Tag Archives: karanganyar

Eksotisme jalur Candi Sukuh-Tawangmangu

Selalu ada kisah menarik saat perjalanan bersepeda dilakukan. Mulai dari tertelan gravitasi bumi saat turunan curam menghadang, nafas terengal-engal saat membabat tanjakan, nuansa kehidupan selama perjalanan dan tentunya pemandangan alam.

Seakan menemukan “dunia lain” yang tersembunyi, menikmati kehidupan warga lereng Gunung Lawu di ladang, sensualitas Candi Sukuh, naturalnya Tlogo Madirdo hingga romantisme bunga mawar di tepian jalan. Itulah eksotisme yang sempurna di jalur Candi Sukuh-Tawangmangu.

Foto oleh: Sunaryo Haryo Bayu

MENEMBUS HUTAN-Hutan yang berada di sekitar Candi Sukuh menjadi awal perjalanan.

MENANJAK-Trek menanjak dan turunan banyak ditemui di hutan sekitar Candi Sukuh.

MENUNTUN-Tanjakan yang tajam menjadikan pesepeda harus menuntun saat berada di jalur Candi Sukuh-Tawangmangu

MENYEBERANG-Pesepeda harus melewati jembatan bambu untuk menuju Tlogo Madirdo

MENGANTRE-Jalur yang sempit dan berliku-liku membuat pesepeda harus hati-hati dan mengantre di kawasan Tlogo Madirdo.

TLOGO MADIRDO-Telaga yang ada di salah satu bukit di lereng Gunung lawu menawarkan pemandangan indah dan alami.

SUMBER AIR-Sumber air di Tlogo Madirdo tepat berada di bawah bukit dengan ir yang jernih.

 

ALAMI-Suasana Tlogo Madirdo masih alami.

MENUNTUN-Jembatan yang sempit membuat pesepeda harus menuntun sepedanya.

REHAT-Melepas lelah di tengah perjalanan.

 

 

 

 

 

 

 

MENUJU TAWANGMANGU-Tak perlu tersesat, sudah ada petunjuk menuju Tawangmangu.

ROMANTIS-Bunga yang bertebaran di sepanjang jalan menjadikan suasana terasa romantis.

 

 

 

 

 

 

 

 

TERTAWA PUAS-Pesepeda tertawa puas setelah melewati tanjakan terakhir.

 

Iklan

Negeri 5 Bukit

Hari masih pagi. Baru jam setengah tujuh pagi dan matahari belum mampu menembus kabut yang menyelimuti daerah Karanganyar. Hawa dingin khas pegunungan sudah mulai terasa saat mobil pikap sewaan melintas di Pasar Karangpandan, Karanganyar.

Nuansa khas pegunungan semakin terasa kala mobil pikap yang mengangkut enam orang (termasuk saya) dengan “istrinya” masing-masing (baca: sepeda) memasuki jalan menuju Kecamatan Ngargoyoso. Sebuah kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu. Petani mulai beraktivias di ladang sayur mereka, ibu-ibu menggendong anak di depan rumah menyambut pagi dan para pelajar menghiasi jalanan dengan berjalan kaki atau bersepeda menuju sekolah.

Candi Sukuh adalah tujuan kami. Candi yang berada di ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut akan menjadi awal dari perjalanan bersepeda kami. Candi Hindu ini tidak terlalu besar, namun cukup terkenal. Salah satu yang membuat candi ini terkenal adalah banyaknya lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Banyak orang menyebutnya candi paling eksotis se-Indonesia.

Tepat satu setengah jam perjalanan dari Solo, kami tiba di pelataran Candi Sukuh. Hutan pinus yang mengelilingi candi ini semakin menambah kesan eksotis. Tiga kata untuk menggambarkan candi ini, natural, eksotis dan sensual.

Hutan pinus yang ada di belakang candi itu menjadi tempat bagi kami untuk pemanasan. Hawa dingin dan tiupan angin selama perjalanan membuat kaki-kaki kaku dan tubuh malas bergerak. Satu dua kayuhan cukup membuat kami sedikit berkeringat dan siap menyambut perjalanan sesungguhnya, Candi Sukuh-Tawangmangu.

Jalan perkampungan menjadi awal perjalanan. Seperti jalanan perkampungan pada umumnya, apsal tipis sudah mulai mengelupas sehingga menyisakan krikil-krikil dan tanah. Jalanan masih landai, banyak datarnya (aku menyebutnya bonus). Namun itu hanya sekitar satu kilometer pertama, setelah itu kami mulai menghadapi tantangan yaitu turunan.

Bersepeda melintasi jalanan yang menurun terkesan mudah, tapi apa jadinya kalau turunan itu curam, lebih dari 60 derajat. Bahkan ada turunan yang nyaris vertikal. Belum lagi turunan itu bukan jalur lurus, tapi berkelok-kelok dengan bumbu jalanan rusak. Membiarkan sepeda melaju kencang tanpa mengerem, itu cukup berbahaya karena jurang-jurang curam mengangga di tepi jalan. Menggenggam rem dengan kuat, juga tak kalah bahaya karena roda-roda dipaksa berhenti dan bisa membuat kami terguling (baca: cinta tanah air).

Jalan tengahnya adalah beraksi dengan memainkan rem. Mencengkram rem kemudian melepaskan rem, membiarkan gravitasi bumi menelan kami. Begitu dilakukan berulang-ulang. Cengkram, lepas, cengkram, lepas. Mungkin dari kami hanya satu orang “gila” yang sangat sedikit memainkan rem karena dia begitu cinta tanah air (hehehehe).

Begitu tiba di ujung turunan, maka sambutan hangat tanjakan ada di depan mata. Kali ini yang dibutuhkan adalah kekuatan kayuhan dan nafas panjang. Kami tidak memiliki modal untuk berancang-ancang karena setiap tanjakan diawali dengan tikungan tajam. Gear belakang sudah maksimal di paling besar dan gear depan paling kecil (kayuhan ringan) tidak banyak membantu. Baru seperempat tanjakan atau setengah tanjakan kami angkat tangan.

Ketika tenaga semakin terkuras dan tubuh melemas, semangat kami pun mulai meredup. Akhirnya, kami memilih rehat di sebuah sumber mata air. Tlogo Madirdo namanya. Memasuki sumber mata air itu seperti memasuki “dunia lain”. Tepat berada di bawah sebuah bukit, Tlogo Madirdo masih begitu alami, meski tampak jelas daerah itu sedang dibangun menjadi tempat permainan outdoor. Sumber air menyembul di salah satu sudut bukit dan membentuk sebuah danau kecil. Gubuk-gubuk kecil mengelilingi tlogo itu. Airnya jernih hingga kami bisa mengaca dari air itu.

Setelah tenaga kembali terkumpul dan semangat kembali menggelora, perjalanan kembali dilanjutkan. Jalur yang dihadapi nyaris sama. Turunan curam baru kemudian disambut dengan super tanjakan. Kala menghadapi setiap tanjakan seakan menemui tanjakan tanpa ujung, begitu menanjak dan berat. Dari puluhan tanjakan yang kami lalui, saya hanya bisa menuntaskan satu tanjakan di atas sadel sepeda. Selebihnya, seperempat, setengah tanjakan saya lalui dengan menuntun sepeda. Tapi itu sudah cukup baik dan saya mengklaim sebagai raja tanjakan karena hanya saya yang mampu menuntaskan satu tanjakan utuh, sedangkan lima kawan saya sudah angkat tangan.

Medan yang ada memang terasa berat, tapi sensasi pacuan adrenalin saat turunan, naluri dan keinginan untuk mengalahkan tanjakan, tepian hutan yang setia menemani selama perjalanan, petani yang sibuk dengan tanaman sayuran dan bunga mawar di sudut-sudut jalan membuat perjalanan bersepeda begitu menyenangkan.

Setelah dua jam lebih perjalanan bersepeda, kami tiba di Tawangmangu. Dan di ujung perjalanan, kami baru sadar, kami telah membelah bukit-bukit antara Candi Sukuh-Tawangmangu. Perjalanan begitu melelahkan, sudah saatnya menutup perjalanan dengan sarapan pagi, sop buntut Bu Ugik, Tawangmangu.

* all photo by Sunaryo Haryo Bayu


Kemuning dan sepeda

Mobil putih Toyota Hiace keluaran tahun 1982 melaju melintasi bukit demi bukit. Jalan berkelok dengan tanjakan seakan tidak menjadi masalah bagi mobil pikap yang sering disebut mobil sayur karena sering digunakan untuk mengangkut sayur mayur.

BERANGKAT- Perjalanan menuju Kemuning

Tanah masih basah, sisa hujan semalam. Tetes-tetes embun masih menempel di dedaunan meski mentari sudah mulai menyingsing dari Timur. Hari sudah tidak terlalu pagi ketika perjalanan Solo-Kemuning ditempuh sekitar 1,5 jam.

Di Pasar Kemuning kami berhenti. Sebenarnya tempat itu kurang tepat disebut pasar karena tidak ada aktivitas jual beli yang terlalu mencolok. Hanya beberapa warung makan yang buka dan beberapa angkutan mobil berhenti di daerah itu.

Pasar itu bukan tujuan akhir kami. Dari tempat itulah petualangan baru akan dimulai. Sepeda angin yang terikat kencang, satu persatu kami turunkan. Helm, kaus tangan, botol berisi air minum kami persiapkan dan tujuan kami adalah bersepeda di tengah kebun teh Kemuning.

KEBUN TEH- Melintas di tengah kebun teh

Kemuning, sebuah tempat di mana kebun teh tidak hanya menjadi roda penggerak ekonomi warga. Tapi kebun teh juga menjadi tempat di mana orang bisa melepas penat dari rutinitas dan hiruk pikuk kehidupan yang kadang terlalu menjengahkan. Dengan landscape yang indah dan berlatar belakang Gunung Lawu, Kemuning menjadi tempat tujuan rekreasi.

Hari itu, saya dan enam orang yang suka bersepeda ria, ingin menjajal jalur kebun teh dengan bersepeda. Ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Kemuning. Namun, bagi kawan-kawan yang lainnya, mereka sudah berkali-kali datang ke sini. Tapi dalam satu hal, saya dan kawan-kawan saya sama yaitu baru kali pertama ke Kemuning dengan bersepeda.

Di belakang pasar itulah, kebun teh terhampar luas bagai tak berujung. Bukit demi bukit hanya berisi kebun teh. Di sela-sela kebun teh terdapat jalur yang biasa digunakan pemetik teh, di jalur itulah kami akan bersepeda.

Hamparan kebun teh berada di Kemuning

Jalur pemetik teh itu lebarnya tidak lebih dari satu meter. Kadang cukup lebar untuk bersepeda ria, namun kadang juga menyempit hingga menyebabkan ranting-ranting pohon teh menggores kaki-kaki.

Trek yang naik turun dengan pemandangan yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Kemuning telah memberikan warna tersendiri bagi kami karena sambil menikmati alam yang indah juga bisa berolahraga ria.

KAKI GUNUNG- Bersepeda di tengah kebun teh dengan latar belakang Gunung Lawu.


Lanjar, Ayin & Dagelan Hukum

Melihat wajah Lanjar Sriyanto yang terpampang di beberapa koran beberapa hari terakhir, saya melihat adanya kepedihan yang begitu dalam. Usianya baru 36 tahun, tapi kesan ketuaan itu begitu terlihat dengan tubuh kurusnya. Kumis dan jambangnya lebat dengan tatapan mata yang begitu pilu menambah kesan ketuaan laki-laki itu.

Belum lagi, ada jeruji besi yang mengekang kebebasan Lanjar dalam foto di koran-koran itu. Dia hanya menunduk saat berkonsultasi dengan kuasa hukumnya, M Taufiq SH. Dia kini menjadi pesakitan kasus kecelakaan lalu lintas. Lanjar menjadi terdakwa atas kasus meninggalnya Saptaningsih dalam sebuah kecelakaan di Colomadu, Karanganyar, beberapa bulan yang lalu. Saptaningsih adalah istri Lanjar yang diboncengkan laki-laki yang sehari-hari menjadi buruh bangunan itu.

Ketika itu, Lebaran hari kedua. Lanjar, Saptaningsih dan anak mereka Warih baru saja pulang dari silaturahmi di kerabat mereka. Saat mereka melintas di Jl Adisucipto tiba-tiba mobil Carry yang ada di depan Lanjar mengerem mendadak hingga akhirnya Lanjar tidak bisa menghindari tabrakan. Sepeda motornya jatuh, Lanjar terplanting dan Septaningsih terpental ke kanan.

Namun, kejadian belum usai. Dari arah berlawanan, ada mobil Panther yang melaju kencang dan Septaningsih yang terkapar di jalanan ditabrak hingga tewas. Kini sudah sudah hampir empat bulan berlalu dan Lanjar dimintai pertanggungjawabannya di depan hukum. Jaksa mendakwa Lanjar karena kelalaiannya menyebabkan istrinya tewas seperti apa yang ada dalam Pasal 359 KUHP.

Dia menjadi terdakwa atas meninggalnya istrinya. Dia yang awam hukum mengikuti proses yang ada hingga akhirnya Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar menahannya. Keluarga kecil itu kini menjadi korban penegakkan hukum yang membutakan diri dari rasa keadilan. Septa ningsih telah meninggal, Lanjar ditahan dan Warih anak mereka mogok sekolah.

Hukum di negeri ini memang seperti dagelan. Hukum bisa begitu tegas bagi mereka orang kecil dan papa. Tapi hukum bisa sangat fleksibel bagi mereka yang punya kuasa dan uang. Lihat saja, Arthalyta Suryani alias Ayin yang bisa menikmati fasilitas istana di balik jeruji besi. Kamar Ayin di tahanan itu lebih mewah dari kamar tahanan lainnya dan lebih mewah dari kamar di kos atau rumah kontrakan buruh bergaji rendah.

Seorang pakar hukum di Solo pernah berkata, hukum itu benda mati sehingga proses penegakan hukum akan sangat bergantung pada aparat penegaknya. Ketika Lanjar harus duduk di kursi pesakitan pengadilan dan Ayin menjadi ratu di Rutan Pondok Bambu, ternyata slogan semua orang memiliki kedudukan sama di depan hukum nyatanya tidak berlaku lagi. Dulu orang miskin sudah dilarang sakit, dilarang sekolah dan sekarang orang miskin dilarang berurusan dengan hukum.


%d blogger menyukai ini: