Tag Archives: Jogja

KA Humas PT KA Daops VI: Seli boleh naik Prameks!

Harian Umum SOLOPOS edisi 1 November 2011

Melanjutkan cerita sebelumnya soal sepeda lipat (Seli) yang kena bea bagasi kereta api (KA) terutama untuk KA Prambanan Ekspress (Prameks) jurusan Solo-Jogja (klik di sini) ternyata ada aturan baru belum tersosialisasi. Bahkan, petugas KA masih sering  mengacu pada aturan lama.
Adanya aturan baru bagi sepeda di KA dipaparkan Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto (Harian Umum SOLOPOS, edisi 1 November 2011).
Eko mengatakan aturan baru Nomor YM/82 tertanggal 28 Oktober 2011 mengeliminasi aturan lama Nomor YM/74 tertanggal 26 Oktober 2011. Aturan baru itu pada intinya adalah melarang sepeda masuk KA Prameks. Namun larangan itu tidak berlaku untuk Seli. Sepeda lipat tetap diperbolehkan masuk Prameks dengan syarat beratnya dibawah 20 kg dan dimensinya tak boleh lebih 1 m2.
Sedangkan aturan lama memperbolehkan sepeda masuk Prameks dengan membayar dua kali lipat harga tiket (tiket Prameks Rp 10.000), seperti pengalaman saya akhir pekan lalu.
Adanya aturan baru ini menjadi pencerahan bagi pengguna Seli, namun tidak bagi pengguna sepeda pada umumnya (nonlipat). Kalau bicara pada tataran ideal, tentunya asyiknya ada gerbong KA khusus sepeda. Tapi yang paling penting adalah aturan itu disosialisasikan jangan sampai petugas KA tak tahu aturan baru itu. Kalau perlu difotokopi dipasang di stasiun-stasiun KA.

Iklan

Sepeda Lipat Kena Bea Bagasi KA?

Sabtu (29/10) pagi, Stasiun Purwosari Solo masih lengang. Jam di tangan baru menunjukkan pukul 05.27 WIB. Masih ada waktu beberapa menit sebelum KA Prambanan Ekspress (Prameks) pertama meluncur.

Ada perasaan sedikit waswas ketika menuju loket pembelian tiket setelah beberapa pekan lalu harus beradu argumen dengan petugas bagian tiket karena saya membawa sepeda lipat (Seli). Seli yang tentunya sudah saya lipat-lipat, saya angkut dan saya letakkan tak jauh dari bagian tiket. Helm sepeda tetap saya kenakan.

Tanpa ada respons yang aneh-aneh, pagi itu petugas tiket langsung memberi tiket KA Prameks yang bakal melaju pukul 05.42 WIB dari Purwosari menuju Jogja. Perlakuan ini berbeda dengan petugas tiket yang saya temui beberapa pekan lalu. Kala itu, saya sempat ditanya apakah saya membawa Seli dan dia sempat menolak memberikan tiket karena saya membawa Seli. Argumen saya hanya klasula baku yang tercantum dalam tiket KA Prameks yaitu ”Penumpang membawa barang bawaan lebih dari 20 kg atau barang ringan makan tempat (RMT) dikenakan bea bagasi sesuai aturan yang berlaku.”

Saya sempat ”ceramah” kalau Seli beratnya tak lebih dari 10 kg dan ukurannya seukuran dengan koper besar yang selama ini tak pernah kena bea bagasi. Ketika itu, petugas tiket pun akhirnya meloloskan saya dan memperbolehkan saya menaiki KA Prameks.

Pagi itu, perasaan waswas yang sempat berkecamuk seketika sirna ketika petugas KA langsung meloloskan saya tanpa perlu debat dan adu argumen. Tak berapa lama berselang, KA Prameks pun tiba dan di gerbong kedua saya mendapat tempat duduk. Seperti biasa, Seli punya ”pos” sendiri yaitu di dekat pintu masuk kereta.

Kereta melaju dan ketika KA melintas Stasiun Gawok, kondektur yang selalu didampingi satpam berkeliling menarik tiket. Tiket disodorkan dan diberi tanda lubang, seperti biasanya. Kebetulan saat itu satpam yang mengecek tiket saya. Tiba-tiba saja, kondektur perempuan mengamati dengan seksama Seli yang nangkring di pojokan pintu kereta. Dia tengak-tengok sepertinya mencari empunya sepeda itu. Dari helm yang masih saya kenakan, kondektur itu bisa mengidentifikasi bahwa sayalah empunya Seli warna kuning itu.

Sang kondektur pun mengecek tiket saya dan karena tidak ada kejanggalan, dia pun menyatakan Seli kena bea bagasi sebesar dua kali harga tiket. Saya pun kaget dengan pernyataan itu. Dua kali harga tiket Prameks artinya Rp 20.000. Mesin otomatis dalam otak langsung berpikir, artinya kalau saya naik Prameks maka harus mengeluarkan Rp 30.000 (tiket Rp 10.000 plus bea bagasi Rp 20.000).

Saya tidak langsung mengiyakan apa yang dikatakan sang kondektur itu, namun saya mempertanyakan aturan Seli kena bea bagasi karena dalam klasula baku yang dibuat PT KA, hanya barang 20 kg dan barang RMT yang kena bea bagasi. Kondektur itu pun mengatakan adanya aturan baru yang berlaku mulai 1 Oktober 2011 yaitu Seli kena bea bagasi sebesar dua kali harga tiket.

Saya pun bertanya kepada kondektur, ”Boleh saya lihat surat edaran itu,” tanya saya. Kondektur pun mengatakan tidak membawa dan mengatakan seharusnya saat saya membeli tiket, saya melapor kalau saya membawa Seli. Secara naluri saya bertanya lagi, ”Aturannya sudah disosialisasikan belum? Di tempel di bagian loket-loket? Saya tidak ditanyakan saya bawa Seli atau tidak padahal saya masuk stasiun dan tentunya membawa Seli lewat depat loket yang ada penjaganya. Mereka diam saja,” kata saya.

Sang kondektur tetap ”berceramah” bahwa saya salah karena tidak melapor ke bagian tiket dan seharusnya saya kena bea bagasi. Bukan saya menolak aturan itu tapi aturan baru itu belum tersosialisasi (buktinya di beberapa stasiun aturan Seli kena bea bagasi tak dipasang) dan yang lebih penting aturan itu bertentangan dengan klasula baku yang tercantum di bagian belakang lembaran tiket. Hal itulah yang membuat saya tetap bersikukuh, Seli tak kena bea bagasi. Setelah berdebat agak lama, kondektur pun mengingatkan ke depannya saya harus bayar bea bagasi dan dia pun berlalu.

Entah atas dasar apa aturan itu diberlakukan. Kalau adanya Seli membuat tidak nyaman penumpang lain, apakah sudah ada penelitian soal itu? Kalau Seli makan tempat, bagaimana dengan barang bawaan lain yang ukurannya sebesar Seli? Kalau pun aturan itu diberlakukan seharusnya klasula baku yang tercantum dalam tiket juga harus diubah. Bagi saya, aturan ini adalah bentuk kemunduran PT KA. PT KA tidak lagi mendukung mobilitas warga yang sehat dan aman.


(Masih) ada sastra di antara kita

Photo by Warung Ngopi Bjong

Aku duduk sendiri di tengah riuh rendah keramaian warung kopi. Itulah dunia warung kopi. Dunia di mana berbagai macam dunia berkumpul dan bergumul menjadi satu. Hanya kopilah yang menyatukan dunia mereka.

Di sebelah kananku, deretan manusia peselancar dunia maya asyik dengan laptopnya masing-masing. Mereka teralienasi dari dunia mereka berada. Jangan salahkan mereka, toh pemilik warung kopilah yang menyediakan fasilitas hotspot kepada mereka. Di belakangku, kumpulan pemuda ramai berbicara. Entah apa yang mereka perbincangkan. Ada gelak tawa dan canda di antara mereka. Dan warung kopilah yang mempersatukan mereka dalam tawa.

Di ujung utara sana, samar-samar terlihat para manusia membentuk lingkaran menghabiskan waktu dengan barmain kartu. Tenang saja, itu bukan judi karena memang mereka hanya ingin melewatkan malam dengan sedikit kegembiraan dari lembaran-lembaran kartu yang disediakan sang empu warung kopi itu. Agak jauh dari tempat dudukku, kumpulan manusia berbicara serius seperti sedang berada di dalam gedung tempat adu debat. Dahi mengkerut tanpa canda apalagi tawa. Tapi itu juga bukan dosa karena bicara soal politik tak melulu di seminar-seminar ataupun di tepi jalan sambil membawa poster hujatan.

Di antara keramaian warung kopi malam itu, di tengah warung kopi, anak-anak muda silih berganti naik panggung yang dibangun ala kadarnya. Ada yang bercerita tentang Jogja lewat puisi indah mereka, ada yang bercerita tentang Jakarta dengan menukil karya Seno Gumira Ajidarma. Semuanya bercerita dan berkata-kata sastra.

Malam itu mereka membumikan sastra kepada kami semua pengunjung warung kopi. Mereka membawa sastra yang bagi sebagian orang adalah dunia antah berantah ke dalam sebuah ruang sosialisasi bernama warung kopi. Mereka melucuti kesakralan kata sastra. Ada yang memperhatikan dengan seksama, ada yang menengok mereka kala teriakan sajak-sajak semakin menggema ada pula yang tetap membisu tanpa kata. Tapi riuh rendah tepuk tangan sebagai tanda apresiasi tak pernah sepi meski kadang aku dan mungkin sebagian pengunjung lainnya tak begitu memahami apa yang ditampilkan di panggung mini itu.

Itulah dunia warung kopi yang aku temui malam itu. Dunia dengan berjuta dunia di dalamnya. Dunia yang memberikan ruang ekspresi kepada setiap para pengunjungnya. Dan malam itu, dunia warung kopi tak hanya dunia obrolan, dunia berselancar, dunia kartu remi tapi juga dunia sastra karena memang masih ada sastra di antara kita.


Manusia Kereta

Laki-laki paruh baya terkantuk-kantuk di dalam kereta. Ibu muda melemparkan pandangan ke luar, entah apa yang dilihatnya. Pria tua sibuk dengan berlembar-lembar berita koran. Bapak-anak berbisik-bisik di tengah deru laju kereta. Rohaniwati berpegangan erat pada gantungan seperti kekuatan iman yang tak tergoyahkan. Kondektur berkeliling penuh curiga. Anak muda nglesot di lantai kereta dan eksekutif muda di depanku sibuk dengan gadgetnya.

Apa yang mereka cari. Apa yang mereka harapan. Mereka larut dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Para manusia kereta memadati gerbong-gerbong yang sempit dengan urusan mereka masing-masing. Aku terjebak di antara mereka.

Di luar sana hanya ada hamparan sawah, permukiman yang muram, lalu lintas yang terhenti laju kereta dan stasiun yang masih lesu. Semuanya cepat berlalu dan aku hanya bisa duduk termangu.

Banyak burung terbang ke sana ke mari, namun tak kudengar nyanyian paginya. Kabut tebal belum tersibak seperti meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab. Hanya bayangan tipis pohon dan lari-lari kecil bocah menuju sekolah yang terlintas. Aku tak bisa memaknai nuansa pagi ini tapi masih ada sebersit harapan dari perjalanan ini.

Kereta terus melaju tanpa kenal waktu, membawa serta laki-laki paruh baya, ibu muda, eksekutif muda, rohaniwati, pria tua, anak muda dan kondektur kereta tentunya. Aku melihat itu semua dengan penuh tanya. Bolehkah aku berharap pagi ini?

Mentari sudah datang dan manusia-manusia kereta telah pergi dengan cara mereka sendiri. Aku berharap kau datang dari balik kabut yang mulai menipis dengan seberkas senyuman manis.


Embung Tambakboyo & harmonisasi kehidupan

Gerimis pagi mulai berganti dengan semburat cahaya matahari. Genangan air sisa hujan semalam masih membekas di jalanan. Kabut tipis disapu asap knalpot. Jogja mulai menggeliat. Aktivitas pagi selalu sama, anak-anak berangkat sekolah, Polantas di perempatan jalan, pedagang burjo menahan kantuk, pekerja diburu waktu dan mahasiswi malu-malu pulang kos pagi hari.

Aku segera berlalu dan terus melaju. Sedikit melupakan cipratan genangan air, mengacuhkan motor yang saling serobot, aku memburu keindahan pagi yang sedikit terlambat dengan sepeda. Ada kawanku yang sudah menunggu. Embung Tambakboyo di ujung Jogja tujuan kami.

Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menuju embung yang terletak di tiga desa (Condongcatur, Maguwoharjo, Wedomartani) ini. Jarak yang tidak terlalu jauh dan datar-datar saja, membuat trek bersepeda menuju embung ini cukup ringan. Mungkin yang agak menyebalkan hanya kepadatan lalu lintas di seputaran perempatan UPN Condongcatur hingga kampus UII Ekonomi. Seperti biasa, kampus adalah magnet ekonomi, mulai dari usaha Warnet, warung makan, kos-kosan hingga loundryan.

Menuju utara, meninggalkan wilayah kampus, menyusuri gang-gang kecil yang tersaji di kanan-kiri adalah rumah-rumah mewah meriah yang berpadu dengan rumah sederhana sarat makna. Wilayah itu seakan menjadi potret kecil pergumulan kekinian dan masa lalu Jogja. Seakan ada jurang mengangga antara rumah mewah dan rumah sederhana itu tapi semuanya tetap bertahan dan hidup berdampingan (semoga mereka rukun-rukun saja).

Di balik permukiman itu, Embung Tambakboyo berada. Embung yang menjadi tumpuan petani untuk mengairi sawah seluas 7,8 hektare. Kerlip cahaya matahari yang memantul di air menyambut kami setelah melewati turunan tajam berpaving block. Layaknya sebuah ikat pinggang, jogging track dari paving block mengelilingi embung itu. Jogging track yang lumayan lebar membuat warga tidak perlu menggerutu berebut jalan.

Embung Tambakboyo menyajikan udara pagi yang minim polusi, terpaan cahaya matahari, hijau dedaunan yang asri. Kalau sedang beruntung, dari embung ini, Gunung Merapi di sisi utara terlihat seksi. Di tempat itu, kamu boleh bersepeda, jalan-jalan, nongkrong, camping, mancing hingga pacaran. Itu semua tidak diharamkan (asalkan sesuai aturan hehehe).

Embung yang baru dibangun beberapa tahun silam ini memang telah menjelma menjadi lokasi rekreasi yang murah meriah. Embung itu bisa menjadi tempat pelarian dari kehidupan, menjadi tempat mengeluarkan keringat dengan olahraga, menjadi tempat memadu kasih anak muda yang sedang dimabuk asmara. Paling tidak, Embung Tambakboyo bisa menawarkan harmonisasi kehidupan karena hidup tak melulu soal pekerjaan, kesuksesan dan segala urusan yang menyebalkan. Kadang suatu saat perlu kabur dari segala rutinitas itu dan mungkin Embung Tambakboyo bisa membantu.


Untitled Jogja

Senja telah tiba, saatnya berpesta di Kota Tua Jogja. Kau ingin ke mana? Menikmati senja di Hargodumilah, Bukit Patuk atau tetap diam di kos-kosan sambil terkantuk-kantuk.

Ayolah sekali-kali kita menyusuri malam-malam di kota ini. Mau pilih bercelatu di 0 kilometer sambil minum wedang ronde atau melahap jagung bakar di Alun-alun Kidul sambil liat cewek-cewek kece.

Tapi kalau kau ingin cuci mata, ayo kita nyambangi Ambarukmo Plaza. Banyak anak muda yang merasa menjadi penguasa dunia. Atau ingin liat tepian Kali Code. Tapi di sana banyak orang pacaran. Itu tentu sangat menyakitkan perasaanmu, kawan.

Bisa juga kita kumpul di bunderan UGM. Ada banyak komunitas yang berkumpul. Klub motor, klub onthel atau klub orang kurang kerjaan. Tapi jangan ajak aku ke Lembah, di sana terlalu gerah karena banyak yang pamer gairah.

Kalau kau tak suka keramaian lebih baik kita ngobrol di warung kopi kelas pinggiran. Berbagi cerita tentang hidup, masa depan dan harapan. Atau lihat pameran di Bentara Budaya agar kau tak lupa banyak rakyat yang masih menderita. Aku akan suka kalau kau mengajakku ke toko buku. Agak bikin jemu tapi bukankah di sana adalah gudang ilmu.

Kau sudah lapar? Ayo kita makan di lesehan Malioboro. Dengerin lagu Kla Project atau Doel Sumbang. Tapi jangan lupa bagi-bagi rezeki kepada penyanyi jalanan yang berdendang.

Sudah larut malam kawan, kita mau ke dugem atau meluncur ke Parangtritis, menikmati laut yang kelam. Kalau kita ke diskotek ada musik berisik dan ingar-bingar. Kalau kita ke pantai, kita bisa menikmati bintang yang bersinar.

Atau kau sudah lelah kawan? Kalau begitu lebih baik kita pulang saja. Jangan lupa mampir ke minimaret 24 jam, beli rokok dan camilan, sekalian tanya, berapa bungkus kondom yang sudah diedarkan.


Solo-Jogja, antara BST, Prameks & Trans Jogja

Pagi ini saatnya melawan dinginnya air. Mandi terpagi selama beberapa bulan terakhir demi petualangan naik angkutan massal yang katanya bisa menyatukan dua kota, Solo-Jogja.
Batik Solo Trans (BST). Angkutan massal ini menyapa publik Solo dan sekitarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Banyak pihak berharap angkutan ini bisa menjadi angkutan alternatif bagi publik yang bosan dan jengah dengan angkutan kota konvensional.
Apek, pengap, ugal-ugalan dan sarang copet. Itulah gambaran umum angkutan kota di negeri ini. Bagi Pemkot Solo, BST adalah sebuah proyek besar sistem transportasi di Kota Bengawan. BST diharapkan bisa menjadi pengganti angkutan kota yang memang sangat menyebalkan.
Selter warna biru dengan kaca nako hitam berdiri lesu di depan RSI Yarsis Kartasura. Tak ada satu orang pun petugas yang membantuku memberitahu tentang rute bus. Maklum ini adalah pengalaman pertamaku naik BST. Nekat dan tekadlah yang membuatku tetap bertahan di selter itu menunggu datangnya BST.

Bus warna biru dengan nuansa batik akhirnya datang juga. Hanya ada 2 penumpang di dalam bus itu. Suasana lapang begitu terasa. Alunan musik dari Andra and The Backbone menjadi teman perjalanan. Jadi nyaman aku dibuatnya. Selter di Kleco di depan mata. Lagi-lagi selter itu sepi dari petugas. Bus yang hendak melaju akhirnya kembali karena ada 3 penumpang yang lari-lari mengejar bus itu.
Ini lucu pikirku. Bus yang memiliki sarana khusus dengan disediakan selter masih harus maju mundur menunggu penumpang. Setahuku jadwal bus ini sudah diatur sehingga jarak antara satu bus dengan bus lainnya bisa disesuaikan. Petugas yang menjadi kondektur mulai beraksi. Dia mengadahkan tangan minta bayaran. Rp 3.000 tarifnya. Aku diberi karcis tanda bukti pembayaran.
Ini membingungkan. Katanya angkutan massal modern, tapi model pembayaran penumpangnya masih “kampungan” dan rawan kebocoran. Bayar di atas bus pakai karcis.
Di selter Faroka bus kembali berhenti. Tidak mulus rupanya. Bus AKAP menghalangi BST untuk mendekati selter. Tanpa rasa berdosa, bus AKAP itu dengan santainya menurunkan penumpang tepat di depan selter. Butuh beberapa menit, sopir bus AKAP akhirnya memberi ruang untuk BST.
Aku kembali tertegun. Bus ini berhenti agak lama di selter itu. Rupanya gaya konvensional belum juga hilang untuk bus modern ini. Ngetem sejenak menunggu penumpang, meski pada akhirnya total penumpang tak lebih dari 10 orang.
Aku berhenti di selter Purwosari. Ada petugas jaga di selter itu. Ada poster yang menunjukkan rute BST, ada pula digital ruuning teks tentang jadwal pemberangkatan BST. Agak lumayan dibandingkan selter lainnya.
KA Prameks tujuan Jogja dari Stasiun Purwosari sudah mau berangkat. Tepat saat kaki ini menginjak tangga KA, pluit berbunyi dan KA yang penuh sesak itu segera berlari. Sudah biasa tiap akhir pekan atau liburan, penumpang akan uyel-uyelan, tapi kecepatan dan kondisi Prameks masih lumayan sehingga perjalanan tetap terasa nyaman.
Tak lebih dari satu jam perjalanan, aku sudah tiba di Stasiun Maguwoharjo. Stasiun ini terintegrasi dengan Bandara Adisucipto dan selter Trans Jogja. Nah, Trans Jogja yang merupakan kakaknya BST (karena lebih dahulu beroperasi) yang akan aku tumpangi. Petugas tiket menyodoriku smartcard setelah aku menyerahkan uang Rp 3.000. Smartcard itu dimasukkan ke pintu masuk agar bisa terbuka. Ini mirip dengan model busway di Jakarta yang sempat aku tumpangi beberapa tahun lalu.

Selain petugas jaga loket pembayaran ada pula petugas lainnya yang membantu memberitahukan kedatangan Trans Jogja beserta rutenya. Kalaupun malas bertanya, ada pula papan pengumuman jalur-jalur Trans Jogja.
Model Trans Jogja sama persis dengan BST, tapi sepertinya Trans Jogja lebih ramping sehingga kalau penumpang penuh akan begitu terasa berdesak-desakan. Dan kenyataannya, Trans Jogja selalu dijejali penumpang. Tak ada lagu pengiring selama perjalanan sehingga penumpang akan sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Untungnya di dalam bus, penumpang tak perlu lagi berurusan dengan sodoran tangan kondektur yang minta bayaran.
Beberapa selter Trans Jogja sudah terlewati. Setiap kali mendekati selter, kondektur dengan nyaringnya memberitahukan selter akan segera tiba. Tak lupa pula ada ucapan terima kasih dari sang kondektur itu. Ini juga sama persis dengan busway di Jakarta. Bedanya, kalau busway pakai alat seperti speaker, di Jogja pakai suara manusia.
Rasanya memang kondektur itu ditugaskan seperti itu, mengatur penumpang di dalam bus dan mengabarkan selter-selter yang dilalui, tanpa harus repot memunggut pembayaran penumpang di dalam bus layaknya bus kota pada umumnya.
Di Subterminal Condong Catur perjalananku dengan Trans Jogja terhenti. Lumayan menikmati perjalanan dengan angkutan massal yang katanya lebih modern dari angkutan umum lainnya.
Aku tidak bermaksud membandingkan antara BST dengan Trans Jogja. Aku hanya mencoba menelusuri angkutan massal yang digadang-gadang bisa menyatukan Solo-Jogja yaitu BST-Prameks-Trans Jogja. Kalaupun ada yang berbeda antara BST dan Trans Jogja, aku tidak tertarik membahasnya lebih lanjut mengapa itu terjadi. Kalau memang angkutan massal itu saling terintegrasi seharusnya pelayanannya sama hingga pada akhirnya publik juga yang merasakan keuntungannya.
Maka kalau kebetulan liburan di Solo atau Jogja, BST atau Trans Jogja bisa jadi alternatif perjalanan keliling kota. Takutnya, kalau naik kendaraan pribadi malah menambah kemacetan dan kemacetan begitu menjengkelkan. Selamat Liburan!


%d blogger menyukai ini: