Tag Archives: Hanya Cerita

J’ai Deux Amours*

Di pelataran Menara Eiffel yang anggun, kita memadu kisah. Di bawah temaram lampu-lampu menara, kau berkisah tentang masa lalu, kekinian dan masa depan.

Bulan dan bintang yang malam itu pamit, tentu kecewa tidak bisa menjadi saksi tentang kisahku, kisahmu, kisah kita. Hanya menara setinggi 325 meter itu yang menjadi saksi rekahan senyummu, matamu yang berair karena tertawa lepas, kerutan dahimu yang berpikir serius.

Sayang ini bukan musim dingin. Kalau musim dingin, aku akan mengajakmu bermain di lapangan ski es di tingkat pertama menara. Membetulkan resleting jaketmu untuk melawan hawa dingin. Mengikatkan tali sepatu skimu dan memastikan semuanya sempurna dan tak lagi mengkahawatirkanmu jatuh. Saat kau limbung di tengah lapangan ski es, raihlah tanganku, aku akan setia mengandengmu.

Aku mengingatkanmu, 10 September 1889 Thomas Edison meninggalkan pesan di buku tamu Menara Eiffel “Kepada Tn Eiffel sang insinyur, sang pembangun berani arsitektur modern besar dan asli dari sesorang yang memberikan penghargaan besar untuk semua insinyur termasuk sang insinyur besar sang Bon Dieu, Thomas Edison.”

Kepada Gustave Eiffel, sang perancang menara itu aku meninggalkan pesan, “Terima kasih telah menciptakan menara untuk memadu asmara. Terima kasih telah menciptakan menara berbobot 7.300 ton besi yang membuat kami memadu hati.”

Kau bertanya padaku tentang cinta. J’ai deux amours. Aku mempunyai dua cinta. Pertama, cintaku kepada diriku sendiri, kedua, cintaku kepada…kau.

Dia merebahkan kepalanya di dadaku. Di telinganya, kubisikkan kata-kata, “Je t’adore, ma petite sorite! Kaulah yang menjadikan kemala hikmat, anjunganku.”** Sungguh, Paris terlalu romantis.

*Subjudul dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.

**Kalimat yang dikatakan Ivan Alminsky kepada Marcelle dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.


Pasar di Kotaku

Mengapa pedagang bumbon di pasar tradisional selalu didominasi mereka yang telah berusia senja? Kenapa warung-warung makan di pasar selalu meninggalkan genangan air sisa piring dicuci?

Pasar yang menampung pedagang pakaian, warung makan, penjual VCD bajakan, pernak perik, sepatu, jajanan pasar, bumbon, Sembako, buah-buahan, buku pelajaran, tukang cukur rambut, toko emas, ikan asin, bibit minyak wangi, servis jam tangan hingga peralatan pertanian memiliki keunikan tersendiri.

Bau khas bumbu-bumbu untuk masakan yang mulai membusuk menyeruak di antara los-los sempit. Entah dengan alasan apa dari dulu kala, los-los itu berada di sudut paling belakang pasar. Mungkin agar bau khas itu tidak menyengat ke semua penjuru pasar atau mungkin juga ada usaha sistematis mengasingkan para pedagang yang hampir semuanya berusia senja itu dalam sebuah deretan panjang los-los itu sehingga tempat itu lebih mirip panti jompo.

Terpal plastik yang melindungi pedagang peralatan pertanian dari terik matahari dan derasnya air hujan sudah banyak yang bolong. Di tengah-tengah cangkul, sabit, linggis, pedagang yang rambutnya telah beruban dengan gigi ompongnya sering terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Layaknya los-los pedagang bumbon, deretan panjang kios peralatan pertanian yang sepi juga seperti panti jompo khusus laki-laki. Entah mengapa pula kios peralatan pertanian itu bersebelahan dengan los bumbon.

Ketika sebuah barisan panjang para pedagang menawarkan beraneka ragam dagangan mulai dari ikan asin, sepatu, buah-buahan, daging ayam, gethuk yang berwarna-warni maka yang ada adalah kesemrawutan. Celah antar los-los sudah dipenuhi barang dagangan yang menggunung. Melintas di tengah kesemrawutan itu seperti membutuhkan keahlian khusus. Berhati-hati agar kaki tidak menendang tumpukan kardus atau keranjang barang dagangan, waspada dengan pedagang yang jongkok menata dagangan di tengah gang sempit pasar, berjalan pelan kadang menepi agar tidak saling bertabrakan saat berpapasan dengan orang lain dan yang paling penting selalu fokus pada kayu-kayu atap pasar agar kepala tidak beradu dengan kayu-kayu yang menyembul tak beraturan dengan ketinggian tidak lebih dari 1,75 meter itu.

Asap dari panci-panci yang nangkring di kompor membumbung, menyebar memberikan aroma nikmat hingga lidah bergoyang-goyang dan perut bernyanyi rock n roll. Aroma itu menggugah naluri dasar manusia untuk memamah dan aroma itu seperti panggilan dari si empunya pemilik warung, “Mari silahkan masuk warung kami, nikmati hidangan terenak hari ini.” Namun, sensasi aroma itu hanya bisa dinikmati sekian detik karena yang ada berikutnya adalah sensasi perut mulas dan wajah berkerut seperti menahan sesuatu setelah melihat genangan air comberan menyatu dengan warung-warung makan itu. Air itu adalah kombinasi dari air cucian piring, air sisa minuman entah teh atau jeruk, kuah dari makanan hingga air bersih agar kombinasi air itu tidak terlalu didominasi air cucian piring atau kuah makanan.

Hal yang paling melegakan ketika menyusuri gang-gang pasar adalah melintas di deretan kios pakaian. Tak ada bau aneh-aneh, tak ada genangan air yang kadang bikin merinding. Yang ada adalah deretan pakaian di elatase sehingga menggugah naluri belanja. Belum lagi para penjaga toko yang masih muda dan kebanyakan perempuan dengan bedak tipis di wajah, dengan lipgloss di bibir, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai, dengan Ponsel di genggaman tangan dan tentunya dengan pakaian yang mencerminkan kekinian. Yang paling menarik adalah deretan toko pakaian di lantai dua pasar yang seakan menjadi toko-toko trend center berpakaian anak muda zaman sekarang di kotaku. Anak muda zaman sekarang di kotaku tidak dianggap mengikuti tren berpakaian jika belum menginjakkan kaki di lantai dua pasar ini. Layaknya deretan factory outlet (FO) di Kota Kembang, layakan deretan distro di bilangan Seturan, Jogja, lantai dua pasar ini dipenuhi anak muda yang di dada mereka seperti ada tulisan “Muda, beda dan berbahaya.”*

Itulah pasar di kotaku. Pasar yang dijejali lebih dari 1.000 pedagang untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, roda ekonomi kota ini. Pasar yang seakan menjadi panti jompo bagi pedagang bumbon dan peralatan pertanian, namun juga menjadi kiblat berpakaian anak muda zaman sekarang.

*Lirik lagu Jika Kami Bersama (Superman Is Dead).


Aku, buku tulis & traffic light

Lampu traffic light di sudut pasar kotaku itu menjadi saksi, dua bocah kecil menantang kerasnya hidup. Selama bertahun-tahun lamanya, setiap libur sekolah menjelang tahun ajaran baru, tepat di bawah lampu traffic light itu, mereka mencoba meraih asa dengan berdagang.

Tahun ajaran baru adalah tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Bagi mereka yang beruntung memiliki rezeki lebih, maka selalu ada yang baru di tahun ajaran baru. Mulai dari sepatu baru, tas baru, seragam baru hingga ikat pinggang baru. Bagi mereka yang rezekinya pas-pasan, tahun ajaran baru tetap memiliki magnet. Paling tidak mereka tetap harus membeli buku tulis baru.

Ada Sinar Dunia, Big Boss, Mirage, Kiky hingga AL. Ketebalan bukunya pun berbeda-beda, ada yang 36/38, 50, 58 hingga 72. Angka-angka itu menunjukkan jumlah lembaran kertas buku tulis yang selalu menjadi incaran siswa saat tahun ajaran baru. Ada yang memilih karena kertasnya halus, tidak dipedih di mata, harganya murah hingga gambar sampul buku tulis.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul begitu saja. Berjualan buku tulis saat libur sekolah. Dua bocah yang disokong modal ratusan ribu rupiah dari kedua orangtua mereka akhirnya memulai petualangan berdagang. Dua bocah itu tidak lain adalah aku, siswa kelas I SMP Muhammadiyah dan kakak sepupuku, Fathur, siswa kelas III SMP pesantren.

Dua kardus besar berisi buku tulis menjadi modal awal kami. Ditambah juga rak-rak buku berbentuk susun berbahan plastik menjadi tempat dasaran. Di bawah lampu traffic light, sudut timur laut pasar di kotaku, naluri berdagang dua bocah itu diasah. Soal rak-rak buku itu yang menjadi aneh. Rak buku yang seharusnya berada di dalam kamar kami, dipaksa bermigrasi menuntaskan kegilaan kami.

Beberapa hari berlalu sejak pertama berjualan buku tulis, kami merasa ada hal yang aneh dengan rak buku itu. Rasa-rasanya rak buku itu terlalu pendek sehingga orang yang berlalu lalang tidak memerhatikan dagangan kami. Alhasil, dalam beberapa hari pertama berjualan, selalu saja sepi. Mendekat saja enggan, apalagi menawar, apalagi membeli. Sempat aku dan kakak sepupuku patah arang, namun kami diselamatkan dengan adanya penemuan besar yaitu kotak kayu yang biasa digunakan untuk pengiriman telur milik budhe-ku.

Kotak kayu yang terbuat dari blabak tipis itu menyelamatkan kami dan juga semangat kami karena setelah kami menggunakan kotak kayu itu, pembeli mulai berdatangan dan kami juga bersyukur karena rak buku yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan buku pelajaran sekolah kami bisa terselamatkan dan kembali ke khitahnya.

Tahun pertama berjualan buku adalah tahun terberat. Selain karena kami masih miskin pengalaman dalam dunia perbukuan tulis, kami juga harus bersaing dengan pedagang buku tulis lainnya yang menjamur setiap libur sekolah. Persaingan tidah hanya terjadi di pasar karena saling merebut hati pembeli agar mau membeli buku dagangan. Belum lagi kadang ada pedagang yang sengaja merusak harga pasar dengan menurunkan harga jual buku tulis hingga batas limit.

Perang urat syaraf juga sering terjadi di toko tempat kulakan buku tulis. Sesama pedagang kadang saling berebut buku-buku tulis yang laris di pasaran, terutama menjelang libur sekolah usai. Faktor kebocahan kami sering membantu. Pelayan toko tempat kami kulakan buku sering kasihan dengan kami yang harus bersaing dengan orang dewasa. Akhirnya mereka pun sering rela menyembunyikan buku pesanan kami agar tidak disambar pedagang lain. Dan yang membuat kami untung, tentunya rasa belas kasihan dari pembeli buku tulis. Banyak pembeli yang mengutarakan rasa belas kasihan kepada kami bocah-bocah ingusan yang di bawah terik matahari mencari sepeser rezeki.

Dari modal awal ratusan ribu rupiah, aku dan kakak sepupuku meraup untung yang lumayan. Untung itu kami bagi dua sama rata dan nilainya yang masing-masing kami terima hampir sama dengan besarnya modal awal itu. Dan uang ratusan ribu rupiah itu aku dapatkan setelah hampir sebulan penuh bekerja mengisi waktu libur sekolah. Uang pendapatan halal pertamaku.

Tahun kedua saat libur sekolah tiba, kami semakin menggila. Selain adanya tambahan modal, kami juga mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Modalnya masih ratusan ribu rupiah, namun sudah mendekati angka 1 juta rupiah. Angka yang besar bagiku, bocah kelas II SMP. Tambahan sumber daya manusia itu tidak lain adalah saudara sepupuku lainnya, Nani dan dua teman kecilku, Fakih dan Ardi.

Setelah melewati fase pengalaman pertama, kami berani mengklaim diri kami “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah.” Pengalaman tahun pertama benar-benar mengajarkan kami tentang bagaimana merayu pembeli ibu rumah tangga, pembeli bapak-bapak, pembeli pelajar SD, ataupun pelajar SMP dan SMA. Khusus untuk pelajar SMP dan SMA dan khususnya lagi yang jenis kelaminnya berbeda dengan kami semua, teman saya Ardi memiliki jurus maut meruntuhkan hati mereka untuk membeli buku tulis dagangan kami. Kotak kayu untuk pengiriman telur masih setia menemani kami. Namun kami tambah dengan rak kayu yang berjenjang seperti anak tangga untuk mempercantik tempat dasaran kami.

Persaingan dengan pedagang lain pun sudah tidak terlalu kami risaukan. Untuk memantau harga buku tulis di pedagang lainnya, kami sering mengutus saudara sepupu kami, Nani berpura-pura menjadi pembeli. Persaingan di tempat kulakan juga sudah bisa kami atasi, Cacik dan Koh, pemilik toko tempat kulakan sudah memberi kami kepercayaan, kami bisa masuk gudang dan mengambil langsung buku tulis yang ingin kami beli.

Libur sekolah tahun itu kami tutup dengan kesuksesan. Slogan “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah” membawa kami dalam peta pecaturan dunia perbukuan tulis. Kami tidak lagi dianggap sebelah mata, tidak lagi dianggap bocah ingusan yang belajar berdagang buku tulis. Dan sudah barang tentu, keuntungan yang didapat semakin berlipat-lipat.

Tahun-tahun berikutnya, libur sekolah dengan berjualan buku tulis menjadi bagian terindah dalam hidup kami. Dengan gilang gemilang kami mencatatkan diri sebagai pedagang buku tulis termuda dan meraih hasil yang luar biasa. Modal berdagang telah menembus angka belasan juta rupiah. Tidak hanya di bawah traffic light saja kami berjualan, namun juga menggunakan mobil untuk berkeliling kota-kota mulai dari Kutoarjo, Kota Gede, Prambanan, Wonosari, Purworejo dan Temanggung. Selain buku, kami juga melengkapi diri dengan dagangan pendamping yaitu alat tulis murah meriah. Tiga biji pulpen dengan harga 1.500 perak hingga 4.000 perak. Dagangan pendamping itulah yang akhirnya menjadikan kami meraih puncak kesuksesan berdagang.

Tiga tahun setiap libur sekolah kami berada di masa keemasan. Kalau pemain sepak bola ibaratnya di puncak karier. Selalu mencetak gol kalau seorang striker, selalu menjadi palang pintu yang kokoh kalau seorang bek dan menjadi penyelamat penepis bola-bola lawan jika menjadi kiper. Tahun keemasan itu harus ditutup. Tahun ketujuh libur sekolah atau tahun pertama saya masuk jenjang kuliah, roda berputar. Kami berada di titik terendah dan usaha bedagang buku tulis kami tutup usia untuk selamanya.

Kini, beberapa tahun kemudian, di bawah traffic light sudut pasar itu tidak ada lagi teriakan bocah-bocah menawarkan dagangannya, tak ada lagi keceriaan bocah-bocah mengisi waktu libur sekolah dengan berdagang. Di bawah traffic light itu bercokol pedagang bawang merah dan bawang putih yang lesu menawarkan dagangannya karena harga bombon itu selangit.


Senyum Terindah Sang Pendidik

Mata Bu Guru Ela sudah sebam sedari tadi. Sudah habis air matanya. Ia hanya bisa senggugukan. Sapu tangan kecilnya sudah basah oleh air mata, air mata kesedihan yang saat ini belum terobati. Kedua tangannya masih enggan terlepas dari punggung Bu Guru Al. Dua guru beda generasi itu masih berpelukan, sebuah pelukan tentang perpisahan.

Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Layaknya sekolah dasar pada umumnya, semua guru bersiap menyambut datangnya siswa-siswi baru kelas I. Memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru dan berharap pendidikan bagi anak-anak semakin baik serta sambil juga berharap kesejahteraan bagi para pendidik ada perbaikan. Harapan itu tersimpan dalam setiap relung hati pada pendidik SD di sebuah kota kecil. Sebuah SD swasta di bawah bendera persyarikatan Muhammadiyah.

Bukan sekolah yang menyandang gelar sekolah unggulan yang memunggut biaya selangit. Bukan pula sekolah dengan segudang fasilitas lengkap. SD itu hanya SD biasa, selayaknya SD pada umumnya yang beberapa tahun terakhir melahirkan prestasi jempolan sehingga menarik minat ratusan orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SD itu.

Tangis Bu Guru Ela belum mereda. Bu Guru Yas, Bu Guru Kastini, Bu Guru Warni yang mengelilingi Bu Guru Ela dan Bu Guru Al semuanya terdiam. Menahan air mata agar tidak terlalu deras mengucur. Saling menguatkan hati sambil berangkulan. Pak Guru Hadi yang duduk tidak jauh dari mereka menatap jauh keluar ruang guru, menerawang harapan tahun ajaran baru di sekolah itu.

Harapan indah tahun ajaran baru di SD itu belum terkembang, namun kabar pagi itu seakan melayukan harapan. Kabar yang keluar langsung dari bibir Bu Guru Al seakan menjadi petir di siang bolong yang cerah.

“SK ini baru turun kemarin. Perhari ini saya dipindahtugaskan ke SD Negeri,” ucap Bu Guru Al terbata-bata di hadapan semua guru.

Kabar itu meruntuhkan semangat dan impian guru di SD kampung itu. Baru beberapa hari yang lalu, saat sekolah masih libur, Bu Guru Al yang menahkodai SD itu melecutkan semangat guru-guru untuk meraih impian baru di tahun ajaran baru.

Impian tentang prestasi akademik murid, impian tentang gedung sekolah baru, impian tentang kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak, impian tentang fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang representatif, impian tentang perbaikan sistem pembelajaran di kelas, impian tentang nama harum dan tinta emas prestasi SD yang bukan SD unggulan itu.

Sebagai sebuah SD underdog, guru-guru SD itu paham benar hanya lewat prestasi, nama SD itu akan dicatat dengan tinta emas. Sebagai SD swasta, mereka sadar betul, berdikari dan mandiri akan menjadikan SD itu bisa bersaing dengan SD Negeri. Sebagai SD yang sebenarnya tidak diprioritas dan diunggulkan di persyarikatannya, mereka terpacu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka dan selama beberapa tahun terakhir ini mereka, guru-guru itu telah membuktikannya.

Sudah dua periode Bu Guru Al menjadi orang yang paling dituakan di SD itu sebagai kepala sekolah. Selayaknya nahkoda perahu, dia tidak pernah berkata karena saya perahu ini bisa mengarungi samudera. Dia selalu mengatakan, “Karena awak-awak perahu yang gagah berani dan cekatan, penumpang yang taat dan patuh, perahu ini bisa melaju melintasi badai dunia pendidikan.”

Karena mereka semualah, sinergitas antara guru, murid dan tentunya orangtua, SD yang bukan SD unggulan itu diperhitungkan dalam percaturan dunia pendidikan di kota kecil itu. SD biasa yang bisa bersaing dengan SD unggulan dari segi prestasi akademik ataupun nonakademik.

Mendung tebal masih menggelayuti ruang guru, meski cuaca di luar sebenarnya cerah. Hampir semuanya berwajah muram. Tak ada senyum mengembang dari para pendidik itu. Tak ada pancaran optimisme dari wajah para pahlawan pendidikan itu.

Bu Guru Ela, guru tidak tetap dan termuda di SD itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia terdiam. Mulutnya terkunci rapat menahan duka. Bu Guru Warni, guru paling senior yang baru saja pensiun, namun tetap mengabdi di SD itu karena kecintaannya hanya menundukkan kepala. Pak Guru Hadi masih menerawang jauh melihat siswa-siswi bermain, berlarian di halaman sekolah. Bu Guru Kastini, guru paling sabar itu duduk lesu di sudut ruangan.

Tanpa kata mereka saling tahu dan paham apa yang mereka rasakan hari itu. Hari di mana mereka kehilangan nahkoda yang tegas tapi bijaksana, yang keras tapi lembut, yang tidak hanya memerintah tapi memberi contoh, yang tidak hanya berkata-kata tapi juga mendengar.

Setelah sekian lama ruang itu sunyi senyap tanpa kata, Bu Guru Al angkat bicara. “Hapus semua air mata dan duka. Hari esok telah menanti. Sambutlah hari itu dengan semangat dan optimisme. Hari di mana gilang gemilang SD ini akan dicatat dalam tinta emas. Saya percaya semua kawanku, saudaraku semuanya bisa mewujudkan semua harapan dan impian SD ini.”

Senyum terindah pun akhirnya mengembang dari para pendidik dan mendung tebal telah pergi dari ruang guru yang sempit itu.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk Bundaku tercinta dan semua guru di sebuah SD biasa yang luar biasa.


Akulah pelacur itu

Azan subuh baru saja menggema. Aku masih terkulai lemas di salah satu kamar hotel murahan di sudut kota ini. Ku bakar rokok mild menthol untuk mengembalikan kesadaranku yang belum sepenuhnya pulih.

Sepertinya terlalu banyak alkohol kutenggak malam ini. Banyak juga pelanggaran yang minta service lebih. Sungguh malam yang melelahkan.

Lampu temaram kamar tak membantuku mencari pakaian dalamku. Entah di mana BH-ku berada. Entah di mana celana dalamku berada. Yang aku tahu pasti pelanggaran terakhirku telah pergi beberapa menit sebelum azan menggema sambil meletakkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di meja samping tempat tidur.

Asap rokok memenuhi kamar yang berbau apek. Rokok mild menthol di tangan sudah hampir habis. Entah mengapa, pagi ini aku malas meninggalkan hotel murahan ini. Aku sedang ingin menikmati kesendirian ini setelah semalaman bekerja. Tanpa pelanggan, tanpa alkohol, tanpa kondom, hanya rokok mild menthol saja.

Tanpa sehelai pakaian aku menuju kamar mandi, mencuci muka, kencing dan berharap bisa membuang dosa malam ini. Ya, dosa malam ini dan semoga juga dosa malam-malam sebelumnya. Dari kaca kamar mandi aku bisa memandangi seutuhnya tubuh ini, tubuh bugil, tubuh yang sering diolok-olok tubuh seorang pendosa.

Aku maklum saat orang-orang menanggilku dengan sebutan pelacur. Aku sadar sepenuhnya profesi yang aku jalani karena aku memang seorang pelacur. Pelacur jalanan yang semalam bisa melayani lima hingga enam orang berturut-turut. Pelacur murahan yang dibayar setelah orang-orang menikmati tubuhku. Orang yang dibayar karena bisa memberi kenikmatan tubuh bagi orang lain. Itulah aku. Aku tidak menampiknya sama sekali.

Aku tidak akan membela diri dengan mengatakan “Aku melakukan ini semua karena alasan ekonomi.” Meski harus kukatakan, aku membutuhkan uang untuk hidup, aku melakukan ini semua dengan kesadaran diri seutuhnya.

Dalam lapisan masyarakat beradab, aku mungkin berada paling bawah dalam lapisan itu. Manusia hina yang menjual tubuhnya. Apakah aku memang sehina itu?

Aku tidak menggugat keadaanku. Kalau aku dikatakan orang hina, akupun terima, meski kadang masyarakat menjadi hakim yang salah menilai dan mengambil keputusan.

Aku adalah aku. Pelacur jalanan yang menjual tubuh, namun tetap memiliki harga diri. Ya, harga diri. Silahkan tidak percaya, tapi aku memegang teguh harga diriku. Tubuhku bisa dinikmati orang. Setiap inci lekukan tubuhku bisa dijamah orang, tapi tidak jiwaku.

Aku memang penjual tubuh, tapi bukan penjual jiwa. Aku menawarkan seni bercinta, namun aku tidak memberikan cinta. Aku mengajak untuk menikmati malam dengan segala keliarannya, namun aku tidak menawarkan kasih sayang.

Aku memang hina, tapi bukan paling hina. Aku memang pelacur, tapi tidak menjual jiwa. Dan terhinalah orang-orang yang menjual jiwa mereka.

“Kukuruyukkkkkkkk…..”

Kokok ayam jago membuyarkan lamunanku pagi ini.


Bukan Intel Sukab

Ini bukan cerita tentang Intel Sukab yang melegenda setelah dikisahkan Seno Gumira Ajidarma. Bukan sebuah kisah tentang seorang intel polisi yang mencoba mengendus gelagat aksi kejahatan atau intel polisi yang memilih menjadi beking di tempat hiburan malam.

Ini cerita tentang intel yang biasa mengamankan aksi demonstrasi. Intel yang suka memanggul kamera video untuk kepentingan kepolisian. Sosok intel muda yang “salah mengambil langkah”. Intel Dudung namanya.

Baru dua tahun, Intel Dudung bertugas di kota ini. Kota yang sedang menggeliat sebagai penyangga dua ibukota provinsi di Jawa. Tak ada yang terlalu menonjol dari Intel Dudung, dia layaknya polisi pada umumnya, dan anggota intel pada khususnya.

Ketidakmenonjolkan Intel Dudung ini menjadikannya tidak menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Anggota satu korps yang berlainan satuan saja belum banyak yang mengenalnya.

Namun, kejadian disuatu malam, membalikkan itu semua. Dari yang tidak menonjol, menjadi dicari-cari. Dari yang tidak dikenal menjadi ingin tahu. Pagi itu berhembus kabar, Intel Dudung ditangkap. Kabar yang beredar, dia diduga ikut terlibat kasus perampokan taksi.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang menduga. Semuanya bertanya-tanya. Bahkan, pimpinannya pun dibikin bingung bukan kepalang karena belum bisa mengkonfirmasikan kabar penangkapan itu. Dua buah handphone milik Intel Dudung tak bisa dihubungi. Kecurigaan akan penangkapan itu semakin menguat. Hari itu dan mungkin hari-hari berikutnya Intel Dudung bakal jadi buah bibir di kantor kepolisian kota ini.

Semuanya bertanya-tanya mencoba menelisik akan kepastian kabar itu. Ada yang mencoba menghubungi wartawan yang dianggap lebih tahu tentang kabar itu. Ada yang berbisik-bisik kecil di tengah bekerja sambil mengkisahkan tentang keseharian Intel Dudung. Ada yang merayu jurnalis foto yang mungkin memiliki foto penangkapan itu atau setidaknya foto Intel Dudung.

Ada yang langsung menjadi “hakim” dengan menyalahkan perilakunya. Ada yang mencoba bersikap netral, ada yang melihat dari sudut pandang pendapatan anggota polisi dan ada pula yang acuh tak acuh. Namun, pertanyaan besar akan penangkapan itu belum juga terjawab. Mungkin sore itu, mereka pulang dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

Hari itu, mungkin ribuan kali orang-orang di kantor kepolisian itu menyebutkan nama Intel Dudung. Dan pagi harinya, seakan memberikan jawaban, semua koran di kota ini mengkisahkan tentang penangkapan Intel Dudung.


Mengejar Mimpi

Mataku terbuka yang ada hanyalah gelap. Aku terjaga dari mimpi buruk yang tak kutahu artinya. Bau asap rokok masih terasa di kamar kosku yang teramat sempit. Belum sepenuhnya aku benar-benar “utuh”. Mungkin masih setengah sadar setelah aku tadi tertidur pulang kerja.

Kutarik nafas dalam-dalam dan kucoba memahami kehidupan yang belum “utuh” ini. Butuh beberapa menit untuk aku kembali menjadi manusia yang punya logika dan rasa. Kuangkat kaki dan membuka pintu kamar meski aku tau angin malam yang dingin segera masuk ke kamarku.

Air putih dari gelas plastik ku teguk perlahan. Dalam gelapnya kamarku, tanganku meraba mencari bungkus rokok. Nyala api yang membakar ujung rokok menjadikan kamar sedikit terang meski hanya sesaat. Aku melangkah keluar untuk menghilangkan rasa sumpek di dalam kamar yang terasa semakin sesak saja.

Malam telah benar-benar pekat dan tak ada nyanyian dari binatang malam untuk sekedar menjadi penghibur rasa kesepian. Langit yang tak memberikan bintang dan bulan ku pandang sebentar. Sedikit kecewa karena hanya langit yang hitam pekat meski tidak hujan.

Aku duduk di kursi panjang ada di depan kamar. Asap rokok terus keluar dari mulut dan aku merenung. Entah apa yang kurenungkan. Aku hanya mengingat tentang masa depan. Mungkin hanya khayalan, namun terasa indah ketika alam terlalu sedih karena tidak memberikan cahaya kebahagiaan malam.

Hisapan panjang aku habiskan dan pintu kamar tak lupa aku kunci. Aku langsung rebahan di kasur dan berharap mimpi indah. Mimpi itu harus kukejar mulai malam ini.


%d blogger menyukai ini: