Tag Archives: Muntilan

Pasar di Kotaku

Mengapa pedagang bumbon di pasar tradisional selalu didominasi mereka yang telah berusia senja? Kenapa warung-warung makan di pasar selalu meninggalkan genangan air sisa piring dicuci?

Pasar yang menampung pedagang pakaian, warung makan, penjual VCD bajakan, pernak perik, sepatu, jajanan pasar, bumbon, Sembako, buah-buahan, buku pelajaran, tukang cukur rambut, toko emas, ikan asin, bibit minyak wangi, servis jam tangan hingga peralatan pertanian memiliki keunikan tersendiri.

Bau khas bumbu-bumbu untuk masakan yang mulai membusuk menyeruak di antara los-los sempit. Entah dengan alasan apa dari dulu kala, los-los itu berada di sudut paling belakang pasar. Mungkin agar bau khas itu tidak menyengat ke semua penjuru pasar atau mungkin juga ada usaha sistematis mengasingkan para pedagang yang hampir semuanya berusia senja itu dalam sebuah deretan panjang los-los itu sehingga tempat itu lebih mirip panti jompo.

Terpal plastik yang melindungi pedagang peralatan pertanian dari terik matahari dan derasnya air hujan sudah banyak yang bolong. Di tengah-tengah cangkul, sabit, linggis, pedagang yang rambutnya telah beruban dengan gigi ompongnya sering terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Layaknya los-los pedagang bumbon, deretan panjang kios peralatan pertanian yang sepi juga seperti panti jompo khusus laki-laki. Entah mengapa pula kios peralatan pertanian itu bersebelahan dengan los bumbon.

Ketika sebuah barisan panjang para pedagang menawarkan beraneka ragam dagangan mulai dari ikan asin, sepatu, buah-buahan, daging ayam, gethuk yang berwarna-warni maka yang ada adalah kesemrawutan. Celah antar los-los sudah dipenuhi barang dagangan yang menggunung. Melintas di tengah kesemrawutan itu seperti membutuhkan keahlian khusus. Berhati-hati agar kaki tidak menendang tumpukan kardus atau keranjang barang dagangan, waspada dengan pedagang yang jongkok menata dagangan di tengah gang sempit pasar, berjalan pelan kadang menepi agar tidak saling bertabrakan saat berpapasan dengan orang lain dan yang paling penting selalu fokus pada kayu-kayu atap pasar agar kepala tidak beradu dengan kayu-kayu yang menyembul tak beraturan dengan ketinggian tidak lebih dari 1,75 meter itu.

Asap dari panci-panci yang nangkring di kompor membumbung, menyebar memberikan aroma nikmat hingga lidah bergoyang-goyang dan perut bernyanyi rock n roll. Aroma itu menggugah naluri dasar manusia untuk memamah dan aroma itu seperti panggilan dari si empunya pemilik warung, “Mari silahkan masuk warung kami, nikmati hidangan terenak hari ini.” Namun, sensasi aroma itu hanya bisa dinikmati sekian detik karena yang ada berikutnya adalah sensasi perut mulas dan wajah berkerut seperti menahan sesuatu setelah melihat genangan air comberan menyatu dengan warung-warung makan itu. Air itu adalah kombinasi dari air cucian piring, air sisa minuman entah teh atau jeruk, kuah dari makanan hingga air bersih agar kombinasi air itu tidak terlalu didominasi air cucian piring atau kuah makanan.

Hal yang paling melegakan ketika menyusuri gang-gang pasar adalah melintas di deretan kios pakaian. Tak ada bau aneh-aneh, tak ada genangan air yang kadang bikin merinding. Yang ada adalah deretan pakaian di elatase sehingga menggugah naluri belanja. Belum lagi para penjaga toko yang masih muda dan kebanyakan perempuan dengan bedak tipis di wajah, dengan lipgloss di bibir, dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai, dengan Ponsel di genggaman tangan dan tentunya dengan pakaian yang mencerminkan kekinian. Yang paling menarik adalah deretan toko pakaian di lantai dua pasar yang seakan menjadi toko-toko trend center berpakaian anak muda zaman sekarang di kotaku. Anak muda zaman sekarang di kotaku tidak dianggap mengikuti tren berpakaian jika belum menginjakkan kaki di lantai dua pasar ini. Layaknya deretan factory outlet (FO) di Kota Kembang, layakan deretan distro di bilangan Seturan, Jogja, lantai dua pasar ini dipenuhi anak muda yang di dada mereka seperti ada tulisan “Muda, beda dan berbahaya.”*

Itulah pasar di kotaku. Pasar yang dijejali lebih dari 1.000 pedagang untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga, roda ekonomi kota ini. Pasar yang seakan menjadi panti jompo bagi pedagang bumbon dan peralatan pertanian, namun juga menjadi kiblat berpakaian anak muda zaman sekarang.

*Lirik lagu Jika Kami Bersama (Superman Is Dead).

Iklan

Aku, buku tulis & traffic light

Lampu traffic light di sudut pasar kotaku itu menjadi saksi, dua bocah kecil menantang kerasnya hidup. Selama bertahun-tahun lamanya, setiap libur sekolah menjelang tahun ajaran baru, tepat di bawah lampu traffic light itu, mereka mencoba meraih asa dengan berdagang.

Tahun ajaran baru adalah tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Bagi mereka yang beruntung memiliki rezeki lebih, maka selalu ada yang baru di tahun ajaran baru. Mulai dari sepatu baru, tas baru, seragam baru hingga ikat pinggang baru. Bagi mereka yang rezekinya pas-pasan, tahun ajaran baru tetap memiliki magnet. Paling tidak mereka tetap harus membeli buku tulis baru.

Ada Sinar Dunia, Big Boss, Mirage, Kiky hingga AL. Ketebalan bukunya pun berbeda-beda, ada yang 36/38, 50, 58 hingga 72. Angka-angka itu menunjukkan jumlah lembaran kertas buku tulis yang selalu menjadi incaran siswa saat tahun ajaran baru. Ada yang memilih karena kertasnya halus, tidak dipedih di mata, harganya murah hingga gambar sampul buku tulis.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul begitu saja. Berjualan buku tulis saat libur sekolah. Dua bocah yang disokong modal ratusan ribu rupiah dari kedua orangtua mereka akhirnya memulai petualangan berdagang. Dua bocah itu tidak lain adalah aku, siswa kelas I SMP Muhammadiyah dan kakak sepupuku, Fathur, siswa kelas III SMP pesantren.

Dua kardus besar berisi buku tulis menjadi modal awal kami. Ditambah juga rak-rak buku berbentuk susun berbahan plastik menjadi tempat dasaran. Di bawah lampu traffic light, sudut timur laut pasar di kotaku, naluri berdagang dua bocah itu diasah. Soal rak-rak buku itu yang menjadi aneh. Rak buku yang seharusnya berada di dalam kamar kami, dipaksa bermigrasi menuntaskan kegilaan kami.

Beberapa hari berlalu sejak pertama berjualan buku tulis, kami merasa ada hal yang aneh dengan rak buku itu. Rasa-rasanya rak buku itu terlalu pendek sehingga orang yang berlalu lalang tidak memerhatikan dagangan kami. Alhasil, dalam beberapa hari pertama berjualan, selalu saja sepi. Mendekat saja enggan, apalagi menawar, apalagi membeli. Sempat aku dan kakak sepupuku patah arang, namun kami diselamatkan dengan adanya penemuan besar yaitu kotak kayu yang biasa digunakan untuk pengiriman telur milik budhe-ku.

Kotak kayu yang terbuat dari blabak tipis itu menyelamatkan kami dan juga semangat kami karena setelah kami menggunakan kotak kayu itu, pembeli mulai berdatangan dan kami juga bersyukur karena rak buku yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan buku pelajaran sekolah kami bisa terselamatkan dan kembali ke khitahnya.

Tahun pertama berjualan buku adalah tahun terberat. Selain karena kami masih miskin pengalaman dalam dunia perbukuan tulis, kami juga harus bersaing dengan pedagang buku tulis lainnya yang menjamur setiap libur sekolah. Persaingan tidah hanya terjadi di pasar karena saling merebut hati pembeli agar mau membeli buku dagangan. Belum lagi kadang ada pedagang yang sengaja merusak harga pasar dengan menurunkan harga jual buku tulis hingga batas limit.

Perang urat syaraf juga sering terjadi di toko tempat kulakan buku tulis. Sesama pedagang kadang saling berebut buku-buku tulis yang laris di pasaran, terutama menjelang libur sekolah usai. Faktor kebocahan kami sering membantu. Pelayan toko tempat kami kulakan buku sering kasihan dengan kami yang harus bersaing dengan orang dewasa. Akhirnya mereka pun sering rela menyembunyikan buku pesanan kami agar tidak disambar pedagang lain. Dan yang membuat kami untung, tentunya rasa belas kasihan dari pembeli buku tulis. Banyak pembeli yang mengutarakan rasa belas kasihan kepada kami bocah-bocah ingusan yang di bawah terik matahari mencari sepeser rezeki.

Dari modal awal ratusan ribu rupiah, aku dan kakak sepupuku meraup untung yang lumayan. Untung itu kami bagi dua sama rata dan nilainya yang masing-masing kami terima hampir sama dengan besarnya modal awal itu. Dan uang ratusan ribu rupiah itu aku dapatkan setelah hampir sebulan penuh bekerja mengisi waktu libur sekolah. Uang pendapatan halal pertamaku.

Tahun kedua saat libur sekolah tiba, kami semakin menggila. Selain adanya tambahan modal, kami juga mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Modalnya masih ratusan ribu rupiah, namun sudah mendekati angka 1 juta rupiah. Angka yang besar bagiku, bocah kelas II SMP. Tambahan sumber daya manusia itu tidak lain adalah saudara sepupuku lainnya, Nani dan dua teman kecilku, Fakih dan Ardi.

Setelah melewati fase pengalaman pertama, kami berani mengklaim diri kami “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah.” Pengalaman tahun pertama benar-benar mengajarkan kami tentang bagaimana merayu pembeli ibu rumah tangga, pembeli bapak-bapak, pembeli pelajar SD, ataupun pelajar SMP dan SMA. Khusus untuk pelajar SMP dan SMA dan khususnya lagi yang jenis kelaminnya berbeda dengan kami semua, teman saya Ardi memiliki jurus maut meruntuhkan hati mereka untuk membeli buku tulis dagangan kami. Kotak kayu untuk pengiriman telur masih setia menemani kami. Namun kami tambah dengan rak kayu yang berjenjang seperti anak tangga untuk mempercantik tempat dasaran kami.

Persaingan dengan pedagang lain pun sudah tidak terlalu kami risaukan. Untuk memantau harga buku tulis di pedagang lainnya, kami sering mengutus saudara sepupu kami, Nani berpura-pura menjadi pembeli. Persaingan di tempat kulakan juga sudah bisa kami atasi, Cacik dan Koh, pemilik toko tempat kulakan sudah memberi kami kepercayaan, kami bisa masuk gudang dan mengambil langsung buku tulis yang ingin kami beli.

Libur sekolah tahun itu kami tutup dengan kesuksesan. Slogan “pedagang buku tulis sejati yang menawarkan harga buku murah meriah” membawa kami dalam peta pecaturan dunia perbukuan tulis. Kami tidak lagi dianggap sebelah mata, tidak lagi dianggap bocah ingusan yang belajar berdagang buku tulis. Dan sudah barang tentu, keuntungan yang didapat semakin berlipat-lipat.

Tahun-tahun berikutnya, libur sekolah dengan berjualan buku tulis menjadi bagian terindah dalam hidup kami. Dengan gilang gemilang kami mencatatkan diri sebagai pedagang buku tulis termuda dan meraih hasil yang luar biasa. Modal berdagang telah menembus angka belasan juta rupiah. Tidak hanya di bawah traffic light saja kami berjualan, namun juga menggunakan mobil untuk berkeliling kota-kota mulai dari Kutoarjo, Kota Gede, Prambanan, Wonosari, Purworejo dan Temanggung. Selain buku, kami juga melengkapi diri dengan dagangan pendamping yaitu alat tulis murah meriah. Tiga biji pulpen dengan harga 1.500 perak hingga 4.000 perak. Dagangan pendamping itulah yang akhirnya menjadikan kami meraih puncak kesuksesan berdagang.

Tiga tahun setiap libur sekolah kami berada di masa keemasan. Kalau pemain sepak bola ibaratnya di puncak karier. Selalu mencetak gol kalau seorang striker, selalu menjadi palang pintu yang kokoh kalau seorang bek dan menjadi penyelamat penepis bola-bola lawan jika menjadi kiper. Tahun keemasan itu harus ditutup. Tahun ketujuh libur sekolah atau tahun pertama saya masuk jenjang kuliah, roda berputar. Kami berada di titik terendah dan usaha bedagang buku tulis kami tutup usia untuk selamanya.

Kini, beberapa tahun kemudian, di bawah traffic light sudut pasar itu tidak ada lagi teriakan bocah-bocah menawarkan dagangannya, tak ada lagi keceriaan bocah-bocah mengisi waktu libur sekolah dengan berdagang. Di bawah traffic light itu bercokol pedagang bawang merah dan bawang putih yang lesu menawarkan dagangannya karena harga bombon itu selangit.


Senyum Terindah Sang Pendidik

Mata Bu Guru Ela sudah sebam sedari tadi. Sudah habis air matanya. Ia hanya bisa senggugukan. Sapu tangan kecilnya sudah basah oleh air mata, air mata kesedihan yang saat ini belum terobati. Kedua tangannya masih enggan terlepas dari punggung Bu Guru Al. Dua guru beda generasi itu masih berpelukan, sebuah pelukan tentang perpisahan.

Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Layaknya sekolah dasar pada umumnya, semua guru bersiap menyambut datangnya siswa-siswi baru kelas I. Memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru dan berharap pendidikan bagi anak-anak semakin baik serta sambil juga berharap kesejahteraan bagi para pendidik ada perbaikan. Harapan itu tersimpan dalam setiap relung hati pada pendidik SD di sebuah kota kecil. Sebuah SD swasta di bawah bendera persyarikatan Muhammadiyah.

Bukan sekolah yang menyandang gelar sekolah unggulan yang memunggut biaya selangit. Bukan pula sekolah dengan segudang fasilitas lengkap. SD itu hanya SD biasa, selayaknya SD pada umumnya yang beberapa tahun terakhir melahirkan prestasi jempolan sehingga menarik minat ratusan orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SD itu.

Tangis Bu Guru Ela belum mereda. Bu Guru Yas, Bu Guru Kastini, Bu Guru Warni yang mengelilingi Bu Guru Ela dan Bu Guru Al semuanya terdiam. Menahan air mata agar tidak terlalu deras mengucur. Saling menguatkan hati sambil berangkulan. Pak Guru Hadi yang duduk tidak jauh dari mereka menatap jauh keluar ruang guru, menerawang harapan tahun ajaran baru di sekolah itu.

Harapan indah tahun ajaran baru di SD itu belum terkembang, namun kabar pagi itu seakan melayukan harapan. Kabar yang keluar langsung dari bibir Bu Guru Al seakan menjadi petir di siang bolong yang cerah.

“SK ini baru turun kemarin. Perhari ini saya dipindahtugaskan ke SD Negeri,” ucap Bu Guru Al terbata-bata di hadapan semua guru.

Kabar itu meruntuhkan semangat dan impian guru di SD kampung itu. Baru beberapa hari yang lalu, saat sekolah masih libur, Bu Guru Al yang menahkodai SD itu melecutkan semangat guru-guru untuk meraih impian baru di tahun ajaran baru.

Impian tentang prestasi akademik murid, impian tentang gedung sekolah baru, impian tentang kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak, impian tentang fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang representatif, impian tentang perbaikan sistem pembelajaran di kelas, impian tentang nama harum dan tinta emas prestasi SD yang bukan SD unggulan itu.

Sebagai sebuah SD underdog, guru-guru SD itu paham benar hanya lewat prestasi, nama SD itu akan dicatat dengan tinta emas. Sebagai SD swasta, mereka sadar betul, berdikari dan mandiri akan menjadikan SD itu bisa bersaing dengan SD Negeri. Sebagai SD yang sebenarnya tidak diprioritas dan diunggulkan di persyarikatannya, mereka terpacu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka dan selama beberapa tahun terakhir ini mereka, guru-guru itu telah membuktikannya.

Sudah dua periode Bu Guru Al menjadi orang yang paling dituakan di SD itu sebagai kepala sekolah. Selayaknya nahkoda perahu, dia tidak pernah berkata karena saya perahu ini bisa mengarungi samudera. Dia selalu mengatakan, “Karena awak-awak perahu yang gagah berani dan cekatan, penumpang yang taat dan patuh, perahu ini bisa melaju melintasi badai dunia pendidikan.”

Karena mereka semualah, sinergitas antara guru, murid dan tentunya orangtua, SD yang bukan SD unggulan itu diperhitungkan dalam percaturan dunia pendidikan di kota kecil itu. SD biasa yang bisa bersaing dengan SD unggulan dari segi prestasi akademik ataupun nonakademik.

Mendung tebal masih menggelayuti ruang guru, meski cuaca di luar sebenarnya cerah. Hampir semuanya berwajah muram. Tak ada senyum mengembang dari para pendidik itu. Tak ada pancaran optimisme dari wajah para pahlawan pendidikan itu.

Bu Guru Ela, guru tidak tetap dan termuda di SD itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia terdiam. Mulutnya terkunci rapat menahan duka. Bu Guru Warni, guru paling senior yang baru saja pensiun, namun tetap mengabdi di SD itu karena kecintaannya hanya menundukkan kepala. Pak Guru Hadi masih menerawang jauh melihat siswa-siswi bermain, berlarian di halaman sekolah. Bu Guru Kastini, guru paling sabar itu duduk lesu di sudut ruangan.

Tanpa kata mereka saling tahu dan paham apa yang mereka rasakan hari itu. Hari di mana mereka kehilangan nahkoda yang tegas tapi bijaksana, yang keras tapi lembut, yang tidak hanya memerintah tapi memberi contoh, yang tidak hanya berkata-kata tapi juga mendengar.

Setelah sekian lama ruang itu sunyi senyap tanpa kata, Bu Guru Al angkat bicara. “Hapus semua air mata dan duka. Hari esok telah menanti. Sambutlah hari itu dengan semangat dan optimisme. Hari di mana gilang gemilang SD ini akan dicatat dalam tinta emas. Saya percaya semua kawanku, saudaraku semuanya bisa mewujudkan semua harapan dan impian SD ini.”

Senyum terindah pun akhirnya mengembang dari para pendidik dan mendung tebal telah pergi dari ruang guru yang sempit itu.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk Bundaku tercinta dan semua guru di sebuah SD biasa yang luar biasa.


Para Penunggu ‘Kotak Amal’

Kantor kecamatan masih lengang. Seperti biasa dan telah menjadi rahasia umum, para pegawainya mengisi waktu pagi dengan bersantai, baca koran, ngerumpi hingga nge-game. Beberapa lembar kertas berkas pendukung agar bisa mendapatkan kartu identitas resmi di negeri ini aku sodorkan di sebuah loket yang ditunggui seorang perempuan.

Dibolak-balik berkas itu, ditanyai aku soal keberadaan KTP lama. “Ini formulir dari desa kurang. Ke desa dulu, nanti baru balik sini,” ujar dia singkat.

Meski sudah seperempat abad, baru kali ini aku mengurus KTP sendirian. Biasanya pembuatan KTP aku titipkan ke Pak Kadus. Tentu aku punya alasan sakti, kesibukan hingga akhirnya tidak memungkinkan aku mengurus KTP sendirian. Dan itupun sudah menjadi pemakluman. Cukup setor beberapa lembar pas foto, fotokopi kartu keluarga dan uang jalan, sore hari, KTP pesanan itu sudah diantar ke rumah.

Tapi kali ini, aku tidak bisa menghindar dari pembuatan KTP. Sekarang untuk membuat KTP, pemohonnya harus datang ke kecamatan sendiri karena pengambilan foto dilakukan di tempat itu. Berbeda dengan yang sebelumnya, cetakan foto ukuran 2×3 tertempel di KTP, tapi sekarang foto itu dengan model komputerisasi.

Kembali ke cerita awal, aku pacu motorku menuju kantor desa, mengurus formulir yang kurang itu. Karena masih di desa, unggah-ungguh dengan para pamong desa. Selain ramah dan cekatan, pamong desa itu mengerti kebutuhan warganya yang tergesa-gesa membutuhkan KTP. Tanpa aku bilang, formulir itu isinya dengan cepat. “Sudah mas tandatangani di sini dan di lembar satunya,” kata dia.

Aku pikir urusan sudah selesai. Tapi ternyata belum. Dia pandangi aku sebentar kemudian arah matanya melirik ke sebuah kotak yang ada di pojok meja. Kotak itu mirip kotak amal di masjid-masjid. “4 Ribu saja mas,” ketus dia.

Dan aku hanya mengangguk, tangan merogoh saku celana dan menemukan uang pecahan 5 ribuan. Aku serahkan kepada pamong itu, tapi dia kembali melirik ke ‘kotak amal’ itu. Aku masukkan uang itu, ke dalam ‘kotak amal’ menuruti sinyal yang diberikannya. Aku masih berdiri dihadapannya, seperti menunggu sesuatu.

“Silahkan mbak, ini diisi sebelah sini, nomor KK-nya jangan sampai salah,” kata dia memberikan arahan kepada seorang perempuan kawan SD-ku dulu yang mengantre dibelakangku dan sepertinya pamong itu melupakan diri jika seharusnya dia memberikan kembalian seribu.

Kaki ini melangkah pergi meninggalkan kantor desa. Tidak ada perasaan dongkol atau jengkel kepada pamong itu. Aku mengikhlaskan uang itu. Tapi yang sebenarnya cukup mengganjal adalah dia sepertinya pura-pura urusanku sudah selesai. Kalau dia ngomong, “Yang seribu diikhlasin ya mas, buat amal,” mungkin itu lebih baik.

Segera aku kembali ke kantor kecamatan. Berkas kembali dicek dan semuanya sudah lengkap. “10 Ribu, tunggu sebentar, nanti dipanggil untuk foto,” kata pegawai perempuan yang tadi.

Aku serahkan uang pecahan 50 ribu. Sempat aku berpikir, kalau kali ini tidak diberi kembalian, bisa naik darah. Ternyata aku sudah buruk sangka setelah kejadian di kantor desa tadi. “Ini mas,” ujar perempuan itu menyerahkan uang pecahan 20 ribu dua lembar tanpa menyertakan kuitansi tanda pembuatan KTP.

Setelah foto beberapa saat menunggu, surat sakti saat razia Satpol PP itu telah jadi. Warnanya biru. Bahannya masih sama seperti yang dulu, tipis dan harus dilaminating. Yang membedakan hanya fotonya saja, dulu pakai cetak foto 2×3, sekarang digital foto. Karena aku butuh legalisasi fotokopi KTP, maka aku tanyakan sekalian soal itu dan perempuan itu menjawab, “Silahkan dicek dan ditandatangani kalau datanya sudah benar. Baru difotokopi, nanti dilegalisir,” kata dia dengan ramah.

Aku baca data yang ada dalam KTP itu, semuanya benar. Tempat lahirku yang dulu sering salah sudah benar. Lima lembar fotokopi KTP kembali aku sodorkan kepada pegawai lainnya, juga perempuan. Tanganya begitu cekatan menandatangani lembaran-lembaran itu, membubuhkan stempel yang kalau tidak salah sampai ada tiga stempel yang dibubuhkan dalam satu lembar fotokopi itu.

Tepat saat dia menyodorkan kembali lembaran fotokopi itu, ada panggilan yang masuk ke Ponselku. Aku berbicara dengan rekan kerja, tapi mata ini beradu pandangan dengan perempuan tukang legalisasi itu. Saat kami beradu pandangan, matanya melirik ke kanan, tertuju pada sebuah kotak. Kotak yang ukurannya lebih besar dari kotak di kantor desa, tapi bentuknya sama seperti ‘kotak amal’.

Aku hanya menganggukan kepala, tanganku meraba-raba kantong celana berharap ada beberapa lembar ribuan. Perempuan itu masih menunggu, dengan sedikit kode dia menganggukkan kepala dan matanya kembali melirik ke ‘kotak amal’. Beberapa lembar uang ribuan aku masukkan dan bergegas pergi dari kantor kecamatan.

Sudah tidak aku pikirkan lagi soal ikhlas atau tidak, ridho atau tidak uang itu karena aku harus bergegas, urusanku masih banyak. Segera saja aku ke kantor pos dan menuju ATM mengambil uang. Di dua tempat itu baik di kantor pos ataupun ATM, tepat di pintu keluar, ada perempuan tua mengulurkan tangannya mengharap iba. Dia membawa ‘kotak amal’ dalam bentuk yang lain. Aku berpikir, lalu apa bedanya pamong desa dan perempuan tukang legislasi KTP dengan dua perempuan pengharap iba dari sesama? Aku juga tidak tahu…


Muntilan, anak jalanan dan sebuah kerinduan…

Hujan mulai mereda saat malam semakin larut. Bau tanah terkena air hujan masih sangat terasa. Bau yang sangat khas. Hawa dingin semakin menusuk-nusuk badan seakan membawa semua penduduk meringkuk di dalam rumah.

Muntilan terasa seperti kota tanpa penghuni. Toko-toko sudah tutup sedari tadi. Pengunjung di warung-warung makan di sepanjang Jalan Sayangan sudah mulai sepi. Lalu lintas jalan pun tak kalah lengang. Truk-truk pengangkut pasir Merapi semakin banyak yang berhenti istirahat. Seakan semua penduduk menghidari dinginnya malam di awal musim penghujan.

Denyut kehidupan hanya terasa di sudut-sudut jalan. Di warung-warung angkringan. Di pos-pos ronda. Di pangkalan ojek dan becak. Di warung remang-remang tempat mangkalnya PSK kelas jalanan. Hawa dingin seakan semakin menambah sensual dan gairah malam. Hawa dingin sepertinya menjadi jurus utama pengikat para penjaja seks untuk petualang malam demi sebuah kehangatan.

Hawa dingin memang seakan telah mematikan kehidupan kota kecil ini, namun tidak dengan kehidupan Bocah. Di tengah pekatnya malam dan angin yang membawa hawa dingin, Bocah menembus tengah kota menuju tempat peraduannya, kursi panjang di sudut Jalan Sayangan. Dengan langkah pasti dan menghisap rokok dalam-dalam, Bocah menembus malam untuk menyatu dengan malam di jalanan.

Malam itu, uang 1.000 rupiah yang ada di kantong Bocah telah habis. Satu cakar ayam dan sebatang rokok telah dibelinya. Cakar ayam bagi Bocah cukup lumayan untuk mengganjal perut. Sebatang rokok, lumayan untuk menjadi kawan penghangat di tengah pekatnya malam.

Singasana tidurnya telah siap menyambutnya setelah seluruh badan terasa pegal-pegal seharian beraktivitas. Kursi yang jika siang hari jadi tempat berjualan rokok, bagi Bocah merupakan singasana tidur. Sudah cukup reyot sebenarnya, namun lebih baik ketimbang tidur di emperan toko beralaskan koran.

Bocah langsung meringkuk, kedua pahanya ditempelkan ke dada untuk menahan dinginnya malam. Namun, sepertinya hawa dingin enggan berkompromi, hawa dingin sepertinya langsung menembus kaos lusuh dan celana pendeknya. Badannya terada sedikit gatal-gatal saat tubuhnya menjadi makanan empuk nyamuk. Bocah hanya bisa sedikit menyesal, mengapa sore tadi setelah mengamen tidak mampir di Kali Lamat untuk membersihkan diri. Hawa dingin dan nyamuk menjadikan tidur nyenyak hanya impian belaka.

Kedua tangan Bocah menjadi batal kepala. Matanya yang belum juga terpejam menerawang jauh ke langit. Langit tampak hitam, tanpa awan tanpa bintang. Tiba-tiba saja, Bocah ingat akan keluarga dan rumahnya di salah satu desa di Secang. Sudah hampir sebulan lamanya Bocah tidak ketemu bapaknya, adiknya, kakaknya dan juga ibu tirinya.

Menjadi pengamen saat usianya baru menginjak belasan tahun memang bukan jalan yang diinginkan Bocah. Namun, apa daya ketika, orangtuanya tak mampu menghidupinya apalagi menyekolahkannya, Bocah akhirnya menyatu dengan jalanan untuk bertahan hidup. Bocah jadi ingat masa-masa susahnya beberapa tahun yang lalu, saat semua keluarganya nekat menjadi pengemis di Salatiga saat ekonomi keluarga benar-benar tidak berdaya. Dari tiduran di emperan toko hingga pojok pasar ataupun saat digaruk Satpol PP masih kuat dalam ingatan Bocah.

Kini, keluarganya telah menetap di Secang. Bapaknya pun sudah mulai berdikari menjadi tukang pembuat batu bata. Namun, tidak dengan Bocah. Jalanan seakan tidak pernah melepaskan Bocah dari genggamannya. Bocah tetap harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan jalanan.

Matanya belum juga bisa terpejam, kedua tangannya mencoba meraih sesuatu di dalam kantong celananya. Namun, sia-sia saja, uang terakhir sudah digunakannya untuk membeli cakar ayam dan sebatang rokok. Bocah kembali mengingat-ingat uang 16.400 rupiah pendapatannya dari mengamen hari itu. 8.200 rupiah habis untuk makan hari itu. Ditambah 5.000 rupiah untuk setor pada “bos”-nya. 2.000 rupiah untuk beli rokok dan 1.200 rupiah habis menjadi koin-koin permainan dingdong.

Kota kecil di antara Jogja dan Magelang ini semakin sepi saja, sesepi perasaan Bocah malam itu. Perasaan melankolis tiba-tiba muncul dari Bocah yang sudah hampir lima tahun bertahan dalam kerasnya kehidupan jalanan. Dirinya bersusah hati mengapa harus mengamen, mengapa tidak sekolah. Bocah sedih mengapa harus di jalanan, mengapa tidak bersama hangatnya keluarga. Ingin rasanya dirinya menyalahkan bapaknya yang tidak sanggup merawatnya. Namun, Bocah juga ingat perjuangan bapaknya agar dirinya dan semua anggota keluarga lainnya bisa bertahan hidup. Bocah masih ingat saat bapaknya di-PHK dari pabrik tekstil di Tempuran saat krisis ekonomi melanda. Kehidupan ekonomi keluarga carut marut dan sempat menjadikan keluarga Bocah menjadi keluarga pengemis.

Bocah tak tahu lagi ingin menyalahkan siapa lagi dengan keadaanya kini. Matanya sudah agak terkantuk-kantuk. Menjelang tidur, Bocah hanya menggumam,” Pak, aku kangen…”.


%d blogger menyukai ini: