Tag Archives: pendidikan

Senyum Terindah Sang Pendidik

Mata Bu Guru Ela sudah sebam sedari tadi. Sudah habis air matanya. Ia hanya bisa senggugukan. Sapu tangan kecilnya sudah basah oleh air mata, air mata kesedihan yang saat ini belum terobati. Kedua tangannya masih enggan terlepas dari punggung Bu Guru Al. Dua guru beda generasi itu masih berpelukan, sebuah pelukan tentang perpisahan.

Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Layaknya sekolah dasar pada umumnya, semua guru bersiap menyambut datangnya siswa-siswi baru kelas I. Memulai tahun ajaran baru dengan semangat baru dan berharap pendidikan bagi anak-anak semakin baik serta sambil juga berharap kesejahteraan bagi para pendidik ada perbaikan. Harapan itu tersimpan dalam setiap relung hati pada pendidik SD di sebuah kota kecil. Sebuah SD swasta di bawah bendera persyarikatan Muhammadiyah.

Bukan sekolah yang menyandang gelar sekolah unggulan yang memunggut biaya selangit. Bukan pula sekolah dengan segudang fasilitas lengkap. SD itu hanya SD biasa, selayaknya SD pada umumnya yang beberapa tahun terakhir melahirkan prestasi jempolan sehingga menarik minat ratusan orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SD itu.

Tangis Bu Guru Ela belum mereda. Bu Guru Yas, Bu Guru Kastini, Bu Guru Warni yang mengelilingi Bu Guru Ela dan Bu Guru Al semuanya terdiam. Menahan air mata agar tidak terlalu deras mengucur. Saling menguatkan hati sambil berangkulan. Pak Guru Hadi yang duduk tidak jauh dari mereka menatap jauh keluar ruang guru, menerawang harapan tahun ajaran baru di sekolah itu.

Harapan indah tahun ajaran baru di SD itu belum terkembang, namun kabar pagi itu seakan melayukan harapan. Kabar yang keluar langsung dari bibir Bu Guru Al seakan menjadi petir di siang bolong yang cerah.

“SK ini baru turun kemarin. Perhari ini saya dipindahtugaskan ke SD Negeri,” ucap Bu Guru Al terbata-bata di hadapan semua guru.

Kabar itu meruntuhkan semangat dan impian guru di SD kampung itu. Baru beberapa hari yang lalu, saat sekolah masih libur, Bu Guru Al yang menahkodai SD itu melecutkan semangat guru-guru untuk meraih impian baru di tahun ajaran baru.

Impian tentang prestasi akademik murid, impian tentang gedung sekolah baru, impian tentang kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak, impian tentang fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang representatif, impian tentang perbaikan sistem pembelajaran di kelas, impian tentang nama harum dan tinta emas prestasi SD yang bukan SD unggulan itu.

Sebagai sebuah SD underdog, guru-guru SD itu paham benar hanya lewat prestasi, nama SD itu akan dicatat dengan tinta emas. Sebagai SD swasta, mereka sadar betul, berdikari dan mandiri akan menjadikan SD itu bisa bersaing dengan SD Negeri. Sebagai SD yang sebenarnya tidak diprioritas dan diunggulkan di persyarikatannya, mereka terpacu untuk memberikan pengabdian terbaik mereka dan selama beberapa tahun terakhir ini mereka, guru-guru itu telah membuktikannya.

Sudah dua periode Bu Guru Al menjadi orang yang paling dituakan di SD itu sebagai kepala sekolah. Selayaknya nahkoda perahu, dia tidak pernah berkata karena saya perahu ini bisa mengarungi samudera. Dia selalu mengatakan, “Karena awak-awak perahu yang gagah berani dan cekatan, penumpang yang taat dan patuh, perahu ini bisa melaju melintasi badai dunia pendidikan.”

Karena mereka semualah, sinergitas antara guru, murid dan tentunya orangtua, SD yang bukan SD unggulan itu diperhitungkan dalam percaturan dunia pendidikan di kota kecil itu. SD biasa yang bisa bersaing dengan SD unggulan dari segi prestasi akademik ataupun nonakademik.

Mendung tebal masih menggelayuti ruang guru, meski cuaca di luar sebenarnya cerah. Hampir semuanya berwajah muram. Tak ada senyum mengembang dari para pendidik itu. Tak ada pancaran optimisme dari wajah para pahlawan pendidikan itu.

Bu Guru Ela, guru tidak tetap dan termuda di SD itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia terdiam. Mulutnya terkunci rapat menahan duka. Bu Guru Warni, guru paling senior yang baru saja pensiun, namun tetap mengabdi di SD itu karena kecintaannya hanya menundukkan kepala. Pak Guru Hadi masih menerawang jauh melihat siswa-siswi bermain, berlarian di halaman sekolah. Bu Guru Kastini, guru paling sabar itu duduk lesu di sudut ruangan.

Tanpa kata mereka saling tahu dan paham apa yang mereka rasakan hari itu. Hari di mana mereka kehilangan nahkoda yang tegas tapi bijaksana, yang keras tapi lembut, yang tidak hanya memerintah tapi memberi contoh, yang tidak hanya berkata-kata tapi juga mendengar.

Setelah sekian lama ruang itu sunyi senyap tanpa kata, Bu Guru Al angkat bicara. “Hapus semua air mata dan duka. Hari esok telah menanti. Sambutlah hari itu dengan semangat dan optimisme. Hari di mana gilang gemilang SD ini akan dicatat dalam tinta emas. Saya percaya semua kawanku, saudaraku semuanya bisa mewujudkan semua harapan dan impian SD ini.”

Senyum terindah pun akhirnya mengembang dari para pendidik dan mendung tebal telah pergi dari ruang guru yang sempit itu.

*Tulisan ini saya persembahkan untuk Bundaku tercinta dan semua guru di sebuah SD biasa yang luar biasa.

Iklan

Kisah Bib & Ponpesnya…

Mata sebelah kirinya masih lebam. Ada warna merah kebiru-biruan di kantong mata kirinya itu. Darah di telinga kirinya sudah mengering. Dia hanya bisa duduk termenung menatap layar televisi sambil lalu.

Panggil saja dia dengan nama Bib. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran laki-laki muda berumur 22 tahun ini. Mungkin Bib sedang memikirkan tentang apa yang telah diperbuatnya dini hari tadi. Mungkin juga kata hatinya sedang berkata-kata tentang arti tobat.

“Dari belakang saya turunkan celananya selutut. Dia sedang tidur jadi tidak tahu, tapi baru sebentar ada yang lihat,” kata Bib lirih.

Perbuatannya itulah yang akhirnya membawa santri pondok pesantren (Ponpes) di Solo ini berada di kantor kepolisiaan. Dalam keremangan malam di sebuah asrama Ponpes di salah satu sudut Solo, Bib belum tidur.

Dia menuju ranjang santri lainnya, santri baru yang masih duduk di bangku SMP. Usia bocah itu terpaut 10 tahun dari usianya. Dengan begitu tenangnya Bib menurunkan celana bocah itu. Dan, semua terjadi begitu cepatnya.

Namun, sepertinya nasib tidak berpihak kepadanya. Santri lainnya mengetahui perbuatan Bib. Ketenangan malam di Ponpes itu terusik. Santri-santri terbangun. Dan Bib hanya bisa pasrah ketika beberapa tangan santri lainnya dengan keras menghujani wajahnya.

“Tidak pernah ada perempuan di pondok, laki-laki semua,” itulah kata meluncur dari mulut Bib berikutnya.

Dia masih tertunduk lesu. Beberapa polisi yang ada dalam ruangan itu juga masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Seperti sedang membuat ‘pengakuan dosa’, remaja itu berujar pelan, perbuatannya malam itu bukanlah perbuatan pertamanya. Bib mengaku, beberapa santri lainnya sudah pernah menjadi ‘korban’-nya. Suaranya semakin pelan ketika dia mengaku sudah 10 kali melakukan perbuatan itu.

Seperti membuat pembelaan atas apa yang telah dilakukannya, dia tidak sendirian. Apa yang dilakukannya terhadap santri baru malam itu, juga pernah dilakukan santri-santri lainnya. Bahkan, dia mengaku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan santri lainnya. “Dulu ada yang seperti itu, terutama yang dari luar Jawa, tapi tidak pernah ketahuan.”

Dari masuk SMP hingga lulus SMA dan kini dia bekerja di sebuah percetakan di Solo, kehidupan Bib tidak pernah lepas dari Ponpes itu. Ponpes yang mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan agama. Tempat dimana dogma-dogma agama dan ilmu pengetahuan digali dan dikaji.

Bib sangat paham dan tahu apa yang telah dilakukannya malam itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia tahu dalam agama itu disebut dengan dosa. Cukup lama dia terdiam tanpa kata dan tiba-tiba dia beranjak bangkit dari kursi panjang menuju salah seorang polisi. Dia meminta izin agar diberi kesempatan untuk sembahyang menghadap Tuhan. “Saya disuruh tobat,” ucap dia.


Europe I’m Coming…

Sudah beberapa menit Yaya terdiam terpaku tanpa kata. Matanya masih tajam menyorot buku tebal yang ada di depannya. Beberapa kali keningnya dikerutkan mencoba memahami kata demi kata dalam buku itu yang terasa asing seperti kata dari negeri antah berantah.

Kata-kata yang tertulis, bukan kata-kata yang biasa keluar dari lidah bocah 12 tahun ini. Tidak juga kata-kata yang tersimpan dalam memori otak yang pernah terekam sejak bayi. Hal yang membingungkan adalah antara ejaan dan cara membacanya tidak sama. “Itu kamus Bahasa Inggrisnya ada di kamar,” kata ibunya mencoba membantu.

Menjadi pelajar SMP kelas internasional atau bilingual adalah impiannya. Bisa sekolah di SMP paling unggulan di sebuah kota kecil menjadi kebanggan tersendiri baginya. Impian itu telah menjadi nyata dan sekarang kenyataanlah yang harus dihadapinya. Fasih Bahasa Inggris harus menjadi syarat utamanya karena faktanya hanya pelajaran Bahasa Indonesia dan Bimbingan Konseling yang bahasa pengantarnya tidak menggunakan Bahasa Inggris.

Yaya belum beranjak dari kursi dan mencoba menghadapi kenyataan yang nyatanya tak mudah seperti bayangannya. Pelan-pelan, ia mencoba memahami kata demi kata dari buku English version yang dikeluarkan Depdiknas. Bukan untuk menjawab soal dalam buku itu, namun untuk memahami apa pertanyaan soal itu baru kemudian menjawab soal itu.

“Sebenarnya itu soalnya mudah, tapi kan bahasa pengantarnya Inggris, jadi memahami dulu soalnya, baru bisa menjawab,” kata Buliknya Yaya yang ikut membantunya belajar pelajaran Matematika malam itu.

Buliknya Yaya memang guru Matematika di salah satu SMP. Namun, karena di SMP-nya tidak ada kelas internasional, semua pelajaran diajakan dengan Bahasa Indonesia. Dia mengatakan, SMP tempat Yaya sekolah memang belum matang betul untuk mendirikan kelas internasional. Sebab, para pengajarnya saja belum fasih menggunakan Bahasa Inggris.

“Lha kalau gurunya saja belum pinter Inggris, gimana muridnya bias paham apa yang dijelaskan. Kadang aku jadi bingung sendiri,” kata Yaya menimpali perkataan Buliknya itu.

Sudah menjadi tren, saat ini sekolah memberikan embel-embel sekolah standar nasional ataupun rintisan sekolah standar internasional, meski kadang sumber daya manusia dan sarana prasarananya belum siap.

Keluh kesah itu berlalu begitu saja ketika Yaya disibukkan lagi menjawab soal-soal English For Tourism (EFT) yang tentunya dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Semangatnya kembali berkobar ketika Yaya diingatkan kembali tentang mimpi-mimpi masa depannya. Mimpi tentang Eropa, mimpi tentang sepakbola di Benua Biru dan mimpi tentang Cristiano Ronaldo. Dan semangat itu telah meluluhkan keluh kesah yang tidak menjawab persoalan. “Europe I’m coming.”


Balada UN & Pilkada Jateng

Siapakah sebenarnya yang layak disebut dengan Raja Jalanan? Apakah mereka, para siswa SMA yang tetap turun ke jalan merayakan kelulusan meski masa depan tak seindah harapan. Atau mereka para simpatisan Cagub yang rela arak-arakan di jalanan meski kenyataan hidup tak semanis janji-janji kampanye.

Ini adalah sebagian pesan singkat yang aku terima dari Kasatlantas Poltabes Solo, Sabtu sore, “Hasil penindakan pelaggaran lalu lintas terkait aksi trek-trekan dan konvoi yang dilakukan anak SMU berhasil menindak pelanggaran Lantas sebanyak 128 pelanggaran dan 31 kendaraan bermotor disita sebagai barang bukti.”

Satu hari berselang, aku kembali mendapatkan pesan singkat dari Kasatlantas Poltabes Solo yang isinya kurang lebih seperti ini, “Tetap ditindak untuk pelanggaran Lantas yang berpotensi Laka. Ada beberapa yang sudah kami tindak dan disita sebanyak tiga kendaraan.”

Dua hari terakhir aku merasakan munculnya raja jalanan baru di Solo. Mereka menguasai jalan-jalan protokol dan menjadikan jalanan di Kota Bengawan yang sudah sempit menjadi semakin sempit saja. Kalau mereka para raja jalanan itu akhirnya mendapat tidakan tegas dari aparat kepolisian, bukankah itu kewajaran dari sebuah perbuatan yang memang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka yang memilih menjadi raja jalaan?

Sabtu lalu, siswa SMA yang dinyatakan lulus oleh suatu sistem pendidikan yang amburadul, merayakan kelulusan dengan turun ke jalan. Aksi corat-coret baju sudah hampir menjadi tradisi yang tidak dapat ditinggalkan. Knalpot sepeda motor yang standar diganti dengan knalpot entah bikinan mana dan siapa, asal bisa memekakkan telinga. Euforia kebahagiaan tumpah seketika di jalanan. Aku tidak ingin menyalahkan mereka yang memilih turun ke jalan daripada menagis bahagia dan bersimpuh di atas kaki kedua orang tua sebagai ekspresi rasa bahagia. Aku juga sadar mereka yang turun kejalan belum tentu hasil ujiannya lebih baik dari mereka yang bimbang di rumah menunggu hasil pengumuman ujian sambil memikirkan masa depan.

Apapun itu yang dilakukan oleh mereka para siswa yang bahagia dinyatakan lulus ujian, entah itu corat-coret baju, turun ke jalanan sambil konvoi, menangis bahagia, memeluk kedua orang tua, sujud rasa syukur, itu adalah ekspresi ungkapan kebahagiaan. Soal itu baik atau buruk, benar atau salah, tinggal dari mana kita melihatnya. Bukankah kita juga pernah jadi anak muda seperti mereka?

Mereka memang harus bahagia, paling tidak satu hari saja karena hari-hari berikutnya, indahnya kelulusan tinggal kenangan. Mereka harus kembali menghadapi kehidupan dan masa depan belum tentu sesuai harapan. Mereka harus kembali merajut cita-cita yang mungkin sudah ada dalam angan-angan. Mereka para anak muda akan segera memasuki kehidupan senyata-nyatanya kehidupan yang mungkin tidak seindah perayaan kelulusan.

***

Satu hari berselang, giliran simpatisan salah satu Cagub Jateng menguasai jalanan di Solo. Ini agak berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini massanya lebih banyak dan lebih “liar”. Mungkin mereka senyata-nyatanya raja jalanan.

Dengan membawa berbagai atribut mulai dari bendera salah satu Parpol besar di Indonesia hingga bendera Ormas, para simpatisan itu benar-benar menguasai jalanan dalam arti yang sebenar-benarnya dan para pengguna jalan lainnya dipaksa bersabar demi memberi jalan mereka pada raja jalanan. Tak lupa pula mereka mengenakan kaos bergambar Cagub yang mereka dukung. Dan yang hampir pasti mereka melakukan arak-arakan dan berkonvoi diiringi sebuah melodi kebisingan, raungan knalpot sepeda motor yang saling bersahutan.

Aku tidak ingin menyalahkan mereka para simpatisan Cagub itu. Aku tidak ingin menghukum mereka dengan istilah “orang kampungan dan tak tahu aturan”. Yang ingin aku katakan adalah mereka bisa menjadi tontonan pengguna jalan lainnya meskipun dalam hati pengguna jalan lainnya merasakan dongkol setengah mati terhadap kelakukan mereka. Aku juga ingin berkata, bisa jadi kelakukan mereka di jalanan yang seperti raja jalanan itu sebuah cermin dalam kehidupan politik negara ini. Mereka asik menguasai jalanan saat ada kesenpatan, seperti para pemimpin bangsa yang asik mengorupsi uang rakyat saat ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi sifat manusia, meraih apa yang diinginkan dan dimpikan saat ada kesempatan?

Setelah kampanye Pilkada usai, maka usai pula mereka jadi raja jalanan. Kehidupan mungkin akan kembali normal seperti sedia kala. Mereka harus kembali pada rutinitas dan kehidupan yang belum belum tentu semanis janji-janji politik para calon gubernur yang mereka dukung. Mereka harus kembali memutar otak untuk kencukupi kebutuhan sehari-hari dan mungkin akhirnya lupa pada kerasnya raungan knalpot saat kampanye Pilkada seperti para gubernur terpilih yang mungkin juga lupa akan muluk-muluknya janji-janji mereka.


%d blogger menyukai ini: