Tag Archives: News]

Polling Artist Of The Month

Menurut kamu, siapa yang layak menyandang gelar Artist Of The Month bulan November ini? Ini nominasinya:

  1. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Dikabarkan mundur dari jabatan Menkeu)
  2. Amrozi Cs (Eksekusi mati trio Bom Bali I)
  3. Syech Puji dan Ulfa (Pernikahan dini)
  4. Barrack Obama (Presiden terpilih Pilpres Amerika Serikat)
  5. Paul McCartney (Peraih penghargaan khusus MTV Eropa)
  6. Aulia Pohan (Besan SBY yang jadi tersangka kasus aliran dana BI)
  7. Rizki The Titans (Siap dicerai sang isteri)
  8. Chris John (Pertahankan juara dunia kelas bulu WBA)
  9. Sri Sultan Hamengku Buwono X (Nyalon jadi calon presiden)
  10. Hashim Djojohadikusumo (pengusaha kondang jadi terdakwa kasus arca Museum Radya Pustaka)
  11. Krisdayanti (Peluncuran buku KD, Hidup Tak Bisa Menunggu)
  12. Presiden SBY (Turunkan harga premium Rp 500)
  13. Bunga Citra Lestari (Menikah dengan sang pacar Ashraf)
  14. Bung Tomo (10 November resmi jadi pahlawan nasional)
  15. Lain-lain (Tulis tokoh atau figur lain jika kamu punya pilihan lain)

Ayo buruan pilih nominasi Artist Of The Month. Semakin banyak komen dari kamu, maka artis pilihanmu akan semakin dekat dengan gelar Artist Of The Month!!!Dan Indonesia memilih…

Iklan

Tentang impian, persahabatan dan ketimpangan sosial (resensi film Laskar Pelangi)

Nama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun bukan nama yang asing lagi bagi para pembaca novel Laskar Pelangi. Ketika novel tersebut menjadi best seller, 10 nama yang menjadi pemeran utama dalam Laskar Pelangi itu akhirnya dimunculkan dalam bentuk visual lewat karya Riri Riza. Sampai saat ini pun saya belum pernah membaca novel Laskar Pelangi, apalagi dua buku lainnya yang merupakan bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, namun saat film Laskar Pelangi diputar di bioskop, saya punya kesempatan untuk menikmati Laskar Pelangi versi visual ala Riri Riza.

Sebagian orang menilai adanya perubahan dan perbedaan ketika sebuah novel yang akhirnya dibentuk ulang dalam film, seperti kasus Ayat-ayat Cinta. Namun saya tidak ingin membahas hal itu, karena memang saya belum pernah membaca Laskar Pelangi asli karya Andrea Hirata.

Bagi saya yang buta tentang novel Laskar Pelangi, film Laskar Pelangi memberikan kesan tentang sebuah impian, persahabatan dan ketimpangan sosial. Dengan setting Belitong, Sumatera tahun 1970an, film ini mengkisahkan tentang 10 anak SD Muhammadiyah Gantong yang merupakan satu-satunya SD Islam yang ada di Belitong. Tidak ada yang patut dibanggakan dari SD tersebut, bangunannya sudah hampir rubuh atau siswanya minim, namun 10 siswa yang dipersatukan karena kemiskinan memberikan warna tersendiri bagi sekolah itu. Tentunya peran besar sosok Ibu Muslimah (diperankan Cut Mini Theo) tidak dapat dipisahkan dari SD tersebut.

10 Siswa yang bersekolah di SD tersebut adalah orang-orang yang terpinggirkan dan berasal dari keluarga yang miskin secara ekonomi, namun tetap memiliki kemauan untuk belajar, terutama Lintang yang harus menempuh perjalanan jauh agar dapat sekolah. Hal ini sangat kontras dengan SD PN Timah yang merupakan sekolah unggulan dan terkenal di Belitong. Ketika film menceritakan kekontrasan dua SD yang saling bertolak belakang itu, Riri Riza telah membawa penonton tentang kekontrasan pendidikan dan juga ketimpangan sosial. Kekontrasan itu diceritakan secara santun, tanpa mengolok-olok yang miskin dan tidak memuja-muja yang kaya.

Cerita dalam film ini mengalir dengan mulus. Dengan pengambilan gambar yang apik, penonton dibawa hanyut dalam cerita tentang perjalanan sebuah SD dengan segela keterbatasannya. Ada persahabatan, ada impian ada juga harapan tentang masa depan dari 10 anak yang akhirnya menamakan diri mereka Laskar Pelangi itu. Ada juga kisah suka cita, duka lara hingga kisah cinta termasuk kisah cinta Ikal dengan A Ling yang berawal dari kapur tulis, semuanya dituangkan dalam bentuk visual yang menarik.

Kekuatan film ini bukan terletak pada banyaknya aktor dan aktris papan atas seperti Cut Mini Theo, Tora Sudiro, Eros Djarot, Jajang C Noer, Rieke Diah Pitaloka, Matias Mucus ataupun Lukman Sardi. Namun, kekuatannya lebih pada penokohan 10 anak Belitong itu. Untuk pemeran dewasa, mungkin hanya Ibu Muslimah yang diperankan oleh Cut Mini yang cukup menonjol.

Diluar penokohan, kekuatan film ini lebih pada kemampuan untuk mengaduk-aduk perasaan penonton. Hanya dalam hitungan detik, penonton yang baru saja terbahak-bahak melihat Ikal yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba langsung dibawa haru kala Pakcik meninggal ataupun kondisi Lintang akhirnya tidak meneruskan sekolah meski dia merupakan siswa tercerdas. Kemampuan membolak-balikkan situasi dengan cepat itu menjadi kekuatan utama cerita itu sehingga tidak hanya banyolan kocak yang didapat, namun pesan tentang persahabatan, tentang humanisme, tentang perjuangan hidup menjadi tersampaikan dengan lebih mudah dan mulus.

Meski memiliki kekuatan cerita yang cukup baik, namun di beberapa potongan film, cukup terasa ada jumping. Mungkin jika mengacu sepenuhnya pada novel, film Laskar Pelangi akan memakan durasi waktu yang cukup lama. Padahal, film Laskar Pelangi yang diputar sudah memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 120 menit. Namun, apapun itu, film ini memang layak untuk ditonton, kekuatan cerita, sinematografi hingga penokohan memang tergarap dengan baik. Dan mungkin miliaran rupiah yang dikeluarkan untuk penggarapan film ini tidak sia-sia karena film ini kemungkinan besar akan mengikuti jejak sukses novel Laskar Pelangi yang best seller.


Kursi Panjang Pengadilan dan Penantian Keadilan

Deretan kursi panjang pengadilan mungkin menjadi saksi bisu sebuah arti penantian bagi sejumlah jurnalis media lokal di Solo. Sudah lebih dari 3 jam lamanya, para jurnalis di Solo menduduki deretan kursi panjang di salah satu ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Solo. Hanya satu hal yang mereka tunggu, sidang kasus dugaan korupsi APBD 2003 yang menyeret enam mantan anggota DPRD Solo periode 1999-2004 menjadi terdakwa. Rencananya, sidang bakal mengagendakan pembacaan tuntutan dari jaksa.

Sejak pagi, sejumlah jurnalis yang biasa menggawangi desk hukum dan kriminalitas di Solo sudah mangkal di pengadilan. Hari itu, ada dua jadwal sidang yang cukup menarik, selain sidang korupsi APBD 2003, masih ada juga sidang korupsi lainnya yaitu korupsi dana PKPS BBM di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo yang menyeret mantan Direkturnya Siti Nuraini Arief sebagai terdakwa.

Sidang kasus korupsi PKPS BBM juga mengagendakan pembacaan tuntutan. Seperti sudah menjadi kewajaran, jadwal persidangan selalu mengalami penundaan. Untuk sidang korupsi RSJD, boleh dibilang cukup tepat waktu, dimulai jam 10.40 WIB. Jaksa, hakim, pengacara dan terdakwa semuanya sudah siap dan sidang digelar. Jaksa akhirnya menuntut Siti Nuraini Arief dengan 2,5 pidana penjara plus denda Rp 50 juta plus pengembalian uang lebih dari 600 juta yang telah dikorupsi.

Seusai sidang, Siti sempat menghindari jurnalis. Wajahnya ditutup dengan blocknote dan langsung dirangkul oleh keluarganya. Tampak dia sempat menangis setelah jaksa menuntutnya 2,5 penjara. Dan, ketika sidang kasus korupsi itu sudah berlalu, kini tinggal sidang korupsi APBD 2003 yang jadi incaran jurnalis.

Ruang sidang IV PN Solo telah disiapkan. Pengeras suara telah terpasang rapi. Namun, hinggga lebih dari 2 jam menunggu belum ada kepastian kapan sidang digelar. Jaksa, pengacara, enam terdakwa yaitu Gunawan M Su’ud, Zaenal Arifin, Sahil Al Hasni, James August Pattiwael, Bambang Rusiantono dan Satryo Hadinagoro juga telah siap. Jurnalis, entah itu jurnalis media cetak, fotografer dan wartawan TV dan radio juga telah siap sedia merekam momen pembacaan tuntutan tersebut.

Tak ada kejelasan kapan sidang dimulai membuat jurnalis mulai letih menunggu dan kursi panjang di dalam ruang sidang menjadi pelarian. Ada sekitar lima kursi panjang di dalam ruang sidang itu dan semuanya terisi oleh jurnalis yang kelelahan menunggu. Beberapa jurnalis bahkan sempat tertidur pulas saat tiduran di kursi panjang. Mereka seakan menanti sebuah hal yang belum pasti.

Apa yang ditunggu oleh jurnalis di kursi panjang itu, tak beda dengan penantian panjang dari masyarakat akan sebuah keadilan. Penantian panjang akan terungkapnya sebuah kasus korupsi yang dilakukan secara massal. Kasus korupsi APBD 2003 telah bergulir sejak tahun 2004 atau empat tahun yang lalu. Pimpinan DPRD Solo periode 1999-2004 dan juga anggota Panitia Rumah Tangga (PRT) telah menjadi terpidana kasus serupa dan kini giliran enam terdakwa yang menunggu kepastian hukum.

Empat tahun proses hukum tersebut berjalan. Untuk sebuah proses hukum, empat tahun merupakan waktu yang lama. Setelah ditangani Polwil Surakarta berkas kasus tersebut sempat bolak-balik dari Kepolisian ke Kejaksaan hingga puluhan kali. Baru pada awal tahun 2008 berkas untuk enam terdakwa dilimpahkan ke PN Solo. Setelah sekitar 8 bulan persidangan digelar, akhir September akhirnya sampai pada tuntutan.

Namun, setelah menunggu sekitar 3 jam, jurnalis harus kecewa karena pembacaan tuntutan baru akan dilakukan setelah Lebaran dengan alasan majelis hakim tidak komplit meski jaksa telah siap dengan tuntutannya. Penantian panjang itu ternyata belum berakhir. Penantian jurnalis di kursi panjang pengadilan seakan menyiratkan sebuah kenyataan penantian panjang masyarakat akan sebuah keadilan.


Anak Muda & Tan Malaka(isme)

Ketika generasi muda kini berani membusungkan dada

saat menggunakan kaus bergambar Che Guevara,

mungkin mereka lupa jika bangsa ini

punya sosok yang bernama Tan Malaka

Bagi anak muda, Che Guevara tak hanya idola, namun juga “Nabi” yang pantas menjadi panutan. Che Guevara tidak hanya melegenda di Argentina, Bolivia, Kuba ataupun negara Amerika Latin lainnya, namun Ernesto Che Guevara telah menginspirasi jutaan anak muda di berbagai belahan dunia. Kisah perjalaan Che mengelilingi Amerika Latin hingga kisah kematiannya seakan menjadi kisah yang tidak pernah usang. Kisah-kisah seputar Che seakan menjadi kisah “turun temurun” yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Che memang memiliki magnet tersendiri bagi anak muda yang hidup pascakematian Che. Nama Che identik dengan perlawanan, revolusi atau anak muda sekarang lebih suka menggunakan kata rebel. Sepak terjang Che yang dalam Revolusi Kuba hingga pergerakan di Amerika Latin memang bisa menjadi dasar bagi anak muda untuk me-Nabi-kan sosok Che.

Che begitu diagung-agungkan, hingga wajah Che dengan begitu mudahnya dijumpai di setiap sudut kota. Di sepanjang emperan toko Jalan Malioboro, pedagang stiker memajang wajah Che yang sangat khas, berbaret lengkap dengan bintangnya. Atau kaus warna hitam yang bagian depannya menampilkan wajah Che yang telah di-trace warna merah dengan kombinasi kuning di tambah kata Revolution di bawahnya dengan begitu mudahnya ditemukan di toko-toko pakaian. Alhasil, stiker gambar Che dengan mudahnya ditemukan di kamar kos, kampus, sepeda motor hingga pintu WC umum. Dan begitu mudahya kita menemukan anak muda menggunakan kaus bergambar Che, mulai dari mahasiswa yang sedang unjuk rasa, pengamen jalanan hingga gadis seksi yang berjalan lenggak-lenggok di mal-mal.

Ya, kepopuleran Che memang telah dimanfaatkan secara nyata oleh tangan jahil kapitalis. Ribuan stiker dicetak tiap harinya untuk meraup keuntungan. Kaus-kaus bergambar Che terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan akhirnya sosok Che yang begitu Revolusioner telah menjadi bagian dari budaya pop anak muda ala kapitalisme yang tentunya sangat tidak revolusioner. Namun, apapun itu, Che telah membumi dan itu tidak bisa dipatahkan begitu saja.

Bicara soal sosok revolusioner yang membumi, penulis ingat sosok Tan Malaka yang sangat tidak membumi. Bahkan, sosok yang memiliki nama lengkap Ibahim Datuk Tan Malaka tersebut selama hidupnya selalu dipenuhi dengan misteri. Tan tak berbeda dengan Che, sama-sama revolusioner dalam perjuangan dan sama-sama dipengaruhi oleh paham komunisme. Tak ada maksud untuk membandingkan antara Che dan Tan, namun tak ada salahnya jika membumikan sosok Tan Malaka, bapak bangsa ini yang disebut-sebut Che Guevara dari Asia.

Nama Tan Malaka hampir tidak pernah ditemukan dalam buku sejarah bangsa ini. Sejak belajar di SD hingga perguruan tinggi, nama Tan yang biasa disebut dengan Si Macan tersebut tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan. Mungkin karena sejarah adalah milik penguasa, maka Tan Malaka yang memang sempat memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) ini sengaja dihilangkan dari buku sejarah bangsa ini.

Tan lahir di lembah Suliki, Payakumuh, Sumatera Barat tahun 1897. Lahir dari keluarga yang Islami, Tan tumbuh besar menjadi anak yang bengal, namun diketahui juga hafal Al Quran. Tahun 1913 menuju negeri Belanda untuk melanjutkan studinya sebagai calon guru. Namun, di negeri itu bukan gelar guru yang diperolehnya. Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, telah mengenalkannya pada politik terutama pemikiran komunisme dengan cita-cita utama, kemerdekaan Indonesia.

Tidak lulus dari Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan kembali ke Indonesia dan menjadi guru sekolah rendah di kawasan perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Selama menjadi guru rendah tersebut, mata Tan terbuka lebar akan penindasan yang dialami bangsanya hingga suatu ketika di tahun 1921, Tan berangkat ke Semarang untuk ikut serta dalam arus pergerakan kemerdekaan.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh pergerakan kala itu menjadikan Tan, turut aktif dalam pergerakan, terutama lewat Sarekat Islam (SI). Bahkan, Tan aktif untuk menyatukan SI dengan komunis untuk menghadapi imperialisme Belanda. Pergerakan Tan kala itu membuat takut Belanda dan 13 Februari 1922, Tan ditangkap di Bandung untuk kemudian diasingkan di Belanda.

Dibuang ke Belanda tidak melunturkan semangat Tan, bahkan kala di Negeri Kincir Angin itu, Tan terus bergerak untuk kemerdekaan Indonesia hingga sempat menjadi calon anggota parlemen dengan nomor urut tiga di Partai Komunis Belanda. Dari Belanda, Tan pindah ke Jerman dan sempat mendaftar sebagai legiun asing, namun ditolak. Akhir tahun 1922, Tan pindah ke Moskow untuk mewakili PKI dalam konfrensi Komunis Internasional (Komintern) dan akhirnya Tan diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia Timur.

Selama periode 1923 hingga 1942 atau hampir 20 tahun, Tan menjadi seorang pelarian. Selama periode itu, Tan pindah-pindah mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Selama pelarian di 11 negara tersebut, Tan Malaka memiliki 23 nama palsu untuk menghindari kejaran inteljen Belanda, Jepang, Inggris dan AS. Sempat beberapa kali ditahan di Filipina atau Hongkong, namun akhirnya tetap bisa lolos. Selama pelariannya itu pula, Tan Malaka sempat menjadi koresponden, wartawan, guru bahasa Inggris, Jerman dan matematika. Selama pelarian itu pula, Tan menulis buku Naar de Reubliek Indonesia dan menjadi orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia serta buku Massa Actie atau Aksi Massa yang menjadi buku panduan dan pegangan Ir Soekarno, Hatta hingga Syahrir untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, tahun 1927, Tan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok.

Tahun 1942, Tan di Jakarta dan selama depalan bulan menulis buku yang sangat fenomenal Madilog. Tan kemudian menuju Bayah, Banten bekerja di pertambangan batu bara Jepang tahun 1943 dengan mengunakan nama Ilyas Hussein. Meski menjadi orang pertama yang menggagas konsep Republik Indonesia, namun Tan Malaka justru malah terlambat mengetahui Proklamasi 17 Agustus 1945. Hal itu sangat ironis. Perkenalannya dengan tokoh pemuda seperti Sayuti Melik, Chaerul Saleh hingga BM Diah membuahkan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada. Tan disebut-sebut orang di belakang dari rapat akbar yang dihadiri 200 ribu orang tersebut.

Soekarno yang mengetahui kehadiran Tan Malaka, memeritahkan Sayuti Melik untuk melakukan pertemuan tertutup empat mata antara Soekarno dan Tan. Dalam pertemuan tersebut, Soekarno sempat mengatakan “Jika nanti terjadi sesuatu pada diri kami (Soekarno-Hatta) sehingga tidak dapat memimpin revolusi, saya harap Saudara yang melanjutkan.”

Pernyataan tersebut diikuti dengan adanya pemberian Testamen politik dan naskah proklamasi dari Soekarno kepada Tan Malaka. Apa yang dilakukan Soekarno tidak disepakati Hatta hingga akhirnya diambil jalan tengah, testamen diberikan kepada empat orang yaitu Tan Malaka, Syahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoemasoemantri.

Pertalian Tan dengan bapak bangsa lainnya pecah karena kebijakan diplomatik dari Soekrano-Hatta-Syahrir. Tan menentang sepenuhnya jalur perundingan karena hal itu mengurangi kemerdekaan Indonesia 100% seperti apa yang selalu dikatakan Tan yaitu 100% merdeka. Bersama 141 kelompok, Tan membentuk Persatuan Perjuangan bersama Jenderal Soedirman dan memilih bergelilya untuk menangkal agresi Belanda.

Tan yang teguh untuk melawan tanpa lewat perundingan, akhirnya dijebloskan ke penjara, 17 Maret 1946 di Madiun. Dua tahun lebih, Tan baru dibebaskan dan tetap melanjutkan perjuangan lewat gerilya di Jawa Timur. Perlawanan Tan tanpa pernah mau berkompromi akhirnya berakhir pada kematiannya yang tragis, tewas di ujung senapa tentara republik yang digagasnya.

Kematian Tan sempat kontroversial. Banyak orang meyakini, Tan tewas ditembak di tepi Kali Brantas, Kediri. Namun, sejarawan Harry Poeze yang telah meneliti Tan Malak selama 36 tahun meyakini Tan tewas dieksekusi oleh pasukan Batalion Sikatan di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri pada 21 Februari 1949.

Selama ini, Tan dikenal sebagai tokoh kemerdekaan paling misterius. Tokoh yang disebut Soekarno dengan istilah “Seorang yang mahir dalam revolusi” telah menjadi bapak bangsa yang terlupakan. Tidak banyak anak muda mengetahui sepak terjang Tan seperti mereka mengenal sepak terjang Che.

Tidak banyak anak muda yang mengerti tentang perjalanan Tan di 11 negara seperti mereka mengenal Che yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Tidak banyak anak muda yang mengenal kisah cinta Tan Malaka dengan Syarifah Nawawi yang bertepuk sebelah tangan, seperti mereka mengenal kisah cinta Che. Sudah saatnya melawan pelupaan, saatnya anak muda bangga kala menggunakan kaus bergambar Tan Malaka dan berani meneriakkan perlawanan, seperti apa yang telah dikatakan Tan Malaka dalam Dari Penjara ke Penjara jilid II ,”Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”


“Surat Cinta” dan Akurasi Berita

Kalau Einstein punya rumus EM=C2 yang menjadikannya melegenda,

maka jurnalistik punya rumus a+b=c yang wajib hukumnya.

Berproses sebagai seorang jurnalis yang baik dan benar aku pikir bukan merupakan hal yang mudah. Setelah pekerjaan mencari berita yang kemudian dilanjutkan dengan menuliskan berita tersebut kadang ada saja pikiran yang mengganjal memikirkan apakah tulisanku benar-benar sudah clear atau belum. Jawaban itu kadang baru terjawab pagi harinya saat koran memuat tulisanku. Kalau udah clear syukur, kalau tidak, maka bayangan datangnya “surat cinta” menggelayuti pikiran.

Istilah “surat cinta’ merupakan istilah familier di tempatku bekerja jika seorang reporter atau redaktur mendapatkan surat peringatan (SP) karena melakukan kesalahan, terutama dalam proses jurnalistik. Kata “surat cinta” menjadi sebuah plesetan yang sering digunakan di ruang redaksi untuk sekedar menghibur diri. Namun, plesetan SP menjadi “surat cinta” bukan berarti mengesampingkan arti dari SP itu sendiri, kata “surat cinta” dirasakan lebih terasa indah dan familier sehingga bagi yang menerimanya akan terasa tidak terlalu menyakitkan.

Sudah sekitar 2,5 tahun, aku berproses sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal. Selama itu pula, aku belum pernah merasakan dag dig dug-nya mendapatkan “surat cinta”. Namun, kisah perjalananku selama 2,5 tahun yang clear dari “surat cinta” runtuh gara-gara uang palsu (Upal). Ya, kasus Upal yang aku tulis pekan lalu membawaku merasakan mendapatkan “surat cinta”.

Harus diakui, aku memang layak mendapatkan “surat cinta”. Aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu saat itu aku menulis uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar Ki Hajar Dewantoro. Padahal, seharusnya uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar WR Supratman. Satu hari setelah berita itu keluar, koranku melakukan ralat dan tiga hari setelah kejadian itu, “surat cinta” itu datang kepadaku.

Setelah kejadian itu, aku ingat betul dengan rumus a+b=c yang pernah diberikan dosen kuliah jurnalistik cetak saat aku kuliah. A artinya adalah akurasi, b artinya balance dan c adalah clearity. Ya, rumus tersebut merupakan rumus paten, yaitu ketika menulis berita dengan akural dan berimbang (balance) maka akan menghasilkan berita yang clear alias aman alis baik dari segi jurnalistik. Namun, saat itu aku melupakan komponen a, sehingga berita yang ada menjadi tidak clearity.

Rumus a+b=c bisa jadi rumus yang simpel dan tidak ribet. Namun, dalam penerapannya, memang tidak semudah pengucapannya. Melakukan proses jurnalistik dengan berpatokan pada akurasi bukan hal yang enteng. Ketika dihadapkan pada fakta yang rumit dan kadang saling bertentangan, akurasi sangat penting, maka perlu ada pemikiran dan pemahaman yang lebih mendalam, agar berita yang diproses dari kumpulan fakta-fakta yang kadang berkeping-keping, dapat ditulis dengan akurat.

Menulis berita dengan balance atau imbang juga bukan perkara mudah. Ada istilah dalam jurnalisme yaitu cover both side yang saat ini sudah berkembang lagi menjadi cover all side. Istilah itu sama artinya dengan jurnalis menuliskan fakta dengan melihat dari berbagai sudut pandang agar beritanya menjadi imbang. Bagi orang awan, imbang kadang diartikan dengan memuat tulisan dua belah pihak yang sama besar dan sama panjang tulisannya.

Bahkan, beberapa perusahaan atau orang yang merasa dirugikan dengan media dan meminta adanya hak jawab yang besarnya sama dengan berita awal tersebut dimuat. Ini artinya sama dengan ketika berita yang dipermasalahkan merupaka berita headline, maka hak jawab yang keluar juga harus headline. Ya, betapa kompleksnya masalah balance hingga kadang tidak sedikit masalah balance berujung pada masalah hukum. Nah, ketika akurasi dan keberimbangan ikut menghiasi atau bahkan telah menjadi dasar atau pondasi dari sebuah berita, maka dapat dikatakan berita tersebut telah clear.

Kini, ketika aku baru saja mendapatkan “surat cinta”, rumus a+b=c selalu aku pikirkan. Mungkin selama ini aku sudah mulai melupakan rumus simpel tersebut dalam berproses. Aku anggap saja “surat cinta” itu telah me-refersh ingatan dan pemahamanku soal rumus a+b=c karena bagaimanapun itu rumus tersebut merupakan rumus wajib dalam jurnalistik, seperti halnya rumus EM=C2 dalam dunia fisika.


Oase di Gurun Pasir

“Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran

akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Senyumnya mengambang tipis layaknya orang biasa yang bersahaja. Perkataan yang meluncur dari mulutnya menunjukkan keteguhan hatinya yang mungkin sekokoh Tembok Raksasa China. Pusaran keras arus di selelilingnya tidak pernah mengoncangkan kata hatinya.

“Saya tidak pernah berusaha melawan arus. Saya hanya meluruskan arus yang ada. Saya hanya mengikuti kata hati, karena hati nurani tidak pernah berbohong. Ketika nurani melihat kenyataan, maka kejujuran akan kebenaran adalah suatu keharusan.”

Kalimat itu meluncur dari mulut mantan Kasatreskrim Poltabes Solo Komisaris Polisi Syarif Rahman saat berbincang-bincang dengan saya beberapa waktu yang lalu. Kamis kemarin, Syarif resmi melepas jabatannya sebagai Kasatreskrim Poltabes Solo dan akan menduduki posisi baru sebagai Kasubbag Reskrim Polwil Banyumas.

Kalau bapak dua anak ini tidak menggunakan seragam formal Polri, maka banyak orang yang bakal mengira jika dirinya bukan polisi. Untuk ukuran seorang anggota polisi, tubuh Syarif memang tergolong mungil. Namun, di balik tubuh mungilnya, Syarif memiliki keteguhan hati yang tidak terukur dalam sebuah institusi kepolisian. Saya meyakini itu meski saya baru mengenalnya enam bulan terakhir dan benar-benar akrab pada tiga bulan terakhir ini.

Keteguhan hati dalam bekerja dan berusaha tidak larut dalam pusaran arus yang bisa menyeretnya dalam kehinaan benar-benar terasa ketika Syarif mengungkap sejumlah kasus besar terutama kasus korupsi yang menyeret pejabat dan mantan pejabat Solo.

Saya meyakini tekanan tidak hanya muncul dari luar, tapi juga dari dalam dan itu semua dilewati laki-laki kelahiran Madura 33 tahun silam dengan tenang dan tanpa kompromi sejumlah pejabat dan mantan pejabat di Solo menyandang status baru sebagai tersangka korupsi. Bagi saya yang hampir setiap hari berinteraksi dengan masalah hukum dan kriminalitas di Solo, penuntasan kasus korupsi tersebut bagaikan perjalanan tanpa ujung. Sudah bertahun-tahun kasus tersebut mandek tanpa kejelasan arah. Dan dari tangannya ada secercah harapan kasus tersebut dapat segera dimejahijaukan.

Selama empat bulan terakhir, sedikitnya ada enam pejabat dan mantan pejabat di Solo yang menyandang gelar tersangka korupsi. Mungkin itu waktu yang cukup lama, namun jika dibandingkan dengan dua tahun mandeknya kasus tersebut, empat bulan merupakan langkah cepat dari penuntasan kasus korupsi. Kini, saat berkas untuk dua tersangka memasuki tahap akhir, lulusan Akpol yahun 1996 tersebut pindah dan saya pun hanya bisa berharap kasus tersebut tuntas hingga pengadilan.

Sering saya guyonang dengan sejumlah kawan, jika melaporkan kasus kehilangan ayam ke kepolisian, maka orang yang melaporkan kehilangan ayam tersebut akan kehilangan kambing di kepolisian. Sindiran kasar tersebut sudah menjadi rahasia umum atas bobroknya penegakan hukum di negara ini. Buramnya penegakan hukum di negara ini tidak hanya tercipta atas banyaknya individu di dalam institusi yang memang sudah bobrok, namun keboborkan tersebut terjadi karena sistem yang ada memang sudah sangat bobrok.

Mungkin kita kagum atas sikap mantan Jaksa Agung Abdulrahman Saleh yang berusaha membenahi institusi kejaksaan, meski dapat dikatakan akhirnya gagal. Dan saya juga kagum atas sikap Syarif yang tetap berpegang teguh pada hati nurani menjalani pekerjaan yang penuh godaan. Saya yakin dan percaya jika Abdulrahman Saleh ataupun Syarif Rahman bukan orang suci, namun dalam dunia penegakan hukum mereka telah menjadin oase di padang pasir yang kering.


Vonis 1,5 tahun itu jatuh saat “hari baik”…

Hari ini adalah hari Senin Wage, jadi hari baik karena memiliki sifat lakuning geni wasesa segara yang artinya pemberani dan pemberi ampunan.

Kalimat itu meluncur dari Kepala Museum Radya Pustaka Solo KRH Darmodipuro alias Mbah Hadi yang menjadi terdakwa kasus pencurian dan pemalsuan arca, Senin (30/6).

Ahli pawukon (menghitung hari) mengucapkan kalimat itu beberapa saat sebelum mengikuti persidangan di PN Solo yang mengagendakan pembacaan vonis.

Mbah Hadi menegaskan, karena pelaksanaan vonis kasus pencurian dan pemalsuan arca museum yang telah menyeretnya ke meja hijau merupakan hari baik, ia yakin hakim akan memberikan hal yang terbaik untuk dirinya.

Bahkan, sebelum mengikuti persidangan, Mbah Hadi juga membagikan selebaran kepada wartawan yang mengerubutinya. Selebaran tersebut berisi alamat hingga nomor handphone Mbah Hadi yang siap untuk melayani masyarakat dalam perhitungan Jawa hingga penyelenggaraan upacara ruwatan.

Mbah Hadi juga mencantumkan alamat tempat dirinya buka praktik yaitu di Bangsal Keraton Surakarta, sebelah timur Alun-alun Utara. ”Ini juga diberitakan ya, biar masyarakat juga tahu karena pihak Keraton telah menyediakan tempat untuk saya,” kata Mbah Hadi.

Sebelum sidang dimulai, beberapa kali Mbah Hadi sempat bercanda dengan wartawan. Dan ketika persidangan dimulai, dengan wajah yang cukup tenang, Mbah Hadi melangkah menuju ruang sidang dengan kawalan dari polisi.

Saat belasan fotografer dan wartawan televisi menyorotnya dengan kamera, beberapa kali Mbah Hadi menebarkan senyuman. Namun, ketika persidangan dimulai, wajah Mbah Hadi tampak serius mendengarkan pembacaan vonis. Dan ketika, majelis hakim akhirnya menjatuhkan vonis, wajahnya kian menegang.

Dengan wajah yang tenang meski menunjukkan kelelahan karena pembacaan vonis dilakukan lebih dari satu jam, Mbah Hadi tetap menjawab pertanyaan wartawan mengenai vonis 1,5 tahun penjara yang dijatuhkan hakim. ”Ya itu tengah-tengah ta. Kalau di-tawani (ditawari-red) ya milih bebas. Saya biasa-biasa saja, tidak tegang,” aku Mbah Hadi.

Saat ditanya mengenai apakah hari pelaksanaan vonis tersebut tetap merupakan hari baik meski akhirnya hakim memvonis dirinya 1,5 tahun penjara, Mbah Hadi mengatakan, hari Senin Wage tetap merupakan hari baik.


%d blogger menyukai ini: