Tag Archives: Indonesia

The power of football

Aku meninggalkan layar televisi yang baru saja menyiarkan final Piala AFF 2010 dengan rasa duka dan suka. Aku berduka karena Indonesia gagal jadi juara. Aku suka karena tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan.

Dulu setiap kali tim sepak bola negeri ini bertanding, entah dalam ajang apapun, kekalahan itu hanya membawa duka dan luka. Kekalahan yang selalu diratapi hingga akhirnya berusaha mencari kambing hitam atas kekalahan yang menyesakkan dada.

Malam kemarin memang kekalahan itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Kekalahan yang tetap menghadirkan migran di kepala. Namun dalam dada masih terselip rasa bangga dan bahagia. Bangga karena kemenangan lawan tidak diberikan secara cuma-cuma, bahagia karena Firman Utina dan kawan-kawan telah menghadirkan cinta dari lapangan bola.

Firman, El Loco Gonzales, Maman, Bustomi, Nasuha, Irfan dan penggawa Timnas lainnya tak sekadar menyebarkan virus sepak bola seluruh penjuru negeri ini. Mereka telah menggetarkan dada setiap anak manusia di negeri ini. Mereka sudah mengepakkan sayap Garuda di dada para anak muda, ibu rumah tangga, eksekutif muda hingga para tetua yang rindu nasionalisme sejati datang kembali.

Mereka memang gagal jadi juara, tapi mereka telah merebut hati masyarakat negeri ini. Mereka terlanjur dicintai setulus hati hingga kegagalan tidak menhadirkan caci-maki tapi puja-puji.

Di Gelora Bung Karno, Firman dan kawan-kawan telah memberikan pelajaran kepada suporter, sepak bola tidak melulu soal kemenangan, tapi soal perjuangan. Firman dan kawan-kawan juga meninggalkan pesan kepada para politisi, bermain sportif itu lebih elegan daripada mengejar kemenangan dengan segala cara. Mereka telah mengajari semua umat di negeri ini untuk menerima kekalahan dengan kepala tegak.

Kini kita akan kembali pada kehidupan sehari-hari. Ibu rumah tangga akan kembali dihadapkan pada harga cabai yang melambung tinggi, anak-anak muda kembali berjalan di tengah situasi negeri yang memusingkan kepala, politisi kembali sibuk dengan intrik-intik yang kadang menggelitik dan para tetua kembali duduk di kursi goyang memimpikan kenangan masa lalu.

Semoga pelajaran dari Firman tidak hanya berlaku 90 menit. Semoga kekuatan dan semangat dari Timnas yang sudah menyebar itu tidak layu atau kita malu pada semangat dan perjuangan Firman dan kawan-kawan.


Dia bergelar Gus Dur

Namanya Abdurrahman Wahid. Dialah tokoh yang penuh kontroversi. Dialah satu-satunya presiden di negeri ini yang memiliki selera humor yang tinggi. Dia telah wafat dan dia menyandang gelar Gus Dur.

Gelar ‘Gus’ sudah lama disandang Abdurrahman Wahid. Sebutan ‘Gus’ sangat akrab bagi warga Nahdiyin untuk memanggil anak atau putra kyai yang tersohor. Maka cucu pendiri NU itu sudah akrab dipanggilan dengan nama Gus Dur.

Nama Gus Dur yang begitu merakyat itu juga ikut meruntuhkan protokoler kepresidenan ketika laki-laki kelahiran Jombang 69 tahun yang lalu menjadi presiden. Ketika dia menjabat, dia membuat istana kepresidenan lebih terbuka. Mungkin dia pulalah satu-satunya presiden di dunia yang sangat jarang dipanggil ‘Pak Presiden’. Tidak juga dipanggil ‘Pak Abdurrahman’ atau ‘Pak Gus Dur’. Dia sudah akrab dan masyarakat sudah biasa memanggilnya ‘Gus Dur’.

Kini, Gus Dur telah tiada. Dia berpulang dan meninggalkan sejuta kenangan, sejuta kontroversi, sejuta guyonan dan tentunya sejuta ilmu bagi semua anak bangsa negeri ini. Belum genap tujuh hari setelah meninggalnya Gus Dur, kontroversi mengenai Gus Dur terus bergulir. Kontroversi itu bernama pemberian gelar pahlawan nasional.

Banyak pihak bersuara mengusulkan mantan presiden ke-4 ini mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tokoh politik, masyarakat, agama bersuara Gus Dur layak mendapatkan gelar itu. Tapi birokrasi dan aturan tidak semudah itu. Usulan pemberian gelar pahlawan nasional masih harus diproses dari tingkat bawah hingga nantinya presidenlah yang membuat keputusan, seperti istilah yang sering digunakan oleh Gus Dur, “gitu aja kok repot.”

Ramai-ramai usulan pemberian gelar pahlawan nasional ini seakan menyapu begitu saja, semua kenangan tentang Gus Dur, terutama tentang pemikirannya tentang demokrasi, tentang pluralisme dan tentang keberagamaan. Bukan soal layak atau tidak Gus Dur menyandang gelar pahlawan nasional, tapi pemikiran Gus Dur telah melintas batas melebihi batas-batas geografi negara terutama mengenai pluralisme.

Apakah anak-anak SD di negeri ini nantinya hanya dikenalkan, seorang mantan presiden ke-4 Indonesia yang bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah pahlawan nasional. Alangkah indahnya anak-anak bangsa dikenalkan tentang Gus Dur dengan segala pemikirannya tentang pluralisme dan keberagaman sehingga mereka bisa melihat Gus Dur tidak hanya dari ‘kulit’-nya saja yang memang layak mendapatkan gelar pahlawan nasional, tapi anak-anak bangsa juga bisa mengetahui ‘isi’ Gus Dur dengan segala pemikirannya sehingga bangsa ini bisa lebih menghargai pluralisme dan keberagaman.


ganyang malaysia???


Negeri Maling(sia)

Negeri Maling. Biasanya aku menyebutnya begitu. Mungkin agak berlebihan, tapi itulah realitas yang ada di negeri di mana penguasa memiliki kesempatan untuk menjadi maling.

Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam. Orang biasa menyebutnya dengan gemah ripah loh jinawi. Negeri di mana, tanpa perlu banyak mengeluarkan keringat agar tanaman tumbuh subur. Negeri di mana, matahari bersinar setengah tahun dan hujan akan turun membasahi kekeringan setengah tahun berikutnya.

Banyak orang menyebutnya sebagai Keajaiban dari Asia. Ada yang lebih suka menyebut dengan sebutan Macan Baru dari Asia. Dulu, ada istilah era tinggal landas, era di mana negeri yang kaya raya itu akan dapat terbang layaknya burung garuda dan menuju kemakmuran.

Sudah lebih dari 10 tahun penguasa yang menciptakan slogan era tinggal landas itu jatuh, namun negeri itu masih berada di landasan. Borok dari penguasa lama banyak yang terkelupas dan meninggalkan berbagai macam kebobrokan hingga akhirnya negeri itu menjadi Negeri Maling.

Hampir setiap sudut kehidupan di negeri itu dikuasai oleh maling. Ada yang suka maling kayu, ada yang tertarik menjadi maling ikan. Kadang ada juga yang memilih menjadi maling emas, maling minyak, maling kebebasan, maling demokrasi, maling keadilan, maling hukum hingga maling suara rakyat. Namun, yang agak berlebihan adalah mereka yang memilih menjadi maling duitnya rakyat.

Bukan tanpa aturan, maling-maling itu menciptakan beragam aturan yang ujung-ujungnya menjadi jalan pemulus untuk kehidupan maling itu sendiri. Tidak hanya itu saja, maling itu saling terkait dan memiliki hubungan saling ketergantungan. Maling kayu dan ikan sering kongkalikong dengan maling keadilan dan hukum, begitu juga dengan maling emas dan minyak. Kalau maling demokrasi, maling suara rakyat, maling kekuasaan itu tak jauh-jauh dari urusan duitnya rakyat.

Negeri yang begitu kaya itu seakan tidak ada habisnya untuk dimaling. Semua yang ada dikuras habis, disikat tanpa ampun, disedot tanpa henti. Nasfu bermaling-maling ria sudah begitu akutnya hingga rakyat dilupa, begitu banyak kekayaan lain negeri itu seperti seni dan budaya dilupakan begitu saja.

Hingga suatu ketika ada negeri lain yang berani maling kekayaan di Negeri Maling. Semua terhentak dan tersentak. Mereka sudah mengikrarkan diri sebagai Negeri Maling paling maling di dunia. Namun, nyatanya masih saja ada negeri lain yang berani maling di Negeri Maling yaitu Negeri Malingsia.

Negeri Malingsia itu suka mengklaim berbagai seni dan budaya Negeri Maling. Mencaplok dua pulau Negeri Maling dan hobi bertindak keji terhadap rakyat jelata Negeri Maling yang mengadu nasib di negeri itu. Negeri Maling merasa kebobolan hingga akhirnya negeri itu mengikrarkan untuk menolak segala permalingan hingga itu semua tak ubahnya maling teriak maling.


Bebas dari merdeka…

Cahaya mahatari belum terlalu terik ketika belasan siswa SD membelah melintas pematang sawah yang sedikit gersang. Angin pagi yang berhembus agak kencang sedikit mengacaukan barisan pelajar itu. Topi dan dasi yang mereka kenakan bergoyang-goyang disapu angin yang kurang bersahabat.

Satu dua guru mengawal mereka menuju lapangan desa. Mereka tersenyum riang, sedikit bercanda dan tidak terlalu menghiraukan ucapan guru yang meminta agar barisan tetap rapi dan langkah kaki seiring sejalan. “Kiri…kiri…kiri…,” ujar pak guru memberikan aba-aba sambil mengepulkan asap rokoknya.

Lapangan desa yang berada di tengah pematang sawah sudah mulai terlihat. Umbul-umbul berwarna warni serta bendera merah putih memenuhi lapangan desa yang biasa digunakan untuk main sepakbola. Padi yang mulai menguning dan rumput liar yang masih dibasahi embun pagi, menjadi saksi atas keriangan siswa-siswa itu. Keriangan menyambut datangnya hari kemerdekaan seperti yang mereka dengar dari guru, orang tua dan para tetua desa.

Semangat mereka yang sedikit tergerus akibat perjalanan jauh, terobati dengan keramaian lapangan desa. Tidak hanya siswa SD saja, namun ada juga siswa SMP, SMA, Pak guru, Pak hansip desa, polisi dan tentara dari kecamatan dan tentunya Pak camat dengan pakaian putih-putih kebesaarannya.

Mereka diminta berbaris rapi di pojokan lapangan. Pak guru beberapa kali memberikan instruksi, mulai dari lencang depan, lencang kanan hingga istirahat di tempat sambil menunggu upacara dimulai. Bagi siswa-siswa itu, upacara perayaan kemerdekaan, sudah sering mereka ikuti. Setiap tahunnya tiap tanggal 17 Agustus mereka mengikuti upacara bendera di lapangan desa.

Upacara yang sebenarnya mirip dengan upacara bendera yang mereka ikuti tiap hari Senin. Yang membedakan hanyalah pesertanya lebih banyak, pengibar benderanya pakaiannya putih-putih dan inspektur upacaranya adalah Pak Camat. Meski sudah berkali-kali mengikuti upacara yang sama setiap tahunnya, mereka tetap antusias. Meski saat upacara ada sendau gurau di antara mereka, toh tangan mereka memberikan hormat saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan Merah Putih dikibarkan.

Upacara telah usai, maka siswa SD itupun bersiap menghadapi berbagai lomba yang juga digelar di lapangan desa. Mulai dari panjat pinang hingga makan kerupuk. Dan ketika sore telah tiba, saat perayaan hari kemerdekaan telah usai maka mereka harus kembali hidup dalam kenyataan. Kenyataan hidup di negeri ini yang dipenuhi dengan pemiskinan dan pembodohan.


%d blogger menyukai ini: