Tag Archives: kenangan

Membungkus kenangan

Kotak hitam itu masih kosong. Tanpa isi. Hampa. Aku ingin mengisinya dengan kenangan. Menutup dan memasukkannya ke dalam ruang kosong yang hampa.

Satu persatu kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu. Aku katakan harus karena aku tidak ingin larut dalam kenangan. Bahwa kenangan itu kadang indah, kadang pahit itu memang benar adanya. Namun, aku tidak sudi hidup dalam kenangan, maka kenangan itu harus masuk dalam kotak hitam itu.

Kutata rapi setiap kenangan itu. Kupandangi dalam-dalam detail kenangan itu. Kurasakan dengan hati, kenangan itu pernah ada dan nyata. Aku tersenyum membungkus kenangan itu, meski sebenarnya terasa pahit.

Kenangan itu sudah menjadi penghuni kotak kosong. Kututup rapat kotak itu, memasukkannya dalam sebuah tempat tak bertuan, sebuah ruangan gelap dan hampa.

Aku sadar kenangan itu ada di hati dan pikiran. Sehebat-hebatnya aku, sekuat-kuatnya aku memasukkan kenangan itu dalam sebuah kotak, kenangan itu akan tetap ada. Dia tidak akan hilang, lenyap karena dia telah masuk dalam setiap sendi. Dalam aliran darah. Dalam sunsum tulang.

Karena aku tahu itu, maka aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam itu. Kalaupun kenangan itu akan muncul, maka kenangan itu tidak menyakitkan. Kalau kenangan itu hadir lagi, maka tidak ada dendam dan kebencian. Karena aku menghargai kenangan, aku memilih memasukkan kenangan itu dalam kotak hitam.

Iklan

Candu itu bernama kenangan

Bukan dalam lembaran album foto. Tidak juga dalam bait-bait indah kata-kata puisi. Bukan pula dari kalimat-kalimat syahdu dari sebuah lagu. Dia ada dan hadir dalam di dalam sel, menyatu bersama aliran darah, berhembus dalam setiap nafas, berjalan dalam setiap derap langkah.

Dia telah menjadi candu. Dia telah meracuni tubuh. Dia akan selalu hadir, entah dalam ruang kosong yang hampa atau dalam riuh rendahnya dunia.

Seperti sebuah bayangan, dia akan selalu hadir dan menemani setiap pejalanan. Sekuat apapun upaya menghapusnya, dia tak pernah bisa hilang karena dia bukan lagi sesuatu yang teralienasi. Karena dia telah menyatu dalam harmoni jiwa dan raga. Dia, candu itu bernama kenangan.


Aku ingin bicara kenangan (2)

Bukan senja, tapi derai hujan deras. Bukan cahaya kuning kemerah-merahan dari ufuk barat, tapi langit yang kelam nan gelap. Bukan semilir angin yang menyejukkan hati, tapi kipasan angin yang menusuk hingga tulang.

Layaknya sebuah kenangan, sebuah ritual suci yang biasa aku lakukan itu hadir lagi di depan mataku. Sebuah ritual yang bisa menyatukanku dengan senja. Sebuah kesakralan tentang langit yang berpendar kuning kemerah-merahan.

Di sebuah balkon, ritual suci itu sering terjadi. Dari ketinggian itu, senja akan nampak sempurna. Dari tempat itu pula siluet pohon, dedaunan dan manusia menjadi keelokan senja.

Dari tempat itu aku kembali pada kenangan. Dari sebuah ruang panjang itu kenangan itu bangkit. Dari kursi yang panjangnya lebih dari 20 meter itu kenangan hadir.

Dunia terlalu gelap. Langit sudah murka. Awan hitam bergulung-gulung menumpahkan air sederas-derasnya. Tak ada senja, tak ada pendaran cahaya kuning kemerah-merahan, tak ada siluet pohon. Aku hanya bisa jongkok menahan terpaan air. Kursi panjang itu sudah basah dari tadi. Lantai balkon tergenang air.

Kenangan itu selalu muncul dan hadir tanpa mengenal ruang dan waktu. Tak mengenal apakah senja tiba atau tidak. Tak mengenal hujan deras mengguyur membahasi bumi, kenangan itu tetap hadir.

Dari titik-titik air yang terus membahasi tanah kenangan itu terlihat nyata. Dari pantulan genangan air, kenangan itu hadir begitu dekat. Dari nyala lampu mobil yang lalu lalang, kenangan itu tetap bersinar. Dari daun-daun yang basah, kenangan itu seakan enggan pergi.

Terbuat dari apakah kenangan itu?

*@Balkon 20.15 WIB


Aku ingin bicara kenangan

Terbuat dari apakah kenangan? Aku tak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi, tulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam Cerpennya Kyoto Monogatari.

Buku yang memuat kumpulan Cerpen itu sudah aku baca berulang-ulang. Setiap kali membaca Kyoto Monogatari, Cerpen itu seakan membawaku dalam kenangan, kenangan dan kenangan. Seakan akulah pemeran utama dalam Cerpen itu. Serasa SGA khusus menuliskan Cerpen itu untukku.

Kyoto Monogatari-nya SGA yang mengenang perempuan di tengah badai salju yang hebat, seperti menceritakan kisah hidup anak manusia yang selalu dan selalu dihadapkan pada permasalahan kehidupan.

Badai salju yang datang kadang tak mengenal waktu, terpaannya begitu keras hingga menghujam menembus pori-pori kulit, kuat dan tajam menghantam daging dan tulang hingga menusuk ke jantung hati. Badai salju menerpa hingga membuat jatuh tersungkur. Namun, badai tidak harus dilawan, tapi dihadapi. Pusaran badai harus menjadi titik tolak untuk kembali melangkah.

Dan kala SGA bercerita tentang perempuan yang tertatih-tatih berjalan di badai salju, aku hanya ingin melangkah pelan, sejengkal demi sejengkal seperti dikatakan Puthut EA dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, “Kamu bukan orang hebat, tapi kamu tahu persis bagaimana agar selalu bisa belajar dari kesalahan di masa lampau. Kamu tahu bahwa dunia ini kacau dan sakit. Tapi kamu tidak boleh tidak punya harapan.”

Tak ada yang tahu kenapa perempuan itu meninggalkan rumah dan menghadapi badai salju, tulis SGA. Dan bagiku, tak ada yang tahu kenapa aku memilih perjalanan berat dan melelahkan ini, meski sebenarnya sejak awal aku memiliki pilihan tetap berada di dalam rumah seperti cerita SGA itu tapi aku telah memutuskan berjalan dan menghadapi badai salju itu.

Berhadapan dengan badai salju itu memang melelahkan. Tapi dari badai salju pula aku mendapatkan pelajaran tentang hidup. Ada pelajaran tentang kehidupan yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tetap bertahan dalam rumah karena aku telah memiliki berjalan di tengah badai salju seperti perempuan itu.

Badai pula lah yang mengajarkan tentang membaca kehidupan seperti kata SGA dalam Kitab Omong Kosong kala Satya berbicara dengan Maneka bahwa membaca tidak hanya membaca tulisan tapi juga kehidupan.

“Aku tidak tahu terbuat dari apa kenangan itu.”


%d blogger menyukai ini: