Tag Archives: kampanye

“Ini Pesta Demokrasi, Bung!”

Entah mengapa, bagiku raungan suara knalpot yang memekakkan telinga lebih indah suaranya daripada celoteh Jurkam yang mengobral janji. Wajah para simpatisan Parpol yang dicorat-coret juga lebih sedap dipandang mata daripada wajah para Caleg yang mengesankan diri “smart” ketika debat.

Janji yang terucap Jurkam ketika kampanye, pernah aku dengar 5 tahun yang lalu. Apa yang mereka katakan tak jauh beda ketika mereka berdiri di atas panggung tahun 2004 lalu di depan ribuan massa yang aku yakin lebih menunggu goyangan hot penyanyi dangdut daripada ocehan Jurkam. Kalaupun ada bedanya, hanya sedikit saja.

Dan mereka para Caleg sudah terlalu lelah mengesankan diri sebagai seseorang yang “smart”, “perduli” ataupun “aspiratif”. Mereka terlalu letih dengan citra yang ingin didapatkan hingga akhirnya, aku terlalu muak melihat wajah mereka. Bagi mereka citra adalah segalanya, termasuk citra sebagai orang yang dianiaya, didzolimi. Citra sebagai orang yang tertindas terlalu sering diciptakan sehingga hampir semua Caleg mengaku orang tertindas (entah siapa yang menindas).

Ketika mereka Jurkam dan Caleg sibuk dengan cara mereka sendiri menghadapi pemilu, maka masyarakat punya cara sendiri melampiaskan nafsu demokrasi. Knalpot sepeda motor yang meraung-raung, arak-arakan di jalanan yang memacetkan, corat-coret wajah sebagai bentuk fanatisme menjadi cara tersendiri untuk menghadapi proses demokratisasi di negeri ini.

Kampanye Pemilu telah membuktikan dangdut lebih menarik dari janji kampanye. Mendayu-dayunya musik dangdut lebih asoy daripada obral janji yang berbusa-busa. Hentakan musik dangdut (plus kendangnya) lebih membuat masyarakat bergoyang dan mengangkat tangan daripada teriakan Caleg “Pilih saya.”

Saat kampanye sudah akan berakhir, mereka para Caleg dan Jurkam masih punya itung-itungan politik menuju hari pemilihan dan bagi masyarakat, akhir kampanye adalah akhir dari segala pelampiasan nafsu belajar demokrasi seperti kata seorang simpatisan partai yang harus kena tilang polisi, “Ini pesta demokrasi, Bung.”


Balada UN & Pilkada Jateng

Siapakah sebenarnya yang layak disebut dengan Raja Jalanan? Apakah mereka, para siswa SMA yang tetap turun ke jalan merayakan kelulusan meski masa depan tak seindah harapan. Atau mereka para simpatisan Cagub yang rela arak-arakan di jalanan meski kenyataan hidup tak semanis janji-janji kampanye.

Ini adalah sebagian pesan singkat yang aku terima dari Kasatlantas Poltabes Solo, Sabtu sore, “Hasil penindakan pelaggaran lalu lintas terkait aksi trek-trekan dan konvoi yang dilakukan anak SMU berhasil menindak pelanggaran Lantas sebanyak 128 pelanggaran dan 31 kendaraan bermotor disita sebagai barang bukti.”

Satu hari berselang, aku kembali mendapatkan pesan singkat dari Kasatlantas Poltabes Solo yang isinya kurang lebih seperti ini, “Tetap ditindak untuk pelanggaran Lantas yang berpotensi Laka. Ada beberapa yang sudah kami tindak dan disita sebanyak tiga kendaraan.”

Dua hari terakhir aku merasakan munculnya raja jalanan baru di Solo. Mereka menguasai jalan-jalan protokol dan menjadikan jalanan di Kota Bengawan yang sudah sempit menjadi semakin sempit saja. Kalau mereka para raja jalanan itu akhirnya mendapat tidakan tegas dari aparat kepolisian, bukankah itu kewajaran dari sebuah perbuatan yang memang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka yang memilih menjadi raja jalaan?

Sabtu lalu, siswa SMA yang dinyatakan lulus oleh suatu sistem pendidikan yang amburadul, merayakan kelulusan dengan turun ke jalan. Aksi corat-coret baju sudah hampir menjadi tradisi yang tidak dapat ditinggalkan. Knalpot sepeda motor yang standar diganti dengan knalpot entah bikinan mana dan siapa, asal bisa memekakkan telinga. Euforia kebahagiaan tumpah seketika di jalanan. Aku tidak ingin menyalahkan mereka yang memilih turun ke jalan daripada menagis bahagia dan bersimpuh di atas kaki kedua orang tua sebagai ekspresi rasa bahagia. Aku juga sadar mereka yang turun kejalan belum tentu hasil ujiannya lebih baik dari mereka yang bimbang di rumah menunggu hasil pengumuman ujian sambil memikirkan masa depan.

Apapun itu yang dilakukan oleh mereka para siswa yang bahagia dinyatakan lulus ujian, entah itu corat-coret baju, turun ke jalanan sambil konvoi, menangis bahagia, memeluk kedua orang tua, sujud rasa syukur, itu adalah ekspresi ungkapan kebahagiaan. Soal itu baik atau buruk, benar atau salah, tinggal dari mana kita melihatnya. Bukankah kita juga pernah jadi anak muda seperti mereka?

Mereka memang harus bahagia, paling tidak satu hari saja karena hari-hari berikutnya, indahnya kelulusan tinggal kenangan. Mereka harus kembali menghadapi kehidupan dan masa depan belum tentu sesuai harapan. Mereka harus kembali merajut cita-cita yang mungkin sudah ada dalam angan-angan. Mereka para anak muda akan segera memasuki kehidupan senyata-nyatanya kehidupan yang mungkin tidak seindah perayaan kelulusan.

***

Satu hari berselang, giliran simpatisan salah satu Cagub Jateng menguasai jalanan di Solo. Ini agak berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini massanya lebih banyak dan lebih “liar”. Mungkin mereka senyata-nyatanya raja jalanan.

Dengan membawa berbagai atribut mulai dari bendera salah satu Parpol besar di Indonesia hingga bendera Ormas, para simpatisan itu benar-benar menguasai jalanan dalam arti yang sebenar-benarnya dan para pengguna jalan lainnya dipaksa bersabar demi memberi jalan mereka pada raja jalanan. Tak lupa pula mereka mengenakan kaos bergambar Cagub yang mereka dukung. Dan yang hampir pasti mereka melakukan arak-arakan dan berkonvoi diiringi sebuah melodi kebisingan, raungan knalpot sepeda motor yang saling bersahutan.

Aku tidak ingin menyalahkan mereka para simpatisan Cagub itu. Aku tidak ingin menghukum mereka dengan istilah “orang kampungan dan tak tahu aturan”. Yang ingin aku katakan adalah mereka bisa menjadi tontonan pengguna jalan lainnya meskipun dalam hati pengguna jalan lainnya merasakan dongkol setengah mati terhadap kelakukan mereka. Aku juga ingin berkata, bisa jadi kelakukan mereka di jalanan yang seperti raja jalanan itu sebuah cermin dalam kehidupan politik negara ini. Mereka asik menguasai jalanan saat ada kesenpatan, seperti para pemimpin bangsa yang asik mengorupsi uang rakyat saat ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi sifat manusia, meraih apa yang diinginkan dan dimpikan saat ada kesempatan?

Setelah kampanye Pilkada usai, maka usai pula mereka jadi raja jalanan. Kehidupan mungkin akan kembali normal seperti sedia kala. Mereka harus kembali pada rutinitas dan kehidupan yang belum belum tentu semanis janji-janji politik para calon gubernur yang mereka dukung. Mereka harus kembali memutar otak untuk kencukupi kebutuhan sehari-hari dan mungkin akhirnya lupa pada kerasnya raungan knalpot saat kampanye Pilkada seperti para gubernur terpilih yang mungkin juga lupa akan muluk-muluknya janji-janji mereka.


%d blogger menyukai ini: