Tag Archives: Hanya Kisah

Mengejar Mimpi

Mataku terbuka yang ada hanyalah gelap. Aku terjaga dari mimpi buruk yang tak kutahu artinya. Bau asap rokok masih terasa di kamar kosku yang teramat sempit. Belum sepenuhnya aku benar-benar “utuh”. Mungkin masih setengah sadar setelah aku tadi tertidur pulang kerja.

Kutarik nafas dalam-dalam dan kucoba memahami kehidupan yang belum “utuh” ini. Butuh beberapa menit untuk aku kembali menjadi manusia yang punya logika dan rasa. Kuangkat kaki dan membuka pintu kamar meski aku tau angin malam yang dingin segera masuk ke kamarku.

Air putih dari gelas plastik ku teguk perlahan. Dalam gelapnya kamarku, tanganku meraba mencari bungkus rokok. Nyala api yang membakar ujung rokok menjadikan kamar sedikit terang meski hanya sesaat. Aku melangkah keluar untuk menghilangkan rasa sumpek di dalam kamar yang terasa semakin sesak saja.

Malam telah benar-benar pekat dan tak ada nyanyian dari binatang malam untuk sekedar menjadi penghibur rasa kesepian. Langit yang tak memberikan bintang dan bulan ku pandang sebentar. Sedikit kecewa karena hanya langit yang hitam pekat meski tidak hujan.

Aku duduk di kursi panjang ada di depan kamar. Asap rokok terus keluar dari mulut dan aku merenung. Entah apa yang kurenungkan. Aku hanya mengingat tentang masa depan. Mungkin hanya khayalan, namun terasa indah ketika alam terlalu sedih karena tidak memberikan cahaya kebahagiaan malam.

Hisapan panjang aku habiskan dan pintu kamar tak lupa aku kunci. Aku langsung rebahan di kasur dan berharap mimpi indah. Mimpi itu harus kukejar mulai malam ini.


Perang & Gadis Ilalang (4)

Marcos mengamati langit yang mulai berpendar. Saat meninggalkan rumah, ia lupa membawa jam tangan. Namun, dia memperkirakan saat ini sudah jam 5 sore. Langit yang berpendar, warna kuning kemerah-merahan merupakan senja yang sempurna. Marcos membayangkan jika menikmati senja yang sempurna itu dari taman belakang rumahnya. Namun, itu semua hanya impian, pikir Marcos.

Maria masih rebahan di pundak kanannya melepas penat. Cahaya senja menembus padang ilalang yang luas. Pantulan cahaya pada batang-batang ilalang memberikan warna dan sensasi tersendiri pada negeri Revolusi yang baru dirundung duka.

Marcos membelai rambut Maria dan bibirnya mengecup halus jidat isterinya. “Sayang, sebentar lagi malam, saatnya kita meneruskan perjalanan,” kata Marcos.

Maria hanya menganggukan kepala. Mungkin ia sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Belum lagi Si Kecil yang ada dalam perutnya sepertinya terus bergejolak selayaknya negera itu yang dipenuhi gejolak peperangan. Dua anak manusia yang dipadukan atas nama cinta itu berdiri dan mulai melangkahkan kaki.

Marcos menuntun Maria. Ia tahu, isterinya sudah sangat lelah. Marcos dan Maria saling membisu, tak ada kata yang ucap. Kedua-duanya menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. Ilalang yang tinggi disibakkan untuk membuka jalan. Marcos sebenarnya tidak tahu arah kemana mereka pergi. Mereka seperti dalam sebuah labirin tanpa ujung.

Batang-batang ilalang yang disibakkan menimbulkan suara unik. “Tak..tak…tak.”

Ketika keduanya membisu, hanya ada suara tak…tak..tak dari batang ilalang yang patah. Senja yang sunyi, pikir Marcos.

Langit sudah mulai menghitam dan kelam. Marcos sadar, tanpa penerangan ia harus berhenti dari perjalanan itu. “Kita tidak membawa senter dan bulan sepertinya tidak akan bersinar malam ini. Kita cari tempat yang aman untuk istirahat saja,” ujar Marcos.

Untuk kesekian kalinya Maria tak menjawab. Marcos memakluminya. Ia sangat yakin isterinya sudah bertahan sekuat tenaga agar bisa berjalan jauh dengan kondisi mengandung tua. Marcos akhirnya menemukan tempat yang tepat untuk isirahat. Tanahnya cukup rata dan bersih. Marcos memotong batang-batang ilalang untuk alas istirahat. Maria duduk lesu tanpa gairah.

Setelah membuat alas istirahat dari batang-batang ilalang, Marcos duduk dan isterinya rebahan. Kepala Maria ada di kaki Marcos. Dibelainya rambut tipis isterinya. Maria hanya memejamkan mata seakan menikmati setiap belaian yang dirasa. “Sayang, aku lapar,” hanya itu yang diucapkan Maria.

Tangan Marcos langsung menyahut tas punggungnya. Dibukanya tas itu dan langsung mencari air mineral yang tersisa dan makanan ringan yang sempat dibawanya. “Hanya ini yang tersisa. Maafkan aku ya sayang. Aku tidak memberikan yang terbaik saat kau…,” kata Marcos.

Belum selesai Marcos menyelesaikan ucapannya, Maria sudah memegangi mulut Marcos dengan jarinya. “Tak ada yang salah dan tak ada yang patut dipersalahkan. Jangan salahkan dirimu. Aku baik-baik saja,” kata Maria sambil membuka bungkus makanan ringan yang disodorkan Marcos.

Keduanya menikmati makanan ringan itu. Tak terlalu enak dan mengenyangkan, namun apa daya, sudah sejak siang hari perut mereka belum terisi makanan, sehingga makanan ala kadarnya pun terasa nikmat jika perut benar-benar sudah merintih perih.

Kelelahan yang teramat sangat menjadikan Maria terlelap setelah menghabiskan dua bungkus makanan ringan. Marcos masih terjaga. Dibelainya rambut isterinya. Kepalanya mendongak ke atas melihat langit yang kelam. Tak ada bulan. Bintang yang ada pun redup cahayanya seakan enggan menyinari negeri itu yang baru berlumuran darah dan air mata. Bintang seakan tidak mau menjadi saksi mata atas kekejaman manusia.

Sebelum memejamkan mata, Marcos sempat mencari batang-batang ilalang kering. Dikumpulkannya batang-batang itu untuk kemudian dibakar agar menjadi penghangat malam. Asap tipis mengepul dan cahaya redup dari batang ilalang yang terbakar menyinari malam. (Bersambung)


%d blogger menyukai ini: