Tag Archives: Pemilu 2009

Harapan yang terbajak…

“Kalau saya sih, berharap anggota DPR yang baru bisa memperbaiki ekonomi, mengurangi pengangguran dan perbaikan sistem pendidikan.”
Kalimat itu meluncur dari seorang warga yang diwawancarai seorang jurnalis TV. Harapan itu terlontar tepat satu bulan setelah pesta usai, saat mereka penyelenggara Pemilu berkewajiban mengumumkan hasil 9 April lalu.
Berjuta-juta harapan dari ratusan juta orang di negeri ini, dibebankan pada mereka yang menyandang status sebagai wakil rakyat. Pada mereka yang berjanji atau pura-pura berjanji akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Pada mereka yang biasa bersafari dan berdiskusi di Gedung Senayan.
Ada yang berharap, pendidikan gratis, ada harapan tentang jaminan kesehatan, harapan soal lapangan pekerjaan, harapan tentang kedamaian, harapan tentang perbaikan moral bangsa, harapan tentang stabilitas bangsa hingga harapan tentang perbaikan upah buruh. Harapan tentang hari esok yang lebih baik.
Di pundak mereka para wakil rakyat yang terpilih, harapan itu digantungkan. Mereka yang telah memilih para calonnya hanya bisa berharap, berharap agar harapan yang telah dititipkan tidak tercecer di tengah gegap gempitanya Gedung Senayan, tidak terselip di antara kepentingan pribadi dan kelompok dan tidak tertinggal di mobil dinas mewah anggota Dewan. Tentunya rakyat juga tidak berharap, harapan itu terbuang dan menguap begitu saja di tengah riuh rendahnya perebutan kekuasaan. Rakyat hanya bisa berharap para wakilnya tidak menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.
Segunung harapan yang ditumpuk itu, kini seakan hanyut bersama sang waktu yang terus berjalan. Harapan itu telah tergantikan oleh usaha mencari kekuasaan. Harapan itu telah pupus di tengah jalan sebelum diperjuangkan. Harapan itu telah dimusnahkan oleh naluri binatang, naluri berkuasa dan harapan itu telah dibajak oleh mereka para petinggi partai.
Mereka tidak lagi sibuk memikirkan soal memperjuangkan harapan, tidak lagi memikirkan aspirasi yang disampaikan, tidak lagi memikirkan keinginan para pemilihnya, mereka lebih memilih mencari kekuasaan. Dan yang menyakitkan, mereka berdalih, dengan kekuasaan mereka bakal lebih bisa memperjuangkan harapan itu.
Masih terlalu pagi untuk mengatakan mereka gagal memenuhi harapan ratusan juta orang di negeri ini, namun jika harapan itu telah terbajak, masihkan kita bisa berharap.


“Ini Pesta Demokrasi, Bung!”

Entah mengapa, bagiku raungan suara knalpot yang memekakkan telinga lebih indah suaranya daripada celoteh Jurkam yang mengobral janji. Wajah para simpatisan Parpol yang dicorat-coret juga lebih sedap dipandang mata daripada wajah para Caleg yang mengesankan diri “smart” ketika debat.

Janji yang terucap Jurkam ketika kampanye, pernah aku dengar 5 tahun yang lalu. Apa yang mereka katakan tak jauh beda ketika mereka berdiri di atas panggung tahun 2004 lalu di depan ribuan massa yang aku yakin lebih menunggu goyangan hot penyanyi dangdut daripada ocehan Jurkam. Kalaupun ada bedanya, hanya sedikit saja.

Dan mereka para Caleg sudah terlalu lelah mengesankan diri sebagai seseorang yang “smart”, “perduli” ataupun “aspiratif”. Mereka terlalu letih dengan citra yang ingin didapatkan hingga akhirnya, aku terlalu muak melihat wajah mereka. Bagi mereka citra adalah segalanya, termasuk citra sebagai orang yang dianiaya, didzolimi. Citra sebagai orang yang tertindas terlalu sering diciptakan sehingga hampir semua Caleg mengaku orang tertindas (entah siapa yang menindas).

Ketika mereka Jurkam dan Caleg sibuk dengan cara mereka sendiri menghadapi pemilu, maka masyarakat punya cara sendiri melampiaskan nafsu demokrasi. Knalpot sepeda motor yang meraung-raung, arak-arakan di jalanan yang memacetkan, corat-coret wajah sebagai bentuk fanatisme menjadi cara tersendiri untuk menghadapi proses demokratisasi di negeri ini.

Kampanye Pemilu telah membuktikan dangdut lebih menarik dari janji kampanye. Mendayu-dayunya musik dangdut lebih asoy daripada obral janji yang berbusa-busa. Hentakan musik dangdut (plus kendangnya) lebih membuat masyarakat bergoyang dan mengangkat tangan daripada teriakan Caleg “Pilih saya.”

Saat kampanye sudah akan berakhir, mereka para Caleg dan Jurkam masih punya itung-itungan politik menuju hari pemilihan dan bagi masyarakat, akhir kampanye adalah akhir dari segala pelampiasan nafsu belajar demokrasi seperti kata seorang simpatisan partai yang harus kena tilang polisi, “Ini pesta demokrasi, Bung.”


%d blogger menyukai ini: