati mendayung bersama dalam sebuah perahu perkawinan, maka urusannya bukan soal cinta semata, tapi juga kelangsungan ekonomi keluarga. Maka, layak kawanku ini galau. Dalam bayangannya, kawanku ini akan mulai mengarungi samudra rumah tangga dengan penuh kesederhanaan dan keprihatinan. Dia harus bersiap untuk menghitung ulang biaya kebutuhan sehari-hari rumah tangga, biaya tabungan untuk masa depan (entah melahirkan atau biaya sekolah anak), biaya listrik hingga menyisihkan tidak sedikit uang untuk membayar kredit rumah yang baru dibeli.

Dalam kerisauannya itu, tidak ada ketakutan untuk mundur menjadi calon kepala keluarga. Tidak ada kegentarannya untuk membatalkan pernikahan. Kawanku ini hanya risau membayangkan masa depan yang akan semakin berat. Akan semakin susah. Dan aku membenarkan kegalauan dan kerisauannya itu. Mimpi indah tentang pernikahan itu kini dibayangi oleh harga Sembako yang melambung, TDL yang naik.

Dia laki-laki yang baru melepas masa lajangnya selama ini tidak tahu menahu dan tidak pernah ada urusan dengan harga Sembako. Namun, kini harga Sembako itu telah merisaukannya. Mengganggu pikirannya di hari bahagiannya. Kawanku ini menjadi gambaran nasib rakyat kecil. Nasib rakyat yang selalu diliputi kegalauan dan kerisauan. Bahkan, saat menikmati sebuah kebahagiaan pun, rakyat tetap dibayangi kekhawatiran.Dia kemudian bertanya, “Bolehkah aku menggugat ini semua kepada SBY?”


Kisah Perlawanan

Sejak manusia mulai menapakkan kakinya di bumi, kisah perlawanan selalu menjadi bagian dari cerita kehidupan manusia. Tiap periode kehidupan, selalu saja ada kisah perlawanan yang muncul, bahkan, tiap epik kehidupan selalu ada saja cerita perlawanan, entah itu hanya mitos belaka atau benar-benar nyata.

Cerita tentang Robin Hood mungkin tidak pernah kita lupakan. Walaupun aku hanya tahu Robin Hood lewat layar kaca, namun konon kisah itu benar-benar nyata. Atau kisah perlawanan Si Pitung dari Betawi yang melegenda itu. Kisah perlawanannya menjadi sumber inspirasi perlawanan jaman penjajahan Belanda.

Ada juga kisah perlawanan Che Guevara yang melengenda itu. Che telah menjadi ikon perlawanan anak muda masa kini. Bahkan, mereka yang telah menggunakan kaus bergambar Che, merasa paling rebel saat ini. Ada pula cerita tentang Tan Malaka dengan 100% Meredeka-nya.

Atau kalau berbicara tentang kekinian, ada Subcomandante Marcos dengan ELZN-nya di Meksiko yang terang-terangan menolak globalisasi dan memimpikan “banyak dunia” dalam dunia ini. Kisah-kisah tentang Robin Hood, Si Pitung, Che, Tan Malaka hingga Sub Marcos, semuanya tentang kisah perlawanan, walaupun setting tempatnya berbeda, alasan yang tak sama atau maksudnya yang juga berlainan. Namun, mereka telah bercerita kepada kita tentang sebuah perlawanan. Atau mungkin lebih tepatnya perlawanan terhadap kemapanan.

Tak semuanya kisah perlawanan itu berakhir happy ending. Bahkan, sangat tidak sedikit kisah perlawanan itu, berakhir sedih atau bahkan yang ada hanya kegagalan. Tau, cerita tentang Si Pitung yang harus mati di tangan Belanda. Atau cerita Che yang tewas ditembak mati di Bolivia. Belum lagi, kisah Tan Malaka yang tewas tak tentu rimbanya.

Kadang kisah itu hanya angin lalu saja bagi kita. Bisa juga kisah itu menjadi ispirasi bagi mereka yang hendak melakukan perlawanan. Namun, apalah arti kisah perlawanan mereka, kalau kita tidak tahu apakah perlawanan itu masih dibutuhkan saat ini? Atau malahan kita benar-benar takut untuk melawan?


%d blogger menyukai ini: