Tag Archives: kisah

Cerita pelacur kaya

Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah perempuan itu. Kalau boleh aku menduga, perempuan itu memiliki nilai sempurna untuk dapat dikatakan sebagai perempuan cantik secara fisik. Atau paling tidak, kaum adam tidak begitu saja memalingkan muka saat melihat wajahnya.

Rambut panjang lurus, kulit putih mulus, wajah bersih tanpa cela dan tubuh proporsional yang akan menggugah naluri kebinatangan lawan jenisnya. Mungkin dia seperti itu. Itulah parameter cantik secara fisik pada umumnya. Perempuan itu memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjalani pekerjaannya. Pekerjaan yang katanya profesi paling kuno sejak umat manusia ada. Pekerjaan yang oleh kebanyakkan orang disebut pekerjaan hina. Pekerjaan yang akan membuka kedok manusia kalau naluri binatang masih mengalir dalam diri makhluk yang katanya paling sempurna di dunia.

Khalayak umum biasanya menyebutnya perempuan malam. Orang menganggap perempuan itu hanya menjual tubuhnya semata. Namun, apa jadinya kalau perempuan itu memiliki intelegensia di atas rata-rata. Memiliki pengetahuan yang luas, melebihi perempuan-perempuan lain yang kadang hanya pamer kecantikan fisik, tapi lupa mengisi otaknya. Kalau memang seperti itu adanya, perempuan itu masuk kategori perempuan sempurna idaman para pria. Cantik secara fisik, cantik pula jeroannya atau biasa disebut memiliki innerbeauty.

“Tiga hari bersamanya, kau bisa jatuh cinta kepadanya. Diajak ngobrol apapun bisa nyambung. Bahkan, dia tau perkembangan politik dalam dan luar negeri. Aku pikir dia pasti baca Kompas tiap pagi,” kata seorang kawan kala bercerita tentang perempuan itu.

Perempuan itu tak menampik, pengetahuan luasnya tentang berbagai hal juga menjadi modal untuk ‘mengimbangi’ para kliennya yang berasal dari golongan kelas atas. Tapi, ternyata perempuan itu memang memiliki minat untuk menggali ilmu dan pengetahuan di muka bumi ini. “Bahkan dia tau masalah politik di Inggris, soal perdana menteri yang ramai dibicarakan itu,” lanjut kawanku.

Apapun alasan dan motif dari perempuan yang telah mengasah innerbeauty-nya itu, dia membuktikan tak hanya memiliki kecantikan fisik semata. Dia bahkan telah menelanjangi kaumnya yang kadang mengolok-oloknya (mungkin karena iri dengan kecantikannya). Dia juga telah menggugurkan vonis dari para manusia pada umunya yang sering menjadi hakim atas pekerjaannya.

Sampai kini aku tidak tau bagaimana awalnya perempuan itu bergelut dengan dunia malam. Yang aku dengar, dia terlahir dari keluarga kaya raya. Keluarga broken telah membawanya menuju sebuah kota yang jauh dari rumahnya. Di sebuah hotel berbintang, perempuan itu tinggal. Menikmati segala kemewahan hotel dari keringat pekerjaannya. Di luar pekerjaannya, dia menghabiskan waktu untuk menonton TV, baca majalah dan koran. Dunia malam memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, tapi bukan berarti seluruh hidupnya untuk dunia malam. “Dia tidak suka dugem. Kadang minum. Bir katanya,” cerita kawanku itu.

Dari cerita temanku itu pula aku tahu kalau perempuan cantik itu sangat sadar akan pekerjaannya. Perempuan itu juga memimpikan kehidupan rumah tangga meski dia sempat berkecil hati, masih adakah manusia yang mau menerima keadaannya. “Dia masih jomblo. Dia bilang, siapa yang mau denganku yang seperti ini,” ucap kawanku.

Malam itu, ketika aku mendengar semua cerita tentang perempuan itu, aku membayangkan sedang apa perempuan itu. Apakah dia sedang menemani kliennya di ranjang kamar sebuah hotel. Ketika aku menulis cerita ini, aku bertanya, sedang apa gerangan perempuan ini. Apakah dia sedang melahap lembaran-lembaran koran nasional. Perempuan yang hingga kini belum bisa aku bayangkan seperti apa wajahnya itu telah meluruhkan seluruh prasangka-prasangka kepada mereka yang menggeluti dunia malam. Paling tidak aku tidak ikut-ikutan menjadi hakim yang memvonis “bersalah” perempuan itu.

 


Dunia Warung Kopi

Warung kopi tak hanya melulu soal bubuk hitam bernama kopi. Warung yang menjamur di sejumlah bilangan Kota Jogja itu juga bukan sekadar cerita soal sensasi khas aroma kopi yang berpadu dengan asap rokok.

Dunia warung kopi adalah dunia di mana sejuta dunia ada di dalamnya. Dunia gairah anak muda, dunia pelarian orang kurang kerjaan, dunia obrolan tanpa aturan, dunia gosip kelas lokalan dan dunia maya pun telah merasuki dunia warung kopi.

Warung kopi mengakomodasi sepasang muda-mudi pamer kemesraan hingga pertengkaran. Berbagi kehangatan dan kecemburuan. Kopi menjadi pelengkap semua kata-kata manis berbalutan rayuan. Rasa pahit kopi pun menjadi penyeimbang kata-kata manis itu agar muda-mudi yang memadu kasih tidak larut dan hanyut dalam manisnya asmara.

Pengangguran yang sudah menyandang gelar sarjana dan orang-orang kurang kerjaan pun tak pernah diharamkan untuk datang ke warung kopi kelas murahan. Bahkan, konsumen warung kopi kelas pinggir jalan itu banyak diisi manusia jenis ini, pengangguran dan kurang kerjaan. Warung kopi seakan jadi pelarian manusia jenis ini. Bagi para penggangguran, kopi pahit belum sepahit realita dunia yang menyesakkan dada. Untuk orang kurang kerjaan, menyambangi warung kopi layaknya menjalani rutinitas pekerjaan.

Mereka semua, muda-mudi yang dimabuk asmara, penggangguran, mahasiswa, orang kurang kerjaan adalah manusia yang selalu memenuhi sudut-sudut warung kopi. Mungkin kadang juga ada manusia dari kolompok lain yang sering datang ke warung kopi seperti eksekutif muda, tante-tante ataupun borjuis yang kesepian, namun warung kopi yang mereka sambangi mungkin berbeda. Lebih tegasnya berbeda level dan kelas dengan warung kopi bagi sejuta umat manusia.

Di warung kopi, bicara soal fakta realita atau gosip tak ada bedanya. Semua berbisik-bisik di tengah alunan musik. Kopi yang menjadi hidangan utama akan menjadi pemacu adrenalin saat manusia ngomong tentang politik dan menghujat pemerintah. Ampas kopi yang tersisa juga bisa menjadi saksi kala obrolan sudah menyangkut hal-hal rahasia. Tanpa perlu diucapkan lewat omongan, seakan pemilik warung kopi berkata, “Silakan nongkrong, ngobrol dan berkata-kata. Kalau perlu pesan sebanyak-banyaknya.”

Dan kini ketika laju perkembangan teknologi tak bisa dibendung lagi, warung kopi juga menjadi warung dunia maya. Manusia yang duduk di warung kopi bisa teralienasi dengan tempat di mana dia berada karena sudah menjelajah mengelilingi dunia entah itu cari bahan tugas kuliah, download film bokep, pedekate lewat jejaring sosial atau sekadar chatting dengan kawan lama. Lagi-lagi tanpa harus terucap pemilik warung kopi meninggalkan wejangan, “Silakan berselancar di dunia maya sepuasnya, tapi jangan lupa bayar minuman dan makanan yang kau pesan.”

Dunia warung kopi adalah dunia pluralisme. Dunia dengan segala jenis manusia yang ada di dalamnya. Dunia dengan segala aktivitas dan obrolannya. Dunia yang ada di dalam dunia warung kopi memang berbeda dan tak sama serta tak perlu dipaksakan agar sama, tapi selera mereka tetap sama, menikmati secangkir kopi.

 


Kawan Nyoto

Nyoto namanya. Begitu dia biasa dipanggil. Tapi kadang ada pula yang memanggilnya dengan sebutan YA atau YS.

Tak ada yang salah dari panggilan yang berbeda-beda itu karena nama aslinya YA Sunyoto. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan panggilan yang berbeda-beda itu.

Dalam sebuah keremangan malam di salah satu sudut warung hik, aku mengenalnya. Namanya sudah berkali-kali disebutkan. Sepak terjangnya berulang-ulang diceritakan, namun baru pada malam menginjak dini hari itu aku bisa bertata muka dengannya.

Tubuhnya pendek, badannya gemuk, kumis dan jambangnya tumbuh subur. Jabat tangan eratnya masih aku ingat jelas. Sambil tersenyum dia mengangguk-anggukkan kepala. Kesan pertamaku pada orang itu adalah orang yang familier.

Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Sekat-sekat usia diterjangnya, batasan-batasan yang sering mengkungkung manusia dalam bergaul diterobosnya. Tak salah kiranya dia punya pergaulan luas. Apalagi dia punya banyolan dan ketawa yang khas.

Sambil mengobrol, menghisap rokok, sering dia terkekeh-kekeh sampai matanya berair. Sikapnya yang familier dan gayanya yang eksentrik, membuatnya dia bisa menyatu dan larut bersama anak-anak muda dalam hiruk pikuk dunia jurnalisme. Sekitar satu tahun yang lalu dia menjadi nahkoda divisi redaksi Harian Solopos.

Dia memang pemimpin redaksi kami, tapi dia tidak pernah merasa lebih hebat dari kami. Sungguh, kerendahan hatinya luar biasa. Dia memang bos kami, tapi dia tidak pernah bossy. Dia memposisikan diri sebagai kawan dan teman bagi anak-anak muda yang masih hijau dalam jurnalisme. Maka, aku pun tak sungkan memanggilnya dengan panggilan kawan Nyoto.

Dia tidak marah kalau pendapatnya didebat. Dia membuka ruang untuk berdiskusi, beradu argumentasi. Tak jarang pula dia mengamini pendapat anak-anak muda ketika pendapat itu dirasa tepat dan benar.

Berkali-kali aku punya kesempatan berdiskusi dengan kawan Nyoto. Salah satu yang membuat kami gencar berdiskusi adalah kecintaan kami pada sastra, terutama membahas Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Suatu ketika, kawan Nyoto mengirimiku pesan singkat dan mengirimi pesan Facebook yang isinya memintaku terus berkarya. Rupanya dia habis membaca tulisan di blog-ku. “Dan, teruslah menulis. Seperti biasa saja, mana yg layak untuk publik berikan kepada publik.”

Dalam ramainya diskusi, dia selalu menyelipkan petuah dan nasihat yang tidak menggurui. Kawan Nyoto sangat pintar memadukan argumentasi-argumentasi perdebatan dengan petuah-petuah. Sehingga, tanpa terasa dalam setiap diskusi dengan kawan Nyoto akan ada dua hal yang bisa dipetik sekaligus, keluasan berpikir setelah berdiskusi dan petuah bijaknya.

Sekitar tiga bulan lalu, kawan Nyoto jatuh sakit. Tak ada yang menduga dia sakit. Dia selalu energik dan semangat kala menghadapi segala rintangan. Kami hanya bisa meratapi kawan kami tergolek lemas tak berdaya di rumah sakit. Berbulan-bulan dia dirawat di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit dan sakit belum juga pergi.

Akhir Agustus, tepatnya 22 Agustus lalu, kawan Nyoto tepat berusia 48 tahun. Meski terlambat sehari, kami anak-anak muda yang masih membutuhkan bimbingannya datang kerumahnya. Kami ingin berbagi bahagia bersama kawan Nyoto. Perayaan ulang tahun yang teramat sangat sederhana. Setelah kue ditiup, dengan terengah-engah, kawan Nyoto meninggalkan petuah bagi kami semua. Petuah agar kami terus maju, terus berkarya.

Dalam sakitnya, dia tetap tersenyum. Dalam lukanya dia tetap menjadi bapak dengan segudang nasihat indah. Dan, beberapa hari sebelum Lebaran, saya kembali ke rumahnya. Rupanya kawan Nyoto ingin masuk kantor meski fisiknya tak memungkinkan.

Petang itu, kawan Nyoto bersikeras ingin masuk kantor. Entah apa yang dia rasakan dan dia inginkan, tapi keinginannya tidak terbendung lagi. “Saya ingin melihat kantor, Dan,” kata kawan Nyoto.

Saya dan Pak Redpel yang datang ke rumahnya harus memapahnya, menuntunnya. Untuk berjalan beberapa meter saja, kawan Nyoto terlihat kelelahan. Kami menuntunnya menuju ruang kerjanya. Rupanya dia rindu, kangen dengan kantor dan segala hiruk pikuknya.

Tak kusadari, itu adalah pertemuan terakhirku dengan kawan Nyoto. Beberapa hari kemudian, kesehatannya kembali memburuk dan dia masuk

ICU. Aku menjenguknya, tapi tak berani masuk melihatnya. Aku yang penakut tidak berani melihat kawanku terbaring tanpa daya.

14 September, kawan Nyoto berpulang. Dia meninggalkan sejuta cerita indah. Dia meninggalkan segudang harapan. Dia menitipkan mimpi kepada kami, anak-anak muda. Selamat jalan bapak, sahabat, kawan kami tercinta YA Sunyoto.


Bunda

Langkah kaki perempuan itu semakin menjauh. Ia sempat menengok ke belakang, melihat dua bocah yang dipegangi seorang perempuan tua di belakang rumah.

Perempuan itu melangkah dengan berat sampai-sampai tak sempat melambaikan tangan. Sempat ia menciumi pipi kedua bocah itu, namun semakin lama ia berada di sana, akan semakin berat ia meninggalkan dua bocah itu. Akhirnya perempuan itu melangkah meski berat, tikungan di ujung jalan membuatnya tak lagi terlihat. Yang tertinggal hanya isak tangis dua bocah.

Kini, perempuan tua itu mencoba menenangkan dua bocah itu. Satu bocah perempuan, satu laki-laki. Yang perempuan lebih besar, yang laki-laki sedikit lebih kecil. Tangis bocah perempuan mulai mereda. Sambil mengusap ingus yang keluar karena tangis, bocah perempuan itu menenangkan bocah laki-laki itu. “Sudah nangisnya. Besok Sabtu, Bunda kembali lagi,” kata bocah perempuan itu kepada bocah laki-laki yang tidak lain adalah adiknya.

Sejak meninggalnya ayah mereka beberapa bulan yang lalu, bocah berusia empat dan tiga tahun itu tinggal bersama nenek mereka. Dua bocah itu harus berpisah dengan bunda yang menjadi guru, jauh di luar kota. Ibu anak itu tak bisa bersua setiap hari karena jarak antara rumah nenek dan tempat dinas bunda mereka lebih dari 100 km. Sepekan sekali kadang sepekan dua kali, bunda dua bocah itu pulang menemui bocah itu, melepas rindu pada anak-anak.

Saat pagi, ketika perempuan itu harus kembali berdinas untuk menghidupi keluarga kecil itu dan terpaksa meninggalkan kedua anaknya, maka selalu ada tangisan dua bocah. Tangisan keengganan akan sebuah perpisahaan meski hanya beberapa hari saja.

Maka perempuan tua, nenek mereka hanya bisa memegangi dua cucunya agar tidak berlari mengejar ibu mereka. Tangisan dua bocah itu di belakang rumah selalu menghiasi pagi hingga beberapa bulan kemudian tak ada lagi tangis pagi dari mereka karena perempuan itu pindah tugas di kota tempat kelahirannya. Keluarga kecil itu kembali bersatu, tanpa jarak.

***

23 Tahun kemudian

Jarum jam sudah menunjukkan angka 00.15 WIB. Bocah laki-laki itu kini menjelma menjadi laki-laki dewasa. Sudah dini hari, tapi matanya belum terpejam. Ia memang sedang menunggu sesuatu malam ini. Setelah merasa waktunya tepat, dengan cepat tangannya memencet tuts di Ponsel murahan miliknya. Senyumnya mengembang setelah di layar Ponsel itu tertulis “Pesan terkirim”.

Dia tak berharap pesan itu segera terbalas. Laki-laki yang kini merantau jauh dan tinggal jauh dari keluarganya itu merasa yakin, orang yang dikirimi pesan sudah terlelap bersama datangnya malam. Tapi perkiraannya meleset. Beberapa menit kemudian, Ponselnya berdering tanda sebuah pesan tiba.

Dibukanya pesan singkat itu, ternyata pesan itu dari orang yang baru saja dikirimi pesan singkat. Orang itu adalah orang yang sangat dicintainya. Orang yang selalu menerimanya meski berkali-kali kesalahan dibuatnya. Orang yang selalu sabar meski kadang laki-laki itu acuh.

Senyum mengembang dari laki-laki itu setelah membaca pesan singkat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira. Laki-laki itu bahagia karena hari itu adalah hari bahagia, hari lahir dari orang yang dikirimi pesan singkat itu, bundanya. Laki-laki itu gembira masih bisa berkata, “Happy B’day Bunda. I Luv U.”


Keluh kesahku kepada senja

Tuhan izinkan aku berkeluh kesah kepada langit kuning kemerah-merahan yang berpendar. Izinkan aku mengadu kepada semburat cahaya bulat yang bernama senja.

Bukan aku ingin menduakan-Mu Tuhan. Bukan aku ingin berpaling dari kekuatan-Mu Tuhan. Aku hanya ingin bercerita kepada senja. Cahaya kuning kemerah-merahan yang sempurna itu adalah kuasa-Mu, maka biarkan aku bercerita kepada-Mu melalui langit yang berpendar itu.

Senja, aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah rasa itu. Apakah itu rasa duka, senang, benci, suka ataupun dendam. Senja, kau kan juga tahu, selain pikiran (baca:logika), rasa itu juga punya andil dan kuasa dalam sikap manusia. Rasa yang beraneka ragam itu bisa bercampur aduk menjadi satu, rasa sedih bisa menyatu dengan suka dan dendam hingga kombinasinya melahirkan sikap gado-gado. Itulah gado-gado dari rasa yang bisa melahirkan sikap yang campur aduk pula.

Siapakah yang sebenarnya menciptakan rasa? Apakah rasa hadir tiba-tiba tanpa ada alasan apapun seperti tukang sulap yang mampu menghadirkan barang-barang tak terduga dan mampu memukau penonton. Apakah rasa itu lahir dan turun dari langit seperti ketika Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Atau malahan rasa itu tumbuh seperti setiap kayuhan pesepeda atau istilah Jawa, alon-alon asal kelakon.

Ketika kemudian muncul pertanyaan atas rasa, siapakah kiranya yang bisa menjawab pertanyaan itu. Apakah aku harus bertanya kepada diriku sendiri karena rasa itu aku yang merasakan, meski aku tidak tahu siapa yang menciptakan dan terbuat dari apa rasa itu. Atau aku harus bertanya pada kepada orangtuaku yang sejak kecil merawatku. Atau bertanya kepada kawan-kawan yang masih mau menawarkan pundaknya kepadaku.

Di sudut balkon lantai dua kos, aku masih bertanya-tanya tentang pertanyaan itu. Apakah kau, senja yang berwarna kuning kemerah-merahan dengan semburat cahaya indah bisa membantuku?


J’ai Deux Amours*

Di pelataran Menara Eiffel yang anggun, kita memadu kisah. Di bawah temaram lampu-lampu menara, kau berkisah tentang masa lalu, kekinian dan masa depan.

Bulan dan bintang yang malam itu pamit, tentu kecewa tidak bisa menjadi saksi tentang kisahku, kisahmu, kisah kita. Hanya menara setinggi 325 meter itu yang menjadi saksi rekahan senyummu, matamu yang berair karena tertawa lepas, kerutan dahimu yang berpikir serius.

Sayang ini bukan musim dingin. Kalau musim dingin, aku akan mengajakmu bermain di lapangan ski es di tingkat pertama menara. Membetulkan resleting jaketmu untuk melawan hawa dingin. Mengikatkan tali sepatu skimu dan memastikan semuanya sempurna dan tak lagi mengkahawatirkanmu jatuh. Saat kau limbung di tengah lapangan ski es, raihlah tanganku, aku akan setia mengandengmu.

Aku mengingatkanmu, 10 September 1889 Thomas Edison meninggalkan pesan di buku tamu Menara Eiffel “Kepada Tn Eiffel sang insinyur, sang pembangun berani arsitektur modern besar dan asli dari sesorang yang memberikan penghargaan besar untuk semua insinyur termasuk sang insinyur besar sang Bon Dieu, Thomas Edison.”

Kepada Gustave Eiffel, sang perancang menara itu aku meninggalkan pesan, “Terima kasih telah menciptakan menara untuk memadu asmara. Terima kasih telah menciptakan menara berbobot 7.300 ton besi yang membuat kami memadu hati.”

Kau bertanya padaku tentang cinta. J’ai deux amours. Aku mempunyai dua cinta. Pertama, cintaku kepada diriku sendiri, kedua, cintaku kepada…kau.

Dia merebahkan kepalanya di dadaku. Di telinganya, kubisikkan kata-kata, “Je t’adore, ma petite sorite! Kaulah yang menjadikan kemala hikmat, anjunganku.”** Sungguh, Paris terlalu romantis.

*Subjudul dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.

**Kalimat yang dikatakan Ivan Alminsky kepada Marcelle dalam novel Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona.


Pasar di Kotaku

Mengapa pedagang bumbon di pasar tradisional selalu didominasi mereka yang telah berusia senja? Kenapa warung-warung makan di pasar selalu meninggalkan genangan air sisa piring dicuci?

Pasar yang menampung pedagang pakaian, warung makan, penjual VCD bajakan, pernak perik, sepatu, jajanan pasar, bumbon, Sembako, buah-buahan, buku pelajaran, tukang cukur rambut, toko emas, ikan asin, bibit minyak wangi, servis jam tangan hingga peralatan pertanian memiliki keunikan tersendiri.

Bau khas bumbu-bumbu untuk masakan yang mulai membusuk menyeruak di antara los-los sempit. Entah dengan alasan apa dari dulu kala, los-los itu berada di sudut paling belakang pasar. Mungkin agar bau khas itu tidak menyengat ke semua penjuru pasar atau mungkin juga ada usaha sistematis mengasingkan para pedagang yang hampir semuanya berusia senja itu dalam sebuah deretan panjang los-los itu sehingga tempat itu lebih mirip panti jompo.

Terpal plastik yang melindungi pedagang peralatan pertanian dari terik matahari dan derasnya air hujan sudah banyak yang bolong. Di tengah-tengah cangkul, sabit, linggis, pedagang yang rambutnya telah beruban dengan gigi ompongnya sering terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Layaknya los-los pedagang bumbon, deretan panjang kios peralatan pertanian yang sepi juga seperti panti jompo khusus laki-laki. Entah mengapa pula kios peralatan pertanian itu bersebelahan dengan los bumbon.

Ketika sebuah barisan panjang para pedagang menawarkan beraneka ragam dagangan mulai dari ikan asin, sepatu, buah-buahan, daging ayam, gethuk yang berwarna-warni maka yang ada adalah kesemrawutan. Celah antar los-los sudah dipenuhi barang dagangan yang menggunung. Melintas di tengah kesemrawutan itu seperti membutuhkan keahlian khusus. Berhati-hati agar kaki tidak menendang tumpukan kardus atau keranjang barang dagangan, waspada dengan pedagang yang jongkok menata dagangan di tengah gang sempit pasar, berjalan pelan kadang menepi agar tidak saling bertabrakan saat berpapasan dengan orang lain dan yang paling penting selalu fokus pada kayu-kayu atap pasar agar kepala tidak beradu dengan kayu-kayu yang menyembul tak beraturan dengan ketinggian tidak lebih dari 1,75 meter itu.

Asap dari panci-panci yang nangkring di kompor membumbung, menyebar memberikan aroma nikmat hingga lidah bergoyang-goyang dan perut bernyanyi rock n roll. Aroma itu menggugah naluri dasar manusia untuk memamah dan aroma itu seperti panggilan dari si empunya pemilik warung, “Mari silahkan masuk warung kami, nikmati hidangan terenak hari ini.” Namun, sensasi aroma itu hanya bisa dinikmati sekian detik karena yang ada berikutnya adalah sensasi perut mulas dan wajah berkerut seperti menahan sesuatu setelah melihat genangan air comberan menyatu dengan warung-warung makan itu. Air itu adalah kombinasi dari air cucian piring, air sisa minuman entah teh atau jeruk, kuah dari makanan hingga air bersih agar kombinasi air itu tidak terlalu didominasi air cucian piring atau kuah makanan.

Hal yang paling melegakan ketika menyusuri gang-gang pasar adalah melintas di deretan kios pakaian. Tak ada bau aneh-aneh, tak ada genangan air yang kadang bikin merinding. Yang ada adalah deretan pakaian di elatase sehingga menggugah naluri belanja. Belum lagi para penjaga toko yang masih muda dan kebanyakan perempuan dengan bedak tipis di wajah, dengan lipgloss di bibir, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai, dengan Ponsel di genggaman tangan dan tentunya dengan pakaian yang mencerminkan kekinian. Yang paling menarik adalah deretan toko pakaian di lantai dua pasar yang seakan menjadi toko-toko trend center berpakaian anak muda zaman sekarang di kotaku. Anak muda zaman sekarang di kotaku tidak dianggap mengikuti tren berpakaian jika belum menginjakkan kaki di lantai dua pasar ini. Layaknya deretan factory outlet (FO) di Kota Kembang, layakan deretan distro di bilangan Seturan, Jogja, lantai dua pasar ini dipenuhi anak muda yang di dada mereka seperti ada tulisan “Muda, beda dan berbahaya.”*

Itulah pasar di kotaku. Pasar yang dijejali lebih dari 1.000 pedagang untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, roda ekonomi kota ini. Pasar yang seakan menjadi panti jompo bagi pedagang bumbon dan peralatan pertanian, namun juga menjadi kiblat berpakaian anak muda zaman sekarang.

*Lirik lagu Jika Kami Bersama (Superman Is Dead).


%d blogger menyukai ini: