Tag Archives: kriminalitas

Bukan Noordin M Top!

Noordin M Top

Penunjuk arah lokasi penggerebekan di ringroad Mojosongo, Jebres, Solo

Membaca tulisan yang tertulis di papan warna hitam di tepi jalan ringroad Mojosongo, Jebres itu sempat membuat aku tersenyum sendirian. Lewat tulisan itu, warga sekitar lokasi penggerebekan di Kepuhsari RT 03/RW XI Mojosongo, Jebres, Solo seakan mengajak pengguna jalan untuk “mampir” di sebuah rumah yang menjadi saksi bisu Noordin M Top meregang nyawa.

Penulisan nama Nurdin yang salah (seharusnya Noordin) di tepi jalan, ternyata tetap menjadi magnet tersendiri bagi para pengguna jalan termasuk pemudik. “Kebanyakan pemudik yang mau pulang kampung terus mampir dulu ke sini untuk melihat. Pendapatan ya lumayan, dalam sehari kemarin dapat Rp 1 juta,” kata Geyol, seorang warga yang menjadi tukang parkir dadakan.

Biasanya pada pemudik cukup memarkirkan kendaraannya di tepi ringroad, berjalan sekitar 200 meter, maka sampailah mereka di sebuah rumah yang telah tertutup seng. Para “wisatawan teroris” itu hanya bisa melihat atap rumah yang hancur terbakar atau kalau mereka berani sedikit nekat maju dan mengintip bisa melihat kehancuran rumah setelah dibombardir Densus 88 Antiteror Rabu (17/8) malam hingga Kamis (18/9) pagi.

Suasana ramai dari Kamis hingga Jumat di sekitar rumah yang dikontrak Susilo dan isterinya Putri Munawaroh sangat kontras dengan suasana Rabu malam. Di sebuah desa yang ada di ujung utara Solo dan berbatasan dengan daerah Karanganyar ini, keheningan malam pecah ketika suara tembakan mulai terdengar pukul 22.30 WIB. Warga yang mulai beranjak menuju tempat tidur, seakan diusik ketenangannya dengan suara tembakan demi tembakan.

Malam itu cerah, bintang tetap memancarkan cahayanya di tengah langit yang kelam. Aku baru sampai di lokasi sekitar pukuk 24.00 WIB. Kerumunan warga sudah memenuhi jalan-jalan menuju lokasi penggerebekan. Namun, mereka tidak bisa melihat drama kehidupan itu, karena polisi membuat pagar betis dengan radius sekitar 300-500 meter. Kewajiban sebagai seorang jurnalis mengharuskanku mengorek keterangan dari sana sini untuk memastikan penggerebekan itu.

Ada nama Susilo, Putri Munawaroh, Totok Indarto pemilik rumah, serta beberapa nama warga yang menjadi saksi dan tentunya nama Suratmin, ketua RT setempat yang menjadi buruan para kuli tinta. Belum ada nama Urwah alias Bagus Budi Pranoto, Aji ataupun Noordin M Top. Semuanya masih gelap karena belum ada pejabat berwenang yang mau memberikan konfirmasi.

Di tengah bukit kecil yang dipenuhi dengan rumput liar dan tanaman singkong, aku tiduran beratapkan langit. Saat petugas lengah, aku bisa sedikit merangsek masuk menembus pagar betis dan maju mendekat ke lokasi penggerebekan. Mungkin sekitar 150-200 meter dari lokasi. Bersama beberapa kawan jurnalis lainnya, tidak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu.

Meski jaraknya semakin dekat dengan lokasi, namun aku pun tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di sebuah rumah yang sedang dikepung itu. Hanya rentetan tembakan yang tak pernah berhenti malam itu yang bisa kudengarkan. Setiap momen penting, aku catat dan ingat. Termasuk pula, saat mobil ambulan yang mengangkut seorang anggota polisi yang tertembak pergi dari lokasi.

Entah mengapa, suara azan subuh yang bersahutan itu terdengar begitu syahdunya. Sebelumnya rentetan tembakan terus terdengar. Namun, tak ada suara tembakan satu kali pun yang terdengar ketika suara panggilan Sang Khalik menggema. Namun, ketenangan sesaat itu juga hanya berlangsung singkat. Suara tembakan kembali pecah dan saat matahari mulai berpendar.

“Bummmmm.”

Suara ledakan keras seperti bom diikuti rentetan tembakan.

“Bummmmmmmm.”

Suara ledakan lebih keras lagi. Setelah itu sunyi dan aku tak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Tak ada lagi suara tembakan. Tak ada lagi mobil ambulan ataupun kendaraan lainnya yang melintas jalan rusak menuju lokasi penggerebekan. Dan segala tanya muncul di kepala. Apa yang terjadi? Sudah berakhirkah? Siapa mereka? Berapa jumlahnya? Tewaskah?

Matahari sudah mulai meninggi, namun semuanya masih gelap. Beberapa jam berada dalam sebuah kesimpangsiuran, satu persatu jawaban mulai terkuak. Ada empat kantong mayat dan seorang perempuan ditandu dengan dragbar dibawa menuju ke Jakarta. Dua nama hampir dipastikan tewas dalam penyergapan itu, Urwah dan Susilo. Menjelang siang, ada pesan singkat yang masuk ke Ponsel. “Satu orang yang belum diketahui identitasnya, 90% NMT (Noordin M Top).”

NMT? Benarkah? Jangan-jangan seperti Temanggung? Pertanyaan itu terus menerus muncul hingga akhirnya jawaban itu datang dari Kapolri. Empat yang tewas adalah NMT, Urwah, Aji dan Susilo. Sedangkan perempuan yang terluka adalah Munawaroh. Kini semuanya menjadi terang. Tapi benarkah salah satunya adalah Noordin M Top yang ini diburu polisi. Semoga saja kali ini benar adanya, Noordin M Top dan bukan Nurdin M Top seperti tulisan penunjuk arah di tepi ringroad Mojosongo.

Iklan

Bukan Intel Sukab

Ini bukan cerita tentang Intel Sukab yang melegenda setelah dikisahkan Seno Gumira Ajidarma. Bukan sebuah kisah tentang seorang intel polisi yang mencoba mengendus gelagat aksi kejahatan atau intel polisi yang memilih menjadi beking di tempat hiburan malam.

Ini cerita tentang intel yang biasa mengamankan aksi demonstrasi. Intel yang suka memanggul kamera video untuk kepentingan kepolisian. Sosok intel muda yang “salah mengambil langkah”. Intel Dudung namanya.

Baru dua tahun, Intel Dudung bertugas di kota ini. Kota yang sedang menggeliat sebagai penyangga dua ibukota provinsi di Jawa. Tak ada yang terlalu menonjol dari Intel Dudung, dia layaknya polisi pada umumnya, dan anggota intel pada khususnya.

Ketidakmenonjolkan Intel Dudung ini menjadikannya tidak menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Anggota satu korps yang berlainan satuan saja belum banyak yang mengenalnya.

Namun, kejadian disuatu malam, membalikkan itu semua. Dari yang tidak menonjol, menjadi dicari-cari. Dari yang tidak dikenal menjadi ingin tahu. Pagi itu berhembus kabar, Intel Dudung ditangkap. Kabar yang beredar, dia diduga ikut terlibat kasus perampokan taksi.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang menduga. Semuanya bertanya-tanya. Bahkan, pimpinannya pun dibikin bingung bukan kepalang karena belum bisa mengkonfirmasikan kabar penangkapan itu. Dua buah handphone milik Intel Dudung tak bisa dihubungi. Kecurigaan akan penangkapan itu semakin menguat. Hari itu dan mungkin hari-hari berikutnya Intel Dudung bakal jadi buah bibir di kantor kepolisian kota ini.

Semuanya bertanya-tanya mencoba menelisik akan kepastian kabar itu. Ada yang mencoba menghubungi wartawan yang dianggap lebih tahu tentang kabar itu. Ada yang berbisik-bisik kecil di tengah bekerja sambil mengkisahkan tentang keseharian Intel Dudung. Ada yang merayu jurnalis foto yang mungkin memiliki foto penangkapan itu atau setidaknya foto Intel Dudung.

Ada yang langsung menjadi “hakim” dengan menyalahkan perilakunya. Ada yang mencoba bersikap netral, ada yang melihat dari sudut pandang pendapatan anggota polisi dan ada pula yang acuh tak acuh. Namun, pertanyaan besar akan penangkapan itu belum juga terjawab. Mungkin sore itu, mereka pulang dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

Hari itu, mungkin ribuan kali orang-orang di kantor kepolisian itu menyebutkan nama Intel Dudung. Dan pagi harinya, seakan memberikan jawaban, semua koran di kota ini mengkisahkan tentang penangkapan Intel Dudung.


Namanya Mus

Panggil saja dia dengan panggilan Mus. Usianya baru 15 tahun. Untuk anak seukuran dia, tubuhnya tergolong bongsor. Kulit wajahnya hitam, menunjukkan sinar ultraviolet sering membakar kulitnya. Wajahnya tidak memancarkan wajah anak yang tampak tanpa dosa. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan keberingasan anak-anak. Wajah standar anak Indonesia pada umumnya, terlihat takut pada orang yang lebih tua dan malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Borgol besi melilit kuat di kedua pergelangan tangannya. Kepalanya tertunduk lesu seakan menyesali perbuatan yang dia lakukan pagi itu. Kalau bisa dan boleh mengungkapkan kata sumpah serapah, Mus ingin berkata-kata, “Mengapa…mengapa harus berakhir seperti ini.”
Di pagi yang buta, kala langit belum sepenuhnya terang, saat kabut pagi masih menyelimuti Kota Solo, tubuh Mus menggigil ketakutan. Ketakutan yang luar biasa besar karena ini menyangkut hidup dan mati. Atap rumah menjadi persembunyiannya selama dua jam. Suara pentungan diseret, gesekan pedang dengan aspal yang bikin telinga miris, semakin menyiutkan nyalinya. Belum lagi, teriakan yang saling bersahutan, menjadikan Mus ingin kencing di celana.
Pilihan hidup memutuskan Mus merampok malam itu. Namun, sial bagi dia dan kawannya Teguh. Korban memberikan perlawanan dan membuat Teguh tak berdaya hingga akhirnya pingsan dipukuli massa. Mus bisa selamat dari kejaran massa setelah naik ke atap rumah dan kini atap rumah sebelah yang habis disatroninya menjadi tempat persembunyiannya.
Kedua kakinya sebenarnya sudah kesemutan dari tadi. Namun, untuk menggerakkan kakinya saja, Mus takutnya bukan kepalang. Satu gerakan bisa menimbulkan suara dan itu merupakan bahaya besar. Sepatu lars polisi beberapa kali terdengar keras. Instruksi dari seseorang yang mungkin komandan polisi terdengar begitu dekat, “Coba dikepung, ada yang dari barat, utara, selatan, timur. Semuanya bergerak.”
Perintah itu diikuti suara sepatu lars seperti orang baris berbaris. Seperti ada ritme-nya, namun bagi Mus itu adalah ritme kematian. Mus terlalu bimbang untuk memutuskan, apakah tetap bertahan terus atau akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mus tidak memiliki sapu tangan putih sebagai tanda dia menyerah kalah, seperti dalam film-film perang yang sering ditontonnya.
Seluruh tubunya sudah terasa pegal. Mus belum ingin menyerah, namun begitu pegalnya tubuhnya sehingga Mus memutuskan untuk memutar badannya. “Itu di atap kelihatan topinya,” teriak seseorang.
Teriakan itu seperti panggilan kematian. Tiba-tiba jantung Mus seperti berhenti. Matanya terpejam kuat seakan tidak berani menghadapi kenyataan yang akan segera terjadi. Suara orang berteriak-teriak semakin terdengar keras. “Ambil tangga..ambil tangga.”
Nyalinya semakin mengkeret. Tak tahu lagi harus berbuat apa, Mus sudah pasrah. “Sudah, semuanya mundur. Semua anggota mendekat, cepat.” Mus mendengar suara itu, seperti suara orang yang tadi memberi perintah untuk mengepung. Tinggal menunggu waktu saja, bagi Mus untuk tertangkap. Namun, ia masih belum tahu, apakah ia akan “habis” pagi itu, atau Tuhan masih memberi kesempatan lain.
Suara anak tangga dinaiki begitu membahana di telinganya. Inilah akhir dari segalanya pikir Mus. Belum sempat Mus mengambil nafas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, Mus telah melihat moncong pistol di depannya. Mukannya pucat pasi dan dengan langkah gontai Mus berdiri. “Habisi saja,” teriak orang-orang.
Polisi yang bersiap seperti membuat barikade menenangkan massa yang terlanjur geram dan marah. Satu anak tangga terakhir dan kini Mus kembali menginjak bumi seakan membawa kembali dalam dunia nyata. Polisi tak berseragam yang menodongkan pistol tadi memegang erat lengannya dan tanpa ada komando, Mus diseret lari. Polisi memberikan pengamanan yang super ketat kepada Mus, seperti artis yang diserbu penggemarnya.
Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Menandakan pagi sebenar-benarnya pagi segera tiba. Di atas truk polisi yang menyelamatkannya dari kejaran massa, Mus melihat matahari yang bersinar cerah.


Belajar Menjadi Korban Kriminalitas

Pekerjaan yang aku tekuni saat ini menuntut aku untuk selalu bertemu dengan orang yang sedang tertimpa musibah dan kemalangan hidup, entah itu korban penganiayaan, korban KDRT, korban penipuan hingga korban pencurian dan perampokan atau singkatkan masalah yang berkaitan dengan kriminalitas Namun, kenyataan yang ada selama ini, selalu ada jarak yang memisahkan antara aku sebegai seorang jurnalis yang mencari informasi dari mereka dengan mereka para korban yang dirundung musibah dan kesusahan.

Untuk lebih memudahkan pedekatan dengan mereka, selama ini aku selalu berusaha berempati kepada mereka korban tindak kriminalitas. Aku selalu mencoba belajar dari kisah musibah yang terjadi itu dan berusaha menempatkan jika hal yang sama itu terjadi padaku, entah itu menjadi korban penganiayaan, penipuan atau perncurian dan perampokan. Namun, maksimal-maksimalnya aku berempati pada mereka, aku sadar tetap saja ada jarak dengan mereka. Mungkin aku juga ikut terharu dan sedih mendengar kisah pilu penganiayaan hingga perampokan, namun harus aku akui pula jika feel sepenuhnya tidak aku rasakan.

Namun, aku rasa kini aku tidak perlu lagi berempati kepada mereka. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena kini aku sudah menjadi bagian dari mereka. Suatu pagi tiba-tiba kosku gempar, saat dua buah HP, satu kamera digital dan dompet milikku raib saat aku tertidur dan lupa mengunci pintu kamar. Wah, apes juga aku, tapi juga untung karena sang pencuri tidak membawa juga komputer jinjingku. Jangan kau ejek aku, kira-kira aku melakukan wawancara dengan diriku sendiri tidak.

Rasa empati yang selama ini selalu aku bangun terhadap mereka saat ada tindak kriminalitas, sepertinya sudah saatnya dibuang. Bukankah aku juga bagian dari mereka. Saat ini, feel sebagai seorang korban tindak kriminalitas juga lebih terasa daripada dulu yang hanya belajar berempati. Untuk menghibu diri atas kejadian itu, aku hanya bilang mungkin ini bagian dari kegiatanku sebagai jurnalis agar lebih total menekuni pekerjaan terutama dalam desk kriminalitas yang saat ini aku pegang.

Sedih, sudah pasti, jadi jangan kau tanyakan apakah aku sedih atau tidak dengan kejadian itu. Namun, aku tidak gelo terlalu dalam, toh itu juga hanya barang yang tidak terlalu didewakan keberadaannya, meski aku juga jadi kerepotan karena harus mengurus surat kehilangan dan memblokir berbagai kartu yang hilang. Setelah kejadian itu, aku jadi ingat ucapan Bang Napi, kejahatan tidak hanya muncul karena niat, namun juga adanya kesempatan, jadi waspadalah….waspadalah!!!

 


%d blogger menyukai ini: