Tag Archives: Kapitalisme

Eksmud, Buruh dan Senja..

Ketika senja belum benar-benar sempurna, di dalam sebuah gedung pencar langit, ratusan orang yang katanya eksekutif muda (Eksmud) masih duduk menghadap monitor komputer. Jari-jari tangan dengan cepat menari di atas keyboard, seakan orang-orang melupakan keindahan alam yang bernama senja.

Belasan kilometer dari gedung pencakar langit itu di sebuah daerah suburban, ribuan buruh pabrik tekstil sift malam berjalan tergesa-gesa menuju pintu pabrik yang siap menyambut dalam sebuah “kehangatan” kerja. Saking tergesa-gesanya orang-orang itu karena takut terlambat masuk pabrik, mereka acuh tak acuh terhadap senja yang sebentar lagi benar-benar sempurna.

Satu persatu lampu kota menyala dan kehidupan malam mulai menggeliat. Matahari tidak lagi menyelimuti kota karena manusia kota kini telah memeluk lampu-lampu pengganti sang surya. Dan, senja sudah berlalu sedari tadi.

Kencangnya ikatan dasi yang sejak pagi “mencekik” leher para Eksmud kini sudah mulai dikendorkan, tanda beban pekerjaan tidak lagi terlalu mencekik mereka hari ini. Kursi empuk yang sedari pagi terhimpit pantat sehingga kadang menjadi tidak empuk lagi, kini kursi sudah kembali empuk. Dalam satu hari hanya beberapa kali para Eksmud meninggalkan kursi empuk, bukan dengan maksud apa-apa kecuali takut kena wasir jika terlalu lama duduk. Eksmud pemilik pantat sudah meninggalkan kursi empuk dan akan segera kembali keperaduan seperti Matahari yang kembali keperaduan dengan ditandai munculnya senja.

Baju putih seragam dari pabrik sudah mulai sedikit lusuh dan kotor saat peluk keringat mulai bercucuran. Otot kaki sudah mengeluh sedari tadi ketika kaki buruh pabrik terkstil dipaksa berdiri berjam-jam lamanya. Kesibukan kerja dan kerasnya suara mandor menjadikan krah baju putih seragam dari pabrik yang mulai menghitam terlupa dalam pikiran buruh pabrik tekstil sift malam. Otot kaki yang mengeluh karena pegal-pegal diacuhkan demi upah yang hanya sebatas upah minimum. Kerasnya teriakan mandor, membuyarkan setiap lamunan akan suami, isteri, anak dan pacar tercinta dan sebuah imajinasi akan sebuah senja.

Malam telah benar-benar memeluk semua anak manusia, entah itu Eksmud yang kembali keperaduan atau buruh pabrik tekstil sift malam yang bekerja. Namun, sayang malam yang dibangun dari senja tidak ada yang menikmatinya saat mereka dipaksa untuk tidak melihat senja. Para Eksmud dan buruh pabrik tekstil sift malam tidak tahu apakah senja akan kembali menyapa mereka esok hari. Walaupun sebenarnya itu tidak penting bagi mereka


Bisikan Revolusi

Suara hati itu kini telah berubah menjadi bisikan. Sebuah bisikan-bisikan mulai terdengar di beberapa daun telinga orang-orang dalam sebuah labirin malam.

Bisikan itu terdengar lirih dan tak bertenaga. Kadang daun telinga yang mendengarnya bingung dengan bisikan-bisikan itu. Ada kalanya daun telinga percaya dengan kekuatan bisikan itu. Namun, ada waktunya bisikan itu hanya melintas begitu saja di daun telinga.

Sering kali bisikan-bisikan itu pecah dan meledak menjadi sebuah teriakan. Teriakan yang seakan mengguncang tatanan kehidupan. Namun, letupan bisikan itu terjadi di luar labirin malam. Teriakan-teriakan yang maha dahyat terdengar lirih dan sunyi di tengah luas dan rumitnya kehidupan. Dan labirin malam pun tak goyah sedikit pun.

Suara hati yang berevolusi menjadi bisikan memang telah menjadi sikap dan pemikiran yang tak tergoyahkan. Namun, ada kebimbangan dan ketakutan untuk berjalan lebih jauh lagi, agar bisikan itu tidak hanya menjadi bisikan semata, tapi bisa menjadi terikan. Bukan teriakan di tengah ramainya kehidupan. Namun, sebuah teriakan di labirin malam yang penuh kesunyian.

Musim telah berganti, kawan datang dan pergi dan waktu tak lelah untuk berhenti. Namun, bisikan itu tak berganti meski waktu terus menggerogoti. Masih saja kebimbangan dan ketakutan yang menggelayuti. Bahkan, kebingungan akan sebuah cara agar bisikan itu mejadi teriakan.

Mungkin bisikan itu pernah keluar dari mulut Che Guevara atau Tan Malaka. Bisikan dari mulut Che atau Tan Malaka akhirnya meledak menjadi teriakan yang mengguncang bumi. Meski gagal, namun bisikan itu pernah menjadi sebuah teriakan. Mungkin orang-orang itu tidak seberani Che atau Tan Malaka. Atau mungkin juga mereka lebih memilih menipu suara hatinya. Dan orang-orang itu masih saja berbisik di tengah sunyinya labirin malam.


Kejamnya Dunia

Keuntungan dunia baru kini

Pemimpin industri besar

Katanya memiliki visi dan misi mulia

Tapi kejamnya kepadaku

Mereka menjanjikan dunia di mana setiap orang

Menjadi kaya, pintar dan muda

Namun, seandainya pun aku hidup untuk merasakannya

Bagiku itu sudah sangat terlambat

Saya tidak takut bekerja keras

Saya tidak takut mati

Tapi sungguh saya tidak rela bekerja

Untuk orang-orang yang serakah*

* Terjemahan dari lagu pembuka film dokumenter The New Rules Of The World


%d blogger menyukai ini: