Tag Archives: opini

Untuk Sebuah Kesalahan

Wajah Nova Zaenal dan Bernard Mamadou terlihat bersinar-sinar. Jelas wajah itu bertolak belakang beberapa hari sebelumnya. Wajah pasi, muram penuh kepasrahan ketika ruang tahanan menanti dua pemain sepakbola itu.

Pakaian batik dengan motif warna coklat menjadi saksi bisu hari pembebasan mereka. Setelah sempat bersalaman dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo yang secara resmi mengabulkan penangguhan penahanan pemain Persis dan Gresik United tersebut, udara kebebasan yang tertenggut selama satu pekan terakhir kembali mereka dapatkan.

Kamis pekan lalu bisa jadi menjadi hari yang akan terus mereka kenang. Setelah kericuhan di lapangan, polisi yang dipimpin langsung Kapolda akhirnya menangkap dan menahan mereka atas sebuah kesalahan “adu jotos” di lapangan.

Setelah bersalaman, Nova langsung mengucapkan kata maaf atas kekhilafannya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Kapolda, Nova dan Mamadou juga mengaku emosi sehingga akhirnya saling pukul dan mereka meminta maaf atas “kesalahan” itu.

Surat itu mungkin begitu ampuh karena akhirnya mereka berdua untuk sementara bernafas lega bisa keluar dari tahanan. Dengan jawaban diplomatis, Kapolda mengatakan, tak perlu Nova meminta maaf kepadanya. “Jangan meminta maaf kepada saya. Apa yang saya lakukan karena saya mencintai sepakbola. Saya ingin sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi,” jawab Jenderal bintang dua ini.

Di mata polisi, dua pemain sepakbola itu memang patut diduga “dipersalahkan” atas aksi kekerasan di lapangan. Penangkapan dan penahanan pun akhirnya menjadi sebuah “keniscayaan” atas “kesalahan” yang dilakukan. Namun, begitu kata maaf meluncur dan terucap, ada sebuah keringanan akan “kesalahan” yaitu penangguhan penahanan yang akhirnya mereka dapatkan.

***

Lain Nova dan Mamadou, lain pula dengan Briptu Dadang. Oknum anggota Satintelkam Poltabes Solo yang diduga menjadi pelaku perampokan taksi juga harus siap membayar atas sebuah “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Bahkan, dengan nada tegas, Kapolda menyatakan, hukuman bisa sampai pada tingkat pemecatan.

Di depan Kapolda, Dadang juga mengakui apa yang telah diperbuatnya merupakan kesalahan. “Siap, salah,” kata dia dengan gaya bicara khas anggota polisi berbicara pada pimpinannya.

Di depan belasan wartawan, Kapolda pun menyatakan komitmennya atas penegakan hukum. Hukum harus menjadi panglima. “Seandainya langit akan runtuh, penegakan hukum tetap harus jalan,” tegasnya.

Bersama seorang mahasiswa di Solo, anggota polisi yang baru dua tahun berdinas tersebut, nekat melakukan aksi perampokan dengan bermodalkan senjata mainan. Dia beralasan ingin membantu temannya, namun bagi aparat penegak hukum, kesalahan harus ada ganjarannya.

***

Terlalu sering kesalahan itu dilakukan dalam keseharian, mulai dari salah melanggar rambu lalu lintas hingga salah saat bekerja. Dan kesalahan itu memang harus ada ganjaran hukuman, entah hukuman langsung ataupun tidak langsung.

Dari kesalahan itu, orang bisa belajar tentang arti kebenaran. Dari perbuatan yang lalai dan khilaf, orang bisa belajar tentang arti dosa. Dari sebuah kesalahan, orang bisa lebih menghargai kata maaf. Namun, kadang pula terdengar kata majelis hakim saat mengambil keputusan terucap kata: “Tidak ditemukan adanya alasan pemaaf.”


Memilih Untuk Tidak Memilih

Mbok iyao gunakanlah hak pilihmu, jadilah warga negara yang baik.Pilihanmu menentukan Jawa Tengah lima tahun ke depan lo

Kutipan di atas merupakan perkataan dari ibuku beberapa hari yang lalu saat aku mudik ke kampung halaman di sebuah kota kecil tak jauh dari Gunung Merapi yang ada di perbatasan Jateng-Jogja. Obrolan hangat antara aku dan keluargaku malam itu memang tidak jauh-jauh dari Pilkada Jawa Tengah yang bakal digelar 22 Juni mendatang. Pilkada memang menjadi topik utama masyarakat Jateng akhir-akhir ini karena konon kabarnya sangat bersejarah bagi warga Jateng karena untuk pertama kali dalam sejarah berdirinya provinsi ini, masyarakat Jateng bakal memiliki kesempatan memilih gubernur dan wakilnya secara langsung.

Ibuku menanyakan apakah aku akan ikut coblosan 22 Juni besok dan dengan enteng saja aku jawab tidak. Dan, ibuku pun menjawabnya seperti kutipan di atas. Jawaban ibuku itu, aku balas senyuman saja. Aku tidak ingin memperdebatkan perkataan orangtuaku mengenai warga negara yang baik sama artinya warga yang menggunakan hak pilihnya saat ada Pemilu, entah itu Pemilu legislatif, Pilpres atau Pilkada.

Aku tidak ingin mempersoalkan, padangan orang-orang atau kelompok yang menilai warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya adalah warga negara yang tidak baik karena tidak menggunakan haknya. Aku hanya menilai jika pemikiran bahwa warga negara yang menggunakan hak pilihnya sama artinya dengan warga negara yang baik adalah mitos yang sengaja diciptakan Orde Baru dengan dalih menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Pilihanku untuk tidak memilih dalam Pilkada mendatang, aku dasari pada kenyataan bahwa aku tidak lagi memiliki kepercayaan pada mereka lima pasangan calon gubernur dan wakilnya yang maju dalam Pilkada. Aku tidak lagi memiliki dasar untuk memilih salah satu pasangan dan artinya mengesampingkan empat pasangan lainnya. Aku tidak memiliki alasan mengapa aku harus memilih salah satu pasangan entah itu Bambang-Adnan, Agus-Kholiq, Sukawi-Sudharto, Bibit-Rustri atau Tamzil-Rozaq.

Benar-benar aku tidak memiliki alasan untuk memilih salah satu dari mereka. Jadi apakah aku harus memaksakan diri agar memiliki alasan untuk memilih mereka. Bukanlah pilihan politik juga harus didasari juga atas alasan pemilihan itu sendiri? Memang aku pernah melihat dan mendengarkan visi dan misi lima calon itu dalam siaran TV, namun apa yang aku tangkap visi dan misi itu hanya janji-janji yang entah dalam kenyataan bisa direalisasikan atau tidak.

Aku telah memantapkan hati untuk tidak memilih dalam Pilkada kali ini seperti apa yang pernah aku lakukan dalam Pilpres 2004 lalu. Dan jangan disalahartikan jika aku mengajak untuk tidak memilih alias Golput. Jika memang warga Jateng yang memiliki hak pilih memiliki alasan untuk memilih salah satu calonnya, maka bersuka citalah untuk menyambut hari bahagia 22 Juni dengan mendatangi TPS terdekat, karena memilih adalah hak dan tidak memilih juga bagian dari hak yang sama-sama tidak bisa dipaksakan. Kadang sedih rasanya jika melihat ada orang yang ingin memilih tapi akhirnya tidak bisa memilih dan akhirnya dianggap Golput karena tidak terdaftar atau kurangnya logistik Pilkada atau alasan teknis lainnya. Aku pikir Golput yang baik adalah mereka Golput karena benar-benar memiliki alasan untuk tidak memilih atau kalau boleh aku istilahkan Golput berkesadaran.

Jangan salahkan pula jika akhir-akhir ini angka Golput dibeberapa Pilkada trennya mengalami kenaikan. Bukan karena aku mengkampanyekan Golput, sama sekali bukan karena aku tidak memiliki kekuatan sehebat itu hingga aku bisa membujuk rayu jutaan orang untuk Golput. Aku pikir, naiknya angka Golput lebih pada semakin rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap politik dan segala prosesnya. Masyarakat mungkin berpikir singkat, siapapun yang terpilih, toh hidup masih susah. Masyarakat sudah semakin muak dengan politik dan segala perilaku politikus yang memang sangat memuakkan.

Jika para politikus menyoroti banyaknya angka Golput, bukankah mereka para politikus harus berkaca pada perilaku mereka selama ini, apakah mereka benar-benar sudah mengobarkan perjuangan untuk rakyat atau malah hanya berpikir untuk diri sendiri dan kelompoknya. Kalau ternyata mereka belum juga memperjuangkan kepentingan rakyat, janganlah skpetis terhadap Golput dan menyalahkan orang yang memilih untuk tidak memilih. Alangkah baiknya mereka memperbaiki perilakunya sendiri untuk kembali merebut hati masyarakat.

Dan kalaupun pada akhirnya mereka para politikus tetap skeptis terhadap Golput dan tidak mau merubah perilakunya, aku pikir politik dan politikus memang teramat sangat memuakkan.


%d blogger menyukai ini: