Tag Archives: jurnalisme

Mengenang jejak YA Sunyoto

Aroma pantai. Hawa panas dengan sedikit tiupan angin. Bau asin menyeruak ke mana-mana. Di sebuah rumah sederhana di Desa Sumur Tawang, Kragan, Rembang, kenangan tentang sosok YA Sunyoto kembali terbuka.

Di rumah yang tidak lebih dari 500 meter dari bibir pantai utara Jawa, Sunyoto kecil tumbuh kembang. Melihat rumahnya yang bertetangga dengan pantai, tak salah kiranya Sunyoto disebut anak pantai yang memerankan diri seperti pantai dalam kehidupan. Pantai, tempat di mana kita bisa menjernihkan pikiran. Tempat di mana dialektika darat dan laut tampak di depan mata dan pantailah yang menjadi penghubungnya.

Dari pantai, Sunyoto muda menuju Bogor. Kota yang menjadi pelarian orang-orang yang sumpek dengan tetek-bengek masalah kehidupan. Seperti kota itu, Sunyoto sering menjadi tempat pelarian anak-anak muda untuk belajar tentang kehidupan. Bogor dan Sunyoto sama, memberikan pelajaran tentang hidup tanpa pernah mengguruinya.

Sunyoto dewasa menjelma menjadi seorang jurnalis di Ibukota Jakarta. Jakarta, tempat di mana riuh rendah kehidupan menyatu dan berpadu. Tempat di mana haru biru tawa kebahagiaan dan duka lara kesedihan tak memiliki batasan yang tegas. Dan Jakarta telah membentuk Sunyoto yang selalu renyah dengan tawa khasnya dan mentertawakan kehidupan. Jakarta pula yang membentuknya menjadi manusia gelisah atas segala duka lara kehidupan.

Di Solo, sebuah kota yang memadukan “masa lalu” dan “masa kini” dalam kehidupan, aku mengenal Sunyoto. Dalam waktu singkat, dia telah menjadi bapak, sabahat sekaligus atasan bagi anak-anak muda yang sedang gandrung dengan jurnalisme. Dia mengajak anak-anak muda untuk selalu tertawa tanpa pernah melupakan duka-lara hidup. Dia membagi kata untuk menjadi bahan diskusi dan perenungan. Pertengahan September 2010, Sunyoto meninggalkan kami anak-anak muda dengan setumpuk tawanya, segudang katanya dan secercah impiannya.

Di sudut Kragan, Rembang, Sunyoto menyatu bersama bumi. Jauh dari keramaian, damai bersama alamnya. Kami, anak-anak muda yang menemuinya, menghantarkan doa, berbagi cerita dan mengenangnya. Bukan sekadar untuk mengingat tawa, pesan atau jasa-jasanya tapi untuk melanjutkan mimpi-mimpinya.


Kawan Nyoto

Nyoto namanya. Begitu dia biasa dipanggil. Tapi kadang ada pula yang memanggilnya dengan sebutan YA atau YS.

Tak ada yang salah dari panggilan yang berbeda-beda itu karena nama aslinya YA Sunyoto. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan panggilan yang berbeda-beda itu.

Dalam sebuah keremangan malam di salah satu sudut warung hik, aku mengenalnya. Namanya sudah berkali-kali disebutkan. Sepak terjangnya berulang-ulang diceritakan, namun baru pada malam menginjak dini hari itu aku bisa bertata muka dengannya.

Tubuhnya pendek, badannya gemuk, kumis dan jambangnya tumbuh subur. Jabat tangan eratnya masih aku ingat jelas. Sambil tersenyum dia mengangguk-anggukkan kepala. Kesan pertamaku pada orang itu adalah orang yang familier.

Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Sekat-sekat usia diterjangnya, batasan-batasan yang sering mengkungkung manusia dalam bergaul diterobosnya. Tak salah kiranya dia punya pergaulan luas. Apalagi dia punya banyolan dan ketawa yang khas.

Sambil mengobrol, menghisap rokok, sering dia terkekeh-kekeh sampai matanya berair. Sikapnya yang familier dan gayanya yang eksentrik, membuatnya dia bisa menyatu dan larut bersama anak-anak muda dalam hiruk pikuk dunia jurnalisme. Sekitar satu tahun yang lalu dia menjadi nahkoda divisi redaksi Harian Solopos.

Dia memang pemimpin redaksi kami, tapi dia tidak pernah merasa lebih hebat dari kami. Sungguh, kerendahan hatinya luar biasa. Dia memang bos kami, tapi dia tidak pernah bossy. Dia memposisikan diri sebagai kawan dan teman bagi anak-anak muda yang masih hijau dalam jurnalisme. Maka, aku pun tak sungkan memanggilnya dengan panggilan kawan Nyoto.

Dia tidak marah kalau pendapatnya didebat. Dia membuka ruang untuk berdiskusi, beradu argumentasi. Tak jarang pula dia mengamini pendapat anak-anak muda ketika pendapat itu dirasa tepat dan benar.

Berkali-kali aku punya kesempatan berdiskusi dengan kawan Nyoto. Salah satu yang membuat kami gencar berdiskusi adalah kecintaan kami pada sastra, terutama membahas Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Suatu ketika, kawan Nyoto mengirimiku pesan singkat dan mengirimi pesan Facebook yang isinya memintaku terus berkarya. Rupanya dia habis membaca tulisan di blog-ku. “Dan, teruslah menulis. Seperti biasa saja, mana yg layak untuk publik berikan kepada publik.”

Dalam ramainya diskusi, dia selalu menyelipkan petuah dan nasihat yang tidak menggurui. Kawan Nyoto sangat pintar memadukan argumentasi-argumentasi perdebatan dengan petuah-petuah. Sehingga, tanpa terasa dalam setiap diskusi dengan kawan Nyoto akan ada dua hal yang bisa dipetik sekaligus, keluasan berpikir setelah berdiskusi dan petuah bijaknya.

Sekitar tiga bulan lalu, kawan Nyoto jatuh sakit. Tak ada yang menduga dia sakit. Dia selalu energik dan semangat kala menghadapi segala rintangan. Kami hanya bisa meratapi kawan kami tergolek lemas tak berdaya di rumah sakit. Berbulan-bulan dia dirawat di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit dan sakit belum juga pergi.

Akhir Agustus, tepatnya 22 Agustus lalu, kawan Nyoto tepat berusia 48 tahun. Meski terlambat sehari, kami anak-anak muda yang masih membutuhkan bimbingannya datang kerumahnya. Kami ingin berbagi bahagia bersama kawan Nyoto. Perayaan ulang tahun yang teramat sangat sederhana. Setelah kue ditiup, dengan terengah-engah, kawan Nyoto meninggalkan petuah bagi kami semua. Petuah agar kami terus maju, terus berkarya.

Dalam sakitnya, dia tetap tersenyum. Dalam lukanya dia tetap menjadi bapak dengan segudang nasihat indah. Dan, beberapa hari sebelum Lebaran, saya kembali ke rumahnya. Rupanya kawan Nyoto ingin masuk kantor meski fisiknya tak memungkinkan.

Petang itu, kawan Nyoto bersikeras ingin masuk kantor. Entah apa yang dia rasakan dan dia inginkan, tapi keinginannya tidak terbendung lagi. “Saya ingin melihat kantor, Dan,” kata kawan Nyoto.

Saya dan Pak Redpel yang datang ke rumahnya harus memapahnya, menuntunnya. Untuk berjalan beberapa meter saja, kawan Nyoto terlihat kelelahan. Kami menuntunnya menuju ruang kerjanya. Rupanya dia rindu, kangen dengan kantor dan segala hiruk pikuknya.

Tak kusadari, itu adalah pertemuan terakhirku dengan kawan Nyoto. Beberapa hari kemudian, kesehatannya kembali memburuk dan dia masuk

ICU. Aku menjenguknya, tapi tak berani masuk melihatnya. Aku yang penakut tidak berani melihat kawanku terbaring tanpa daya.

14 September, kawan Nyoto berpulang. Dia meninggalkan sejuta cerita indah. Dia meninggalkan segudang harapan. Dia menitipkan mimpi kepada kami, anak-anak muda. Selamat jalan bapak, sahabat, kawan kami tercinta YA Sunyoto.


T.A.S., Sang Pemula & ¼ Abadku…

Tirto Adhi SoerjoBeberapa hari yang lalu, dalam sebuah obrolan di wedangan depan Yahoo Kalitan seorang kawan mengusulkan adanya sebuah kegiatan dari kawan-kawan jurnalis di Solo untuk mengenang seseorang yang bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS).

Kawan dari sebuah media online terkemuka itu menceritakan tentang peran besar TAS dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Peran TAS yang begitu besar bagi bangsa ini terutama dunia jurnalistik ternyata belum terlalu terdengar gaungnya hingga saat ini. Meski sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional, namun nama TAS masih terlalu asing bagi masyarakat umum, bahkan terasa asing bagi sebagian kalangan jurnalis.

“Terlalu sayang jika begi saja melupakan peran TAS. Mungkin belum banyak diungkap karena sebagian pengikutnya condong kiri, termasuk Mas Marco (Mas Marco Kartodikromo),” seloroh dia.

Obrolan mengenai TAS malam itu seakan membawaku kembali ke masa lalu, beberapa tahun yang lalu. Masih teringat jelas kisah Minke dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (PAT). Masih teringat juga sebuah buku pemberian dari seorang kawan yang berjudul Sang Pemula karya PAT pula. Buku-buku itu mengisahkan tentang seseorang yang bernama TAS.

“Dialah Sang Pemula! Dialah Sang Penyuluh itu!” kata Muhidin M Dahlan dalam pengantar buku Sang Pemula.

Buku-buku itu kebetulan terbaca saat harapan menjadi jurnalis membumbung tinggi. Ketika impian sejak SMA mulai terasa jelas arahnya. Dan buku-buku itu seakan menjadi ‘kitab suci’ pengawal diri menuju dunia jurnalisme sambil berharap bisa menjadi ‘Sang Pemula Baru’. Betapa tidak aku punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’, ketika itu TAS yang mempunyai nama kecil Djokomono sejak umur 14-15 tahun telah mengirimkan berbagai tulisan ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi.

Aksi tulis menulis, TAS yang mengenyam pendidikan di Stovia (sekolah dokter) itu berlanjut dengan membantu menulis di Chabar Hindia Olanda, kemudian pembantu di Pembrita Betawi, pembantu tetap Pewarta Priangan yang hanya berumur pendek. Salah satu karya jurnalistiknya yang gilang gemilang adalah membongkar skandal Residen Madiun JJ Donner. Kala itu, Donner menurunkan Bupati Madiun Brotodiningrat dengan membuat persekongkolan dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun.

Begitu tajamnya pena TAS hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan pengasa Hindia Belanda. Namun, itu semua tidak menyurutkan langkahnya. Hingga Januari 1907, menjadi tonggak berdirinya surat kabar pertama di Indonesia yang dibidani TAS dengan lahirnya Medan Prijaji. Surat kabar ini disebut sebagai koran pertama di Indonesia karena semuanya dikelola oleh pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Medan Prijaji

Tidak bisa aku bayangkan, di tengah sikap represif dari penguasa ditambah lagi belum adanya UU Pers yang melindunginya, TAS tak gentar memperjuangkan nasib bangsanya melalui tulisan. Dan kalau boleh aku meminjam istilah anak muda jaman sekarang, saya ngefans dengan TAS.

Aku masih punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’ meski belum melakukan apa-apa. Meski belum berbuat apa-apa hingga umur ¼ abad, tapi mimpi menjadi seperti Sang Pemula itu tak pernah padam. Punya mimpi bisa menjadi seperti TAS seperti yang dikatakan Mas Marco,

“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, jang seorang bangsawan asali dan joega bangsawan kafikiran, Boemipoetra jang pertama kali mendjabat Journalist; boleh bilang toean T.A.S. indoek Journalist Boemipoetra di ini tanah Djawa, tadjam sekali beliau poenya penna, banjak Pembesar-Pembesar jang kena critieknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang senonoh.”


Kursi Panjang Pengadilan dan Penantian Keadilan

Deretan kursi panjang pengadilan mungkin menjadi saksi bisu sebuah arti penantian bagi sejumlah jurnalis media lokal di Solo. Sudah lebih dari 3 jam lamanya, para jurnalis di Solo menduduki deretan kursi panjang di salah satu ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Solo. Hanya satu hal yang mereka tunggu, sidang kasus dugaan korupsi APBD 2003 yang menyeret enam mantan anggota DPRD Solo periode 1999-2004 menjadi terdakwa. Rencananya, sidang bakal mengagendakan pembacaan tuntutan dari jaksa.

Sejak pagi, sejumlah jurnalis yang biasa menggawangi desk hukum dan kriminalitas di Solo sudah mangkal di pengadilan. Hari itu, ada dua jadwal sidang yang cukup menarik, selain sidang korupsi APBD 2003, masih ada juga sidang korupsi lainnya yaitu korupsi dana PKPS BBM di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo yang menyeret mantan Direkturnya Siti Nuraini Arief sebagai terdakwa.

Sidang kasus korupsi PKPS BBM juga mengagendakan pembacaan tuntutan. Seperti sudah menjadi kewajaran, jadwal persidangan selalu mengalami penundaan. Untuk sidang korupsi RSJD, boleh dibilang cukup tepat waktu, dimulai jam 10.40 WIB. Jaksa, hakim, pengacara dan terdakwa semuanya sudah siap dan sidang digelar. Jaksa akhirnya menuntut Siti Nuraini Arief dengan 2,5 pidana penjara plus denda Rp 50 juta plus pengembalian uang lebih dari 600 juta yang telah dikorupsi.

Seusai sidang, Siti sempat menghindari jurnalis. Wajahnya ditutup dengan blocknote dan langsung dirangkul oleh keluarganya. Tampak dia sempat menangis setelah jaksa menuntutnya 2,5 penjara. Dan, ketika sidang kasus korupsi itu sudah berlalu, kini tinggal sidang korupsi APBD 2003 yang jadi incaran jurnalis.

Ruang sidang IV PN Solo telah disiapkan. Pengeras suara telah terpasang rapi. Namun, hinggga lebih dari 2 jam menunggu belum ada kepastian kapan sidang digelar. Jaksa, pengacara, enam terdakwa yaitu Gunawan M Su’ud, Zaenal Arifin, Sahil Al Hasni, James August Pattiwael, Bambang Rusiantono dan Satryo Hadinagoro juga telah siap. Jurnalis, entah itu jurnalis media cetak, fotografer dan wartawan TV dan radio juga telah siap sedia merekam momen pembacaan tuntutan tersebut.

Tak ada kejelasan kapan sidang dimulai membuat jurnalis mulai letih menunggu dan kursi panjang di dalam ruang sidang menjadi pelarian. Ada sekitar lima kursi panjang di dalam ruang sidang itu dan semuanya terisi oleh jurnalis yang kelelahan menunggu. Beberapa jurnalis bahkan sempat tertidur pulas saat tiduran di kursi panjang. Mereka seakan menanti sebuah hal yang belum pasti.

Apa yang ditunggu oleh jurnalis di kursi panjang itu, tak beda dengan penantian panjang dari masyarakat akan sebuah keadilan. Penantian panjang akan terungkapnya sebuah kasus korupsi yang dilakukan secara massal. Kasus korupsi APBD 2003 telah bergulir sejak tahun 2004 atau empat tahun yang lalu. Pimpinan DPRD Solo periode 1999-2004 dan juga anggota Panitia Rumah Tangga (PRT) telah menjadi terpidana kasus serupa dan kini giliran enam terdakwa yang menunggu kepastian hukum.

Empat tahun proses hukum tersebut berjalan. Untuk sebuah proses hukum, empat tahun merupakan waktu yang lama. Setelah ditangani Polwil Surakarta berkas kasus tersebut sempat bolak-balik dari Kepolisian ke Kejaksaan hingga puluhan kali. Baru pada awal tahun 2008 berkas untuk enam terdakwa dilimpahkan ke PN Solo. Setelah sekitar 8 bulan persidangan digelar, akhir September akhirnya sampai pada tuntutan.

Namun, setelah menunggu sekitar 3 jam, jurnalis harus kecewa karena pembacaan tuntutan baru akan dilakukan setelah Lebaran dengan alasan majelis hakim tidak komplit meski jaksa telah siap dengan tuntutannya. Penantian panjang itu ternyata belum berakhir. Penantian jurnalis di kursi panjang pengadilan seakan menyiratkan sebuah kenyataan penantian panjang masyarakat akan sebuah keadilan.


“Surat Cinta” dan Akurasi Berita

Kalau Einstein punya rumus EM=C2 yang menjadikannya melegenda,

maka jurnalistik punya rumus a+b=c yang wajib hukumnya.

Berproses sebagai seorang jurnalis yang baik dan benar aku pikir bukan merupakan hal yang mudah. Setelah pekerjaan mencari berita yang kemudian dilanjutkan dengan menuliskan berita tersebut kadang ada saja pikiran yang mengganjal memikirkan apakah tulisanku benar-benar sudah clear atau belum. Jawaban itu kadang baru terjawab pagi harinya saat koran memuat tulisanku. Kalau udah clear syukur, kalau tidak, maka bayangan datangnya “surat cinta” menggelayuti pikiran.

Istilah “surat cinta’ merupakan istilah familier di tempatku bekerja jika seorang reporter atau redaktur mendapatkan surat peringatan (SP) karena melakukan kesalahan, terutama dalam proses jurnalistik. Kata “surat cinta” menjadi sebuah plesetan yang sering digunakan di ruang redaksi untuk sekedar menghibur diri. Namun, plesetan SP menjadi “surat cinta” bukan berarti mengesampingkan arti dari SP itu sendiri, kata “surat cinta” dirasakan lebih terasa indah dan familier sehingga bagi yang menerimanya akan terasa tidak terlalu menyakitkan.

Sudah sekitar 2,5 tahun, aku berproses sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal. Selama itu pula, aku belum pernah merasakan dag dig dug-nya mendapatkan “surat cinta”. Namun, kisah perjalananku selama 2,5 tahun yang clear dari “surat cinta” runtuh gara-gara uang palsu (Upal). Ya, kasus Upal yang aku tulis pekan lalu membawaku merasakan mendapatkan “surat cinta”.

Harus diakui, aku memang layak mendapatkan “surat cinta”. Aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu saat itu aku menulis uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar Ki Hajar Dewantoro. Padahal, seharusnya uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar WR Supratman. Satu hari setelah berita itu keluar, koranku melakukan ralat dan tiga hari setelah kejadian itu, “surat cinta” itu datang kepadaku.

Setelah kejadian itu, aku ingat betul dengan rumus a+b=c yang pernah diberikan dosen kuliah jurnalistik cetak saat aku kuliah. A artinya adalah akurasi, b artinya balance dan c adalah clearity. Ya, rumus tersebut merupakan rumus paten, yaitu ketika menulis berita dengan akural dan berimbang (balance) maka akan menghasilkan berita yang clear alias aman alis baik dari segi jurnalistik. Namun, saat itu aku melupakan komponen a, sehingga berita yang ada menjadi tidak clearity.

Rumus a+b=c bisa jadi rumus yang simpel dan tidak ribet. Namun, dalam penerapannya, memang tidak semudah pengucapannya. Melakukan proses jurnalistik dengan berpatokan pada akurasi bukan hal yang enteng. Ketika dihadapkan pada fakta yang rumit dan kadang saling bertentangan, akurasi sangat penting, maka perlu ada pemikiran dan pemahaman yang lebih mendalam, agar berita yang diproses dari kumpulan fakta-fakta yang kadang berkeping-keping, dapat ditulis dengan akurat.

Menulis berita dengan balance atau imbang juga bukan perkara mudah. Ada istilah dalam jurnalisme yaitu cover both side yang saat ini sudah berkembang lagi menjadi cover all side. Istilah itu sama artinya dengan jurnalis menuliskan fakta dengan melihat dari berbagai sudut pandang agar beritanya menjadi imbang. Bagi orang awan, imbang kadang diartikan dengan memuat tulisan dua belah pihak yang sama besar dan sama panjang tulisannya.

Bahkan, beberapa perusahaan atau orang yang merasa dirugikan dengan media dan meminta adanya hak jawab yang besarnya sama dengan berita awal tersebut dimuat. Ini artinya sama dengan ketika berita yang dipermasalahkan merupaka berita headline, maka hak jawab yang keluar juga harus headline. Ya, betapa kompleksnya masalah balance hingga kadang tidak sedikit masalah balance berujung pada masalah hukum. Nah, ketika akurasi dan keberimbangan ikut menghiasi atau bahkan telah menjadi dasar atau pondasi dari sebuah berita, maka dapat dikatakan berita tersebut telah clear.

Kini, ketika aku baru saja mendapatkan “surat cinta”, rumus a+b=c selalu aku pikirkan. Mungkin selama ini aku sudah mulai melupakan rumus simpel tersebut dalam berproses. Aku anggap saja “surat cinta” itu telah me-refersh ingatan dan pemahamanku soal rumus a+b=c karena bagaimanapun itu rumus tersebut merupakan rumus wajib dalam jurnalistik, seperti halnya rumus EM=C2 dalam dunia fisika.


Pulang Malam…

Ku baru keluar malam

Setelah sunset tenggelam

Ku selalu keluar malam

Waktu langit mulai hitam

(Anak Malam-Slank)

Beberapa pekan terakhir, aku merasa kehidupan pribadi dan sosialku seperti tertelan bumi. Dari pagi hari hingga larut malam, bahkan kadang sampai dinihari aku mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk pekerjaan. Alhasil, waktu yang tersisa selain pekerjaan hanyalah untuk tidur.

Bukannya aku ingin mengeluh, tapi jika keadaan semacam itu aku jalani terus menerus, maka kebosanan tak terhindarkan lagi. Akupun sadar sejak awal aku terjun ke dunia yang kata kawanku adalah dunia antah berantah, maka tenagaku akan dibutuhkan setiap saat dan tak mengenal waktu, entah pagi, siang ataupun malam. Apalagi kini aku berada di desk kriminalitas yang selalu berpacu dengan kejadian tanpa mengenal waktu. Dan itulah yang membuat aku mencintai pekerjaanku, bagaimana rasanya adrenaline dipacu untuk berkejar-kejaran dengan deadline.

Kemarin, sengaja aku pulang awal dari biasanya. Selain karena pekerjaanku telah tuntas, aku juga ingin melepaskan penatnya pekerjaan agar hidup tak melulu pekerjaan dan pekerjaan. Jangan kalian pikir jika pulang awal berarti aku pulang siang hari sekitar jam 2 siang atau jam 3 sore. Namun, pulang awal dalam kasmusku adalah pulang menjelang petang, sekitar jam setengah 6 sore.

Ah, rasanya sungguh menyenangkan bisa melihat senja sebelum bumi diselimuti kelamnya malam. Bagiku melihat senja adalah kemewahan yang tak terkira karena aku telah lupa, kapan terakhir aku melihat senja. Namun, keinginan untuk melepaskan penat barang hanya semalam saja, sepertinya harus aku lupakan. Jam baru menunjukkan pukul setengah 8 malam saat kawanku mengabari jika ada tawuran di salah satu perguruan tinggi di Kota Bengawan.

Setelah mengkroscek informasi itu ke beberapa sumber, ternyata info itu benar adanya. Tanpa pikir panjang, aku segera mendatangi lokasi. Saatnya memacu adrenaline lagi pikirku. Wah, ternyata bukan tawuran, tapi penganiayaan, tapi tak apalah toh itu juga fakta dan sebuah kejadian. Ternyata aku sedikit terlambat, lokasi kejadian telah sepi dan orang-orang yang menjadi pelaku penganiayaan telah diamankan di kantor polisi. Segera saja aku meluncur ke kantor polisi.

Tanpa perlu waktu yang lama, semua bahan informasi aku dapatkan dan aku segera laporan ke kantor untuk memastikan apakah fakta itu ditunggu untuk edisi esok hari demi kalian para pembaca, atau ditunda. Atasanku memutuskan, fakta itu ditunggu dan kini aku harus lari cari warnet terdekat. Semuanya akhirnya tuntas jam setengah 10 malam. Setelah itu aku ngenet hingga jam 11 malam dan baru sampai kos setengah jam kemudian. Aku pulang dan melepaskan penat meski rencana rehat tak ku dapat malam ini.


%d blogger menyukai ini: